Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Paradoks dalam Antologi Puisi Rupi Kaur “The Sun and Her Flowers” I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Ronald Umbas; Ni Nyoman Ayu Dewi Lestari
Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2020): WANASTRA VOLUME 12 NO. 2 SEPTEMBER 2020
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/w.v12i2.8591

Abstract

Sebagai salah satu genre karya sastra, puisi menjadi representasi universal yang menguatkan komunikasi antarindividu melalui gaya bahasa yang digunakan oleh sang penyair. Penggambaran suasana bertentangan yang dapat dicapai melalui paradoks membuat puisi mampu memacu daya analitis pembaca karena mereka harus mengulik makna dibalik pernyataan yang kontradiktif. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi paradoks dan cara pengungkapannya dalam kumpulan puisi ”The Sun and Her Flowers” karya penyair yang terkenal di media sosial Instagram, Rupi Kaur. Analisis didasarkan pada fitur khas paradoks dari Morner dan Rausch (1991). Penelitian kualitatif berupa analisis konten (content analysis) ini dilakukan dengan pendekatan stilistika melalui langkah interpretasi puisi (Griffith, 2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradoks yang ditemukan bersifat retorik dengan dua cara interpretasi untuk memahami hubungan kontradiktif yang terjadi yaitu (1) paradoks yang diungkapkan melalui diksi dan (2) paradoks yang disampaikan melalui deskripsi paradoksal. Tujuan penggambaran suasana melalui gaya bahasa paradoks lebih dari sekadar membangun interpretasi. Paradoks dalam puisi memancing pemikiran kritis pembaca yang menginterpretasi makna di balik proposisi bertentangan.Kata kunci: paradoks, diksi, deskripsi paradoksal
LEXICAL ANALYSIS OF SEMANTIC ERRORS FOUND IN THE TRANSLATION OF JOKO WIDODO’S INSTAGRAM ACCOUNT Ni Made Verayanti Utami; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Yupita Pratiwi
English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Vol 4 (2021): Creative and Innovative Learning Strategies in The Field of Language, Literature, Ling
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research focuses on the semantic errors in lexis occurred in the translation by Instagram Machine Translation. This research aims at identifying the types of semantic error in lexis made by Instagram Machine Translation found in the Joko Widodo’s Instagram account. This research also analyses semantic errors in lexis to show how Instagram machine translation works and the potential errors that it may cause. This study utilized observation method in collecting the data. Descriptive qualitative method was applied in analyzing the semantic errors in lexis by elaborating each type of them. In addition, translation procedures were also examined to find out clear explanation on what procedures contribute to the errors. The data were taken from the posts in Joko Widodo’s Instagram account and were analyzed by the semantic errors in lexis based on theory by James (1998). The study concluded that the confusion of sense relations in choosing a wrong synonym is mostly found in the translation of Instagram machine translation.
Semiotika Tari Dolanan Karya Anak Presisi Indonesia Putu Desi Anggerina Hikmaharyanti; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Ni Made Arshiniwati
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 23, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/komposisi.v23i1.115477

Abstract

Pemberian nama pada sebuah karya seni tari erat kaitannya dengan apa makna yang ingin disampaikan dalam setiap gerakan tarian tersebut. Penelitian ini membahas bagaimana bahasa berperan penting dalam rancangan karya tarian kreasi baru yang diciptakan oleh anak-anak Presisi Indonesia, yang mana Presisi ini adalah sebuah proyek berbasis kontekstual dari Dirjen Kebudayaan Indonesia sebagai paradigma baru sistem pembelajaran di Indonesia. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif, simbol-simbol yang ada dalam setiap gerakan tari ini bisa tersampaikan pesannya sehingga diperoleh hasil bahwa tarian ini sudah dimodifikasi dengan menggabungkan pakem tarian dasar dan gerakan modern terinspirasi dari aplikasi TikTok yang bertujuan untuk menarik minat generasi muda agar tetap melestarikan budaya yang ternyata bisa dipadupadankan dengan konsep tarian masa kini.Kata kunci: tari, semiotika, makna
Pendampingan Masyarakat Desa Adat Putung Menanggulangi Dampak Sosial Pandemi COVID-19 I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; I Komang Sulatra; Komang Dian Puspita Candra; Ni Nyoman Deni Ariyaningsih
WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer Vol. 3 No. 1 (2020): Nopember
Publisher : STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30864/widyabhakti.v3i1.228

Abstract

Pendampingan masyarakat di masa pandemi sangat diperlukan dari berbagai aspek, termasuk kesehatan, ekonomi dan sosial. Pelaksanaan nyata pendampingan dalam penganggulangan dampak sosial yang langsung menyasar masyarakat desa dapat menjadi kontribusi pihak perguruan tinggi, khususnya para tenaga pendidik yang mempunyai tanggung jawab melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Pendampingan ini dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Mahasaraswati Denpasar di Desa Adat Putung Duda Timur Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem. Pendampingan dilakukan di masa awal pandemi Covid-19 dan dapat dilakukan pendampingan berkala melalui komunikasi antara tokoh masyarakat dan tim PkM. Pengabdian ini diwujudkan dengan melakukan langkah-langkah identifikasi keadaan sosial dan ekonomi masyarakat desa sehingga bantuan ekonomi dapat disalurkan dan pendampingan berupa ceramah tentang pencegahan merebaknya virus COVID-19 dari aspek sosial dapat dicegah. Metode yang diterapkan adalah pendampingan dipadukan dengan konsultasi sebagai dua cara mewujudkan program pengabdian ini. Masyarakat merasakan dampak langsung dari pendampingan tim PkM yang menyalurkan sembilan bahan pokok kepada warga desa dan mengadakan konsultasi mengenai cara memaksimalkan penerapan protokol kesehatan dalam tatanan sosial masyarakat desa selama masa pandemi.
Narasi keseimbangan di Bali dalam novel Eat Pray Love karya Elizabeth Gilbert I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Ronald Umbas; Ni Komang Arie Suwastini
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v7i2.17178

Abstract

Eat Pray Love adalah salah satu novel laris yang mempunyai ciri kuat dalam hal penggunaan latar tempat. Unsur ini sangat jelas memengaruhi alur cerita. Pulau dewata, Bali, menjadi tempat merepresentasikan kata “love” pada judul novel. Cinta yang ditemukan di Bali dapat diinterpretasi sebagai upaya pencarian keseimbangan (the pursuit of balance) yang tegas dinyatakan dalam 36 episode terakhir novel Eat Pray Love. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur naratif dari keseimbangan yang terbangun dalam cerita. Metode kajian tekstual dipadukan dengan analisis diksi dari Keraf dan prinsip keseimbangan hidup berdasar perspektif Tri Hita karana yang memandang kebahagiaan manusia tercipta dari keseimbangan relasi manusia dengan Tuhan, antarmanusia, dan alam. Penelitian ini menemukan bahwa narasi keseimbangan di Bali dalam novel Eat Pray Love adalah (1) keseimbangan hubungan dengan Tuhan, (2) keseimbangan hubungan antarmanusia, dan (3) keseimbangan hubungan dengan alam. Ketiga keseimbangan dinarasikan secara dominan melalui dua cara. Pertama, diksi berupa kata umum, kata khusus yang memiliki daya sugesti, dan kata abstrak untuk menunjukkan konsep yang hidup dalam pikiran. Kedua, narasi ekspositoris dan sugestif menunjukkan gambaran pencarian keseimbangan di Bali dalam kerangka Tri Hita Karana agar hidup menjadi harmonis. Implikasi penelitian ini adalah bahwa identifikasi suatu nilai dalam novel dapat dilihat dari diksi dan narasi, baik secara ekspositoris dengan pernyataan eksplisit dan narasi sugestif dengan penyampaian secara implisit. Hasil identifikasi dalam penelitian ini dapat menjadi bahan perenungan bagi pembaca sehingga karya sastra bisa berkontribusi dalam memberi pemahaman tentang nilai filosofis yang tumbuh di masyarakat.
Konstruksi makna tempat dalam artikel ilmiah berbahasa Indonesia bidang antropologi Putu Nur Ayomi; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v8i1.18396

Abstract

Tempat biasanya dipahami sebagai lokasi spasial di dunia fisik. Namun, dalam berbahasa, fenomena abstrak juga dapat dikonstruksi sebagai tempat. Beberapa studi telah memetakan kategori makna tempat dan konstruksinya dalam struktur leksikogramatikal bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah konsep tersebut dapat diterapkan untuk mengategorikan makna tempat dalam bahasa Indonesia, bagaimana konstruksi leksikogramatikalnya, serta bagaimana makna tempat bekerja dalam teks ilmiah yang memiliki tingkat abstraksi tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian campuran, dengan menggunakan teori linguistik sistemik fungsional (LSF). Kajian dilakukan pada korpus lima artikel ilmiah berbahasa Indonesia pada jurnal nasional terakreditasi bidang antropologi. Temuan penelitian ini adalah rekategorisasi makna tempat dari yang telah ditawarkan pada studi terdahulu, yakni dengan mengklasifikasikan profesi sebagai tempat yang berhubungan dengan sosial-budaya dan tempat metereologis dikembangkan menjadi tempat metereologis-geologis. Sebagian besar makna tempat mengambil posisi Sirkumstan dalam klausa tunggal, pewatas nomina yang berfungsi sebagai Penjenis maupun Penegas, juga Partisipan dalam klausa relasional. Dalam wacana artikel ilmiah bidang antropologi, makna tempat berfungsi dalam penetapan konteks tempat dari penelitian, juga kategorisasi atau taksonomi fenomena yang diteliti. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia makna tempat dapat dibentuk dari makna lain selain tempat, memiliki realisasi leksikogramatikal yang beragam, dan berfungsi secara tekstual dalam artikel ilmiah.
Diction and Message Logic in the Podcast of Deddy Corbuzier in Episode "Malih, Pesan Pedas Tuk Ade Londok" Ronald Umbas; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 7 No. 1 (2021): April
Publisher : Magister of Linguistic, Postgraduated Program, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.368 KB) | DOI: 10.22225/jr.7.1.2902.50-57

Abstract

This study aims to identify diction which is related to message logic in communicating on social media. The identification is carried out based on Deddy Corbuzier’s podcast that is aired on YouTube. The analysis of diction is an interesting study when, as one of the reasons, it is related to the efforts to effectively convey messages that are beneficial to a society. This study combines the concept of diction and Message Logic Theory, particularly "message design logic." The method applied is observation on the data source in the form of a video recording with note-taking techniques by which identification, classification and data reduction could be carried out. There are two main results in this study. First, the diction includes general words consisting of graded words and abstract words, and particular words consisting of proper names and the words that have suggestive power. Second, the dominant message logic that appears in Deddy Corbuzier's podcast episode "Malih, Pesan Pedas Tuk Ade Londok” (Malih, Sharp Message for Ade Londok) is expressive logic and rhetorical logic. The implication of this research on diction and communication logic is a description of the importance of choosing the right words in public spaces. This study also recommends other researchers to do further researches by using more speech data so that public communication patterns can be mapped better.
TRANSLATION OF ENGLISH-INDONESIAN NOUN PHRASES: IDENTIFICATION OF LOSS, ADDITION AND SKEWING I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; I Komang Sulatra; Donatus Darso; Ni Komang Arie Suwastini
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 5, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v5i1.3711

Abstract

This study focuses on the analysis of how information may be lost, added, and skewed in the English-Indonesian translation of noun phrases in the novel The Valley of Fear. This study utilized descriptive qualitative method through note-taking technique. Nida’s principles of translation were applied to investigate how these three principles occur. The results showed that loss, addition, and skewing were found with several classifications, namely (1) omission of adjectives and indefinite quantifiers as well as different grammatical points of view for loss of information, (2) different linguistic and cultural aspects for addition of information, and (3) deviation of meaning and the choice of closest natural equivalence for skewing of information. Of the 507 cases found, addition of information occurs on the highest percentage, i.e. 54,81% (278 data), loss of information takes 41,42% (210 data) and skewing of information takes the lowest percentage, i.e. 3,74% (19 data). These findings indicate that actually loss, addition and skewing take place in translation of noun phases from English into Indonesian for the sake of finding naturalness without neglecting the accuracy of transferring meaning.
The Benefits of Reading Aloud for Children: A Review in EFL Context Jennet Senawati; Ni Komang Arie Suwastini; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Ni Luh Putu Sri Adnyani; Ni Nyoman Artini
IJEE (Indonesian Journal of English Education) IJEE (INDONESIAN JOURNAL OF ENGLISH EDUCATION)| VOL. 8 | NO.1 | 2021
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ijee.v1i1.19880

Abstract

ABSTRACTAlthough reading aloud is an old teaching strategy, its relevance has been vouched by research from time to time. The present study aimed to critically review experts' opinions and results of previous research on the definition and characteristics of reading aloud and its benefits for young children in the EFL contexts by employing George’s (2008) model of literature review. The review revealed that the teacher plays the most crucial role in reading aloud, acting as the bridge between the text and the student's comprehension. A good design of reading aloud demands the teacher’s competence in choosing the text to meet the students’ interest and level; planning the tempo of the reading and the pauses to pose questions and comments; and making connections with the text and the children. Reading aloud benefits children’s English regarding their vocabulary, pronunciation, comprehension, listening skills, reading skills, speaking skills, communicative skills, and motivation, literacy, and critical thinking skills. These results imply that reading aloud is still relevant to be implemented nowadays because of the benefits it brings to children’s English. ABSTRAKMeski sering dianggap metode lama, membaca nyaring memberi banyak manfaat. Artikel ini bertujuan untuk melakukan kajian kritis terhadap pendapat ahli dan penelitian terdahulu mengenai pengertian, ciri khas, serta manfaat membaca nyaring, dengan mengikuti model penelitian kajian pustaka George (2008). Diungkapkan bahwa guru menjadi penentu kesuksesan kegiatan membaca nyaring sebagai jembatan yang menghubungkan siswa dengan teks yang dibaca. Kegiatan membaca nyaring bergantung pada kemampuan guru untuk memilih teks yang sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, serta merancang proses pembacaan terkait tempo dan penempatan jeda untuk memberi komentar, bertanya, maupun membuat kaitan-kaitan antara teks dan siswa. Ahli dan penelitian terdahulu berpendapat bahwa kegiatan membaca nyaring berkontribusi secara positif terhadap siswa terkait pembentukan kosakata, pelafalan, pemahaman, keterampilan mendengar, membaca, berbicara, dan berkomunikasi, serta motivasi, literasi, dan kemampuan berpikir kritis berkomunikasi mereka. Jadi, membaca nyaring sangat relevan diimmplementasikan pada jaman sekarang karena kegiatan ini sangat positif untuk perkembangan Bahasa Inggris siswa.
GENDER INEQUALITY REPRESENTED IN ENGLISH TEXTBOOKS: A LITERATURE REVIEW Luh Shanti Nilayam Mihira; Ni Komang Arie Suwastini; Ni Nyoman Artini; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; I Wayan Budiarta
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 10 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v10i3.39209

Abstract

Ideologies are contested through discourses; thus, textbooks can be a fertile ground for implanting the prevalence of women's marginalization in society, or they can also be used for deconstructing the ideology. The present study aims to provide a general map of how English as a foreign language reflects gendered stereotypes. The study was library research that used the results of previous studies to answer the research questions. Using George's method, the study chose thirty articles published in 2010 - 2021, then critically reviewed. The critical reading was continued with mapping the results of the studies, and their arguments on gender stereotypes included English as Foreign Language textbooks worldwide. The review revealed that there had been prevalent marginalization of women in English textbooks reflected through the depiction of women as less dominant, inferior than men, primarily domestic, generally weak, powerless, voiceless, and passive. Such male prevalence was also found in Indonesian EFL textbooks. Many previous studies admit that male prevalence and women marginalization in EFL textbooks reflect reality in society. Nevertheless, the present study takes the standpoint that calls for the utilization of textbooks to deconstruct gendered binary oppositions that marginalize women by deliberately designing textbooks that impart awareness about gender equity.