Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

TGF-βMERUPAKAN MEDIATOR IMUNOSUPRESI DARI SEL T CD4 + CD25 + IN VITRO Endharti, Agustina Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.002 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.03.5

Abstract

Naturally the existency of regulatory T cells are represented by CD4+CD25+T cells. Those cells have been identified as a population of immuno-regulatory T cells, which mediated suppression of CD4+CD25+T cells by cell–cell contact. In the effectors phase the function of CD4+CD25+T regulatory T cells through the involvement of certain suppressive cytokines, such as TGF-β. In this study, we demonstrated that CD4+CD25+ cells produced high levels of Transforming Growth Factor-β (TGF-β) compared with CD4+CD25-T cells when stimulated by plate-bound anti-CD3 andsoluble anti-CD28. We observed that suppression ability of those cells could be abolished by the presence of anti–TGF-β. Finally, we found that stimulated CD4+CD25+T cells but not CD4+CD25-T cells express high and persistent levels of TGF-β. This finding strongly suggests that CD4+CD25+T cells exert immuno-suppression by cell–cell surfaces interaction involved cell of TGF-β. Keyword: Sel T CD4+CD25+, TGF-β, immunosupresion
Uji Daya Anthelmintik Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai Anthelmintik Terhadap Ascaris suum secara in vitro Ulya, Nikmatul; Endharti, Agustina Tri; Setyohadi, R
Majalah Kesehatan FKUB Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.302 KB)

Abstract

Askariasis merupakan salah satu infeksi cacing terbanyak di Indonesia yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides yaitu nematoda patogen pada usus halus yang dapat menyebab­kan malnutrisi, gangguan pertumbuhan, gangguan kognitif, dan obstruksi saluran pencernaan. Dengan adanya efek samping dan harga yang mahal pada obat anthelmintik konvensional, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap tanaman obat sebagai alternatif obat anthelmintik. Pe­nelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya anthelmintik dari ekstrak daun kumis kucing (Orthosi­phon aristatus) terhadap Ascaris suum secara in vitro  serta mengetahui lethal time (LT100) dan lethal concentration (LC100) dari ekstrak etanol daun kumis kucing. Penelitian ini meru­pakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post test only control group design. Subjek dari penelitian ini adalah Ascaris suum yang didapat dari Rumah Pemoton­gan Hewan Gadang, Malang. Penelitian ini menggunakan 5 kelompok perlakuan yaitu NaCl 0,9 % sebagai kontrol negatif dan pirantel pamoate 1 % sebagai kontrol positif serta ekstrak daun kumis kucing dengan konsentrasi 20 %, 30 %, dan 40 %. Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan analisis probit untuk mengetahui lethal concentration (LC100) dan lethal time 100 (LT100) dari ekstrak etanol daun kumis kucing. Hasil uji normalitas menunjukkan distribusi normal (p > 0,05). Hasil analisis probit menunjukkan lethal con­centration 100 (LC100) ekstrak etanol daun kumis kucing adalah 39,2 %,  sedangkan lethal time 100 (LT100) pada konsentrasi 40 % adalah 13 jam 14 menit. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kumis kucing memiliki daya antihelmintik terhadap Ascaris suum secara in vitro.Kata kunci : Anthelmintik, Ascaris suum, Daun kumis kucing.
Uji Daya Antihelmintik Dekok Daun Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Ascaris suum secara In Vitro Himawan, Vanji Budi; Endharti, Agustina Tri; Rahayu, Indriati Dwi
Majalah Kesehatan FKUB Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.443 KB)

Abstract

Askariasis merupakan salah satu infeksi cacing terbanyak yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides yang merupakan nematoda patogen pada usus halus yang dapat menyebabkan malnutrisi, gangguan pertumbuhan, gangguan kognitif, dan obstruksi saluran pencernaan. Cacing Ascaris suum berasal dari genus yang sama seperti Ascaris lumbricoides serta memungkinkan dilakukannya model terhadap Ascaris lumbricoides penelitian dengan cara in vitro. Adanya efek samping dan harga yang mahal pada obat anthelmintik konvensional, maka perlu dilakukannya evaluasi terhadap tanaman obat sebagai alternatif obat antihelmintik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya antihelmintik dari dekok daun papaya (Carica papaya L.) terhadap cacing Ascaris suum secara in vitro  dan untuk mengetahui lethal time (LT100) dan lethal concentration (LC100) dari dekok daun pepaya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post test only control group design. Subjek dari penelitian ini adalah cacing Ascaris suum yang didapat dari Rumah Potong Hewan Gadang. Penelitian ini menggunakan 5 kelompok perlakuan yaitu NaCl 0,9 % sebagai kontrol negatif dan pirantel pamoat 1 % sebagai kontrol positif serta dekok daun papaya dengan konsentrasi 25 %, 50 %, dan 75 %. Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan analisis probit untuk mengetahui Lethal concentration (LC100) dan Lethal time 100 (LT100) dari dekok daun papaya. Hasil uji normalitas menunjukkan distribusi normal (p > 0,05). Hasil analisis probit menunjukkan lethal concentration 100 (LC100) dekok daun papaya  adalah 72,68 % sedangkan lethal time 100 (LT100) pada konsentrasi 75 % adalah 14.17 jam. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dekok daun papaya  memiliki daya antihelmintik terhadap Ascaris suum secara in vitro. Kata Kunci : Antihelmintik, Ascaris suum, Carica papaya L, Dekok.
Efek Imunoterapi, Probiotik, Nigella Sativa terhadap Rasio CD4+/CD8+, Kadar Imunoglobulin E, dan Skoring Asma Fattory, Hittoh; Endharti, Agustina Tri; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.13

Abstract

Imunoterapi alergen-spesifik dan reduksi alergen merupakan intervensi pada penyakit alergi yang berpotensi untuk mengurangi gejala alergi jangka panjang. Penurunan sel T CD4+ dan CD8+ type 2 berkorelasi erat dengan mekanisme regulasi dari imunoterapi. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya rasio sel T CD4+/CD8+, kadar imunoglobulin E (IgE) dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), pre-post control study untuk rasio sel T CD4+/CD8+, kadar IgE dan skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Semua perlakuan diberikan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit (cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test. Rasio sel T CD4+/CD8+ diukur dengan flowcytometry, dan kadar IgE diukur menggunakan Chemiluminescence Enzyme Immunoassay. Hasil penelitian menunjukkan rasio sel T CD4+/CD8+ meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,027), imunoterapi+probiotik (p=0,001), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,046). Kadar IgE tidak berbeda bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.,993), kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,756), imunoterapi+probiotik (p=0,105), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,630). Skoring asma meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.000), imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Sebagai kesimpulan, pemberianimunoterapi dengan ajuvan probiotik danatau Nigella sativa dapat meningkatkan secara bermakna rasio sel T CD4+/CD8+ dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoglobulin E, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, rasio sel T CD4+/CD8+, skoring asma
AKTIVASI SPONTAN SEL T LIMFOSIT MENCIT YANG MENGALAMI DEFISIENSI IL2Rβ Endharti, Agustina Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.849 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.01.7

Abstract

Homologous recombination applied to alter specific  endogenous gene, referred as gene targeting, provides the highest level of control over product mutation in cloned genes. In this experiment we showed that by using gene targeting a knock out mutation in IL-2Rβ gene could be generated. The findings of this study indicated that mice lacking the Interleukin-2 receptor β chain (IL2Rβ-/-) had spontaneously activated.T cells. In this study, we investigated abnormal expansion of activated T cells which showed high level of CD69.  These findings suggest that the IL2Rβ-/- mice may serve as animal model for autoimmune diseases and that the accumulation of activated T cell in the future could be usedin clinical setting to cure the diseases. Keywords:T cells, (IL2Rβ-/-), autoimmune
EFEK PEMBERIAN ARTEMISIN DAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus) TERHADAP PRODUKSI REACTIVE OXYGEN INTERMEDIATE SEL MAKROFAG PERITONEUM MENCIT DIINFEKSI MALARIA Rahmad, Rahmad; Endharti, Agustina Tri; Fitri, Loeki Enggar
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.044 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.01.1

Abstract

Kerusakan jaringan hospes yang terinfeksi malaria dapat disebabkan oleh radikal bebas yang dihasilkan akibat  respons imun yang berlebihan dan mekanisme kerja artemisin. Kandungan beta-karoten dan tokoferol yang tinggi dalam minyak buah merah berfungsi sebagai antioksidan dan imunostimulator. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi kombinasi artemisin dan minyak buah merah terhadap pembentukan reactive oxygen intermediate (ROI) oleh makrofag. Sebagai model malaria digunakan Plasmodium berghei yang diinfeksikan ke mencit Balb/C secara intraperitoneal. Sampel  terdiri dari kelompok mencit normal, mencit yang diinfeksi P. berghei (kontrol positif), mencit yang diinfeksi P. berghei dan diterapi artemisin 0,0364 mg/gBB peroral, mencit yang diinfeksi P. berghei dan mendapat artemisin 0,0364 mg/gBB serta minyak buah merah (dosis 16,5μL/mencit,  49μL/mencit, dan 97,5μL/mencit).  Didapatkan penurunan parasitemia pada kelompok mencit yang diterapi dengan artemisin serta kombinasi artemisin dan minyak buah merah pada hari ke-3. Keadaan ini diikuti dengan rendahnya jumlah sel makrofag yang memproduksi ROI yaitu pada kelompok yang mendapat artemisin saja maupun kombinasinya dengan minyak buah merah dosis 16,5 μL/mencit, dan dosis 49 μL/mencit dibanding kelompok kontrol positif (berturut-turut p = 0,003; p = 0,007; p = 0,003), kecuali pada mencit dosis 97,5 μL yang menunjukkan setara dengan kontrol positif (p = 0,822). Pada hari ke-5, jumlah sel makrofag yang memproduksi ROI lebih rendah pada kelompok kombinasi artemisin dan minyak buah merah dosis 49 μL/mencit, dan dosis 97,5 μL/mencit  dibandingkan dengan kelompok artemisin saja dan kontrol positif (p = 0,000). Disimpulkan bahwa pada infeksi malaria yang diberi terapi artemisin, buah merah dosis tinggi diperlukan sebagai imunostimulator pada fase akut dan sebagai antioksidan pada fase kronis. Kata kunci: artemisinin, makrofag, malaria, reactive oxygen intermediate, buah merah (Pandanus conoideus)
Sensitivity and Specificity of Nested PCR for Diagnosing Malaria: Cases in Several Areas of Indonesia Arifin, Samsul; Fitri, Loeki Enggar; Sujuti, Hidayat; Hermansyah, Bagus; Endharti, Agustina Tri; Burhan, Niniek; Candradikusuma, Didi; Sulistyaningsih, Erma; Tuda, Josef Sem Berth; Zein, Umar
Journal of Tropical Life Science Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.08.02.11

Abstract

Indonesia is still included in high endemic area of malaria infection. Early detection as well as appropriate and quick treatment is needed to be able to prevent and treat malaria in Indonesia. Laboratory examination using a microscopic method is still used as the gold standard to diagnose malaria cases. However, the morphology similarity of some Plasmodium species and the number of parasites that can be seen under microscopy causes malaria diagnosis become difficult if only relying on microscopy diagnostic method. The purpose of this study is to analyze the sensitivity and specificity of nested PCR compared to microscopic examination in diagnosing malaria cases. A cross-sectional study has been carried out in some areas of Indonesia and the microscopic analysis as well as nest PCR was done in Laboratory of Parasitology and Laboratory of Central Biomedical Faculty of Medicine, Universitas Brawijaya, Malang East Java Indonesia. A total of 149 blood samples from patients with clinical symptoms of malaria had been obtained from Sumatra, Sulawesi and East Java during December 2011 to December 2013. From 149 sample, 81.9% samples were diagnosed malaria positive by microscopy examination, whereas the PCR results showed that 90.6% of samples were positive. Nested PCR sensitivity is 97.5%, and microscopy 88.2%. Nested PCR specificity is 40.7%, whereas microscopy 78.5%. PPV and NPV for nested PCR are 88,2% and 78.5% respectively, and for microscopy are 97.5% and 40.7% respectively. Nested PCR has a higher sensitivity than microscopy in diagnosing malaria and is able to detect mixed infection better than microscopic examination. However, it is statistically less specific than microscopy examination.
The Effects of Glucomannan Hydrolysates and BV Gel on Nugent Score, Treg Cell Percentage, and TGF-? level in Bacterial Vaginosis Retnoningrum, Ambar Dwi; Nurseta, Tatit; Prawiro, Sumarno Reto; Endharti, Agustina Tri; Wahyuni, Endang Sri
Indonesian Journal of Medicine Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.183 KB)

Abstract

Background: Bacterial vaginosis is commonly experienced by women of reproductive age. The Nugent score is the gold standard for diagnosing bacterial vaginosis. Prebiotic Glucomannan hydrolysates (GMH) as a therapy in the treatment of bacterial vaginosis and has an immunomodulatory effect on the immune system and provides cellular immunity. The purpose of this study was to examine the effects of GMH and BV Gel on Nugent scores, Treg cell presentation, and TGF ? levels in bacterial vaginosis of women of childbearing age.Subjects and Method: This was an experimental study. A sample of 24 women aged 20 to 45 years old with bacterial vaginosis (Nugent score ?7) was divided into 4 groups: oral antibiotic group metronidazole (500mg), combination of GMH (300mg) and metronidazole, 5 ml BV Gel tube, and combination of GMH and BV Gel scores. The dependent variables were GMH and BV Gel administrations. The independent variables Nugent score, Treg presentation, and TGF-? level. Nugent score, Treg cell presentation, and TGF ? level were measured on day-0, day-11, and day-22. The data were analyzed by one way Anova.Results: The results of the analysis after treatment on day 22 showed that the GMH and BV gel were able to reduce Nugent scores, increase Treg cell presentation and TGF ? levels in bacterial vaginosis of women of childbearing age.Conclusion: GMH as an alternative therapy for bacterial vaginosis compared with antibiotic treatment can improve normal vaginal flora and stimulate the immune system in vitro and in vivo significantly.Keywords: Glucomannan Hydrolysates, BV Gel, Nugent sel Treg score, TGF ?Correspondence:Ambar Dwi Retnoningrum. Masters Program of Midwifery, Universitas Brawijaya, Malang, East Java. Email: adreambar@gmail.com. Mobile: +6281335743696.Indonesian Journal of Medicine (2018), 3(1): 33-43https://doi.org/10.26911/theijmed.2018.03.01.05
Pengaruh Pemberian Probiotik Lactobacillus reuteri Terhadap Presentase Sel T regulator dan Sel T helper 22 Pada Limpa Mencit Nifas yang Diinduksi Bakteri Staphylococcus aureus Wardhani, Ratih Kusuma; Sumarno, Sumarno; Endharti, Agustina Tri
Journal of Issues in Midwifery Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.626 KB) | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2017.001.03.2

Abstract

Infeksi nifas merupakan infeksi yang terjadi akibat adanya bakteri di traktus genitalia setelah melahirkan, akibat adanya perlukaan pada daerah serviks, vulva, vagina, dan perineum pada proses persalinan. Beberapa penelitian menjelaskan bakteri yang sering menyebabkan infeksi traktus genitalia wanita adalah Staphylococcus aureus dan terdapat trauma atau luka maka sebagai media masuknya Staphylococcus aureus untuk terjadinya infeksi. Infeksi Staphylococcus aureus menjadi masalah yang serius saat ini, karena meningkatnya resistensi bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik. Penelitian lain mengemukakan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) resisten terhadap antibiotik jenis β-lactam, penisilin, cephalosporins, dan carbapenem. Meluasnya resistensi bakteri terhadap obat-obatan yang ada, mendorong untuk penggalian sumber antibakteri dari bahan lain, seperti penggunaan probiotik. Probiotik terdiskripsikan sebagai mikroorganisme non patogen atau komponen bakteri dalam makanan suplementasi, termasuk golongan flora bakteri, yang mempunyai manfaat bagi kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit, ketika dalam jumlah yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah ada pengaruh pemberian Lactobacillus reuteri terhadap presentase sel Treg dan sel Th22 pada limpa mencit nifas yang diinduksi Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental sesungguhnya dengan menggunakan pendekatan post test only control group design. Sampel yang digunakan mencit (Mus musculus Galur Balb/c) bunting 13 hari dengan replikasi 40 mencit yang terbagi 8 kelompok. Dosis Lactobacillus reuteri 1x1010 CFU/mencit sebanyak 250μl diberikan per oral. Dosis Staphyloccus aureus 5x107 CFU/mencit sebanyak 200μl diberikan per vaginal. Presentase sel Treg dan sel Th22 dianalisis melalui pemeriksaan flowsitometri. Penelitian ini menunjukkan hasil pemberian probiotik Lactobacillus reuteri tidak terbukti mempengaruhi presentase sel Treg dan sel Th22 pada hari pertama postpartum. Pemberian probiotik Lactobacillus reuteri sampai hari ketiga postpartum terbukti mempengaruhi presentase sel Treg dan sel Th22.
Toll Like Receptor 4 (Tlr4) And p65 Nuclear Factor Kappa B (Nf-Kb) Expression In Monocyte Cell Of Children With Steroid Resistant Nephrotic Syndrome Wahyono, Tikto; Subandiyah, Krisni; Fitri, Loeki Enggar; Endharti, Agustina Tri
Journal of Tropical Life Science Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract