Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Cryopreservation of Aceh Swamp Buffalo (Bubalus bubalis) Semen with Combination of Glycerol and Lactose Eriani, Kartini; Sari, Nisa; Rosnizar, Rosnizar; Dasrul, Dasrul; Suhartono, Suhartono; Rizal, Muhammad
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 9, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.96 KB) | DOI: 10.15294/biosaintifika.v9i3.11426

Abstract

Aceh swamp buffaloes(Bubalus bubalis) are decreasing their population and genetic quality. This study was conducted to determine the influence of lactose and glycerol cryoprotectants on spermatozoa of Aceh swamp buffaloesafterthawing.This study used completelya factorial randomized design with nine treatments, and five replications.Fresh semen of the Aceh swamp buffalowere diluted by using a combination extender lactose cryoprotectants 0 mM (L0), 60 mM (L60), 120 mM(L120) and glycerol 3% (G3), 5% (G5), 7% (G7) with the equilibration of 4 hours.The results showed that the combination of cryoprotectants L120G7 influenced significantly (P < 0.05) on the quality of spermatozoa of the Aceh swamp buffalo(B. bubalis)after thawing.The percentage of sperm motility L120G7 (42.60 1.14);viability L120G7 (55.00 0.71);acrosome integrity L120G7 (52.00 0.71); and plasma membrane integrity L120G7(53.20 1.48). The combination of lactose cryoprotectants 120 mM (L120) and glycerol 7% (G7) was the best combination to maintain the quality of spermatozoa of swamp buffalo. This finding could be used to define a policy for the spermatozoa storage of Aceh swamp buffalo to artificial insemination (AI).
PENGARUH EKSTRAK BUAH TOMAT (LYCOPERSICUM ESCULENTUM L.) TERHADAP KADAR HORMON TESTOSTERON TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS L.) YANG DIBERI PAKAN TINGGI KOLESTEROL Wulandari, Firstia Ritri; Mamfalutfi, Teuku; Dasrul, Dasrul; Rajuddin, Rajuddin
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol. 2: No. 2 (November, 2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.631 KB) | DOI: 10.29103/averrous.v2i2.412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak buah tomat (Lycopersicum esculentum L.) terhadap kadarhormontestosterontikus putih (Rattus novergicus L.) yang diberi pakan tinggi kolesterol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik jenis Posttest Only Control Group Design, dengan menggunakan 30 ekor tikus putih jantan yang dibagi secara acak dalam lima kelompok perlakuan masing-masing,1) kelompok kontrol negatif(KN)tikus diberi pakan standar, 2) kelompok kontrol positif (KP)tikus diberi pakan tinggi kolesterol, 3) kelompok tikus yang diberi pakan tinggi kolesterol dan eksrak tomat 25 mg/kgBB/hari (D1), 4) kelompok tikus yang diberi pakan tinggi kolesterol dan ekstrak tomat dosis 50 mg/kgBB/hari (D2) dan 5) kelompok tikus yang diberi pakan  tinggi kolesterol dan, ekstrak tomat dosis 100 mg/kgBB/hari (D3) selama 60 hari. Koleksi sampel darah dilakukan melalui vena orbitalis menggunakan mikropipet. Pengukuran kadar testosteron darah tikus dilakukan dengan menggunakan metode Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Data dianalisis dengan uji statistik non parametric menggunakan uji Kruskall Wallis dan di lanjutkan dengan uji Mann-Whitney.Hasil  penelitian menunjukkan  pemberian ekstrak tomat dapat meningkatkan kadar hormon testosteron darah tikus putih yang diberi pakan tinggi kolesterol seiring dengan tingkat dosis yang diberikan. Pemberian ekstrak tomat dosis 100 mg/kgBB/hari (D3)berbeda secara nyata (p<0,05)dibandingkan dengan kontrol positif (KP)., ekstrak tomat dosis 25 mg/kgBB/hari (D1)dan ekstrak tomat dosis 50 mg/kgBB/hari (D2)., namun tidak berbeda dengan kontrol negatif (KN). Pemberian ekstrak tomat dapat meningkatkan kadar hormon testosteron serum darah tikus putih yang diberi pakan tinggi kolesterol. 
Pengaruh Vitamin E terhadap Kadar Malondialdehide Jaringan Testis Tikus (Rattus novergicus) Strain Wistar dengan Diabetes Mellitus Tipe I Y, Bangun I; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.46

Abstract

Latar belakang. Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan endokrin yang menyebabkan kerusakan sistemik dan memicu stres oksidatif di tingkat seluler. Malondialdehide (MDA) adalah produk stres oksidatif berupa lipid peroksidase yang berhubungan dengan kondisi anomali dan asthenozoospermia. Upaya menekan stres oksidatif adalah dengan vitamin E yang telah lama menjadi antioksidan melawan stres oksidatif. Tujuan Penelitian. Mengetahui pengaruh pemberian vitamin E terhadap kadar malondialdehide (MDA) serta pengaruh pemberian vitamin E dengan berbagai dosis terhadap kadar MDA. Metode penelitian. Penelitian eksperimental menggunakan 30 ekor tikus putih strain Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok tikus tidak DM (KN), kelompok tikus DM (KP), kelompok tikus DM yang mendapat terapi vitamin E dosis 50 iu/kgbb/hr (KP1), dosis 100 iu/kgbb/hr (KP2) dan dosis 150 iu/kgbb/hr (KP3). Pasca perlakuan dilakukan pengambilan organ testis pada semua kelompok dan dianalisis kadar MDA jaringan testis dengan metode Thiobarbituric Acid Reactive Subtances (TBARS). Analisis data kadar MDA jaringan testis menggunakan one way ANOVA α=0,05 dengan uji lanjutan LSD. Hasil penelitian. Pemberian vitamin E dapat menurunkan secara bermakna (P&lt;0,05) kadar MDA jaringan testis tikus putih DM. Pemberian vitamin E dosis 150 iu/kgbb/hr tidak berbeda secara nyata (P&gt;0,05) dibandingkan dengan dosis 100 iu/kgbb/hr, namun keduanya berbeda secara nyata (P&lt;0,05) dibandingkan dosis 50 iu/kgbb/hr. Kesimpulan. Pemberian vitamin E dapat menurunkan kadar MDA testis tikus dengan kondisi diabetes mellitus tipe 1. Pemberian vitamin E dosis 150 iu/kgbb/hr lebih baik dibandingkan dengan dosis 100 iu/kgbb/hr dan 50 iu/kgbb/hari. Kata kunci: vitamin E, diabetes mellitus, malondialdehide
Pengaruh Pemberian Vitamin E terhadap Morfologi Testis Tikus Strain Wistar (Rattus novergicus) dengan Diabetes Melitus Tipe I Ronasky, T; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.47

Abstract

Latar Belakang. Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Penyakit ini dilaporkan terjadi pada 9% laki-laki dan 7,9% wanita. Laporan Center of disease control (CDC) menyebutkan tahun 2014 terdapat 8,1 juta orang tidak terdiagnosa DM dan 29,1 juta mengalami penyakit ini di Amerika Serikat. Pada penderita diabetes dapat terjadi kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan organ yang berbeda, terutama mata (diabetes retinopathy), ginjal (nefropati diabetik), saraf (neuropati diabetes), jantung (infark miokard) dan pembuluh darah (aterosklerosis) dan infertilitas. Laporan insiden infertilitas terkait DM terjadi pada 9% orang dewasa berusia &gt;18 tahun mengalami akibat difungsi endokrin spermatogenesis. Vitamin E berperan sebagai antioksidan eksogen (non-enzimatis) yang dapat melindungi kerusakan membran biologis akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tidak jenuh pada membran fosfolipid. Secara partikular, vitamin E juga penting dalam mencegah peroksidasi membran asam lemak tak jenuh. Metode. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan post-test only control group design secara laboratorium eksperimental. Rancangan penelitian ini dipilih berdasarkan konsep bahwa setiap unit dari populasi adalah homogen dan memiliki karakteristik yang sama. Pembagian sampel dilakukan secaraacak (random assignment). Pada kelompok eksperimen perlakuanlangsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir sementara pada kelompok kontrol digunakan sebagai pembanding dari kelompok perlakuan. Hasil. Rata-rata diamater tubulus seminiferus testes tikus pada masing-masing kelompok perlakuan menunjukkan angka yang bervariasi. Rata-rata diamater tubulus seminiferus testes tikus pada perlakuan kontrol negatif (KN) adalah 261,57± 5,72 μm, kemudian mengalami penurunan menjadi 241,18 ± 18,53 μm, pada perlakuan tikus DM yang diinduksi aloksan (KP), dan mengalami peningkatan kembali pada perlakuan tikus DM yang dinduksi aloksan dan vitamin E dengan dosis 100 mg/kgbb/hari (P1), dan 200 mg/kgbb/hari (P2), secara berturut-turut adalah 265,92 ± 15,97 μm dan 271,41 ± 24,79 μm. Kesimpulan. Berdasarkan uji statistik Analysis of variance (ANOVA) one way didapatkan nilai signifikannya p 0,039 &lt;0,05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perlakuan pemberian vitamin E (P1 dan P2) berpengaruh secara signifikan terhadap diameter tubulus seminiferus testis tikus putih diabetes. Kata Kunci : Vitamin E, Histomorfometri Testis Tikus Putih (strain wistar), Dm Tipe 1.
Hubungan Kadar Malondialdehide (MDA) Testis dengan Kualitas Spermatozoa pada Tikus Putih Strain Wistar (Rattus novergicus) Diabetes Tipe I Deslo, Jauhari; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.49

Abstract

Latar Belakang. Hyperglikemia pada diabetes melitus tipe 1 diduga berperan dalam peningkatan radikal bebas (oksidan) dan penurunan antioksidan darah. Peningkatan senyawa radikal bebas memicu peroksidasi lipid pada darah dan testis yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA) testis dan penurunan kualitas spermatozoa. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar MDA testis dengan kualitas spermatozoa tikus putih diabetes mellitus tipe 1. Metode Penelitian. Desain penelitian ini adalah static comparison group dan menggunakan uji analitik observasional. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ekor tikus putih normal dan 16 ekor tikus putih dengan diabetes mellitus tipe 1 yang diinduksi aloksan. Kadar MDA spermatozoa diukur dengan menggunakan uji TBA dan spektrofotometer. Penilaian kualitas spermatozoa (jumlah, persentase motilitas dan morfologi normal spermatozoa) dilakukan dengan menggunakan standar WHO. Data kadar MDA testis dan kualitas spermatozoa (jumlah, motilitas dan morfologi spermatozoa) dianalisis dengan uji-t independent, sedangkan hubungan antara kadar MDA dengan kualitas spermatozoa dianalisis dengan korelasi pearson menggunakan spss 21.0. Hasil Penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar MDA testis tikus normal berbeda secara nyata (p&lt;0,05) dibandingkan dengan tikus putih DM. Jumlah, motilitas dan morfologi normal spermatozoa tikus putih normal berbeda secara nyata (p&lt;0,05) dibandingkan dengan pada tikus putih DM. Terdapat hubungan yang kuat antara kadar MDA testis dengan jumlah, motilitas dan morfologi normal spermatozoa dengan arah negatif (R= - 0,877; - 0,804 dan - 0,795). Kesimpulan. Kadar MDA testis berhubungan secara kuat dengan kualitas (jumlah, motilitas dan morfologi normal) spermatozoa dengan arah negatif. Kata kunci: Diabetes mellitus, malondialdehida testis, kualitas spermatozoa
Hubungan Kadar Progesteron pada Fase Awal Luteal dengan Kematian Embrio pada Sapi Aceh Budianto Panjaitan; Citra Chyntia Helwana; Nellita Meutia; Yusmadi Yusmadi; Tongku Nizwan Siregar; Dasrul Dasrul; Teuku Armansyah TR
Jurnal Agripet Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.877 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v19i2.14881

Abstract

ABSTRAK.  Progesteron merupakan hormon yang berperan penting dalam proses pemeliharaan kebuntingan dan dihasilkan oleh corpus luteum. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kadar hormon progesteron pada fase awal luteal dengan kematian embrio pada sapi Aceh. Dalam penelitian ini digunakan empat ekor sapi betina dewasa berumur 3-5 tahun, bobot badan 150-250 kg, sehat secara klinis, dan memiliki reproduksi normal. Sapi disinkronisasi menggunakan 5 ml prostaglandin F2 alfa (PGF2α) dengan pola penyuntikan ganda berinterval 11 hari. Koleksi sampel darah untuk pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-5, 6, dan 7 pasca inseminasi. Pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinked-immunoassay (ELISA), pemeriksaan kebuntingan dan kematian embrio menggunakan metode transrektal ultrasonografi pada hari ke-25 pasca inseminasi. Pemeriksaan diulang setiap 10 hari sampai hari ke-55 pasca inseminasi. Puncak sekresi progesteron pada sapi bunting dengan embrio yang bertahan hidup terdapat pada hari ke-7 (2,082 ng/ml), pada sapi Late Embryonic Mortality (LEM) di hari ke-5 (8,209 ng/ml) dan pada sapi tidak bunting di hari ke-7 (3,051±1,157 ng/ml). Sekresi progesteron sapi LEM pada hari ke-5 sampai dengan ke-7 cenderung menurun sedangkan pada sapi yang bertahan hidup cenderung meningkat.  (Correlation between progesterone levels in early luteal phase and embryonic death  in Aceh cattle) ABSTRACT. Progesterone is an important hormone that functions to maintain pregnancy and is produced by the corpus luteum. The aim of this study was to see a correlation between progesterone and the incidence of embryonic death in Aceh cattle. This study used four adult female cows, 3-5 years old, 150-250 kg body weight, clinically healthy, and have a normal reproduction. The synchronized with 5 ml prostaglandin F2 alfa hormone, and double injection pattern with 11-day intervals. The blood was collected for progesterone measurements on 5th, 6th, 7th day post artificial insemination. Measurement of progesterone concentration was carried out using an enzymelinked-immunoassay (ELISA), while pregnancy and embryo mortality was performed using the trans-rectal ultrasonography method on the 25th day after insemination. The examination was repeated every 10 days until day 55th after insemination. Progesterone secretion peaks in pregnant cows were on day 7th (2.082 ng/ml), in cattle Late Embryonic Mortality (LEM) on day 5th (8.209 ng/ml) and in cattle not pregnant on day 7th (3.051±1.157 ng/ml). The pattern of LEM progesterone secretion on days 5th to 7th tends to decrease while those that survive tend to increase.
Pengaruh Pemberian Kombinasi Pakan Fermentasi dengan Multi Enzim dan Vitamin E dalam Ransum terhadap Peningkatan Kualitas Semen Ayam Arab Mustafa Mustafa; Dasrul Dasrul; M. Aman Yaman; Sri Wahyuni; Mustafa Sabri
Jurnal Agripet Vol 17, No 1 (2017): Volume 17, No. 1, April 2017
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.819 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v17i1.6576

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim pencernaan dan vitamin E dalam ransum komersial terhadap peningkatan kualitas semen ayam arab. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 kelompok perlakuan dengan 5 kali ulangan. 1) kontrol (P0) ayam diberikan ransum komersial 100 %, 2) perlakuan 1 (P1) ayam diberi 89,83% ransum komersial + 10% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitamin E, (3) perlakuan 2 (P2) ayam diberi 79,83% ransum komersial + 20% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitamin E, dan (4) perlakuan 3 (P3) ayam diberi 69,83% ransum komersial + 30% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitamin E. Koleksi semen dilakukan pada hari ke 36 dengan metode masase. Data kualitas semen yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) satu arah yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim dan vitamin E dalam ransum komersial berpengaruh secara nyata (P0,05) terhadap peningkatan volume, pH semen, konsentrasi spermatozoa, motilitas, spermatozoa hidup, dan penurunan abnormalitas ayam arab, namun tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap warna, konsistensi dan gerakan massa spermatozoa. Dapat disimpulkan pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim dan vitamin E dalam ransum komersial dapat meningkatkan kualitas semen ayam arab. (Effect addition of fermented feed with the multi-enzyme digestion and vitamin E in commercial feed on improvement the quality of semen arab chicken)ABSTRACT. The study aimed to determine the effect of fermented feed combination with the multi enzymes digestion and vitamin E addition on the quality of semen arab’s chicken. This research used a randomized block design (RAK) consisting four treatments with five replications : P0: 100% Commercial feed (524), P1: 89.83% commercial feed + 10% fermented feed + 0.02% viamint E + 0.15% multi enzyme, P2: 79.83% commercial feed + 20% fermented feed + 0.02% vitamin E + 0.15% multi enzyme, P3: 69.83% commercial feed + 30% fermented feed + 0.02% vitamin E + 0.05% multi enzyme. Semen sample was collected at 36th  day using a massage method. Data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued by Duncan test. The results showed that addition of combination of fermented feed with digestive multi enzymes and vitamin E has significantly effect (P0,05) on increases of the volume, pH, spermatozoa concentration, percentage of spermatozoa motility, spermatozoa life, and decreased the percentage of spermatozoa abnormalities. This research can be concluded that the addition of  fermented feed combination with digestive multi enzymes and vitamin E able to improve the quality of arab chicken semen.
Penambahan Tepung Daun Katuk (Saurupus Androgynus L. Merr) dalam Ransum Terhadap Pertambahan Berat Badan dan Lingkar Scrotum Kambing Jantan Peranakan Ettawa Dedhi Yustendi; Dasrul Dasrul; Didy Rachmadi
Jurnal Agripet Vol 13, No 2 (2013): Volume 13, No. 2, Oktober 2013
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.846 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v13i2.813

Abstract

The addition of katuk leaf meal (saurupus androgynus l.merr) in feeds on body weight gain and scrotal circumference  male ettawa grade goatsABSTRACT. This research was aimed to study the effect of addition of katuk leaf meal (Sauropus androgynus L. Merr)  in feed on body weight gain and scrotal circumference of male Ettawa grade goat. The research lasted for eight months, starting Agustus 2012 to Maret 2013, with feeding trial for two months. Twenty male Ettawa grade goats of 18 to 24 months old, were divided into 4 treatment groups. Treatment groups were added with 0% Katuk leaf meal (R0);  5% (R1);  10%  (R2) and 15%  (R3), with 5  goats in each replication. Treatment diets were feed in the morning and afternoon for 60 days. Weighing body weight and measuring scrotal circumference was done every week. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and if there was significantly different, the data were further tested using Duncan multiple range test. The result shows that the body weight gain of the treatment were, R0 (2,39 ± 0,43 kg); R1 (2,84 ± 0,36 kg); R2 (2,85 ± 0,20 kg) and R3 (3,42 ± 0,78 kg) respectively. Scrotal circumference were, R0 (0,74 ± 0,10 cm); R1 (1,24 ± 0,26 cm); R2 (1,26 ± 0,40 cm) dan R3 (1,32 ± 0,32 cm) respectively. The result of this research indicated that the addition of katuk leaf meal in feed had significant effects (P0,05) on body weight gain and scrotal circumference of Ettawa grade goat.
Pemisahan Spermatozoa Berkromosom X dan Y Kambing Boer dan Aplikasinya Melalui Inseminasi Buatan Untuk Mendapatkan Jenis Kelamin Anak Sesuai Harapan Dasrul Dasrul; M. Aman Yaman; Zulfan Zulfan
Jurnal Agripet Vol 13, No 1 (2013): Volume 13, No. 1, April 2013
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.62 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v13i1.546

Abstract

Separation of spermatozoa with x and y chromosome at boer goat and its application by artificial insemination for kid sex purposeABSTRACT. The purposes of this experiment are to investigate the separation of X and Y spermatozoa by measuring the spermatozoa quality, sex ratio between X and Y, capacity of fertility indicated by conception rate and sex ratio of goat boar kids. Samples, used in this experiment, are fresh semen from Boer goat with high quality consists of 4 group treatments with 6 replications 1) group of spermatozoa without separation (control), 2) group of spermatozoa separated by percoll gradient density centrifugation 3 levels (P1), 5 levels (P2) and swine up (P3). The observed parameters are spermatozoa quality, X and Y spermatozoa ratio, fertility’s capacity and sex ratio on the birth. Quality examination of spermatozoa and identify X and Y spermatozoa is based on the standard method of WHO. The conception rate was based on the ratio of pregnant goat after the first insemination. Data of spermatozoa quality and spermatozoa ratio were analyzed by using analisis of variance (ANOVA) and further analysis by LSD if there were differences between treatments. The results of this experiment showed that spermatozoa quality Boer goat significantly reduced (p0,05) after separation with percoll gradient density centrifugation  and swim up. Percentage spermatozoa X after percoll gradient density centrifugation was significantly higher (P0,05) compared to control and swim up. Meanwhile, the Y spermatozoa population was significantly higher (P0,05) after swim up treatment compared to percoll gradient density centrifugation and control. The percentage of sex ratio (male: female) after insemination from percoll gradient density centrifugation produced more female than male. On the other hand, insemination from swim up produced more male than female. Sex ratio produced from separation of percoll gradient density centrifugation, swim up was difference from control semen (P0,05). From this experiment, it was concluded that spermatozoa separation by percoll gradient density centrifugation and swim up can be used as one of the methods to separate   X and Y spermatozoa and further can be applied to get preferred sex animals.
Analisis Motilitas Spermatozoa Sapi Aceh Setelah Pembekuan dalam Berbagai Konsentrasi Andromed® Mukhlis Mukhlis; Dasrul Dasrul; Sugito Sugito
Jurnal Agripet Vol 17, No 2 (2017): Volume 17, No. 2, Oktober 2017
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.589 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v17i2.8373

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi pengencer AdroMed® terhadap kualitas semen sapi aceh setelah proses pembekuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan pengenceran AndroMed®. Kelompok A1: AndroMed® 10% (5 ml AndroMed® + 45 ml Aquadestilata), A2: AndroMed® 15% (7,5 ml AndroMed® + 42,5 ml Aquadestilata), A3: AndroMed® 20%(10 ml AndroMed® + 40 ml Aquadestilata) dan A4: AndroMed® 25% (12,5 ml AndroMed® + 37,5 ml Aquadestilata). Masing-masing kelompok diulangi sebanyak 6 kali. Variabel yang di amati pada penelitian ini adalah Motilitas spermatozoa yang diamati tiap kelompok setelah pembekuan yang selanjutnya dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pola satu arah yang dilanjutkan dengan uji Duncant. Rata-rata persentase motilitas spermatozoa pada kelompok A1, A2, A3 dan A4 secara berturut-turut adalah 30,69±3,68%, 39,79±2,44%, 45,22±3,17% dan 42,42±4,24%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pengencer AndroMed® berpengaruh secara nyata (P0,05) terhadap persentase motilitas spermatozoa sapi aceh. Persentase motilitas spermatozoa pada kelompok A1 tidak berbeda secara nyata dengan A2, dan keduanya berbeda secara nyata (P0,05) dibandingkan dengan kelompok A3dan A4. Konsentrasi AndroMed® 20% lebih baik dari pada 10%, 15% dan 25% dalam mempertahankan motilitas spermatozoa sapi aceh setelah pembekuan. (Analysis of Aceh Cattle spermatozoa motility after freezing using Andromed® with different concentration)ABSTRACT. The study aims to determine the effect of diluent concentration of AndroMed® against the motility of aceh cattle spermatozoa following freezing process. This study uses a completely randomized design (CRD) with 4 treatment groups. Group 1 used diluent 15%; AndroMed®, Grroup 2 diluent 15%; Group 3 with AndroMed® 20%; and, Group 4 with AndroMed® 25%. Each group was repeated 6 times. Motility of spermatozoa assessed which each group observed after freezing.The motility data obtained were analyzed by one way analysis of variance (ANOVA) followed by Duncant test. The average percentage of motility after freezing were found in the group A1, A2, A3 and A4 respectively are 30,69 ± 3,68%, 39,79± 2,44%, 45,22± 3,17%, and 42,42± 4,24%. Statistical analysis showed that the concentration of diluent AndroMed® significantly affected (P0.05) the motility of aceh cattle spermatozoa. There is no significant difference of sperm motility percentage, between A2 with A1 treatment but  both are significantly different (P0.05) compared to group A3. AndroMed® concentration affects the motility of aceh cattle spermatozoa after freezing. The treatment of 20% AndroMed® concentration were improved the quality of aceh cattle spermatozoa following freezing compared to those with AndroMed® 10%, 15%, and 25%.
Co-Authors Abdul Harris Abdul Harris Abdullah, Mohd Agus Nashri Amalia Sutriana Arman Sayuti Asnita Purnama Aulann&#039;iam Aulann&#039;iam Azhar Azhar Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Citra Chyntia Helwana Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Dedhi Yustendi Deslo, Jauhari Dian Masyitha Didy Rachmadi Dwinna Aliza Elsa Suarni Erwin Erwin Eskayanti Pasaribu Etriwati E Fauziah Fauziah Fitriani Fitriani Gholib Gholib Ginta Riady Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hardjopranjot Hardjopranjot Hasan Al Aslam Hattanul Mulia HENNIVANDA HENNIVANDA Idawati Nasution Ismail Ismail Ismail Ismail Ismy, Jufriady Juli Melia Julia Kardin KARTINI ERIANI Khairul Fatah M Hasan M. Aman Yaman Mahaputra L Mamfalutfi, Teuku Masruri Masruri Mauridatun Ramli Mefrianti Efendi MUHAMMAD RIZAL Mukhlis Mukhlis Mulyadi Adam Muslim Akmal Mustafa Mustafa Nazaruddin Nazaruddin Nellita Meutia Novi Afriani Nur Afriani Nur Novika Ayuni Rambe NURLIANA NURLIANA NURLIANA NURLIANA Pusaka, Semerdanta Qadarsina Qadarsina R. N. Selamet Rajuddin Rajuddin Rasmaidar Rasmaidar Razali Razali Rinidar Rinidar Riska, Raisa Mauliza Ronasky, T Roslizawaty Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar Rosnizar, Rosnizar Rossy Septia Putri Rurini R Rurini R Rusli Rusli Sari, Nisa Sariadi Sariadi Siti Aisyah Siti Rizki Hardyana Siregar Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sudjarwo Sudjarwo Sugito Sugito Sugito Sugito Syafruddin Syafruddin t fadrial karmil T. Armansyah Teuku Reza Ferasyi Teuku Zahrial Helmi Tongku Nizwan Siregar Tri Putri Purnama Sari Triva Murtina Lubis Wahyuni, Sri Wira Asyudi Wulandari, Firstia Ritri Y, Bangun I Yusmadi Yusmadi Zarizki Taqwa Zulfan Zulfan Zulyazaini Zulyazaini