Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EKSPRESI INSULIN PADA PANKREAS MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI DENGAN STREPTOZOTOCIN BERULANG Erwin E; Etriwati E; Muttaqien M; Tri Wahyu Pangestiningsih; Sitarina Widyarini
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.899

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui ekspresi insulin pada pankreas mencit (Mus musculus) yang diinduksi streptozotocin berulang dengan pewarnaan imunohistokimia yang berguna sebagai hewan model diabetes melitus. Tiga puluh ekor mencit jantan galur Balb-C, umur 12-14 minggu dengan bobot badan 30-40 g dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 15 ekor. Kelompok 1 (K1) diberikan pelarut streptozotocin, sedangkan kelompok 2 (K2) diberikan streptozotocin dengan dosis 40 mg/kg bobot badan dalam 50 mM natrium sitrat bufer pH 4,5 secara intraperitoneal sebanyak 0,5 ml selama 5 hari berturut-turut. Hewan percobaan dari masing-masing kelompok dieutanasia sebanyak 2 ekor pada hari ke-0, 7, 14, 21, dan 28 setelah perlakuan, selanjutnya mencit diperfusi dan dinekropsi untuk mengambil jaringan pankreas sebagai sampel pemeriksaan imunohistokimia dengan metode streptavidin peroksidase menggunakan antibodi mouse anti-insulin (1:300). Berdasarkan uji statistik menggunakan analisis varian, ekspresi insulin pada sel beta Langerhans pankreas K1 lebih tinggi dibandingkan K2 (P0,05). Waktu pengamatan dan interaksi antara kelompok dan waktu pengamatan menunjukkan perbedaan yang signifikan (P0,05). Induksi dosis rendah streptozotocin secara berulang dapat menurunkan jumlah ekspresi sel beta Langerhans pankreas yang imunoreaktif terhadap insulin.
Efek Annealing Temperture Terhadap Sifat Magnetik Dan Struktur Multilapisan Tipis Cobalt-Samarium E, Erwin
INDONESIAN JOURNAL OF APPLIED PHYSICS Vol 3, No 01 (2013): IJAP VOLUME 03 ISSUE 01 YEAR 2013
Publisher : Department of Physics, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/ijap.v3i01.1238

Abstract

Multilayer thin films of cobalt and samarium with the structur of 20[Co (4.2 nm)/Sm (3.8 nm)] have been fabricated using dc magnetron sputtering technique. Crystalline formation due to heat treatment of about 450oC of the sample is responsible for increase of coercivity from 300Oe to 3500 Oe. Due to heat treatment (annealing) of the sample caused the value of the magnetization of the sample decreases. This is due to the formation of none magnetic phase ininterfacial mixing between the layers as a result of inter-diffusion between the layers. Structural properties of as deposited and annealed samples was studied using transmission electron microscope (TEM). Electron diffraction patterns for as deposited sample exhibit diffused rings for samarium reflection however, for the annealed sample of about 450oC for 30 minutes produces sharp diffraction rings. This indicates that alloys of CoSm in interfacial mixing has a crystalline properties. By modifying the annealing temperature and time one can obtain higher value of coercivity of alloy of CoSm between the layers as one of therequirements for higher density magnetic recording media.
Fiksasi Internal secara Terbuka Fraktur Bilateral Pelvis pada Anjing Erwin Erwin; . Amiruddin; . Rusli; . Etriwati; Mustafa Sabri; Mulyadi Adam; Cut Erika Ramadhana; Afif Yuda Kusuma
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 7 No. 1 (2019): Januari 2019
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.449 KB) | DOI: 10.29244/avi.7.1.23-28

Abstract

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh trauma. Anjing ras Yorkshire berumur 2,8 tahun dengan bobot badan 2,6 kg menunjukkan gejala klinis tidak bisa berdiri, kedua ekstremitas posterior mengalami diplegic lameness dan anjing hanya bertumpu dengan ekstremitas anterior. Anamnesis dengan pemilik hewan mengatakan anjingnya mengalami trauma akibat tertimpa tangga. Hasil pemeriksaan radiografi dengan posisi hewan right lateral dan ventro dorsal menunjukkan fraktur bilateral pelvis berbentuk oblique pada tulang ilium. Penanganan yang dilakukan adalah dengan metode open reduction internal fixation menggunakan bone plate 2.0 veterinary cuttable plate (VCP) dengan screw 2.0 mm cortical non-self-tapping pada kedua sisi tulang ilium. Hari ke-3 setelah tindakan bedah, pasien mulai dibantu untuk berjalan sebagai upaya melatih pergerakan ekstremitas posterior. Satu minggu setelah bedah, pasien sudah bisa berjalan dan menunjukkan perkembangan yang baik. Penanganan bilateral fraktur pelvis berbentuk oblique pada bagian ilium dapat ditangani dengan bone plate dan screw.
Observasi Kesembuhan Distant Skin Flap yang dirawat dengan Dry Dressing dan Moist Dressing Erwin Erwin; Syafruddin Syafruddin; Fadrial Karmil; Sugito Sugito; Razali Daud; Roslizawaty Roslizawaty; Zainuddin Zainuddin; Roby Luksmana
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 2 (2020): Juli 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.855 KB)

Abstract

Distant flap adalah teknik bedah untuk merekonstruksi luka yang jauh dari sumber flaps berasal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesembuhan luka distant skin flap dengan perawatan dry dressing dan moist dressing secara subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat luka dengan ukuran 2x2 cm pada kulit metacarpus, luka ditangani dengan teknik distant skin flap yang berasal dari lateral thoraks sebagai sumber flaps. Distant skin flap dirawat dengan dry dressing menggunakan kasa steril (K-I) dan moist dressing menggunakan sofratulle® (K-II). Pengamatan subjektif kesembuhan distant skin flap pada hari ke-3, 6, 9 dan 12 pasca bedah, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Data kuantitatif pengamatan subjektif dan objektif dianalisis menggunakan analisis varian multivariate dan post hoc test Duncan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan luka distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih baik dari pada dry dressing. Hari ke-12 warna kulit flaps kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, dan pertumbuhan rambut lebih cepat. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada kelompok moist dressing. Kesembuhan distant skin flap yang dirawat dengan moist dressing lebih cepat dibandingkan dengan dry dressing.
EKSPRESI INSULIN PADA PANKREAS MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI DENGAN STREPTOZOTOCIN BERULANG Erwin E; Etriwati E; Muttaqien M; Tri Wahyu Pangestiningsih; Sitarina Widyarini
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.900

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui ekspresi insulin pada pankreas mencit (Mus musculus) yang diinduksi streptozotocin berulang dengan pewarnaan imunohistokimia yang berguna sebagai hewan model diabetes melitus. Tiga puluh ekor mencit jantan galur Balb-C, umur 12-14 minggu dengan bobot badan 30-40 g dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 15 ekor. Kelompok 1 (K1) diberikan pelarut streptozotocin, sedangkan kelompok 2 (K2) diberikan streptozotocin dengan dosis 40 mg/kg bobot badan dalam 50 mM natrium sitrat bufer pH 4,5 secara intraperitoneal sebanyak 0,5 ml selama 5 hari berturut-turut. Hewan percobaan dari masing-masing kelompok dieutanasia sebanyak 2 ekor pada hari ke-0, 7, 14, 21, dan 28 setelah perlakuan, selanjutnya mencit diperfusi dan dinekropsi untuk mengambil jaringan pankreas sebagai sampel pemeriksaan imunohistokimia dengan metode streptavidin peroksidase menggunakan antibodi mouse anti-insulin (1:300). Berdasarkan uji statistik menggunakan analisis varian, ekspresi insulin pada sel beta Langerhans pankreas K1 lebih tinggi dibandingkan K2 (P0,05). Waktu pengamatan dan interaksi antara kelompok dan waktu pengamatan menunjukkan perbedaan yang signifikan (P0,05). Induksi dosis rendah streptozotocin secara berulang dapat menurunkan jumlah ekspresi sel beta Langerhans pankreas yang imunoreaktif terhadap insulin.
KINERJA BANGUNAN BERTINGKAT DI KAWASAN PESISIR DALAM MENUNJANG KEMARITIMAN DAN PARIWISATA DI BANYUWANGI Amin, M. Shofi'ul; Ghulam, Mirza; P, Dadang Dwi; E, Erwin
Construction and Material Journal Vol 2, No 2 (2020): CONSTRUCTION AND MATERIAL JOURNAL VOL. 2 NO. 2 JULI 2020
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractBanyuwangi is an area that belongs to zone 4 (SNI 03-1726-2002) and areas that are prone to earthquakes and are classified as moderate (SNI 03-1726-2012 and 2019). Other than, Banyuwangi also has the longest coastline on the island of Java, so buildings located in coastal areas have different air pressure that can cause very large winds to blow. So that in planning a building not only dead load and live load that needs to be planned but lateral loads also need to be planned. The survey results contained a tourism support building structure and are located very close to the coastal area of the Banyuwangi Dialoog Hotel. So the focus of this research is the construction of the structure. As for what is analyzed is the value of internal forces and deviations to the lateral loads of earthquake SNI 03-1726-2019 and wind loads based on PPIUG 1983 using the help of structural computer applications. The method used in earthquake load analysis is the spectrum response method. The results of the analysis of the value of the maximum force due to earthquake loads and wind loads are most influential on the column elements that cause inter-floor deviation. The deviation value is reviewed in the building service boundary performance, namely in the x and y directions respectively 10.89 mm and 15.75 mm. When viewed from the service threshold value of 87.5 mm, the structure is classified as safe from the influence of the lateral load of the planned earthquake and wind load. So that the building is feasible as a coastal building that is quite safe for commercial buildings and is able to become a tourist destination because it is so close to the sea. Keywords: Coastal, lateral load, drift, tourismAbstrakBanyuwangi merupakan daerah yang termasuk wilayah zona 4 (SNI 03-1726-2002) dan daerah yang rawan terjadi gempa serta tergolong tingkat sedang (SNI 03-1726-2012 dan 2019). Selain itu, Banyuwangi juga memiliki garis pantai terpanjang di pulau Jawa, sehingga bangunan yang terletak di kawasan pesisir memiliki perbedaan tekanan udara yang bisa menyebabkan angin bertiup sangat besar. Sehingga dalam perencanaan suatu bangunan tidak hanya beban mati dan beban hidup saja yang perlu direncanakan melainkan beban lateral juga perlu direncanakan. Hasil survei terdapat struktur gedung penunjang pariwisata dan terletak sangat dekat sekali dengan kawasan pesisir yaitu Hotel Dialoog Banyuwangi. Maka fokus pada penelitian ini yaitu konstruksi pada struktur tersebut. Adapun yang dianalisis adalah nilai gaya dalam dan simpangan terhadap beban lateral gempa SNI 03-1726-2019 dan beban angin berdasarkan PPIUG 1983 dengan menggunakan bantuan aplikasi komputer struktur. Metode yang digunakan dalam analisis beban gempa adalah metode respon spektrum. Hasil analisa nilai gaya dalam maksimum akibat beban gempa dan beban angin yang paling berpengaruh yaitu pada elemen kolom yang mengakibatkan terjadinya simpangan antar lantai. Nilai simpangan tersebut ditinjau pada kinerja batas layan bangunan tersebut yaitu pada arah x dan y masing-masing adalah 10,89 mm dan 15,75 mm. Jika ditinjau dari nilai ambang batas layan yaitu 87,5 mm, maka struktur tersebut tergolong aman dari pengaruh beban lateral gempa rencana dan beban angin. Sehingga bangunan tersebut layak sebagai bangunan pesisir yang cukup aman untuk bangunan komersil serta mampu menjadi destinasi wisata karena letaknya yang sangat dekat dengan laut.  Kata kunci: Pesisir, beban lateral, simpangan, pariwisata
Kesembuhan Skin Flap Rotasi pada Kucing dengan Perawatan Dry Dressing dan Moist Dressing Secara Subjektif Dan Objektif: Original Research Rusli Rusli; Amiruddin Amiruddin; Erwin Erwin; Teuku Fadrial Karmil; Etriwati Etriwati; M Nur Salim; Teuku Zahrial Helmi; Rezeki Indah Sari
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.2.120-126

Abstract

Skin flap rotasi adalah flap berpola melengkung digunakan untuk penutupan defek berbentuk segitiga. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesembuhan skin flap rotasi pada kucing dengan perawatan dry dressing dan moist dressing secara subjektif dan objektif. Penelitian menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan berumur 1-2 tahun, bobot badan 2-4 kg yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat luka berbentuk segitiga dengan ukuran 2 cm pada area lateral abdomen untuk ditutup menggunakan skin flap rotasi. Kelompok I dirawat dengan dry dressing (K-I) dan kelompok II dirawat dengan moist dressing (K-II). Pengamatan subjektif meliputi perubahan warna kulit dan respon nyeri dilakukan pada hari ke-3, 6, 9 dan 12 setelah bedah serta uji pendarahan yang dilakukan pada hari ke-18 setelah bedah. Pengamatan objektif hari ke-18 setelah bedah untuk mengamati waktu absorpsi NaCl 0,9% dan waktu timbulnya dilatasi pupil setelah penyuntikan adrenalin. Kelompok dry dressing menunjukkan hasil yang baik pada hari ke-9 ditandai dengan warna kulit yang sama dengan kulit sekitar dan respon nyeri berkurang. Uji pendarahan menunjukkan darah segera keluar setelah insisi pada kedua kelompok perlakuaan. Waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek adrenalin lebih cepat pada kelompok dry dressing. Kesembuhan skin flap rotasi dengan perawatan dry dressinglebih cepat dibandingkan moist dressing. Kata kunci : Skin flap rotasi, dry dressing, dan moist dressing
AN INDICATION OF AFRICAN CATFISH’S (CLARIAS GARIEPINUS) BEHAVIORAL CHANGES AS A RESPONSE FOR INCREASED SEISMIC ACTIVITY Teuku Reza Ferasyi; Mustafa Sabri; Hamdani Hamdani; Azhari Azhari; Amiruddin Amiruddin; Erwin Erwin; Wolfgang Straka; Robert Faber
Jurnal Natural Volume 13, Number 1, March 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.87 KB)

Abstract

This report was aimed to describe the behavioral changes of catfish as observed before two different earthquakes hit the Province of Aceh, Indonesia in year of 2012. A number of 5 African’s catfish (Clarias gariepinus) were placed in an aquarium located in Gapang, Sukakarya Sub-district of Sabang Town, Aceh. Their behavior activities were observed manually at three different times (08.00 AM, 01.00 PM, and 05.00 PM) every day from 1st March up to 11th April 2012. The result of observation showed that the activity of catfish was different between all of them from 1st March 2012 up to morning observation on 11th April 2012. Most of those activities was not showed as very active behavior. However, their behavior was very active in the same pattern when observed at noon and afternoon times on 11 April 2012. On this date, there were two consecutive earthquakes happened at magnitude of 8 Richter Scale at 03.38 PM and 05.43 PM. The epicenter of this earthquake was in Simeulue, with the distance of more and less of 390 km from observation station of catfish in Gapang. It was noted that this abnormal behavior possibly showed as an indication of their ability to detect the increase of pre-seismic activity at 2.38 hours and 43 minutes before the two earthquakes. Perhaps, it is the result of their response to the increase of pre-seismic electromagnetic wave. Further continuous observation and research is needed to ensure the role of African’s catfish (Clarias gariepinus) as abio-sensor for the increase of seismic activity.