Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI PENERAPAN TEKNIK COURSE REVIEW HORAY (CRH) PADA KELAS XI IPS2 SMA NEGERI 5 MAKASSAR Ni Putu Asri Utami; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 2 No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i1.8411

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah melalui penerapan model pembelajaran Course Review Horay di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Makassar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) prosedur penelitian meliputi yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket motivasi belajar dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif.  Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Makassar pada Semester Ganjil Tahun Ajaran 2013/2014 dengan 30 siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Course Review Horay menunjukkan adanya peningkatan dalam motivasi belajar sejarah, baik pada aktivitas guru dan siswa. Peningkatan itu dapat dilihat dari siklus I ke siklus II, yaitu persentase rata-rata hasil angket motivasi belajar Sejarah siswa dari 73,04% menjadi 82,59% atau berada dalam kategori tinggiKata Kunci: Peningkatan Motivasi Belajar, Penerapan Teknik Course Review Horay
Lembaga Bantuan Hukum Makassar: Napak Tilas Perlindungan Hukum Kaum Marginal (1983-2016) Andi Alauddin; Patahuddin Patahuddin; Muh. Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 5 No. 2, Agustus 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.753 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8518

Abstract

Penelitian mengakaji tentang Lembaga Bantuan Hukum Makassar sejak 1983 sampai pada 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ide pendirian Lembaga Bantuan Hukum Makassar (LBH Ujung Pandang) telah ada sejak tahun 1983, namun baru resmi didirikan di Tahun 1983 oleh sebuah tim yang terdiri dari advokat Peradin cabang Ujung Pandang. Rumusan tim dari Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) selanjutnya diusulkan kepada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan mendapatkan sambutan baik. Adnan Buyung Nasution, SH. Selanjutnya melantik M. Ilyas Amin, SH. Sebagai direktur LBH Makassar pertama di Balai Wartawan jalan Pasar Ikan pada tanggal 23 September 1983. Dalam perjalanannya LBH Makassar menyadarkan masyarakat untuk melihat permasalahan hukum yang menimpa bukan hanya kasus hukum semata melainkan didalamnya sudah tersandung aspek non hukum. Sehinggga pola bantuan hukum tidak hanya melihat dari aspek hukum positif tapi melihat dari berbagai aspek lainnya (politik, ekonomi, social,budaya dan lainnya). Misalnya kasus sengketa lahan dikelurahan Kass’-Kassi’ yang dimenangkan oleh masyarakat bukan hanya mengandalakan Peradilan semata, tapi dengan melibatkan masyarakat untuk turut serta menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Konsep tersebut adalah bantuan hukum structural.  Perjalan LBH Makassar selama tiga dekade sarat akan nilai perjuangan untuk memberi bantuan hukum cuma-cuma kepada masyarakat marginal (baik dalam konteks sosiologi, ekonomi dan politik). Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian pustaka, penelitian lapangan (wawancara) dan dokumentasi.  Kata Kunci: Lembaga, Hukum, Makassar
PETANI KELAPA SAWIT DI TOPOYO KABUPATEN MAMUJU TENGAH (2005-2013) Resky Arianty; Patahuddin Patahuddin; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 2 No. 2 April - Juni 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i2.8424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang petani Kelapa Sawit di Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah, dinamika petani kelapa sawit, dan keadaan social ekonomi petani kelapa sawit di Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah. Penelitian ini memuat metode sejarah dengan tahapan yaitu heuristik, dalam bentuk mengumpulkan sumber data sebanyak-banyaknya, kritik sumber yang bertujuan untuk menentukan atau menilai sumber, interpretasi yaitu menentukan kedudukan suatu fakta sejarah secara professional dan historiografi, atau penyajian yang merupakan pengungkapan kisah sejarah secara tertulis.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Topoyo khususnya Desa Waeputeh menggantungkan hidupnya dengan bertani kelapa sawit karena lebih menguntungkan, pemeliharaannya juga yang lebih mudah dibandingkan dengan bertani ladang dan sawah serta semakin tingginya kebutuhan hidup dan berkurangnya pendapatan sebagai petani ladang dan sawah. Seperti kita ketahui, kelapa sawit merupakan komoditas pertanian yang berproduktifitas tinggi. Apalagi, di Kabupaten Mamuju Tengah telah berdiri perusahaan kelapa sawit Surya Raya Lestari 2 yang mengolah hasil sawit. Alasan petani lebih memilih berkebun kelapa sawit karena menghasilkan uang yang cepat, harga kebun sawit selalu naik, dapat diselingi dengan pekerjaan lain serta dengan berkebun kelapa sawit daerah tersebut mengalami peningkatan dan perkembangan yang cukup memuaskan. kesimpulannya bahwa keadaan social ekonomi masyarakat di Desa Waeputeh mengalami pertumbuhan dan perkembangan di berbagai bidang seperti pendidikan serta berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidup.Kata Kunci : Petani Kelapa Sawit di Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah
Museum Latemmamala sebagai Media Pembelajaran Sejarah 2008-2017 Ilham Annas Yunus; Patahuddin Patahuddin; Muh. Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 5, No. 3, Desember 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.518 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i4.9007

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Fungsi Museum Latemmamala sebagai media dan sumber belajar sejarah, respon pengunjung serta faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi Museum Latemmamala sebagai media pembelajaran sejarah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.  Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan kajian pustaka dengan menggunakan metode sejarah melalui beberapa tahapan: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan yang dulunya dikenal dengan bangunan Villa Yuliana yang dibangun pada tahun 1905, dimana bangunan ini diperuntukkan untuk menyambut Ratu Yuliana dialihfungsikan dan secara resmi menjadi Museum Latemmamala pada Tahun 2008. Selanjutnya bersamaan dengan perkembangannya Museum Latemmamala ini dijadikan sebagai pusat memperoleh pengetahuan sejarah oleh beberapa orang maupun instansi terkait, dengan mendukungnya sumber yang dipamerkan dan pengelolaaan tempat yang baik memuat museum ini tetap eksis sampai sekarang. This study aims to determine the functions of the Latemmala Museum as a medium and source of historical learning, the response of visitors and supporting and inhibiting factors that influence the Latemmamala Museum as a medium for learning history. This type of research is qualitative research. This research was conducted through interviews and literature review using historical methods through several stages: heuristics (source gathering), source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the building that was formerly known as the Villa Yuliana building was built in 1905, where the building was intended to welcome Queen Yuliana converted and officially became the Latemmamala Museum in 2008. Later along with its development the Latemmamala Museum was used as a center for gaining historical knowledge by several people and related institutions, by supporting the resources on display and managing a good place to load this museum, it still exists today
KABUPATEN SOPPENG PADA MASA PEMERINTAHAN A. SOETOMO (2005-2010) Ahmad Yani; Patahuddin Patahuddin; Muh. Saleh madjid
PATTINGALLOANG Vol. 2 No. 3 Juli - September 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i3.8457

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama lima tahun pemerintahan A. Soetomo (2005-2010) berhasil dilakukan peningkatan produktivitas pertanian di Tahun 2010 dibandingkan dengan Tahun 2005 khususnya pada tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan; peningkatan di bidang pendidikan yang dapat dilihat dari meningkatnya APS (Angka Partisipasi Sekolah) masyarakat Kabupaten Soppeng, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; serta pengadaan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang memudahkan akses oleh masyarakat Kabupaten Soppeng. Akhir penelitian menyimpulkan bahwa Kabupaten Soppeng pada masa pemerintahan A. Soetomo mengalami peningkatan dalam berbagai bidang, yakni bidang ekonomi dengan peningkatan ketahanan pangan, pengembangan agribisnis, dan pembangunan pada sumber daya tanaman pangan dan pertanian, di bidang pendidikan terjadi pemerataan dan perluasan kesempatan pendidikan bagi masyarakat, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, penataan sistem management pendidikan, dan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta di bidang sosial budaya dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Kabupaten Soppeng, Masa Pemerintahan A. Soetomo
Peristiwa Teppo di Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap Tahun 2013 Eri Gustiawan; Patahuddin Patahuddin; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.872 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.8399

Abstract

This is study aims to determine the background of Teppo events and the process of occurrence and impact of Teppo's event in Tellu Limpoe Sub-district of Sidrap Regency. This research is descriptive analysis by using the historical method through stages include Heuristik that collects the source or data as much as possible, source criticism is to determine the authenticity and rehabilitation of sources that have been collected to mngetahui original or not the source, Interpretation is determining the position of fact history professionally, and Historiography or presentation which is a written expression.The results of this study indicate that the occurrence of the Teppo event is the conflict between Teppo community group and Amparita society group which is motivated by social factors, religious factors and juvenile delinquency factor. The incident only lasted for one day on May 23, 2013, starting from the stabbing action conducted by one of the Amparita community to continue at night. As for the impact, among others, in the social field, in the field of economy and education. In the social field, the emergence of fear and hatred between the two groups of people. In the economic field, the cessation of the selling process at Amparita Market and the community owned fields did not manage for a while due to fear and anxiety. In the field of education, the learning process becomes disrupted so that many students and teachers who choose not to go to school or teaching. Keyword : Society Teppo , Teppo Event and District of Tellu Limpoe Sidrap Regency
PERANG KOREA (1950-1953) Fitriyawati Fitriyawati; Patahuddin Patahuddin; M. Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 2 No. 2 April - Juni 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i2.8433

Abstract

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa latar belakang Perang Korea (1950-1953) didasarkan pada faktor adanya perbedaan ideologi antara komunis bagi Korea Utara dan kapitalis bagi Korea Selatan sehingga terjadi pemisahan wilayah yang dibatasi oleh garis paralel ke 380 meskipun masing-masing pemimpin Korea ingin melakukan reunifikasi secara paksa/kekerasan demi memperluas pengaruhnya. Adapun proses jalannya perang Korea (1950-1953) di mulai dari penyerbuan Korea Utara terhadap Korea Selatan sehingga terdapat intervensi dari berbagai negara yang akhirnya terjadi (gencatan senjata). Dampak yang ditimbulkan dari Perang Korea bagi masyarakat Korea dan dunia internasional yaitu terbentuknya dua negara Korea dimana Korea Selatan muncul sebagai negara ekonomi industri kapitalis sedangkan Korea Utara muncul sebagai negara militer komunis, serta adanya ancaman keamanan bagi dunia internasional oleh program nuklir Korea Utara sehingga negara Asia Timur memperkuat kekuatan militer mereka yang disebabkan gencatan senjata belum permanen sehingga konflik dapat saja terjadi hingga saat ini, yang dapat melibatkan banyak Negara.Kata Kunci: Perang, Korea (1950-1953)
Jejak Aroma Kopi Arabika di Massenrempulu 1970-2016 Ismail Muslimin; Ahmadin Ahmadin; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.785 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.7075

Abstract

This study aims to determine the background of coffee farming, coffee agriculture development to agricultural impacts of Arabica Coffee in Benteng Village Alla Utara District Baroko. This type of research is qualitative research. This research is done through interview and literature study using historical method through several stages: heuristic (source collection), source critic, interpretation, and historiography. The results showed that the existence of Arabica Coffee farm in Benteng North Alla Village began in 1750 after the Dutch managed to colonize the North Alla Fort Village. The development of coffee plantations began to be re-enacted when the arrival of Ir. Sugiyo from Jember, East Java. Ir. Sugiyo is an agricultural employee from Java. Ir. Sugiyo introduced a kind of Arabica Coffee that has good quality. Based on the result of the research, it can be concluded that Arabica Coffee has an impact to the society economy in Benteng Alla Utara village which is providing employment such as season laborer and day laborer, ownership of property for Arabica coffee farmer, and giving impact to regional income.
Objek Wisata Ke’te Kesu’ (1975-2017) Lidya Arni Barumbun; Muh. Rasyid Ridha; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 5, No. 1, April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.653 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i2.8466

Abstract

Kajian ini menunjukkan bahwa latar belakang dijadikannya Perkampungan Adat Ke’te Kesu’ sebagai objek wisata tidak terlepas dari datangnya peneliti-peneliti yang merupakan peserta Konfrensi PATA (Pacifik Area Travel Association). Sehingga pada tahun 1975 pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pariwisata, Susilo Sudarma mengusulkan untuk menjadikan kampung adat Ke’te Kesu menjadi objek wisata. Kemudian dalam perkembangan setiap tahunnya menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dapat dilihat dari jumlah sarana dan prasarana yang memadai setiap tahunnya selain itu dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang datang berkunjung ke objek wisata Ke’te Kesu’ setiap tahunnya semakin meningkat, terbukti dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara dari tahun 2008 (mulai terbentuknya Kabupaten Toraja Utara) jumlah pengunjung wisatawan yang datang berjumlah 27.203 orang, sampai tahun 2017 jumlah kunjungan wisatawan asing maupun domestik mencapai 105.221 orang. Keberadaan objek wisata Ke’te Kesu’ memberikan dampak bagi kehidupan perekonomian, baik bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan Kabupaten Toraja Utara pada umumnya dan juga memberikan dampak pada aspek lainnya seperti sosial budaya, lingkungan dan pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik intern dan ektern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Kata Kunci : Perkampungan Adat Ke’te Kesu’, Perkembangan Objek Wisata, dan Kabupaten Toraja UtaraAbstractThe finding of this study indicates that the background of Ke'te’ Kesu as one of tourist attractions in Toraja has strong relation to the first arrival of some researchers in 1975who are participants of the PATA Conference (Pacifik Area Travel Association). The central government in this occasion represented by the Minister of Tourism, Susilo Sudarma used this opportunity to establish the traditional village of Ke'te Kesu which then become one of well-known tourist attractions in Indonesia. Since then, there has been shown a very significant development annually that was proven by the number of facilities and infrastructure that began to be adequate. The existence of Ke'te’ Kesu's tourism also has an impact on the economic life, both for the surrounding communities in particular, and for the government as well as the societies in Toraja Utara in general. It also impacts on other aspects such as social culture, environment and education. This research uses a historical research method consisting of four stages: heuristic (searching and collecting resources), source criticism (internal and external criticism), interpretation (source interpretation) and historiography (historical writing).                                                                     Keyword : Traditional Village of Ke’te’ Kesu’, Tourist Development, and Toraja Utara district 
Menjaga Tanah Leluhur: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Sulawesi Selatan 2003-2016 Kamaruddin Kamaruddin; Najamuddin Najamuddin; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.177 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6726

Abstract

This study reveals that the background of the awakening of indigenous peoples in South Sulawesi, due to the marginalization of the state policy with agrarian resources pengulaaan that began in 1811 in the colonial period and the 1999 era of reform that led to agrarian conflicts. Indigenous peoples in South Sulawesi formed a strength by organizing their groups into AMAN formed in 2003. The organizational development has experienced three successive organizational leaders namely MahirTakaka at the beginning of the formation of 2003-2008 which was appointed Sirajuddin at the first muswil 2008-2013 and then SardiRasak on the second muskil 2013-2016. In making AMAN a struggle organization, the strategy of struggle by taking three paths of organizational education, political struggle and lane of litigation. This research is a historical research with historical methodology that has stages, heuristics (data collection), criticism (verification), interpertasi (interpretation) and historiography (historical writing). This research is a historical research with historical methodology that has stages, heuristics (data collection), criticism (verification), interpertasi (interpretation) and historiography (historical writing).