Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RITUAL NGEBUYU: MEMBUMIKAN PEWARIS DAN PERUBAHAN RITUAL KELAHIRAN PADA MARGA LEGUN, WAY URANG, LAMPUNG Bartoven Vivit Nurdin; Elis Febriani Jesica
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 20 No 2 (2018): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v20i2.8

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang ngebuyu atau ngabuyu, sebuah ritual adat pada masyarakat Adat Marga Legun, Way Urang, Lampung untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Kelahiran bayi adalah berita yang menggembirakan bagi setiap masyarakat dimanapun idealnya. Oleh karena itu hampir setiap suku bangsa di dunia memiliki ritual-ritual khusus dalam menyambut kelahiran bayi. Pada masyarakat Adat Marga Legun Way Urang, selain diadakan upacara keagamaan seperti Aqiqah, dilakukan juga ritual keadatan yaitu Ngebuyu. Ngebuyu tidak hanya sebuah proses menyambut kelahiran melainkan memiliki nilai-nilai, makna-simbol, identitas, dan status sosial yang penting dalam masyarakat adat. Penelitian ini menganalisis nilai-nilai tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai status sosial dan identitas sangat melekat pada ritual Ngebuyu. Sebagaimana masyarakat adat saibatin terikat pada kedudukan dan hierarki dalam adat. Perubahan sosial budaya banyak terjadi dalam ritual Ngebuyu, tetapi tidak merubah inti kebudayaan. Merujuk pada Van Gennep dalam rite de passage.
MAKNA ADAT NYAMBAI DAN PERUBAHANNYA Andika Andika; Bartoven Vivit Nurdin
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 14 No 1 (2012): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v14i1.104

Abstract

This research intend to assess nyambai tradition and the alterationon marga Liwa Lampung Barat. Lampung society culture have a unique in implementation procedures. However the implementation and nyambai tradition implementation procedures has been changes. This research in influenced by Van Gennep (1960) argument about Rites of passage and Clifford Geertz (1973) argument about meaning and symbolic. Qualitative research methods are used to understand the meaning of nyambai tradition and the changes. Location of this research carried out in the Padang Cahya village Liwa Lampung Barat. Data collection techniques were used is observasi partisipant and depth interviews. The results of this research indicate that nyambai tradition it is a constitute cultural identity, avidence the persistence of Aristocratic form of solidaritty and decency, as well as the changes status of single to marriage life. The changes that happened to the nyambai procesion is ; procedure dress up, dress motif, the tools used in nyambai procession, and nyambai process implementation.
“BELUM MAKAN KALAU BELUM MAKAN NASI”: PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN Bartoven Vivit Nurdin; Yeni Kartini
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 19 No 1 (2017): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v19i1.26

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang masalah-masalah sosial budaya dalam krisis ketahanan pangan di Indonesia. Masalah ketahanan pangan selama ini adalah isu sentral dalam pembangunan Indonesia, karena menyangkut kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Isu ketahanan pangan seringkali dikaitkan dengan teknologi dan peningkatan produksi pangan sebagai solusi dalam penanganannya, sehingga solusinya seringkali berupa pengendalian konversi lahan pertanian, menciptakan teknologi dan bahkan menciptakan infrastruktur baru. Padahal masalah sosial budaya merupakan isu penting dalam menanggulangi masalah ketahanan pangan. Ketahanan Pangan berkaitan dengan budaya makan masyarakat, dimana makanan bukan saja persoalan kebutuhan biologis namun merupakan persoalan kebiasaan, kebudayaan, kepercayaan dan keyakinan. Tulisan ini menganalisis sisi lain dari ketahanan pangan yang sering dilupakan para pengambil kebijakan dan peneliti, yakni perspektif sosial budaya dalam pembangunan ketahanan pangan.
BUDAYA, PARIWISATA DAN ETHNO-ECOTOURISM: KAJIAN ANTROPOLOGI PARIWISATA DI PROVINSI LAMPUNG Bartoven Vivit Nurdin
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 18 No 1 (2016): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v18i1.67

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji antropologi pariwisata dan membangun sebuah model ethno-ecotourism yang berbasiskan pada potensi kearifan lokal untuk pengembangan pariwisata berbasiskan budaya lokal di Provinsi Lampung. Kajian –kajian pariwisata selama ini banyak didominasi oleh perspektif bidang ilmu fisik dan ekonomi, padahal kegagalan pariwisata selama ini adalah ada pada kurangnya kajian sosial-budaya yang menekankan pada aspek manusia dalam pengembangan pariwisata. Sehingga tulisan ini mencoba menganalisis secara teoritis hubungan kebudayaan, manusia dan pariwisata dalam bidang antropologi. Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah untuk pengembangan pariwisata. Selama ini strategi pembangunan pengembangan pariwisata hanya mengandalkan potensi alam dan selalu menjagokan potensi fisik, insfrastruktur dan potensi sumber daya alam, tetapi tidak melibatkan faktor manusianya. Metode penelitian yang dilakukan adalah pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun potensi sumber daya alam sangat memiliki nilai jual pariwisata yang tinggi, namun tanpa diiringi oleh perubahan perilaku manusia tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu model ethno-ecotourism berbasiskan kearifan lokal ini sangat relevan bagi pembangunan pariwisata di Provinsi Lampung, karena selama ini pengembangan wisata belum terlaksana secara maksimal. Kebijakan pembangunan pariwisata harus melakukan pendekatan holistik, karena pembangunan manusia sangat menentukan kemajuan sebuah pariwisata. Disamping itu Lampung, memiliki kearifan lokal yang sangat potensial dalam mengembangkan pariwisata.
Lamban Balak Marga Legun: Proses Pendirian Museum Adat Yuni Ratna Sari; Bartoven Vivit Nurdin; Ifaty Fadliliana Sari; Asnani Asnani
Jurnal Pengabdian Dharma Wacana Vol 3, No 1 (2022): Jurnal Pengabdian Dharma Wacana
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37295/jpdw.v3i1.286

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan rangkaian dari proses pendirian museum adat Marga Legun. Museum adat ini rencananya akan didirikan dalam bentuk Lamban Balak Marga Legun yang menjadi ruang pamer alat-alat pertanian yang biasa digunakan masyarakat pada masa lampau. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2021 di Kalianda, Lampung Selatan. Peserta yang hadir sejumlah 14 orang yang merupakan para pemuka adat Marga Legun. Tahap awal kegiatan ini dilaksanakan pre-test untuk mengeksplorasi pengetahuan awal para peserta dan diakhiri dengan post-test untuk mengetahui ketercapaian materi. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi terarah yang dipimpin oleh tim kegiatan. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupa identifikasi permasalahan dan kebutuhan masyarakat adat dalam proses pendirian museum adat serta pengecekan kondisi barang-barang yang dipamerkan. Antusiasme peserta dalam kegiatan ini mengindikasikan minat masyarakat dalam pembangunan museum adat yang semakin progresif.