Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERISTIWA KOMUNIKASI DALAM MEDIA SOSIAL “WHATSAPP GROUP FAMILY SW-6” Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 3, No 2 (2017): Oktober 2017 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.10358/jk.v3i2.572

Abstract

Abstrak WhatsApp Group Family sebagai salah satu media digital untuk berkomunikasi yang telah digunakan oleh hampir semua kalangan keluarga. Hampir setiap orang di era digital ini, menggunakan aplikasi WhatsApp, hingga pada akhirnya, sebagian keluarga pun tidak mau ketinggalan untuk membuat group whatsapp family, sebagai sarana berkomunikasi. Kehadiran WhatsApp Group Family pun telah memicu timbulnya berbagai peristiwa komunikasi. Peristiwa komunikasi yang unik terjadi dalam percakapan keluarga melalui WhatsApp Group Family inilah yang menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Penulis mengangkat penelitian ini dengan judul “Peristiwa Komunikasi dalam Percakapan Melalui WhatsApp Group Family SW 6”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menggambarkan adanya keunikan peristiwa komunikasi dalam percakapan yang terjadi melalui WhatsApp Group Family SW-6, terdiri dari: peristiwa silaturahmi; peristiwa bullying; peristiwa ajang eksistensi diri; dan peristiwa sindiran dalam percakapan melalui WhatsApp Group Family SW-6. Kata Kunci: Peristiwa; Komunikasi; Percakapan; Whatsapp Group Family Abstract WhatsApp Group Family as one of the digital media to communicate that has been used by almost all family circles. Almost everyone in this digital age, using the application WhatsApp, until in the end, some families did not want to miss to create a group whatsapp family, as a means of communicating. The presence of WhatsApp Group Family has also triggered the emergence of various communication events. Unique communication events occur in family conversations through WhatsApp Group Family is the reason for this research. The author raised this research under the title "Communication Events in Conversations through WhatsApp Group Family SW 6". This research uses qualitative approach with descriptive method. Data collection techniques are interview, observation, and documentation study. The results of this study illustrate the uniqueness of communication events in conversations that occur through WhatsApp Group Family SW-6, consisting of: the event of friendship; bullying events; show of self existence; and satire / reprimand in a conversation through WhatsApp Group Family SW-6. Keywords: Events; Communications; Conversations; Whatsapp Group family
Analysis of The Filter Bubble Phenomenon in The Use of Online Media for Millennial Generation (An Ethnography Virtual Study about The Filter Bubble Phenomenon) Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti; RANGGA SAPTYA MOHAMAD PERMANA
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 2 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.533 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v4i2.2538

Abstract

This article describes about phenomenon of Filter Bubble for Millennial Generation in online media.  Nowadays, we know that people in searching information are likely to be unaware that their search has been chosen. What is most interesting is how people which are aware on how a filter bubble works but seemed to forget when they search on some information. Researchers and critics are worried because these filters isolate people from getting the information on what they want not on what they need. People might not realize that they are led to partial information blindness. This research is acknowledge their awareness on the filter bubble phenomena especially on Y generation who are believed to be a group of people that adapt fast from the analogue era to the digital era. How they search information nowadays, how bubble filters add their self-value on things and how they prevent themselves from being in a bubble. The research was conducted using a qualitative method with an ethnography virtual approach through LINE group of millennial generation. This approach was to gain more information on the virtual culture, and this case the filter bubble phenomena. Results shows that most informants were not aware on the term of ‘Filter Bubble’, but have been assuming it for quite a while. When they were more informed of this term, they realized that they should be more critical on what they read, and being literated is a significant competence in this era. Though, in addition whether or not this filter bubble could construct their identity, some denied that it didn’t have any relevation while others seemed to think that it did give some additional values on it.Keywords: Filter Bubble, Computer-mediated Communication, ethnography virtual, millennials, and self valueABSTRAKPenelitian ini menjelaskan tentang fenomena bubble filter untuk Generasi Milenial di media online. Sekarang ini, orang-orang dalam mencari informasi cenderung tidak menyadari bahwa pencarian mereka telah dipilih. Hal paling menarik adalah bagaimana orang-orang yang menyadari cara kerja bubble filter namun menjadi lupa ketika mereka mencari informasi. Para peneliti dan kritikus khawatir bubble filter ini mengisolasi orang dari mendapatkan informasi tentang apa yang mereka inginkan, bukan tentang apa yang mereka butuhkan. Orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka dituntun pada kebutaan informasi parsial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran generasi Y terhadap fenomena bubble filter: cara mereka mencari informasi saat ini, bagaimana bubble filter menambahkan harga diri mereka pada sesuatu, dan bagaimana mereka mencegah diri mereka dari berada dalam bubble. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi virtual untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang budaya virtual, terutama fenomena bubble filter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan tidak mengetahui istilah "Filter Bubble", namun mereka sudah mengasumsikannya cukup lama. Ketika mereka menjadi lebih tahu tentang istilah ini, mereka menyadari bahwa mereka harus lebih kritis terhadap apa yang mereka baca, dan menjadi literated adalah kompetensi yang signifikan di era sekarang ini. Selain apakah bubble filter dapat membentuk identitas mereka atau tidak, beberapa menyangkal bahwa bubble filter tidak memiliki relevansi apa pun, sementara yang lain tampaknya berpikir bahwa bubble filter memberikan beberapa nilai tambahan.Kata Kunci: Filter Bubble, computer-mediated communication, etnografi virtual, generasi milenial, nilai diri
Resepsi khalayak pada program acara televisi di Trans 7 sebagai media edukasi Rizkia Nidha Amalia; Sri Seti Indriani; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 6, No 1 (2022): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i1.36061

Abstract

Peminatan masyarakat pada program edukasi dalam televisi mengalami kemunduran, ini disebabkan karena jadwal tayang yang tidak sesuai dengan sasaran, pembukaan program dan beberapa diantaranya kurang menarik perhatian masyarakat. Meskipun demikian adapun salah satu acara televisi “Tau Gak Sih” yang mencoba mengambil kembali perhatian masyarakat dengan tema edukasinya. Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan merupakan salah satu komunitas pemerhati masalah edukasi dalam masyarakat memiliki kesadaran akan adanya acara televisi “Tau Gak Sih”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan kode teks atau enkoding nilai edukasi pada program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7 dan untuk mengetahui posisi pembacaan anggota dalam Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK) terhadap nilai edukasi program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7. Informan penelitian ini adalah guru-guru relawan yang berada di Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall dan teori enkoding – dekoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga indikator nilai edukasi yang membuat program acara televisi “Tau Gak Sih?” sebagai media edukasi yaitu memberikan wawasan, didukung oleh sumber terpercaya, dan pesan sampai kepada khalayak dan mudah dipahami. Posisi pembacaan Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan untuk tiga indikator nilai edukasi, mayoritas berada pada posisi Hegemoni – Dominan. Maka dapat disimpulkan bahwa program acara televisi “Tau Gak Sih?” menjadi media edukasi untuk komunitas tersebut.
Pelatihan Pengelolaan Konflik Organisasi Akibat Media Sosial Bagi Karang Taruna di Desa Ciburial, Bandung Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.187 KB) | DOI: 10.30653/002.201831.45

Abstract

TRAINING OF ORGANIZATIONAL CONFLICT MANAGEMENT DUE TO SOCIAL MEDIA FOR YOUTH CADETS IN CIBURIAL VILLAGE, BANDUNG. This article is the result of Community Service Activity (PKM) which has been done by the writer team on Karang Taruna members in Ciburial village, Bandung, under the title of Managing Organizational Conflict Managing Social Media Training for Karang Taruna of “Padu Selaras” in Ciburial Village. Community Service Activities has the objective of producing outcomes: 1) Providing concrete knowledge on how to manage organizational conflicts caused by social media; 2) Provide an understanding of the importance of members of youth have knowledge of the management of organizational conflict caused by social media. The method of PKM implementation done in this activity is method of lecture method; group discussion methods; and video playback methods. The conclusions of this PKM activity are: 1) To awaken members of youths about the importance of having knowledge in managing organizational conflicts caused by social media; 2) Increasing the knowledge of youth members about conflict management caused by social media; 3) Practicing how to manage organizational conflict due to social media in simulation of members of youth cadets in Ciburial village.
Analisis konvergensi simbolik dalam media sosial youth group terkait kasus COVID-19 di Indonesia Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 48a/E/KPT/2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.658 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i2.27271

Abstract

Pada awal tahun 2020, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi yang mengejutkan dunia. Virus yang menular dan berbahaya ini melumpuhkan sebagian besar negara di dunia. Paparan media tentang virus menyebabkan berbagai spekulasi dan asumsi tentang virus. Diskusi tentang virus menjadi terhangat yang diperbincangkan oleh berbagai kalangan dalam segala bentuk media massa, termasuk sebuah komunitas dalam media sosial. Sekelompok remaja dalam group WhatsApp bernama Monster Rabbits’ yang juga menjadikan kasus ini sebagai salah satu topik yang selalu diperbincangkan. Tujuan penelitian adalah mengungkapkan tema diskusi mereka, mengungkap rantai tema yang terbentuk dalam kelompok terkait dengan kasus COVID-19, dan untuk mengenali budaya obrolan mereka dalam kelompok. Teori konvergensi simbolik menjadi teori yang relevan untuk mendukung penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode etnografi virtual. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara offline-online, observasi, dan studi dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa tema yang terbentuk adalah tentang kesadaran mereka akan virus. Rantai yang terbentuk dalam percakapan dimulai dengan kasus COVID-19 di mana mereka mendapatkan sebagian besar informasi, perasaan mereka tentang hal itu, dan langkah-langkah untuk mencegah diri mereka sendiri dalam pengananan virus. Bagian terakhir dari diskusi adalah tema-tema yang mengungkap rantai fantasi yang memperdebatkan bagaimana virus dapat muncul di tempat pertama dan menyebar ke seluruh dunia. Budaya obrolan yang ditunjukkan dalam kelompok terdiri dari empat kategori, yaitu; penggunaan bahasa sehari-hari, penggunaan stiker yang difasilitasi oleh aplikasi, penggunaan screen shoot gambar dari situs web lain, dan penggunaan bahasa campuran antara Indonesia dan Inggris.
Understanding Multiculturalism in a Family on Whatsapp Group in the Disruption Era Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
Jurnal The Messenger Vol 11, No 2 (2019): July-December
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/themessenger.v11i2.1267

Abstract

The SW6 family spread in several locations creates multiculturalism on WhatsApp social media groups. This study tries to describe the meaning of multiculturalism family on the WhatsApp group for the family members. This study is qualitative type using virtual ethnographic approach to describe the reality. The results of the study reveal that the experience of communication experienced is referred to as an archipelago insight experience. Cultural intelligence is assessed from the personal activeness of family members and information shared. When talking about something outside of its cultural values, there are some of the family members who choose to be silent, there are some who choose to ask questions to understand, but there are some who directly express their feelings. Communication culture can also be seen from the personal activeness of each members, there is a silent reader, some respond when needed, some are positioned as followers and some are dominant.
MAKNA GAMBAR 3 BIRI-BIRI DAN KOTAK PADA FILM ‘THE LITTLE PRINCE’ Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): ProTVF
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.248 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13335

Abstract

Film mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, muatan pesan tersebut dibangun dengan banyak tanda Maka dengan anggapan tersebut film dapat memberi pengaruh yang banyak terhadap kehidupan masyarakat melalui tanda-tanda.Film ‘The Little Prince’ adalah film animas yang mengugah pemikiran orang dewasa yang menontonnya. Menggambarkan bagaimana kehidupan yang sedang terjadi masa kini, dimana banyaknya manusia yang hanya fokus pada masa depan, sehingga bersaing untuk mendapatkan prestasi nilai yang tinggi dan pekerjaan yang bagus, dan melupakan cara menikmati hidup pada masa sekarang, hal-hal yang esensial dalam hidup. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Biri-biri dan Kotak dari film tersebut yang berkaitan dengan hal yang esensial dalam hidup yang bermakna. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film ‘The Little Prince’ dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna yang tersirat dalam tiga Biri-biri dan Kotak menggambarkan bahwa apa yang tampak tidak dapat dipahami tanpa melihat makna konotasi dan mitos didalamnya, kotak yang berlubang, tidak hanya sekedar kotak berlubang namun adanya sebuah imajinasi sang pangeran yaitu seekor biri-biri yang hidup di dalamnya dengan rupa biri-biri sesuai dengan keinginannya.Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang terpenting biasanya tidak terlihat kasat mata.Kata-kata Kunci: Makna, Simbol, Biri-biri, Semiotika, Film
Penyuluhan Kompetensi Komunikasi Non Verbal Bagi Masyarakat di Desa Mekarmukti, Bandung Barat Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.373 KB) | DOI: 10.30653/002.201721.18

Abstract

Non-verbal communication is the delivery of messages without words and gives meaning to verbal communication, where non-verbal communication is older than verbal communication because since we were born we have done it until the age of about 18 months, such as touch, smile, crying eyes, and so on. Without us knowing we have practiced it, it is no wonder, if we doubt someone, we are more confident in the nonverbal message (probably from his movements). This shows how important we are to learn the knowledge of non-verbal communication. This is what underlies the author performs Community Service (PKM) with the title "Communication Non-Verbal Communication Competence for People in the village of Mekarmukti, West Bandung". This extension activity was conducted to the community in the village of Mekarmukti, district. West Bandung. Community Service Activities has the purpose to produce the following outcomes: 1) Providing concrete knowledge and insight about non-verbal communication and its current development to the community in Mekarmukti Village, West Bandung Regency; 2) Providing comprehensive knowledge and insight on non-verbal communication concepts, as well as good communication tips. Method of PKM implementation conducted in this extension activity is ice breaking method; lecture method; and feedback collection methods.
Pelatihan Post-Produksi (Audio-Visual Editing) Film Indie di Armidale English College Soreang, Bandung Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.442 KB) | DOI: 10.30653/002.201941.88

Abstract

INDIE FILM EDITING TRAINING AT ARMIDALE ENGLISH COLLEGE OF SOREANG, BANDUNG REGENCY. A film can be seen as a medium of mass communication because in a film there are elements of entertainment, education, and information. In fact, a film can be an advocacy media that encourages a social change. In the film production management, there are major label and indie label concepts, where the indie label focuses on film content and filmmakers' freedom of expression. The stages that must be passed by a filmmaker in producing a film starts from the stages of development, pre-production, production, post-production, and distribution. The post-production stage is the most important stage that determines whether a film is classified as a quality film or not because it involves the final touch of a film. Therefore, the author decided to make a community service program in the form of post-production indie film training (audio-visual editing) at Armidale English College, Soreang District, Bandung Regency. The purpose of this training is to provide practical understanding and skills in the field of audio-visual editing to the trainees. The various implementation methods used in this training included media communication methods (audio-visual), lecture methods, interactive methods, pre-test and post-test methods, and simulation methods. The results achieved after the training was carried out were that the trainees experienced increased understanding and skills in the context of indie film post-production, especially in the process of audio-visual films editing. Keywords: Audio-Visual, Editing, Indie Film, Post-Production, Training.
KONSTRUKSI MAKNA HIJRAH BAGI ANGGOTA KOMUNITAS LET’S HIJRAH DALAM MEDIA SOSIAL LINE Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Vol 14, No.1, Mei 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.877 KB) | DOI: 10.31332/ai.v14i1.1253

Abstract

Hijrah has different meanings for members of Let's Hijrah community. This Islamic community calls its community as Let's Hijrah according to its hopes and goals in life to lead them to a better life change. In this study, the writer  investigatd the construction of the meaning of Hijrah itself for members of Let's Hijrah community in social media LINE. This community provides all kinds of information and monitors all its activities through LINE's social media group account. Thus, the process of communication that exists was more dominant in the LINE social media accounts. The author used a qualitative approach to explaining this research. The results of this research had shown that the construction of the meaning of hijrah for the members of Ler's Hijrah community in LINE social media consists of: (1) Hijrah is agreed as the purpose of life to make a change to a better thing according to the teachings of Islam; (2) Hijrah must be demonstrated in both verbal and non-verbal contexts by every member of Let's Hijrah community; (3) Hijrah is also interpreted as the formation of each member's identity in the community of Let's Hijrah.