Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Implikasi Makna Sabat bagi Tanah dalam Imamat 25:1-7 bagi Orang Percaya Sabda Budiman; Enggar Objantoro
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.60

Abstract

One of the most important themes in the Old Testament is the Sabbath. In the life of the Israelites, discussion of the Sabbath was not only related to days, but to years. In its application, the Sabbath is not only reserved for humans and animals, it is also applied to the land. The concept of the Sabbath for the land also gave deep meaning to the life of the Israelites, starting from the practical to the main thing. One of the current issues is what are the implications of the meaning of the sabbath for the land for believers today? These questions become the writer's reference in examining more deeply the meaning of the Sabbath for the land in the lives of the Israelites. In the discussion, the author gives an explanation of the meaning of the Sabbath for the Israelites, of course with a focus on God. The method that I use in this article is a qualitative method with a descriptive approach. The author collects various data sources related to the topics discussed and analyzes in order to find a complete and precise understanding. Through this research, it was found that believers have a social responsibility and responsibility in maintaining the environment. Abstrak Salah satu tema penting di dalam Perjanjian Lama ialah tentang sabat. Dalam kehidupan bangsa Israel, pembahasan tentang sabat tidak hanya dikaitkan dengan hari saja, berhubungan dengan tahun. Dalam penerapannya pun sabat tidak hanya diperuntukkan bagi manusia dan hewan, sabat juga diberlakukan bagi tanah. Konsep sabat bagi tanah juga memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan bangsa Israel, mulai dari hal yang praktis hingga kepada hal yang pokok. Salah satu persoalan saat ini ialah apakah implikasi makna sabat bagi tanah bagi orang percaya masa kini? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi acuan penulis untuk mengkaji lebih mendalam makna sabat bagi tanah dalam kehidupan umat Israel. Dalam pembahasan, penulis memberikan paparan terhadap makna sabat bagi orang Israel, tentunya dengan berpusat pada Allah. Metode yang penulis gunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penulis mengumpulkan berbagai sumber data yang berkaitan dengan topik yang dibahas dan menganalisis guna menemukan pengertian yang utuh dan tepat. Melalui penelitian ini, didapati bahwa orang percaya memiliki tanggung jawab social dan tanggung jawab dalam memelihara lingkungan.
Aplikasi Pemahaman tentang Sifat Allah dalam Pernyataan "Allah Menyesal" Berdasarkan Yunus 3:10 Sabda Budiman; Astrid Maryam Yvonny Nainupu
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 3, No 2 (2021): Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i2.56

Abstract

The concept of God's regret in Jonah 3:10 may be confusing to today's Christians if they do not get a proper understanding. God is All-knowing and All-wise. If God is sovereign why can He change in His decisions and become remorseful. Knowing the nature of Alah based on the understanding of this text is indispensable to today's Christians. In addition, a clear understanding of the nature of God based on the text of Jonah 3:10 will lead the present Christian mat to understand what should be done based on that understanding. This paper will provide a clear understanding of the concept of God's regret through the exeegese method and library research of the text from Jonah 3:10 Today's Christians understand the nature of God in the concept of god's regret clearly based on the text of Jonah 3:10 and respond correctly based on an understanding of the concept. So be not allah of those who show mercy. He knew that the Ninevites would repent, which is why He forced Jonah to go to Nineveh. He was also a merciful God even against evil pagans like Nineveh. And whatever the situation, he remains unchanged and fully sovereign. He is all-knowing and all-wise. Abstrak Konsep Allah yang menyesal di dalam Yunus 3:10 mungkin membingungkan bagi orang Kristen masa kini jika tidak mendapatkan pemahaman yang tepat. Jika Allah Mahatahu mengapa Allah menyesal. Jika Allah berdaulat mengapa Ia bisa berubah di dalam keputusan-Nya dan menjadi menyesal. Mengenal sifat Alah berdasarkan pemahaman terhadap teks ini sangat diperlukan oleh umat Kristen masa kini. Selain itu juga pemahaman tentang sifat Allah yang jelas berdasarkan teks Yunus 3:10 akan membawa mat Kristen masa kini untuk mmengerti apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan pemahaman tersebut. Tulisan ini akan memberikan pemahaman tentang konsep menyesallah Allah secara jelas melalui metode eksegese dan penelitian pustaka terhadap teks dari Yunus 3:10 umat Kristen masa kini memahami sifat Allah di dalam konsep menyesallah Allah secara jelas berdasarkan teks Yunus 3:10 dan meresponi dengan benar berdasarkan pemahaman terhadap konsep tersebut. Karena sangat jelas bahwa Allah yang menyesal itu adalah Allah yang tetap Mahatau. Dia telah tahu bahwa orang Niniwe akan bertobat itulah sebabnya Ia memaksa Yunus untuk tetap pergi ke Niniwe. Ia juga Allah yang penuh dengan belas kasihan bahkan terhadap bangsa kafir yang jahat seperti Niniwe. Dan apapun situasinya, Ia tetap tidak berubah dan berdaulat sepenuh-Nya. Penyesalan-Nya justru membuktikan Ia Mahatahu, Mahakasih dan Mahaberdaulat.
Model Kepemimpinan Yesus Dalam Injil Yohanes Sebagai Teladan Bagi Kepemimpinan Kristen di Gereja Lokal Sabda Budiman; Yelicia; Krido Siswanto
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 2 No. 1 (2021): Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat. Vol 2, No 1, Juni 2
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: As the times grew, leadership began to decline and crisis. This leadership crisis is also inseparable from the church environment. Speaking of leadership in the church is seen from the point of view of the Bible, inseparable from the Great person of Jesus Christ. This paper discusses Jesus' leadership model focusing on the Gospel of John. The author formulates the following problem: : What is the model of Jesus' leadership in the Gospel of John and its implementation in the local church? The purpose of writing this scientific paper is to know and explain the model of Jesus' leadership in the Gospel of John and its implementation in the local church. This study uses qualitative research method with descriptive approach which this method considers that the data collected to be the key to what is studied. The data the author observes is the Gospel of John, literature such as books and journal articles on leadership. The model of Jesus' leadership in the Gospel of John is Jesus as the Leader of the sheep, Jesus as the Ministering Leader, and Jesus discipleship and send. An example for the local church leadership model is to put self-integrity first, lead holistically, and implement a discipleship model. The local church leadership model reflecting Jesus' leadership model in the Gospel of John is expected to be a learning experience for leaders in the local church. Keyword: model, the leadership of Jesus, the local church, the example.   Abstrak: Semakin berkembangnya zaman, kepemimpinan mulai merosot dan mengalami krisis. Krisis kepemimpinan ini pun juga tidak terlepas dari lingkungan gereja. Berbicara mengenai kepemimpinan dalam gereja dilihat dari sudut pandang Alkitab, tidak terlepas dari pribadi yang Agung yaitu Yesus Kristus. Penulisan ini membahas tentang model kepemimpinan Yesus yang berfokus pada Injil Yohanes. Penulis merumuskan masalah sebagai berikut: : Bagaimana model kepemimpinan Yesus dalam Injil Yohanes dan implementasinya dalam gereja lokal? Adapun tujuan penulisan dari karya ilmiah ini ialah untuk mengetahui dan memaparkan model kepemimpinan Yesus dalam Injil Yohanes dan implementasinya dalam gereja lokal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang mana metode ini memandang bahwa data yang dikumpulkan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti. Data yang penulis amati ialah kitab Injil Yohanes, literatur-literatur seperti buku dan artikel jurnal tentang kepemimpinan. Adapun model kepemimpinan Yesus dalam Injil Yohanes ialah Yesus sebagai Pemimpin domba-domba, Yesus sebagai Pemimpin yang melayani, dan Yesus memuridkan dan mengutus. Teladan bagi model kepemimpinan gereja lokal yaitu mengutamakan integritas diri, memimpin secara holistik, dan menerapkan model discipleship. Model kepemimpinan gereja lokal yang bercermin dari model kepemimpinan Yesus dalam Injil Yohanes diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi para pemimpin di gereja lokal. Kata kunci: model, kepemimpinan Yesus, gereja lokal, teladan.
IMPLIKASI KRONOLOGI BANGSA ISRAEL KELUAR DARI MESIR DALAM KITAB KELUARAN BAGI ORANG PERCAYA Sabda Budiman; Krido Siswanto
Shema: Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Kristen Vol 1 No 1 (2021): Jurnal Shema - Vol 1 No 1 Juni
Publisher : STTII PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.788 KB)

Abstract

The most interesting event in the Old Testament is the history of the exodus of the Israelites from the land of Egypt recorded in the Book of Exodus. how did the history of the Israelites come out of the land of Egypt and what is the relevance of the chronology of the Israelites out of Egypt in the Book of Exodus for today's believers? The purpose of this article is to explain the history of the Israelites coming out of the land of Egypt and explain the relevance of the chronology of the Israelites coming out of Egypt in the Book of Exodus for today's believers. The method used in this scientific work is qualitative research method with descriptive approach. Any data which in this case is in the form of literature and interpretations of the Bible collected and analyzed, becomes the key to what is analyzed and examined. The result of this study is that the chronology of the Israelites coming out of Egypt has the implication that God commits sin and gives space for man to repent, Jesus becomes the Passover lamb for today's believers, and God always leads believers in His way and plan.
Paradigma Berekoteologi dan Peran Orang Percaya Terhadap Alam Ciptaan: Kajian Ekoteologi Sabda Budiman; Kiki Rutmana; Kristian Kariphi Takameha
Jurnal Borneo Humaniora Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : LPPM Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borneo_humaniora.v4i1.1894

Abstract

Ecotheology is a discipline that discusses the relationship of God, man, with nature. In berekoteology the need for a proper and biblical paradigm as the basis for maintaining the environment. The problem formulation in this study is: What is the right and biblical paradigm in philoteology? What is the attitude of believers towards the nature of creation? The purpose of this writing is to describe the right and biblical paradigm in theology and explain the attitude of believers towards the nature of creation. This research uses qualitative method with descriptive approach. The result of the discussion is that believers should have a theocentric paradigm. In addition, believers play a role as stewardship, build solidarity with nature and be directly involved in the recovery of environmental crises.
TINJAUAN INJIL YOHANES 15:18-21 TENTANG PENGANIAYAAN DAN RESPON ORANG PERCAYA TERHADAP PENGANIAYAAN Sabda Budiman; Yosina Pada Fanmabi; Harming Harming
Jurnal Borneo Humaniora Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Borneo Humaniora
Publisher : LPPM Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borneo_humaniora.v3i2.1907

Abstract

Beriman kepada Yesus tidak selamanya merasakan ketentraman dan kedamaian, tetapi juga ada pengalaman yang membuat orang percaya merasa sedih dan menangis. Penganiayaan tidak terlepas dari kehidupan orang percaya. Penganiayaan merupakan peristiwa nyata yang terjadi saat ini. Penganiayaan juga terkadang membuat orang percaya merasa kecewa terhadap gereja, pemerintah, dan bahkan Tuhan. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang benar terkait penganiayaan yang orang percaya alami. Dalam tulisan ini, penulis merumuskan masalah ialah bagaimana tinjauan Injil Yohanes 15:18-21 terhadap penganiayaan dan respon orang percaya terhadap penganiayaan? Adapun tujuan penulisan dalam tulisan ialah untuk memaparkan tinjauan Injil Yohanes 15:18-21 terhadap penganiayaan dan respon orang percaya terhadap penganiayaan. Hasil dari pembahasan ini ialah dalam konteks Yohanes 15:18-21 berbicara tentang penganiayaan karena iman kepada Yesus yang dilakukan melaui penolakan. Respon orang percaya terhadap penganiayaan ialah dengan meneladai Yesus, semakin tekun berdoa dengan ucapan syukur, serta setiap orang percaya perlu saling bergandeng tangan sebagai anggota tubuh Kristus.
Makna Penebusan Dalam Upacara Tiwah Sebagai Pendekatan Kontekstualisasi Injil Ruat Diana; Sabda Budiman; Maharin Maharin
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 2, No 1 (2021): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.256 KB) | DOI: 10.46445/jtki.v2i1.381

Abstract

Budaya dalam agama Hindu Kaharingan, yaitu budaya Tiwah merupakan sebuah bentuk budaya yang dengan pelaksanaan upacara yang unik. Dalam proses pelaksaannya, upacara tiwah mengandung prosesi yang beragam dan penuh makna. Melalui makna upacara tiwah ini, penulis mengadopsikannya sebagai kontekstualisasi media untuk menyampaikan Injil. Penulis memahami pemahaman makna dan selanjutnya Kristus dalam upacara tiwah yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan penelusuran pelaksanaan upacara Tiwah melalui wawancara dan literatur yang ada, penulis mengkaji makna dalam upacara Tiwah tersebut yang kemudian disaring dengan metode yang mengubah, dan membuah dan firman Tuhan sebagai tolak ukurnya. Yesus sebagai korban dalam upacara tiwah, Yesus sebagai jalan menuju “Lewu Tatau” , dan Yesus sebagai pengantara antara manusia dan “Ranying Hatalla”. Poin-poin tersebut menjadi hasil pembahasan dalam pendekatan kontekstualisasi Injil dalam upacara Tiwah.
Strategi Pemecahan Masalah Pelayanan Pastoral Kontekstual Berdasarkan Yohanes 4:1-26 dan Pemuridan Masa Kini Sabda Budiman; Harming Harming
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v2i1.26

Abstract

This article describes problem solving strategies in pastoral ministry. The problem solving strategy is certainly carried out with a contextual approach. It means that the principles of pastoral service are aligned with local situations and conditions. This article describes problem solving strategies based on John 4:1-26, by looking at Jesus' example in solving problems experienced by Samaritan women. Furthermore, this article also describes the follow-up service that can be done to the counselor when it is served. The purpose is of course for the counselor to draw closer and to know Christ more deeply and for the counselor to continue to grow. The method used in this study is a qualitative method with a descriptive approach.AbstrakArtikel ini menjelaskan tentang strategi pemecahan masalah dalam pelayanan pastoral. Strategi pemecahan masalah tersebut tentunya dilakukan dengan pendekatan kontekstual. Artinya bahwa prinsip-prinsip pelayanan pastoral itu diselaraskan dengan situasi dan kondisi setempat. Artikel ini memaparkan strategi pemecahan masalah berdasarkan Yohanes 4:1-26, dengan melihat teladan Yesus dalam memecahkan masalah yang dialami oleh perempuan Samaria. Lebih jauh, artikel ini juga menjelaskan tentang pelayanan follow up yang dapat dilakukan kepada konseli ketika sudah dilayani. Tujuannya tentu agar konseli semakin dekat dan mengenal Kristus lebih dalam lagi serta agar konseli terus bertumbuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Contextualization of the Bejopai Pattern of the Kubin Dayak Tribe as a Contextual Discipleship Effort in West Kalimantan Susanto Susanto; Sabda Budiman
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.665 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i2.378

Abstract

Dayak Kubin tribe has a culture that still survives to this day, namely Bejopai culture. Bejopai is an activity of the Dayak Kubin community that is generally done by working in the areas. Through the Bejopai culture conducted by the Dayak Kubin tribe in West Kalimantan, the author observes that contextual discipleship can be done. The problem formulation in this study is how the purpose of this writing is how the contextual discipleship approach in Dayak Kubin tribe through Bejopai culture in West Kalimantan? The aim is to present the contextual discipleship approach in the Dayak Kubin tribe through Bejopai Culture in West Kalimantan. The qualitative research method using qualitative methods is to make observations, interviews, or study documents. The locus of this study is in Sungai Bakah Village. Through the discussion results, it was found that contextual discipleship can be applied through persuasive communication approaches, patterns of working while telling stories, and discipleship to discipleship. The conclusion is that Bejopai culture can be used as a medium to do contextual discipleship that is quite effective in the Dayak Kubin tribe.  ABSTRAKSuku Dayak Kubin memiliki budaya yang masih bertahan hingga saat ini yaitu budaya Bejopai. Bejopai ialah suatu aktivitas masyarakat Dayak Kubin yang umumnya dilakukan di ladang dengan bekerja di ladang bersama-sama. Melalui budaya Bejopai yang dilakukan oleh suku Dayak Kubin yang ada di Kalimantan Barat tersebut, penulis mengamati bahwa dapat dilakukan sebuah pemuridan secara kontekstual. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana pendekatan pemuridan kontekstual dalam suku Dayak Kubin melalui budaya Bejopai di Desa Sungai Bakah? Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memaparkan pendekatan pemuridan kontekstual dalam suku Dayak Kubin melalui Budaya Bejopai di Kalimantan Barat. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan melakukan pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen. Penulis juga menggunakan pendekatan metode etnografi, dengan mengamati keseharian masyarakat Dayak Kubin yang berkaitan dengan aspek budaya masyarakat tersebut. Lokus dari penelitian ini yaitu di Desa Sungai Bakah. Melalui hasil pembahasan yang penulis lakukan, diketahui bahwa pemuridan kontekstual dapat diterapkan melalui pendekatan komunikasi persuasif, pola bekerja sambil bercerita, dan memuridkan untuk memuridkan. Kesimpulan dari penelitian ini ialah budaya Bejopai dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan pemuridan secara kontekstual yang cukup efektif dalam konteks suku Dayak Kubin.
Respon Gereja Terhadap Penganiayaan Berdasarkan Matius 10:17-33 Krido Siswanto; Yelicia; Kristian Karipi Takameha; Sabda Budiman
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.43 KB) | DOI: 10.55649/skenoo.v1i1.1

Abstract

Penganiayaan merupakan sesuatu yang nyata dan benar-benar terjadi dalam kekristenan. Penganiayaan juga bukan hal yang asing bagi kehidupan iman Kristen. Gereja mula-mula juga merasakan sensasi. Namun pada saat ini, seringkali orang Kristen merasa kecewa dan ditinggalkan karena pengalaman yang dialaminya. Dengan demikian, penelitian ini hendak memaparkan tanggapan yang diterapkan dalam Alkitab dalam menghadapi situasi, secara khusus yang terdapat dalam Matius 10:17-33. Oleh karena itu bagaimanakah tanggapan orang dalam menghadapi penilaian berdasarkan Matius 10:17-33? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apakah respons yang benar sesuai dengan kebenaran-Nya yang telah dinyatakan dalam Matius 10:17-33. Dari hasil pengamatan dalam Matius 10:17-33, terdapat lima respons terhadap tantangan yang berani yaitu tetap waspada terhadap situasi, tentang menghadapi Yesus, tetap percaya dan tidak menghadapi tekanan, dan tidak takut akan tantangan. Respon terhadap topik berdasarkan Matius 10:17-33 memberikan, pembelajaran, dan kritik terhadap masa kini dalam menghadapi tantangan.