Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Beyond the Language: Sebuah Studi Analisis Dan Komparasi antara Konsep Bahasa Roh dalam Teologi Pentakosta dengan Konsep Rede dalam Filsafat Martin Heidegger Jessica Novia Layantara
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v4i1.207

Abstract

Abstract. This article discusses the comparison between the concepts of speaking in tongues in Pentecostal theology and the concept of Rede in the philosophy of Martin Heidegger. The thesis of this article was that the concept of speaking in tongues in Pentecostal theology had many similarities to the concept of Rede in Heidegger's philosophy. The similarities were found in the characters in both concepts, which were communicative, intelligible, revealing and both were authentic human characters (Dasein). Nevertheless, the concept of speaking in tongues in Pentecostal theology had a uniqueness over the concept of Rede in Heidegger's philosophy, because it encompassed not only the human rationality, but also the realm of faith. In this article it was shown that the two concepts influenced and enriched each other. This comparative study also yielded some conceptual contributions to both Pentecostal theology and Heidegger's philosophy, which were also useful for dealing with the criticisms raised against both.Abstrak. Artikel ini membahas komparasi antara konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta dengan konsep Rede dalam filsafat Martin Heidegger. Tesis dari artikel ini adalah bahwa konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta memiliki banyak kemiripan dengan konsep Rede dalam filsafat Heidegger. Kemiripan-kemiripan tersebut terdapat dalam karakter-karakter yang ada di dalam kedua konsep tersebut, antara lain sama-sama bersifat komunikatif, bersifat menyingkapkan, dapat dimengerti, dan keduanya merupakan karakter dari manusia yang otentik (Dasein). Walau demikian, konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta memiliki kekhasan dibanding konsep Rede dalam filsafat Heidegger, karena bukan hanya mencakup ranah rasionalitas manusia tetapi juga ranah iman. Di dalam artikel ini akan ditunjukkan bahwa kedua konsep tersebut dapat saling mempengaruhi dan memperkaya satu sama lain. Studi komparasi ini juga akan menghasilkan beberapa kontribusi yang bermanfaat secara konseptual baik bagi teologi Pentakosta maupun filsafat Heidegger, yang juga bermanfaat untuk menghadapi kritik-kritik yang diajukan terhadap keduanya.