Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Gradasi Dan Derajat Kejenuhan Terhadap Nilai CBR Untuk Material Granular Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.645 KB) | DOI: 10.36448/jts.v6i1.907

Abstract

Konstruksi jalan adalah suatu struktur yang berapis yang terdiri dari lapisan tanah dasar (sub grade), lapis pondasi bawah (sub base course), lapis pondasi atas (base course) dan lapis permukaan (surface course). Masing-masing lapisan harus saling mendukung dan mengunci karena kelemahan salah satu strukturnya maka dapat mengakibatkan kerusakan struktur jalan secara total. Salah satu faktor yang mempengaruhi dan menentukan mutu jalan secara keseluruhan adalah lapisan pondasi bawah (sub base). Penelitian ini hanya sebatas gradasi agregat, kadar air dan pada satu gradasi agregat terdapat tiga jenis sampel kadar air saja juga perlu menambahkan jenis sampel agar mendapatkan ketelitian hasil yang lebih baik.Dari penelitian ini didapatkan bahwa: (1) Perubahan perilaku butiran tanah (agregat) seperti perbedaan berat jenis yang dipengaruhi oleh kekasaran gradasi agregat dari agregat lebih kasar, agregat didalam spesifikasi, dan agregat lebih halus dari spesifikasi, (2) Penambahan nilai kadar air optimum yang dibutuhkan akibat dari semakin halusnya gradasi agregat (butiran tanah), (3) Menurunnya nilai CBR (California Bearing Ratio) karena tidak sesuai dengan spesifikasi agregat bina marga, dan semakin halus butiran tanah maka nilai CBR semakin kecil seperti agregat dalam keadaan kering gradasi didalam spesifikasi nilai CBR 48,51, gradasi yang lebih kasar dari spesifikasi nilai CBR menurun menjadi 36,10, nilai CBR yang terkecil saat gradasi agregatnya lebih halus dari spesifikasi yaitu 29.
Uji Perbaikan Tanah Skala Pemodelan Dengan Vertical Drain Pola Segitiga Single Drain Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.541 KB) | DOI: 10.36448/jts.v5i1.898

Abstract

Secara umum tanah memiliki definisi sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dari bahan-bahan organik yang telah melapuk disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Diantara partikel-partikel tanah terdapat ruang kosiong yang disebut pori-pori (voidspace) yang berisi air dan/atau udara. (Das, 1995). Diantara partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-pori (void space) yang berisi air dan/atau udara. Pori-pori ini selalu berhubungan antara satu dengan yang lainnya sehingga air dapat mengalir melalui ruang tersebut. Proses ini disebut rembesan (seepage) dan kemampuan tanah untuk dapat dirembes air disebut dengan daya rembes (permeability). Rembesan air dalam tanah cukup penting dalam bidang teknik sipil, misalnya untuk memperkirakan jumlah rembesan air dalam tanah, untuk menyelidiki permasalahan-permasalahan yang menyangkut pemompaan air untuk konstruksi di bawah tanah, dan untuk menganalisis kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi dinding penahan tanah. Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan semakin rendah koefisien permeabilitasnya. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa            Penggunaan metode vertical drain pola segitiga single drain lebih baik dibandingkan dengan metode tanpa vertical drain, hal ini disebabkan karena adanya kolom-kolom pasir yang dimiliki oleh metode vertical drain sehingga air yang dapat dialirkan atau diserap oleh metode vertical drain semakin besar.  Pengaruh metode vertical drain pola segitiga single drain sangat besar terhadap percepatan konsolidasi baik secara vertikal maupun horizontal, karena metode ini menggunakan kolom-kolom drain   agar air dalam pori-pori tanah lebih cepat terevakuasi dengan memanfaatkan aliran air arah horizontal.
Analisa Dan Desain Pondasi Tiang Pancang Berdasarkan Bentuk Tiang Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087 KB) | DOI: 10.36448/jts.v6i2.912

Abstract

Definisi pondasi adalah bagian terbawah dari suatu bangunan (sub structure) yang menerima dan meneruskan seluruh beban-beban yang bekerja di bag'an atasnya dengan segala efeknya, termasuk beban tidak tetap, gempa, angin, suara, yang kemudian diterima oleh suatu lapisan tanah sehingga diharapkan bangunan dalam kondisi aman.Pondasi tiang merupakan type pondasi yang sering digunakan pada stuktur bangunan yang membutuhkan daya dukung yang sangat besar, seperti gedung bertingkat, jembatan dan lain-lain. Apabila tanah dasar di bawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung yang aman untuk memikul berat bangunan serta beban yang bekerja di atasnya, atau apabila lapisan tanah yang mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang aman untuk memikul berat bangunan letaknya sangat dalam. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Ditinjau dari segi kekuatan bahan, maka daya dukung pondasi yang paling besar adalah pondasi baja H yaitu sebesar 194,6 ton, (2)          Ditinjau dari daya dukung tanah, daya dukung pondasi yang paling besar adalah pada pondasi tiang baja profil H yaitu sebesar 7719 ton, (3)      Kondisi tanah sangat berpengaiuh dalam menentukan besarnya kapasitas daya dukung yang dapat dipikul oleh tiang pancang.
Uji Kekakuan Tulangan Baja pada Sambungan Balok dengan Tulangan Baja Tanpa Tekukan pada Kedua Ujung Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.063 KB) | DOI: 10.36448/jts.v4i2.894

Abstract

Setelah kita menguji balok beton tulangan yang tulangan besi baja 0 6 mm untuk sengkang dan 0 10 mm untuk tulangan utama dan mempunyai panjang 120x15x1 Ocm. Nilai rata-rata kekakuan dari balok dengan tulangan tanpa sambungan lebih besar di bandingkan dengan rata-rata kekakuan dari balok dengan tulangan dengan sambungan tanpa tekukan pada kedua ujung. Dari hasil yang didapat, disimpulkan bahwa: Balok bertulang dengan tulangan tanpa sambungan mempunyai nilai kekakuan rata-rata sebesar 175,704 kg/mm. Balok bertulang dengan tulangan mempunyai sambungan tanpa kait pada kedua ujung mempunyai nilai kekakuan rata-rata sebesar : 160,872 kg/mm. Nilai kekakuan dari beton tulangan tanpa menggunakan sambungan dengan beton tulangan yang menggunakan sambungan tanpa kait pada kedua ujung mempunyai perbedaan kurang lebih 8,38 % lebih besar beton tulangan tanpa sambungan. Hal ini disebabkan dari pengaruh tulangan baja yang sudah tidak murni utuh sehingga mengurangi kekuatan dari baja tersebut.
Optimasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dengan Metode Jalur Kritis Menggunakan Software Microsoft Project Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.497 KB) | DOI: 10.36448/jts.v7i1.917

Abstract

Suatu proyek terdiri dari berbagai jenis pekerjaan. Antara satu jenis pekerjaan dengan jenis pekerjaan yang lain mempunyai hubungan yang sangat erat. Jenis-jenis pekerjaan itu akan menunjukkan skala besar atau tidaknya suatu proyek. Makin banyak jenis pekerjaan yang akan dilakukan maka makin besar pula skala dari proyek tersebut, demikian pula sebaliknya. Hubungan antara jenis pekerjaan yang satu dengan jenis pekerjaan yang lain pada proyek yang berskala besar akan sangat kompleks, makin kecil skalanya maka hubungan antara jenis pekerjaan akan makin sederhana. Pada beberapa proyek, seringkah terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan terutama pada waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Hal ini mengakibatkan terhambatnya beberapa pekerjaan lainnya yang dilakukan setelah pelaksanaan pekerjaan konstruksi selesai. Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan konstruksi juga mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya pekerjaan yang cukup besar. Untuk dapat mengurangi resiko terjadinya pembengkakan biaya, diperlukan optimasi waktu kerja yang lebih terencana dengan matang agar keterlambatan pekerjaan dapat dihindari. Optimasi waktu yang dilakukan disini tentu saja dengan memperhatikan hal-hal lain seperti kualitas mutu pekerjaan dan lain-lain.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jadwal kerja yang efisien dengan membuat suatu jalur kritis dari suatu jaringan kena yang mengoptimalkan beberapa pekerjaan yang merupakan titik-titik rawan pada pelaksaaan pekerjaan konstruksi dalam suatu proyek yang keterlambatannya akan sangat berpengaruh pada penyelesaian akhir dari proyek itu.
Pengujian Pemadatan Campuran Beton Aspal Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.384 KB) | DOI: 10.36448/jts.v7i2.922

Abstract

Daya dukung, keawetan, dan mutu perkerasan jalan ditentukan oleh sifat-sifat agrerat dan hasil campuran agrerat dengan material lainnya.Beberapa sifat agrerat yang menentukan kualitas dan sifat-sifat lapis perkerasan jalan adalah gradasi agregrat, ukuran maksimum, kekerasan dan ketahanan, bentuk butiran dan tekstur permukaan.Sifat-sifat agrerat ini tergantung dari jenis dan asal agrerat.Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agrerat merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan. Gradasi agrerat mempengaruhi besarnya rongga antar butir yang menentukan stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan. Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui karakteristik lapis aspal beton dari campuran yang ada. Dari hasil pengujian campuran beton aspal dengan menggunakan alat marshall, maka diperoleh : (1) Nilai Stabilitas (stability) masih diatas ketentuan minimal yaitu minimal 500 Kg, nilai-nilai yang didapat dari hasil pengujian tersebut adalah 737.752 Kg, 823.451 Kg, 681.862 Kg, 652.054 Kg. (2) Nilai Flow dalam standar yang ditentukan minimal 4,0 mm dan maksimal 4,0 mm, hasil pengujian dengan variasi kadar aspal 4% sampai dengan 6% ini adalah 4,1 mm, 3,133 mm, 4,9 mm, 5,7 mm, 5,6 mm. (3) Marshall Quotient yang diperoleh adalah 184.481 Kg/mm, 262.300 Kg/mm. 146.681 Kg/mm, 120.794 Kg/mm, 118 Kg/mm. (4) Besarnya rongga di Udara adalah 10.130%, 9.751%, 5.503%, dan 8.609%. (5) Nilai kadar aspal optimum (asphalt content) dari penelitian ini tidak didapat dari gambar, sehingga perlu dilakukan penelitian ulang terhadap penelitian ini.
Kinerja Laboratorium Campuran Laston Lapis Aus-2 (Ac-Wc) Dengan Variasi Gradasi Dan Filler Menggunakan Batuan Dari Desa Tanjungratu Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Lilies Widojoko; . Baheram
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2012): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1802.084 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i1.271

Abstract

Lebih dari 90% campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) terdiri dari agregat. Karena itu maka sifat agregat sangat mempengaruhi kinerja campuran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja laboratorium dari dua macam agregat campuran dengan pembagian butir atau sering disebut gradasi yang berbeda dengan menggunakan agregat dari Desa Tanjungratu Kecamatan Ketibung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Gradasi campuran pertama terletak di atas kurva Fuller dan gradasi campuran kedua di bawah kurva Fuller dengan memotong kurva tersebut. Dengan demikian, agregat campuran pertama lebih halus daripada agregat campuran kedua. Masing-masing campuran mengunakan bahan pengisi (filler) abu batu dan semen portland. Penelitian yang dilakukan pada keempat macam campuran tersebut adalah kinerja stabilitas Marshall, Indeks Kekuatan Sisa (IKS), dan stabilitas dinamis.Penelitian ini menunjukkan bahwa stabilitas Marshall tertinggi adalah campuran halus dengan filler semen, diikuti dengan campuran halus dengan filler abu batu, campuran kasar dengan filler semen, dan campuran kasar dengan filler abu batu. Sedangkan IKS tertinggi yaitu sebesar 93,07% pada campuran halus dengan filler semen, sedangkan campuran halus dengan filler abu batu, campuran kasar dengan filler abu batu, dan campuran kasar dengan filler semen menghasilkan nilai IKS kurang lebih sama. Stabilitas dinamis tertinggi yaitu sebesar 6300,0 lintasan/mm pada campuran halus dengan filler abu batu, diikuti dengan campuran halus dengan filler semen, campuran kasar dengan filler abu batu, dan yang terendah campuran kasar dengan filler semen.
Flood Analysis On The Tailing Dam At Way Linggo, Lampung Province Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2011): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.576 KB) | DOI: 10.36448/jts.v2i2.267

Abstract

Abstract : The Soil Conservation Service (SCS) runoff Curve Number (CN) was developed as an index that represents the combination of a hydrologic soil group and a land use and treatment class.Tailling Dam Way Linggo is located in Lampung Province.Due to the absence of an automatic water level recorder in the project site , another recorder in neighbouring catchment that is Banjaragung, catchment, which is the smallest catchment area in the Way Seputih Sekampung River basin, had to be selected.Calibration of model parameters for Banjaragung catchment to validate the CN method for use at the Tailing location. Reconstitution of two Flood Hydrographs for the 1981 and 1982 events are are sufficient for conclusion that parameters are representing actual hydrological conditions for losses composed in Curve Numbers, Baseflow parameters and unit hydrograph of Soil Conservation Service (SCS) parameters (time lag depending on river length) in Tailling Dam Way Linggo, or in other words, the Curve Number can also be applied in the Tailing Dam catchment.
Kinerja Mortar Abu Batu Basalt Skoria Dengan Menggunakan Semen Serbaguna Baturaja Dan Superplasticiser Structuro 335 Lilies Widojoko; . Rajiman
Jurnal Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2011): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.332 KB) | DOI: 10.36448/jts.v2i1.258

Abstract

Batu basalt Skoria terbentuk ketika lava mencapai permukaan bumi akibat letusan gunung berapi. Bentuknya yang berpori menyebabkan keraguan orang untuk menggunakan batu ini. Penggunaan abu batu ini untuk pembuatan mortar diteliti.Penelitian yang dilakukan adalah :(1) Kuat tekan mortar yang dapat dicapai  (2) Perbandingan antara kuat tekan mortar dengan menggunakan batu basalt Skoria dan kuat tekan beton yang menggunakan batu pecah. 3) Kuat tarik belah silinder mortar.Kuat tekan mortar tertinggi pada percobaan ini adalah pada air/semen  0,29 yaitu sebesar 597 kg/cm2. Bila dibandingkan dengan kuat tekan beton pada Air/ Semen rasio  0,34 kuat tekan beton 10 % lebih tinggi, sedangkan pada Air/ Semen rasio  0,44 kuat tekan beton 13% lebih rendah.   Pada uji ini kuat tarik belah yang dihasilkan sebesar 129 kg/cm2, sementara kuat  tekan nya sebesar 650 kg/cm2. Dengan demikian maka besarnya kuat tarik adalah 19% terhadap kuat tekan.Persentase yang tinggi ini diduga disebabkan karena permukaan abu batu basalt Skoria kasar dan bersudut.
Uji Dispersivitas Bahan Timbunan Bendungan Way Linggo Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1418.036 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dispersivitas bahan timbunan bendungan tambang Way Linggo. Pengujian dilakukan dengan dua cara yaitu uji crump dan uji pin hole. Selain uji tersebut dilakukan pula uji batas Atterberg yaitu batas cair dan batas plastis. Uji batas Atterberg ini dilakukan karena uji ini dapat mendeteksi sifat fisik tanah dispersive. Hasil pengujian mendapatkan bahwa tanah tergolong jenis tanah lanau berplastisitas tinggi ( MH ). Tanah dengan jenis ini kemungkinan tidak bersifat dispersive. Hasil pengujian khusus dispersivitas yaitu dengan uji crump dan uji pin hole menunjukkan bahwa bahan timbunan bendungan Way Linggo tidak termasuk tanah dispersive, sehingga aman digunakan sebagai bahan timbunan bendungan.