Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Higienitas Vagina, Kadar Gula Darah dan Kadar Hormon Estrogen dengan Kejadian Kandidiasis Vaginalis Silfina Indriani; Netti Suharti; Almurdi Almurdi
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 18, No 3 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.229 KB) | DOI: 10.33087/jiubj.v18i3.508

Abstract

Candida albicans is a normal flora in several areas of the human body and has opportunistic properties, so that if conditions support, it will be able to transform into pathogens (Ramali and Werdani, 2001). Candida can become pathogenic if there are predisposing factors, one of which is diabetes mellitus (DM), the frequency of underwear replacement (Anindita, 2006) and the use of contraceptives that affect the balance of estrogen hormones (Amelia, 2009). Researchers are interested in discussing the relationship of vaginal hygiene, blood sugar levels and estrogen hormone levels with vaginalis candidiasis.The purpose of this research was to determine the relationship of vaginal hygiene, blood sugar levels and estrogen hormone levels with vaginalis candidiasis.This research is a quantitative research with a type of analytical research studies. The research design used was a cross sectional comparative study. It was carried out at the Bhayangkara Hospital Polyclinic and Padang Pasir Health Center as well as Nanggalo. The population in this research were all women of fertile age who came to the obstetric polyclinic who conducted Visual Acetate Acid (IVA) Inspection. The sample in this research is the population that meets the inclusion and exclusion criteria. The hypothesis of this research is the relationship between vaginal hygiene, blood sugar levels and estrogen hormone with vaginalis candidiasis.There is a relationship between vaginal hygiene, blood sugar levels and estrogen hormone with vaginalis candidiasis.The conclusion of this research is that the dominant factor with vaginalis candidiasis is vaginal hygiene with an OR value of 11.37.
Uji Mikroorganisme pada Cabai (Capsicum annuum) Bakso yang Disajikan di Tempat Penjualan Bakso di Kecamatan Padang Timur Raja Nona Millani; Netti Suharti; Asterina Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.576

Abstract

AbstrakBakso merupakan salah satu kuliner yang favorit bagi sebagian besar kalangan. Penikmat bakso selalu mencampurkan cabai sebagai penambah rasa pedas. Pada beberapa tempat penjualan bakso banyak kemungkinan terjadinya kontaminasi pada cabai yang disajikan diantaranya tempat cabai bakso yang kurang bersih. Tujuan penelitian ini adalah memeriksa mikroorganisme pada cabai bakso yang disajikan di tempat penjualan bakso di Kecamatan Padang Timur. Penelitian deskriptif ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari  Oktober 2013 sampai  Desember 2014. Jumlah sampel adalah 20 yang diambil dari tempat penjualan bakso di Kecamatan Padang Timur. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sampel (90%) mengandung bakteri yaitu Klebsiella sp, Enterobacter sp, Proteus sp, Bacillus sp,Streptococcus sp dan sisanya 10% mengandung candida. Diharapkan konsumen berhati-hati dalam mengkonsumsi cabai bakso yan disajikan ditempat penjualan bakso.Kata kunci: cabai, bakso, bakteri AbstractMeatball is  a favorite culinary food among citizens. People use spicy chili as a dipping sauce to enhance flavour. In most of the meatballs selling stalls, there are high possibilites of the chili served getting contaminated for example, due to the lack of cleanliness of the chili serving containers. The objective of this study was to identity the presence of the microorganisms in dipping sauce served in meatballs selling stalls in Padang Timur District. This research was conducted in the Laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, University of Andalas from October 2013 to December 2014 using descriptive method. A total of 20 samples were taken from the meatball stalls in Padang Timur District. Based on the results, The result showed that 90% of the samples contain bacteria such as Klebsiella sp, Enterobacter sp, Proteus sp, Bacillus sp, Streptococcus sp and the remaining 10% contain candida. Therefore, consumers are advised to be more cautious in consuming foods from meatball stalls.Keywords : chili, meatball, bacteria
Perbedaan Kadar Interferon Gamma dan Interleukin-10 pada Orang Dewasa Terinfeksi Ascaris Lumbricoides dengan Tidak Terinfeksi yang Diinduksi Vaksin Bacille Calmette-Guerin Weni Mulyani; Nuzulia Irawati; Netti Suharti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i1.449

Abstract

AbstrakKecacingan merupakan penyakit yang masih banyak di negara berkembang. Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan gizi, pertumbuhan dan penurunan produktifitas kerja. Infeksi cacing dapat menimbulkan penurunan respon terhadap antigen sebagai akibat modified Th2 response. Vaksin BCG merupakan antigen yang dikenal sebagai penginduksi respon sel Th1. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa terinfeksi Ascaris lumbricoides dan tidak terinfeksi yang diinduksi vaksi BCG. Penelitian dilakukan di Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru dengan menggunakan rancangan cross sectinal study. Populasi penelitian adalah orang dewasa kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru yang terinfeksi  dan tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides. Status kecacingan didapatkan dari pemeriksaan feses dengan metode kato-katz. Kadar IFN-γ dan IL-10 didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium dengan metode ELISA. Pengolahan dan analisa data menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar IFN-γ adalah 16,55±14,13 pg/mg dan kadar IL-10 36,13±8,83 pg/ml. Pada orang dewasa yang tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides didapatkan kadar rerata IFN-γ adalah 199,36±121,86 pg/ml dan kadar IL-10 10,57±9,20 pg/ml. Terdapat perbedaan bermakna kadar  IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi (p<0,05). Kesimpulan ialah infeksi Ascaris lumbricoides dapat menekan produksi IFN-γ terhadap pemberian vaksin BCG.Kata Kunci: ascaris lumbricoides, vaksin BCG, interferon gamma (IFN-γ), interleukin 10 (IL-10) AbstractWorm infestation is a disease that often occur in the develop country. This disease can makes nutrient’s disturbance, growth’s and low work productivity. Worm infection can also make low respond on antigen because of modified Th2 response. BCG vaccine is antigen that can induce Th1 cell respond. The objective of this study was to determine the difference between IFN-γ and IL-10 on adult who infected Ascaris lumbricoides and uninfected who inducted by BCG vaccine. This cross sectinal study conducted in Muara Fajar District in Rumbai Pesisir Pekanbaru. The population were adults in Muara Fajar district Rumbai Pesisir Pekanbaru who infected and uninfected Ascaris lumbricoides. Worm infection was getting checked in fesses by kato-katz method. IFN-y and IL-10 were getting laboratory checked by ELISA method. The data was analyzed by t-test. The result of the adult who infected Ascaris lumbricoides showed the mean IFN-y is 16.55±14.13 pg/mg and IL-10 36.13±8.83 pg/ml. The result on adult who uninfected Ascaris lumbricoides showed the mean IFN-y is 199,36±121,86 pg/ml and IL-10 10.57±9.20 pg/ml. There was significant difference IFN-y and IL-10 between adult who infected Ascaris lumbricoides with uninfected (p<0,05). It can be concluded that infect Ascaris lumbricoides can pressure IFN-y production on given BCG vaccine.  Keywords: Ascaris lumbricoides, BCG vaccine, Interfereon gamma (IFN-γ), Interleukin 10 (IL-10)
Kualitas Air Sumur Gali Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Berdasarkan Indeks Most Probable Number (MPN) Randa Novalino; Netti Suharti; Arni Amir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.577

Abstract

AbstrakDiare merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui air terkontaminasi oleh agen penyebab seperti bakteri Coliform.  Menurut data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang pada tahun 2011, kejadian diare di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang merupakan kasus tertinggi di Kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas air sumur gali di Kelurahan Lubuk Buaya berdasarkan Indeks Most Probable Number (MPN) menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) No. 416 tahun 1990. Sampel penelitian ini adalah  air sumur gali yang digunakan di beberapa Rukun Tetangga (RT), yang diambil secara acak dari beberapa Rukun Warga (RW) yang telah dipilih sebelumnya, sehingga didapatkan 15 sampel. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu pengambilan sampel air sumur gali sekaligus observasi faktor yang mempengaruhi kualitas air dan pemeriksaan mikrobiologi dengan metode Most Probable Number (MPN) Test. Tes ini terdiri dari tes presumtif dan tes konfirmatif yang disesuaikan dengan Permenkes RI. Hasil penelitian ialah 73,33% dari jumlah sumur yang diperiksa tidak memenuhi standar Permenkes R.I. karena mengandung Coliform > 50 pada setiap 100 ml air. Hanya 26,6% sumur yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu lokasi sumber pencemaran, dinding parapet, drainase, tutup sumur dan sarana pengambilan air.Kata kunci: kualitas air sumur gali, MPN, coliform AbstractDiarrhea is one of the diseases that  transmitted through contaminated water by causative agent, one of which is coliform bacteria. According to data from City Health Department Padang in 2011, the incidence of diarrhea in Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah – Padang is the highest case in the city of Padang. The objective of this study was to determine the water quality of wells dug in Kelurahan Lubuk Buaya by Most Probable Number Index (MPN) according regulation of Indonesian health minister. The 15 samples was water of dug well  in some of the RT households from several neighborhoods that was selected. The research was conducted in two stages, dug well water samples as well as observation of the factors that affect water quality and microbiological examination of the Most Probable Number method (MPN) Test. This test consists of presumptive tests and confirmative tests that were tailored to regulation of Indonesian health minister.  The result were 73.33% of the wells tested did not meet the standards of Indonesian health minister regulation, because it contains >50 coliform in every 100 ml of water. Only 26.6% of the wells were inspected to meet the standards set. Several factors can affect the location of sources of pollution, parapet walls, drainage or sewer water, cover the wells, and water collection facilities.Keywords: dug well water quality, MPN, coliform
Efek Antibakteri dari Rebusan Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan Produk Herbal Sambiloto Terhadap Staphylococcus Aureus Adriyan Sikumalay; Netti Suharti; Machdawaty Masri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i1.468

Abstract

AbstrakSambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan tanaman obat yang memiliki berbagai khasiat, salah satunya sebagai antibakteri.  Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama infeksi. Penggunaan Sambiloto di masyarakat saat ini mempunyai beberapa pilihan diantaranya dengan membuat rebusan langsung dari daun sambiloto ataupun dengan membeli produk herbal sambiloto yang dijual di pasaran. Tujuan penelitian ini adalah menentukan efek antibakteri dari rebusan daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan produk herbal sambiloto terhadap Staphylococcus aureus. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan sembilan kali pengulangan menggunakan metode difusi. Penelitian dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Maret  sampai Desember 2014. Sambiloto diekstrak dengan metode infusum. Kontrol yang digunakan adalah amoksisilin. Hasil penelitian memperlihatkan tidak ada daerah bebas kuman di sekitar cakram disk yang telah mengandung sambiloto. Kesimpulan hasil ini ialah rebusan daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan produk herbal sambiloto tidak mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus.Kata kunci: sambiloto, staphylococcus aureus, infusum AbstractBitter (Andrographis paniculata Nees) is a medicinal plant that have various benefits, such as an antibacterial. Staphylococcus aureus is a major cause of infection. The use of bitter in today's society has several options such as by making direct decoction of the leaves of bitter or by buying herbal products of bitter sold in the market. The objective  of this study was to determine the antibacterial effect of decocted leaf of bitter (Andrographis paniculata Nees) and herbal products of bitter against Staphylococcus aureus.This type of research was experimental with nine repetitions using diffusion method. This research was conducted in the laboratory of Microbiology Faculty of Medicine Andalas University Padang in March to December 2014. Bitter was extracted by infusum method. Controls used was amoxicillin.The results showed the absence of germ-free area around the disc containing bitter. It could be concluded that the bitter leaf decoction (Andrographis paniculata Nees) and bitter herbal product had no antibacterial effect against Staphylococcus aureus.Keywords: bitter, staphylococcus aureus, infusum
Kemampuan Daya Hambat Bahan Aktif Beberapa Merek Dagang Hand sanitizer terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Putri Srikartika; Netti Suharti; Eliza Anas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.613

Abstract

AbstrakHand sanitizer sebagai pembersih tangan antiseptik inovatif saat ini, sering menjadi alternatif pengganti cuci tangan dengan sabun dan air. Mencuci tangan dengan hand sanitizer merupakan salah satu cara memelihara kebersihan tangan agar terhindar dari penyakit  yang disebabkan oleh flora normal di kulit yang berpotensi patogenik seperti bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah menilai kemampuan daya hambat beberapa merek dagang hand sanitizer terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap pada empat macam hand sanitizer dengan tiga kali pengulangan. Data diolah secara manual dan menggunakan analisis varians (ANOVA) dilanjutkan dengan uji pos-hoc dengan Tukey HSD dan independent t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif hand sanitizer mampu mengurangi pertumbuhan Staphylococcus aureus secara signifikan. Perbedaan prosentase rerata pengurangan jumlah koloni pada waktu 30 detik berkisar antara 57,65%-72,45%, sedangkan pada waktu 1 menit berkisar 67,88%-82,65%. Hasil analisis menunjukkan perbedaan bermakna terhadap perlakuan, antar perlakuan dan waktu yang diujikan dengan nilai signifikasi p <0,05. Didapatkan hand sanitizer lebih efektif menghambat pertumbuhan pada waktu 1 menit daripada 30 detik. Hand sanitizer yang mengandung alkohol 70% dan triklosan 0,05% memiliki kemampuan daya hambat lebih baik terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.Kata kunci: bahan aktif, hand sanitizer, Staphylococcus aureus AbstractHand sanitizer is one of the ways for maintaining the hand hygiene. Hand sanitizer as an innovative antiseptic product at this time, becomes an alternative hand washing with soap and water. It prevents  the disease that can be caused by normal flora that potentially pathogenic bacterium such as Staphylococcus aureus. The objective of this study was to evaluate the inhibition ability of several trademarks hand sanitizer on the growth of Staphylococcus aureus. The research method used a completely randomized design in four kinds of hand sanitizer and three repetitions. Data processed manually and using analysis of variance (ANOVA) and followed by Post-Hoc test with Tukey HSD and also Independent T-Test.The results showed that the ingredients of hand sanitizer can reduce the growth of Staphylococcus aureus significantly. The differences on the percentage reduction of colonies in 30 seconds ranged between 57,65%-72,45%, while the range in 1 minute was 67,88%-82,65%. The analysis was also showed a real difference to the experiment, the combination of the experiment and the time of the experiment with significance value of p <0.05. Based on the result, hand sanitizers can inhibit the growth of Staphylococcus aureus effectively at 1 minute instead of 30 seconds. Hand sanitizer containing alcohol 70% and triclosan 0.05% has the better ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: ingredients, hand sanitizer, Staphylococcus aureus
Kesesuaian Pemeriksaan Aglutinasi Lateks Dengan BTA Mikroskopis untuk Mengidentifikasi Pasien Tuberkulosis Prima O Damhuri; Netti Suharti; Efrida Efrida; Masrul Basyar; Andani E Putra
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i1S.1159

Abstract

Pemeriksaan aglutinasi merupakan teknik pemeriksaan yang sederhana, cepat, murah, dan tidak memerlukan keahlian kusus dalam pemeriksaannya. Uji aglutinasi lateks merupakan suatu pemeriksaan berdasarkan reaksi aglutinasi yang terbentuk akibat interaksi antara antigen dan antibodi. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan dilaboratorium kesehatan untuk mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis adalah pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA) mikroskopis. Tujuan: Mengetahui kesesuaian antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis. Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik aglutinasi lateks menggunakan antibodi poliklonal dengan rangcangan crossectional. Pemeriksaan dilakukan terhadap 100 orang pasien suspek tuberkulosis di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari Januari 2018 sampai dengan Januari 2019. Sampel sputum direaksikan dengan reagen lateks dan diamati ada tidaknya terbentuk. Kesesuaian pemeriksaan uji aglutinasi lateks dibandingkan dengan pemeriksaan BTA mikroskopis. Hasil: Nilai koefisien kappa sebesar 0,473 (p=0,000) menunjukkan kesepatan antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan BTA mikroskopis cukup (k 0,41-0,60). Simpulan: Uji aglutinasi lateks dengan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis pada sampel sputum memiliki nilai kesepakatan yang cukup.
Identifikasi Bakteri Coliform yang Terdapat pada Minuman Es Teh di Rumah Makan Tepi Laut Purus Padang Barat Muhammad Nurman Ariefiansyah; Netti Suharti; Eliza Anas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.363

Abstract

Abstrak Minuman es teh merupakan minuman yang paling digemari konsumen rumah makan. Sampel penelitian ini adalah minuman es teh dirumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas minuman es teh di rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat secara mikrobiologis. Sampel diambil dari 14 rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat. Penelitian dilaksanakan dua tahap; 1. pengambilan sampel minuman es teh disertai observasi dan wawancara, 2. pemeriksaan mikrobiologis dengan metode Most Propable Number (MPN) terhadap sampel yang terdiri dari tes presumtif, tes konfirmatif dan tes pelengkap. Hasil penelitian mendapatkan seluruh sampel minuman es teh mengandung bakteri Coliform. Tiga belas dari empat belas sampel positif mengandung E. coli, sedangkan satu sampel lain mengandung bakteri Klebsiella. Dari penelitian ini dapat disimpulkan minuman es teh di rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat tidak memenuhi syarat mikrobiologis yang telah ditetapkan pemerintah.Kata kunci: minuman es teh, bakteri coliform, most propable number (MPN) Abstract Ice tea is the common consumer favorite beverage at restaurant. Samples of this research is ice tea beverages at Purus Beach restaurant West Padang. The objective of this study was to identify the quality of ice tea sold at Purus Beach Restaurant in Purus West Padang microbiological. Samples were taken from restaurant of Purus Beach in West Padang. This research implemented in two steps; First, taking the ice tea sample and observing also interviewing. Second, microbiological inspection using Most Propable Number (MPN) methods to the sample consist of presumptivetest, confirmation test and complementary test. All of the sample of the ice tea beverage containing Coliform bacteria. Thirteen of fourteen positive contained E.Coli and the other contain Clebsiella. This result showed that ice tea from Purus Beach West Padang restaurant is unqualified as government has set required microbiological.Keywords: ice tea beverage, coliform bacteria, most propable number (MPN)
Perbedaan Efek Daya Hambat Jus Kulit Buah Manggis dengan Air Rebusan Kulit Buah Manggis sebagai Antibakteri terhadap Bakteri Gram-Positif (Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes) secara In Vitro Nani Hendriani; Netti Suharti; Julizar Julizar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i1.479

Abstract

AbstrakBakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes telah resisten terhadap beberapa antibiotik, sehingga perlu dicari antibakteri alternatif lain. Manggis merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental terhadap kedua bakteri tersebut,  yang diberi enam perlakuan dengan enam kali pengulangan, yaitu kontrol positif (amoksisilin 25 mcg), kontrol negatif (larutan aquades), jus kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 58,3% v/v) dan dosis II (konsentrasi 29,15% v/v), serta air rebusan kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 30,7% v/v) dan dosis II (konsentrasi 15,35% v/v). Cawan petri dengan kedua isolat bakteri  yang telah ditanami cakram dengan 6 perlakuan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, kemudian diukur diameter halo yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan kulit buah manggis memiliki efek daya hambat yang lebih baik daripada jus kulit buah manggis. Efek antibakteri jus dan air rebusan kulit buah manggis lebih sensitif pada bakteri Staphylococcus aureus dibanding bakteri Streptococcus pyogenes.Kata kunci: kulit buah manggis, jus, air rebusan, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes AbstractGram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus and Staphylococcus pyogenes have developed resistance to some antibiotic, therefore  need to find another alternative as antibacterial. Mangosteen well known as one of the traditional medicine used as antibacterial. This study was conducted in experimental fashion toward both of those bacteria which was given 6 treatment with 6 times repetition, consist of positive control (25 mcg of amoxicillin), negative control (aquades solution), mangosteen pericarp juice dose I (58% v/v) and dose II (29,15% v/v), and boiled mengosteen pericarp dose I (30,7% v/v) and dose II (15,35% v/v). Six paper disks treated with before mentioned treatment was putted on a petri dish which previously has been isolated with both of those bacteria incubated for 24 hour at temperature of 37º celcius. The halo produced after incubation period was measured. The result showed that boiled mangosteen pericarp has better inhibitory effect compared to mangosteen pericarp juice. Both antibacterial effect were more sensitive on Staphylococcus aureus than Streptococcus pyogenes.Keywords: mangosteen pericarp, juice, boiled, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes
Hubungan antara Pembentukan Scar Vaksin BCG dan Kejadian Infeksi Tuberkulosis Fajriah Rosandali; Rusdi Aziz; Netti Suharti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i2.526

Abstract

AbstrakTuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Orang dewasa yang menderita tuberkulosis sangat mudah menularkan kuman TB kepada orang disekitarnya terutama pada anak-anak. Salah satu cara pencegahan penyakit tuberkulosis adalah pemberian imunisasi BCG pada saat bayi baru lahir. Scar vaksin BCG dapat terbentuk setelah penyuntikan, kadang Scar tidak terbentuk setelah penyuntikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara pembentukan Scar vaksin BCG dan kejadian infeksi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 80 orang. Pengambilan data berupa melakukan pengamatan terhadap Scar pada lengan atas serta wawancara kepada responden dengan menggunakan pedoman wawancara. Kemudian data ditabulasi dalam bentuk persentase dan dianalisis dengan uji chi-square . Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang terbanyak adalah perempuan dan usia yang terbanyak 35-44 tahun. Terdapat hubungan yang bermakna antara pembentukan Scar  vaksin BCG dengan kejadian infeksi tuberkulosis (p < 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pembentukan Scar vaksin BCG terhadap kejadian infeksi tuberkulosis.Kata kunci: tuberkulosis, vaksin BCG, Scar. AbstractTuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis with the number of sufferers tend to increase every years. Adults who suffer  tuberculosis is very easy to spread it to around, especially to children. One of the way to prevent tuberculosis is immunization of BCG vaccine which given since infant. The Scar of BCG vaccine can formed after injection or not. The objective of this study was to determine the relation of BCG vaccine Scar formation on  the incidence of tuberculosis infection.This research used a cross sectional design with 80 total subjects. The data was collected by observations of the scar on the upper arm while interviewed  respondents using interview guide. The data is tabulated  and analyzed by chi-square test. The results showed that most respondents were women and most age was 35-44 years. There is a significant relation between BCG scar formation on the incidence of tuberculosis infection (p <0.05). It can be concluded that there are significant between BCG Scar formation on the incidence of tuberculosis infection.Keywords: tuberculosis, BCG vaccine, Scar.