Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Jurnal Arsitektur DASENG

PUSAT SENI BUDAYA BALI DI KOTA MANADO, NEO VERNAKULAR Yoga S. Sugawa; Frits O. P. Siregar; . Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v11i1.43368

Abstract

Perancangan Pusat Seni Budaya Bali ini lahir dari minat masyarakat bali yang ada di kota manado yang melestarikan keberagaman akan budaya bali ke di kota manado yang merupakan Ibu Kota Manado yang menjadi primadona pariwisata bagi tursi yang datang unutk menikmati keindahan kota manado dan juga melihat langsung keberagaman akan budaya yang di kota Manado, Kota Manado memiliki beragam macam budaya yang ada di dalamnya, Budaya yang paling nampak pada kota Manado yaitu Budaya Minahasa sehingga keberagaman budaya bali yang di Kota Manado  belum sepenuhnya nampak secara menyeluruh unutk mendukung aktivitas akan budaya bali. Tujuan Pusat Seni Budaya Bali ini unutk menghadirkan wadah pelestarian budaya lewat penampilan secara menyeluruh serta dapat memberikan edukasi bagi masyarakat sekitar dan juga pengunjung yang datang di kota ManadoMetode yang dipakai dalam perancangan ini merupakan metode dari Horst Rittel yaitu metode “Siklus pengembangan varietas dan reduksi varietas”, dimana dalam proses ini, perancang membuat lebih dari 1 alternatif rancangan yang akan di terapkan pada objek, sesuai dengan judul dan tema perancangan unutk memperoleh desain yang baik dan sesuai dengan kondisi tapak dan juga menggunakan metode analisa Edward T,White  untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan akan kebutuhan dan juga llingkungan sekitarPada Perancangan Objek Pusat Seni budaya bisa menghasilkan desain asrstiketural yang mampu merespon permasalahan yang ada mulai dari kebutuhan masyarakat bali di Kota Manado dengan penyediaan fasilitas pemberdayaan dan edukasi dan juga aspek kelestarian budaya dengan memaksmilkan bentuk akan bentuk bangunan sebagai perwadahan kegiatan kesenian., Dengan penerapan tems “Neo Vernakular” makasa perancangan ini mampu menjawab permasalahn tapak yang ada lewat solusi arsiekural yang tetap mempertahankan bentuk bangunan budaya bali dengan penerapan yang modernKata kunci: Manado, Pusat Seni Budaya, Bali, Wisata Edukasi, Neo Vernakular.
TAMAN WISATA BUDAYA DAN HOTEL RESORT DI TANA TORAJA. Dynamic Modular Architecture Selpi Paundanan; Hanny Poli; . Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20846

Abstract

Taman wisata budaya merupakan wadah untuk menampung setiap wujud kebudayaan suatu daerah. Tana Toraja merupakan daerah kabupaten yang layak untuk membangun sebuah taman wisata budaya dengan melihat jumlah wisatawan yang terus mengalami peningkatan sekaligus sebagai wujud apresiasi, tempat penelitian, pengembangan dan rekreasi. Taman wisata budaya yang dilengkapi dengan hotel resort menjadi strategi penggabungan dua tipologi fungsi arsitektur yang synergy. Menghadirkan taman wisata budaya dan hotel resort dengan tema dynamic modular architecture akan menciptakan karya arsitektur yang memberikan ekspresi bentuk yang kemudian digabungkan dengan kebudayaan setempat. Mengumpulkan data, menganalisa, dan menentukan konsep yang dilakukan berulang hingga mencapai titik maksimal merupakan strategi perancangan yang digunakan. Memilih tapak yang strategis dengan berbagai analisa yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan objek dan kaitannya dengan dynamic modular architecture. Hasil perancangan kemudian menjadi wadah bagi masyarakat setempat untuk pengembangan kebudayaan yang ada sejak lama.Kata kunci: Dynamic, Hotel resort, Taman wisata budaya, Wisatawan
MANADO CONCERT HALL. Optimasi Akustik dalam Ruang Gratia S. Punuh; . Suryono; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23692

Abstract

Fasilitas concert hall secara umum mempunyai masalah yang cukup kompleks, bukan hanya dalam ruang lingkup sosial tetapi juga membahas desain bangunan yang membutuhkan penyelesaian yang optimal. Maka sangat perlu diperhatikan juga desain pada ruang utamanya, semakin optimal desain akustik suatu ruang maka semakin optimal pula pesan dan makna yang tersampaikan kepada pendengar. Untuk itu, pemilihan material pada elemen interior dan perabot sangat berperan pada kualitas akustik suatu ruang. Dengan desain arsitektural yang baik, suara-suara yang diinginkan dapat dinikmati dengan sempurna dan suara-suara yang mengganggu pendengaran dapat dihindarkan contohnya pada bangunan khususnya di ruang utama. Di Kota Manado saat ini, peminat seni sudah sangat berkembang pesat khususnya dalam seni musik. Oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas terhadap seni musik di Manado, maka perlu diadakan wadah yang dapat menfasilitasi hal tersebut, karena kota Manado sampai saat ini belum mempunyai standar gedung dengan akustik yang memadai. Sehingga, wadah itu diharapkan bisa memberikan pengaruh yang baik pada perkembangan seni musik di kota Manado. Jadi, kesimpulannya penerapan arsitektural akustik pada Concert Hall di Manado mampu menyajikan bangunan yang modern serta mampu memberikan kenyamanan dan keamanan akustika bangunan. Kata kunci: Concert Hall, Akustik, Kota Manado.
PUSAT KEGIATAN GEREJA TORAJA MAMASA DI MAKASSAR. Arsitektur Neo Vernakular Clavelin N. Panggalo; Papia J. C. Franklin; . Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24622

Abstract

Gereja Toraja Mamasa dengan 10 jemaat yang termasuk dalam Klasis Makassar, membutuhkan wadah yang dapat menampung kegiatan-kegiatan kerohanian, seperti beribadah, pelayanan informasi, dan edukasi bagi jemaatnya dan juga umat kristiani yang ada di Makassar. Tujuan perancangan ini tentunya untuk menghadirkan ruang perwadahan yang dapat mengakomodir peribadatan, pusat informatif dan pusat edukatif dalam suatu wilayah sehingga memberi kemudahan bagi jemaat Gereja Toraja Mamasa.Perancangan Pusat Kegiatan Gereja Toraja Mamasa ini menggunakan metode glassbox yaitu berupa penjelasan atau deskripsi yang di dukung adanya literatur-literatur yang berhubungan dengan objek rancangan dan dilakukan secara rasional dan logis oleh perancang dimana konsep tidak datang secara spontan namun melalui tahapan, diantaranya pengumpulan data, analisis data, dan tranformasi konsep.Penerapan tema Arsitektur Neo-Vernakular pada objek perancangan dibuat terlihat pada atap, dinding, lantai, kolom, serta ornament yang digunakan, yang akan kembali membangkitkan arsitektur yang mengandung nilai lokal mamasa yang diharapkan dapat menciptakan suasana peribadatan yang religius dan memperlihatkan image budaya Mamasa yang tidak terlalu mecolok di kota Makassar Kata kunci : Perancangan, Pusat, Gereja, Mamasa, Neo-Vernakular.
STASIUN INTERMODA DI MANADO. Time Space Existence Mattew R. Manangka; . Suryono; Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25053

Abstract

Kalasey dan supremasi kendaraan beroda merupakan garis besar yang melatarbelakangi kepadatan Kota Manado baik dalam segi kependudukan dan infrastruktur. Hal ini berimbas pada kemacetan jalan, meningkatnya gas buang/polutan, dan terbatasnya lahan pembangunan. Perkeretaapian merupakan salah satu jalan keluar untuk dilema tersebut. Kereta Api Trans-Sulawesi dan LRT Manado-Kalasey merupakan rencana dari Pemerintah Kota Manado dan Kementerian Perhubungan untuk kemajuan merata di seluruh daerah Sulawesi Utara. Daerah Liwas ditempatkan sebagai simpul distribusi logistik yang direncanakan akan menjadi Kawasan Berorientasi Transit. Stasiun Intermoda ini berlokasi didaerah Liwas dengan mengintegrasikan beberapa moda Transportasi antara lain kereta api, Light Rail Transit (LRT), kereta barang, bus, angkutan kota dan kendaraan beroda dalam satu kawasan. Hal ini menjadikanya kompleks sehingga sangat krusial untuk menghadirkan sebuah stasiun tanpa proses perancangan yang komprehensif. Stasiun dirancang dengan gagasan Time-Space Existence oleh Arata Isozaki yang berasosiasi logis pada konsep programming dan sirkulasi dalam skala bangunan maupun kawasan.  Memaksimalkan fungsi ruang dengan memanipulasi hubungan konfigurasi spasial ruang secara tepat tentunya dapat menghasilkan beberapa keuntungan. Selain itu, kawasan ini harus dirancang semaksimal mungkin untuk tidak menimbulkan potensi terjadinya hambatan gerak baik penumpang, kendaraan, maupun barang. Upaya ini tentunya bertujuan untuk melancarkan atau menstabilkan fluktuasi logistik kawasan. Kata kunci : Stasiun, Kereta Api, Intermoda, Time-Space Existence.
GELANGGANG RENANG DI MANADO. Struktur sebagai Elemen Estetika Siti Sartika; . Suryono; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25557

Abstract

Gelanggang renang adalah sebuah fasilitas olahraga berupa tempat digelarnya pertandingan/lomba olahraga renang, loncat indah dan polo air. Didalamnya terdapat beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk mewadahi adanya turnamen seperti SEA GAMES, PON dan sebagainya. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana olahraga renang sebagai tempat latihan dan tempat digelarnya pertandingan renang.  “Sturktur Sebagai Elemen Estetika” digunakan sebagai tema  dalam proses perancangan. Tema ini dipilih karena dipercaya merupakan tema yang memberikan kesan yang pada bentuk struktur. Dengan harapan, melalui tema ini bisa menghasilkan karya arsitektur yang menunjukan Estetika pada stuktur Gelanggang Renang. Kata Kunci : Gelanggang Renang, Tema Struktur Sebagai Elemen Estetika.
HOTEL DAN CONVENTION CENTER DI MANADO. Arsitektur Kontemporer Chiesa M. K. Kembuan; . Suryono; Hanny Poli
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25590

Abstract

Hotel dan Convention Center merupakan fasilitas pendukung untuk tempat tinggal selama beberapa hari yaitu guna untuk mengantisipasi kedatangan wisatawan lokal dan wisatawan asing dengan berbagai tujuan. kegiatan dan kepentingan yang berbeda seperti berwisata, berbisnis, menghadiri konferensi. Kehadiran Hotel dan Convention Center di  Manado diharapkan dapat memberikan fasilitas akomodasi yang baik dan lengkap bagi para tamu dengan berbagai tujuan yang berbeda-beda. Kota Manado merupakan tempat  yang penting bagi pengunjung yang merupakan atraksi pariwisata sebagai suatu kreasi bernilai dalam bentuk serangkaian aktivitas sesuai dengan minat kunjungan wisatawan, yang meliputi wisata budaya, wisata alam, wisata buatan di Kota Manado. Tema “Arsitektur Kontemporer” yaitu sebuah konsep desain yang selalu berkembang atau selalu mengikuti perkembangan jaman dimana kekontemporeran tersebut merupakan perpaduan arsitektur modern dengan iklim tropis dan suatu aspek tradisional lingkungan setempat.Kata Kunci : Hotel, Convention Center, Kota Manado, Arsitektur Kontemporer 
PUSAT INDUSTRI KREATIF KOTA MANADO. Arsitektur Nusantara Christina L. Bakara; . Suryono; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.31098

Abstract

Pusat Industri Kreatif Kota Manado adalah salah satu fasilitas yang berfungsi sebagai ruang bersama dan tempat berkembang para pelaku-pelaku usaha di bidang industri kreatif. Dengan melihat potensi subsektor industri kreatif di kota Manado yang setiap tahun menunjukkan perkembangan dalam ekonomi kreatif di Sulawesi Utara dan Indonesia, namun belum adanya wadah untuk memaksimalkan potensi tersebut sehingga penulis membuat rancangan Pusat Industri Kreatif Kota Manado dengan Tema Arsitektur Nusantara. Dalam perancangan Pusat Industri Kreatif Kota Manado, metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data, yaitu studi yang dilakukan secara deskriptif, dengan beberapa langkah yaitu studi literatur, observasi, studi komparasi, analisa, sintesa, dan desain final.Hasil dari Perancangan Pusat Industri Kreatif Kota Manado berupa rancangan desain Arsitektur Nusantara yang bersumber pada kearifan lokal,kekayaan budaya, kondisi lingkungan & ciri khas daerah Sulawesi Utara untuk menghadirkan ruang dan fasilitas bagi pelaku industri kreatif di Manado untuk mengembangkan usahanya.Kata Kunci         : Pusat, Industri Kreatif, Pelaku Usaha, Arsitektur Nusantara
PUSAT KERAJINAN SENI BAMBU DI KOTA TOMOHON, Kontemporer Tradisional Mahendra P. P. Sulistyo; . Suryono; Pierre H. Gosal
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.31562

Abstract

Pada dasarnya alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan tersebut. Namun seiring perkembangan zaman dan berkembangnya teknologi, arsitektur juga berkembang dalam hal material yang digunakan. Perkembangan tersebut memicu penemuan material baru dan penggunaannya pun terus meningkat. Dari struktur kayu rumah sederhana yang berkembang menjadi struktur beton dan baja pada gedung-gedung bertingkat. Kebutuhan yang meningkat akan satu material dapat berdampak pada kurangnya penggunaan material lain. Hal ini dapat menimbulkan suatu kondisi dimana pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan dapat terjadi karena kebutuhan industri yang tinggi entah itu dalam konstruksi atau kebutuhan sehari-hari. Padahal masih banyak material di alam yang bisa digunakan dan dapat di gabungkan dengan bahan material lain sehingga pemanfaatannya bisa seimbang, salah satunya adalah bambu. Bambu memiliki sifat yang fleksibel dan kuat. Bambu bertumbuh cepat dan bisa digunakan terus menerus, yang tidak harus diproduksi secara berkala. Bambu seharusnya menjadi pertimbangan penting untuk material utama infrastruktur yang tahan lama karena bambu adalah material yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Indonesia memiliki ketersediaan bambu yang melimpah, tapi karena kurangnya pengetahuan tentang bambu sehingga pemanfaatan bambu hanya mandek pada perabot rumah tangga dan hiasan anyaman saja. Hanya sedikit daerah di Indonesia yang memanfaatkan bambu sebagai konstruksi yang memunculkan nilai estetika bambu itu sendiri.Kata Kunci: Pusat Kerajinan, Bambu, Kontemporer Tradisional
MUSEUM SEJARAH MINAHASA DI MANADO, Arsitektur Dekonstruksi Imanuel K. Mokalu; . Suryono; Johannes V. Rate
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34576

Abstract

Museum ditatap selaku tempat hiburan serta fasilitas pembelajaran yang terjangkau, namun popularitasnya masih sangat kurang dibanding destinasi yang lain semacam mall ataupun bioskop. Eksistensi kemajuan teknologi serta media sosial mempengaruhi terhadap kegiatan Museum disaat ini. Tugas museum disaat ini pasti tidak alami pengeseran namun metode penyajian dari kontennya yang alami pengembangan, Transformasi tersebut mempengaruhi terhadap definisi serta kedudukan Museum disaat ini. Mulai dari elemen interaktif sampai integrasi teknologi. Tujuan perancangan dalam Museum Minahasa ini yakni buat menghasilkan museum yang dapat membagikan koleksi berbagai aktivitas serta kegiatan kebudayaan, bukan sekedar membagikan koleksi benda mati, tapi nantinya fokus museum ini bakal sebagai pondasi dalam melakukan aktivitas kegiatan kebudayan Minahasa. Dalam perancangan Museum Sejarah Minahasa di Kota Manado ini lebih menekankan perpindahan peranan tipologi museum ke faktor rekreatif serta entertaiment, dengan Arsitektur dekonstruksi selaku pendekatan terhadap perancangan bangunan dengan berupaya memandang arsitektur dari segi estetika wujud serta program bangunan selaku daya tarik wisatawan. Konteks objek Museum Minahasa diharapkan bisa jadi salah satu pusat orientasi kota Manado dan jadi barometer aktivitas budaya wilayah serta aktivitas tamasya yang berdifat edukatif, sekalian pula sanggup memacu pertumbuhan pariwisata serta perekonomian wilayah kota Manado.Kata Kunci : Museum, Minahasa, Dekonstruksi.