Asna Usman Dilo
IAIN Sultan Amai Gorontalo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI POHULO’O GORONTALO DALAM TINJAUAN FIQH Sofhian, Sofhian; Dilo, Asna Usman
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.773 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2675

Abstract

This research describe pohulo’o tradition (pawning) in Gorontalo society that related with the pawn concepth in Islam. Pohulo’o (pawning) system is relationship of law between somebody with land other possession, who accepth pawning money from him. As long as pawning money return yet, the land dominated by hold on pawning. While pawning in Islam or rahn is hold out one of property of borrower as guarantee on loan that he accepth. Based on the result of research showed that there are two kinds of pawning in pohulo’o tradition. First, gave guarantee goods like land or plants like coconut tree with prerequirment (a) return loan money after fall of time, (b) not return loan money after fall of time or in term Gorontalo society is pajaki. Second, without gave guarantee goods like land or plants like coconut tree, but who gave loan accepth 1/3 result of harvest as long as pawning time or back again money loan. The relevance with fiqh rahn view that from law, there are simillary in requirment and contract while the differenciate at used of land, property as pawning then the risk of pohulo’o. Penelitian ini menggambarkan tradisi pohulo’o (gadai) pada masyarakat Gorontalo yang dikaitkan dengan konsep gadai dalam Islam. Sistem pahulo’o (gadai) adalah hubungan hukum antara seseorang dengan tanah milik orang lain, yang telah menerima uang gadai darinya. Selama uang gadai belum dikembalikan, tanah tersebut dikuasai oleh “pemegang gadai” . Sedangkan gadai dalam Islam atau rahn yaitu penahanan harta salah satu milik peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 jenis gadai dalam tradisi pohulo’o. Pertama, menyerahkan barang jaminan berupa lahan atau tanaman seperti pohon kelapa dengan ketentuan mengembalikan uang yang dipinjam setelah jatuh tempo dan tidak mengembalikan uang setelah jatuh tempo atau yang dikenal masyarakat Gorontalo dengan istilah pajaki. Kedua, tidak menyerahkan barang jaminan berupa lahan atau tanaman seperti pohon kelapa, tetapi pemberi pinjaman mendapat 1/3 hasil panen sepanjang kontrak gadai berlangsung atau sampai pinjamannya dikembalikan. Relevansinya dengan fiqh rahn Islam yakni dari segi hukum ada kesamaan dalam hal syarat dan akad sedangkan perbedaanya pada pemanfaatan lahan, harta yang digadaikan serta risiko yang timbul akibat praktek pohulo’o.
IMPLIKASI FALSAFAH SIRI' NA PACCE PADA MASYARAKAT SUKU MAKASSAR DI KABUPATEN GOWA Darwis, Rizal; Dilo, Asna Usman
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.55 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2317

Abstract

Articulating the religion in the life of human is a phenomenon in the actual practice. Religion consists of beliefs, dogmas, traditions, practices and rituals. A faith people who was born into a religious tradition would inherit and take all these aspects directly and believed that everything inherited was essential and integral aspect of religion. From this context,religious understanding begined from understanding the legacy that has been determined and doctrined unilaterally without passing personal lane that bassically  resulted a conviction and a strong understanding. At the life level, people had a philosophy of their life. This was ref lected in aphilosophy siri’ na pacce that was hold  by tribe Makassar as guidelines in their daily activities. Mengartikulasikan agama dalam ranah kehidupan manusia merupakan sesuatu yang fenomenal dalam praktik yang sebenarnya. Agama terdiri dari keyakinan, dogma, tradisi, praktik dan ritual. Seorang yang beriman yang dilahirkan dalam tradisi yang religius akan mewarisi dan mengambil semua aspek ini begitu saja dan meyakini bahwa segala sesuatu yang diwarisi merupakan aspek esensial dan integral dari agama. Dari konteks ini, pemahaman keagamaan merupakan pemahaman yang sama karena berawal dari pemahaman warisan yang sudah ditentukan dan didoktrinkan secara sepihak tanpa melewati jalur penelusuran pribadi yang pada dasarnya akan menghasilkan sebuah keyakinan dan pemahaman yang kukuh. Pada tataran kehidupan, masyarakat tentunya memiliki falsafah dalam menjalani kehidupan mereka. Hal ini tergambar pada falsafah yang dipegangi masyarakat Suku Makassar, yaitu falsafah siri’ na pacce yang menjadi pedoman dalam pergaulan mereka sehari-hari