Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pemanfaatan Tetes Tebu (Molases) dan Urea Sebagai Sumber Karbon dan Nitrogen dalam Produksi Alginat yang Dihasilkan oleh Bakteri Pseudomonas aeruginosa . Desniar
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7 No 1 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.613 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v7i1.1053

Abstract

Alginat merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari ekstrak rumput laut kelas Phaeophyceae. Alginat mempunyai nilai ekonomis tinggi. Alginat juga diproduksi oleh bakteri Azotobacter vinelandii dan Pseudomonas aeruginosa. Tetes tebu dan urea masing-masing dapat digunakan sebagai sumber karbon dan nitrogen dalam produksi alginat oleh P. aeruginosa. Penelitian ini bertujuan mencari komposisi media terbaik dari konsentrasi yang dicobakan untuk produksi alginat oleh P. aeruginosa. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi konsentrasi tetes tebu 1%, 5%, 10% dan 15% (w/v) (tanpa pemucatan maupun dengan pemucatan) dan konsentrasi urea 0,25 dan 0,50 g/l.Fermentasi dilakukan menggunakan labu kocok dengan waterbath shaker pada suhu 37oC dan agitasi 150 rpm selama 96 jam. Pengaruh perlakuan terhadap pH, pertumbuhan dan konsentrasi alginat dianalisis dengan menghitung rata-rata respon menggunakan standar deviasi yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsentrasi tetes tebu dan meningkatkan biomassa kering dan konsentrasi alginat, sedangkan peningkatan konsentrasi urea tidak berpengaruh terhadap konsentrasi alginat akan tetapi dapat meningkatkan bobot biomassa kering baik pada tetes tebu tanpa pemucatan maupun dengan pemucatan. Tetes tebu yang mengalami pemucatan menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dan produk alginat yang lebih bersih dibandingkan dengan tetes tebu tanpa pemucatan.Kata kunci: Alginat, Pseudomonas aeruginosa, tetes tebu.
Pengaruh Variasi pH dan NaCl terhadap Produksi Inhibitor Protease yang Dihasilkan oleh Acinetobacter baumanii (Bakteri yang Berasosiasi dengan Spons Plakortis nigra) Tati Nurhayati; Maggy T. Suhartono; . Desniar; Rini Suwardinni
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 9 No 2 (2006): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.855 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v9i2.990

Abstract

Mengingat semakin jelasnya keterlibatan protease dalam penyebab penyakit, maka diperlukan suatu senyawa untuk menghambat aktivitas enzim tersebut, yaitu inhibitor protease. Senyawa tersebut dapat dihasilkan oleh makro dan mikroorganisme laut. Untuk memproduksi inhibitor protease diperlukan suatu kondisi produksi yang tepat, termasuk NaCl dan pH media. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi NaCl dan pH yang tepat dalam media untuk menghasilkan inhibitor protease dengan aktivitas tertinggi. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menumbuhkan Acinetobacter baumanii dalam media marine broth+glukosa 0,05 %(w/v) dengan melakukan variasi NaCl (0 %,2 %, dan 4 %(w/v)) dan juga pH (6,7, dan 8). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa konsentrasi NaCl yang tepat untuk produksi maksimum adalah 2 %(w/v) dan pH media 8 dengan waktu inkubasi 20-28 jam. Aktivitas tertinggi yang dihasilkan adalah 1,64-1,93 U/ml.Kata kunci: Acinetobacter baumanii, inhibitor protease
Konsentrasi Hambatan Minimum Ekstrak Chlorella sp. terhadap Bakteri dan Kapang Iriani Setyaningsih; . Desniar; Tresna Sriwardani
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 8 No 1 (2005): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.353 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v8i1.1024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak antimikroba intraseluler dari mikroalga jenis Chlorella sp. dan menentukan konsentrasi hambatan minimumnya pada bakteri Salmonella typhi dan Escherichia coli serta kapang Aspergillus niger dan Penicillium sp. Tahapan penelitian meliputi kultivasi, ekstraksi antimikroba dan uji aktivitasnya terhadap bakteri dan kapang serta penentuan konsentrasi hambatan minimum. Chlorella sp. dikultur dalam medium PHM, yang dilengkapi dengan aerator dan lampu neon sebagai sumber cahaya. Ekstraksi antimikroba dilakukan terhadap sel biomassa yang dipanen pada hari ke-40. Biomassa yang diperoleh sebesar 53,85 gram. Konsentrasi hambatan minimum dari esktrak intraseluler Chlorella sp. dalam menhambat Salmonella typhi adalah 500 ppm dan potensi hambatan terhadap streptomycin sebesar 40 %, konsentrasi hambatan minimum ekstrak terhapad E. coli adalah 250 ppm dan potensi hambatan terhadap streptomycin adalah 46,2 %. Akan tetapi ekstrak yang dihasilkan tidak dapat menghambat pertumbuhan kapang Aspergillus niger dan Penicillium sp.sampai pada konsentrasi 3000 ppm.Key words : Bakteri, chlorella, hambatan minimum.
Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Hidrolisat Protein Hasil Fermentasi Telur Ikan Cakalang Rifki Prayoga Aditia; Desniar Desniar; Wini Trilaksani
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 21 No 1 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 21(1)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.147 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i1.21256

Abstract

Telur ikan cakalang sebagai hasil samping pengolahan ikan asap potensial dimanfaatkan sebagai hidrolisat protein. Hidrolisis menggunakan fermentasi bakteri diharapkan menghasilkan peptida bioaktif yang bersifat antioksidan dan antibakteri pada hidrolisat protein telur ikan cakalang. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan dan antibakteri dari hidrolisat protein hasil fermentasi telur ikan cakalang. Penelitian dilakukan secara deskriptif. Pembuatan hidrolisat protein menggunakan 3 perlakuan fermentasi yaitu fermentasi spontan (FS), fermentasi menggunakan starter tunggal L. plantarum SK 5 (FL) dan fermentasi menggunakan bakteri endogenous serta ditambah bakteri L. plantarum SK 5 (FSL). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa total BAL (bakteri asam laktat) perlakuan FS meningkat hingga jam ke-48 fermentasi lalu menurun hingga akhir fermentasi. Perubahan total BAL yang cenderung statis terjadi pada perlakuan FSL, sedangkan pada perlakuan FL terjadi penurunan hingga jam ke-48 lalu cenderung statis hingga akhir fermentasi. Total mikroba aerob pada perlakuan FS dan FSL mengalami penurunan hingga jam ke-48 fermentasi, sedangkan pada perlakuan FL total mikroba aerob dari awal hingga akhir fermentasi terhitung sama dengan total BAL. Nilai absorbansi pengujianasam amino bebas pada perlakuan FS meningkat paling tinggi selama fermentasi. Aktivitas antioksidan dari hidrolisat protein perlakuan FS dan FSL mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu fermentasi, sedangkan aktivitas antioksidan pada perlakuan FL tidak mengalami peningkatan setelahfermentasi. Aktivitas antibakteri tertinggi terjadi pada hidrolisat protein perlakuan FL pada konsentrasi 0,5 mg/μL dengan lama waktu fermentasi 48 jam. Zona hambat yang terbentuk tergolong sedang.
Screening and Production of Antibacterial from Lactobacillus plantarum NS(9) Isolated from Nile Tilapia Bekasam Desniar Desniar; Iriani Setyaningsih; Yoga Indra Purnama
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 19 No 2 (2016): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.659 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v19i2.13458

Abstract

Lactic acid bacteria has been used as biopreservatif becouse produce a number of antibacterialsubstances are safety and has inhibitory activity against enteropatogenic bacteria. The aims of this studywere to screen of antibacterial compounds produced by Lactobacillus plantarum NS (9) and to producetheir antibacterial compounds. The research was devided into two stages. In the first stage was L. plantarumNS (9) inoculated at 37°C, for 24 hours in semi-anaerobic conditions. The cell-free supertnatant was giventhree treatment, ie not neutralized (A), neutralized (pH 7) (N), and precipitated with ammonium sulfate50% (P). This three supernatant was assayed their antibacterial activity against E. coli, S. typhimuriumATCC 14028, S. aureus, B. cereus and L. monocytogenes using the agar well diffusion method. In the secondstage, production of antibacterial compound was L. plantarum NS (9) inoculated at 37°C, for 24 hoursin semi-anaerobic conditions. The Dencity Optical, value pH, acid total and antibacterial activity weremeasured every three hours during growth of bacteria. The results of the antibacterial screening showedthat L. plantarum NS (9) produced inhibitory zone againts the five indicator bacteria from a supernatant,whereas N and P supernatant were not produced inhibitory zone. This result indicated that inhibition.produced at 6 hours of incubation and were increased to simultaneously with increasing of bacteria growth.The highest antibacterial activity against E. coli, B. cereus and L.monocytogenes were produced at the endof the exponential growth phase (12 -15 hours incubation) while against S. aureus and S. typhimuriumATCC 14028 at 21 and 24 hour of incubation, respectively. The antibacterial activity also was increased tosimultaniously with increasing of acid total (1.350 to 4.050%) and decreasing of pH value (6-4) duringgrowth of bacteria.
Potency of Catfish (Clarias sp.) Protein Hydrolysates as Candidates Matrices for Microbiology Reference Material Kurniawati, Eti; Ibrahim, Bustami; Desniar, Desniar
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.542 KB) | DOI: 10.15578/squalen.v14i3.404

Abstract

Fish protein hydrolysate (FPH) is a derivative product of fish proteins containing smaller peptides and amino acids. FPH products have high water solubility, good emulsion capacity, and large expanding ability. With its functional properties, it allows FPH to be used as a raw material in the manufacturing of secondary microbiological reference materials. This study was intended to characterize catfish (Clarias sp.) FPH as a candidate for the matrix of microbial secondary reference. The FPH was prepared through enzymatic hydrolysis, freeze-drying and milling. The hydrolysis processes were carried out using 5% (w/w) papain, 55 °C for 5 hours, then the papain activity was stopped by increasing the temperature to 80 °C for 20 minutes.The FPH was combined with gelatine, sodium glutamate, glucose solution, and was spiked with Salmonella enteritica sv Enteritidis and freeze-dried. Results showed that catfish FPH was yellowish-white powder with a FPH yield of 11.05%. The proximate analysis of FPH revealed the moisture content of 3.77 ± 0.12%, ash content of 7.26 ± 0.03%, protein content of 86.09 ± 0.17%, and fat content of 1.38 ± 0.07%. The protein content of the FPH was greater than skim milk (33.42%). Carbohydrate levels of catfish FPH and skim milk were 1.56% and 57.46%, respectively. The best concentration of catfish FPH to perform as a microbiological reference material was 14%, obtained from highest viability of Salmonella bacteria and homogeny. The candidate for reference material were stable at storage temperatures of -20 oC.
ANALISIS KAPASITAS PERIKANAN PELAGIS DI PERAIRAN PESISIR PROPINSI SUMATERA BARAT Desniarti .; Akhmad Fauzi; Daniel R . Monintja; Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.518 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat secara ekonomi kepada pelaku usaha, akan tetapi pemanfaatan sumberdaya ikan ini juga memberikan dampak eksternal. Sumberdaya ikan bersifat dapat pulih (renewable resources) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Salah satu permasalahan dalam perikanan tangkap adalah terjadinya kelebihan kapasitas tangkap (overcapacity) yg mendorong terjadinya kelebihan tangkap (overfishing) Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dibandingkan dengan produksi yang lestari, 2) Menganalisis implikasi kebijakan dari kapasitas perikanan antar waktu dan antar alat tangkap. Pendekatan analisis yg digunakan dalam penelitian ini antara lain analisis bioekonomi dan data envelopment analysis (DEA) Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil telah mengarah ke overfishing, sedangkan untuk sumberdaya ikan pelagis besar masih dapat ditingkatkan tetapi perlu kehati-hatian dalam pengelolaannya, 2)Tingkat efisiensi perikanan tangkap untuk ikan pelagis besar rata-rata 85% per tahun sedangkan untuk ikan pelagis kecil rata-rata 89% per tahun, 3) Bila dibandingkan tingkat efisiensi dari empat alat tangkap maka yang paling efisien adalah pukat cincin diikuti oleh tonda, payang dan bagan, 4) Secara rata-rata selama thn pengamatan kondisi perikanan tangkap di perairan pesisir Sumatera Barat sudah mengarah kepada kelebihan kapasitas (overcapacity) sehingga diperlukan adanya pengurangan kapasitas perikanan.Kata kunci: kapasitas perikanan, efisiensi, kelebihan tangkap.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN HIDROLISAT PROTEIN MIOFIBRIL BELUT (Synbranchus bengalensis) YANG DIHIDROLISIS DENGAN ENZIM PAPAIN Arlina Hidayati; Joko Santoso; Desniar
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 29 No. 3 (2019): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24961/j.tek.ind.pert.2019.29.3.247

Abstract

Protein hydrolysates contain bioactive peptides which have several function in order to maintain health and reduce the risk of disease. One of the functions of bioactive peptides is as an antioxidant. This study aims to characterize eel myofibril (Synbranchus bengalensis), determine the effect of papain enzyme ratio and hydrolysis time on eel myofibril protein hydrolysates, determine the antioxidant activity of eel myofibril hydrolysates by using DPPH and reducing power assay, and characterize the hydrolysate of myofibril proteins which have the best antioxidant activity. The results showed that eel myofibril protein contained moisture, fat, protein and ash of 85.91, 0.15, 0.14 and 12.78% respectively and contained the highest glutamic acid and lysine. Hydrolysates of eel myofibril proteins treated using various enzyme ratio and hydrolysis time had hydrolysates yields ranging from 3.53-9.68%, the value of hydrolysis degrees 5.20 - 16.193%, IC50 14.24 - 30.26 mg/mL for DPPH assay and absorbance 0.125 - 0.190 at a concentration of 5 mg/mL for reducing power assay. Hydrolysis eel myofibril protein using ratio papain 0.20:100 for 2 hours produced the highest antioxidant activities measuring by DPPH scavenging and reducing power iron. The hydrolysate had molecular weight approximately 19.51 kDa. Glutamic acid and lysine became the dominant amino acids of the hydrolysate. Keywords: antioxidant, hydrolysates, myofibril, Synbranchus bengalensis, papain
Fermentasi Tambelo (Bactronophorus sp.) dan Karakteristik Produknya Anwar, Lely Okmawaty; Hardjito, Linawati; Desniar, Desniar
PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS PROSIDING SEMINAR NASIONAL EKONOMI MARITIM (Pengelolaan Ekonomi Maritim yang Mandiri dan Berkelanjut
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37149/17242

Abstract

Tambelo (Bactronophorus sp.) adalah hewan penggerek kayu yang dikelompokkan ke dalam filum moluska, hidup pada batang kayu bakau yang telah mati dan mengalami proses pembusukan. Pengalaman empiris masyarakat pantai Sulawesi Tenggara dan beberapa hasil penelitian menunjukkan tambelo memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Tambelo sangat mudah mengalami pembusukan dan pengolahan tambelo belum banyak dilakukan sehingga tingkat konsumsinya rendah, oleh karena itu pembuatan tambelo fermentasi adalah cara yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah membuat tambelo fermentasi menggunakan bakasang sebagai starter dan menentukan mutu produk akhirnya. Selama fermentasi tambelo, dilakukan analisis pH, NaCl, total bakteri, dan total bakteri asam laktat (BAL) setiap minggu selama 4 minggu, kemudian mutu produk akhir dianalisis komposisi kimia dan asam aminonya. Selama fermentasi nilai pH dan kadar NaCl mengalami penurunan, total bakteri dan total bakteri asam laktat (BAL) mengalami peningkatan sampai minggu ke dua lalu mengalami penurunan sampai minggu ke empat. Tambelo fermentasi memiliki kadar protein total yang lebih tinggi dibandingkan dengan tambelo segar dan proses fermentasi berlangsung sempurna meskipun kadarnya lebih rendah dibandingkan dengan komposisi asam amino total pada tambelo segar.
SENYAWA ANTIMIKROBA YANG DIHASILKAN OLEH BAKTERI ASAM LAKTAT ASAL BEKASAM Desniar -; Iman Rusmana; Antonius Suwanto; Nisa Rachmania Mubarik
Jurnal Akuatika Vol 3, No 2 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.214 KB)

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) adalah mikroba dominan yang ditemukan dalam fermentasi ikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perkiraan kuantitatif awal dari substansi antimikroba yang dihasilkan oleh isolat BAL asal bekasam dan mengetahui aktivitas antimikrobnya terhadap lima bakteri patogen. Perkiraan kuantitatif asam laktat dan H2O2, menggunakan metode titrasi. Uji aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi sumur agar. Karakterisasi (morfologi, fisologi dan pertumbuhan) dan identifikasi menggunakan API 50 CHL (Bio-Mereux, France). Produksi asam laktat dan H2O2 meningkat dengan waktu inkubasi untuk semua isolat kecuali pada isolat BP(3). Produksi asam laktat tertinggi adalah 21,765 g/L yang dihasilkan oleh isolat SK(5) (48 jam inkubasi). Konsentrasi H2O2 yang dihasilkan oleh semua isolat jauh lebih rendah dibandingkan dengan asam laktat. Konsentrasi H2O2 tertinggi ialah 0,079 g/L pada isolat BI(3) dan BP(20) dalam 72 jam inkubasi. Supernatan bebas sel yang dinetralkan tidak menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan yang tidak dinetralkan dapat mengambat bakteri uji yang digunakan dengan zona hambat 9 -15 mm. Zona penghambatan terbesar dihasilkan oleh isolat SK(5) (24 jam inkubasi) terhadap S. aureus. Isolat BI(3), BP(3) dan BP(20) adalah Pediococcus pentosaceus 1 dengan kemiripan sebesar 99,9%. Isolat SK(5) adalah Lactobacillus plantarum 1 dengan kemiripan sebesar 99,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa isolat BAL asal bekasam dapat dijadikan sebagai kandidat biopreservatif pangan terutama untuk pengolahan hasil perikanan. Kata kunci: antimikrobial, asam laktat, bakteri asam laktat, bekasam, dan hidrogen peroksida.