Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Perbandingan Diagnosis Systemic Lupus Erythematosus Menggunakan Kriteria American College of Rheumatologi dan Systemic Lupus International Collaborating Clinics Titi Pambudi Karuniawaty; Sumadiono Sumadiono; Cahya Dewi Satria
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.299-303

Abstract

Latar belakang. Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang melibatkan multi organ dengan spektrum klinis dan imunologis yang luas. Kriteria diagnostik SLE pertama kali diperkenalkan oleh American College of Rheumatology (ACR) pada 1971 dan telah mengalami revisi pada 1982 dan 1997. Tujuan. Membandingkan kriteria ACR dan kriteria SLICC dan menilai agreement antara kriteria SLICC dan ACR untuk menegakkan diagnosis SLE.Metode. Penelitian studi cross-sectional terhadap pasien SLE yang dirawat di bagian Anak RS Sardjito Yogyakarta antara Januari 2009-Juni 2015. Metode total sampling digunakan pada penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis, untuk menilai masing-masing kriteria pada saat anak terdiagnosis SLE, kemudian dilakukan penilaian agreement di antara kedua kriteria tersebut.Hasil. Didapatkan 64 anak didiagnosis SLE dan 46 (71,9%) memenuhi kriteria ACR. Sebanyak 39 (60,9%) memenuhi kriteria SLICC. Penelitian ini mendapatkan overall agreement yang baik (ρ0=0,70) di antara kedua kriteria tersebut, dengan chance-corrected agreement κ=0,33, atau dinyatakan cukup.Kesimpulan. Kriteria SLICC memiliki agreement yang cukup baik dengan kriteria ACR. Kriteria SLICC dapat dipertimbangkan sebagai alternatif metode untuk menegakkan diagnosis SLE pada anak. Perlu penelitian lanjutan untuk menilai kemungkinan penerapan kriteria ini untuk menggantikan kriteria ACR yang telah dipakai secara luas sebelumnya.
AFTERSHOCK GAME: Bermain dan Belajar Mitigasi Gempa Bumi dengan Cara yang Menyenangkan Titi Pambudi Karuniawaty; Adnanto Wiweko; Ajeng Hardanti; Intan Karmila; Nurul Imaniaty As-Syarifiah
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Gema Ngabdi
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v2i1.81

Abstract

Indonesia's position in the ring of fire and the great earthquake experience on Lombok Island a while ago led to the education and mitigation of earthquakes is very important.  These two things should be introduced early on and carried out continuously. The mitigation of earthquakes in school-age children will be more effective through a fun game as learning activity as well as educational tools. Aftershock Game is a non-digital card game specially designed to teach players to take attitudes quickly and precisely in the event of an earthquake. Playing activities while learning by using Aftershock Game has been conducted at MI Tazhib Kekait, one of the earthquakes affected locations. 90 elementary school children on 3rd-5th grade played this game as disaster mitigation education. This game was conducted in 15 small groups of 4-6 people. Activities are accompanied by a facilitator for 15-20 minutes per group, then at the end of each game students are required to give feedback on the Aftershock game. The performance of the game's aspect assessment shows that Aftershock Game is easy to play, fun and has high replay ability with a mean score of 8.89 out of a maximum score of 10. The game's design aspect also shows good value (mean score 8.32). Repairs are required on illustration and packaging boxes to be more durable when used. Educational materials on the earthquake and the mitigations are well delivered, with comprehensive content (mean score 8.82). Aftershock Game is an earthquake education game that is easy to play, interesting and comprehensive. This game is suitable for school aged children and can be developed as a community educational tools regarding the mitigation of earthquakes
PELATIHAN STRUKTUR KOMUNIKASI SBAR BAGI TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS MATARAM Dian Puspita Sari; Yoga Pamungkas Susani; Titi Pambudi Karuniawati; Mohammad Rizki
Jurnal Abdi Insani Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v6i2.224

Abstract

Komunikasi antar tenaga kesehatan terkait informasi perawatan pasien menjadi sangat penting untuk menjamin keberlanjutan perawatan dan keselamatan pasien. Masalah komunikasi yang berujung pada tuntutan malpraktik sering ditemukan pada proses handoff, yaitu ketika tanggung jawab perawatan pasien dialihkan ke tenaga kesehatan lain. SBAR (Situation, Background, Assessment, dan Recommendations) merupakan suatu pendekatan komunikasi kolaboratif yang direkomendasikan oleh WHO untuk membantu para klinisi agar memiliki pemahaman yang sama mengenai kondisi klinis pasiennya sehingga dapat mengatasi berbagai hambatan dalam berkomunikasi. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas di Rumah Sakit Universitas Mataram mengenai penerapan metode komunikasi SBAR dalam proses handoff pasien. Pelatihan ini diikuti oleh 46 orang perawat, bidan, dokter dan tenaga kesehatan lain yang bertugas di RS Universitas Mataram. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan dengan metode ceramah, dibantu dengan media video sebagai pemicu diskusi dan tanya jawab mengenai proses handoff serta simulasi penerapan SBAR dalam bentuk role-play menggunakan kasus-kasus yang disiapkan. Peserta melakukan evaluasi diri setelah mengikuti role-play dan mendiskusikan umpan balik dari fasilitator dan peserta lainnya. Berdasarkan hasil pre dan postes, didapatkan peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai proses handoff dan struktur SBAR dari 4.69 menjadi 7.27. Berdasarkan hasil evaluasi diri sebelum dan sesudah pelatihan didapatkan peningkatan pemahaman mengenai situasi yang membutuhkan komunikasi handoff, struktur SBAR, cara melakukan handoff dan kemampuan menerapkan SBAR. Peserta menilai pelatihan SBAR relevan dan bermanfaat bagi tugas pekerjaan mereka dan sesi role-play sangat bermanfaat untuk melatih keterampilan mereka menggunakan struktur SBAR.
MEMPERKENALKAN PERMAINAN JUMANTIK SEBAGAI MEDIA EDUKASI UNTUK MELATIH MASYARAKAT MEMANTAU JENTIK NYAMUK Dian Puspita Sari; Dewi Suryani; Titi Pambudi Karuniawati; Yoga Pamungkas Susani
Jurnal Abdi Insani Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v6i1.201

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu tantangan kesehatan di Indonesia, khususnya di Kota Mataram. Perilaku manusia dapat mempengaruhi ekologi vektor dan siklus transmisi penyakit, karena itu upaya pengendalian vektor DBD harus melibatkan peran serta masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Pelibatan masyarakat sejak usia belia dapat membentuk perilaku pencegahan yang diharapkan serta mendorong perubahan perilaku pada orang dewasa. Board game merupakan salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan pada anak maupun dewasa. Selain menyenangkan, penyampaian pesan edukatif melalui permainan dapat meningkatkan luaran kognitif dan perilaku yang diharapkan dari permainan tersebut. Media board game pemantauan jentik dapat pula digunakan untuk mendukung program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada anak sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk melalui media permainan yang diberi judul JUMANTIK. Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sebanyak 20 orang memainkan permainan JUMANTIK dan sembilan di antaranya adalah anak-anak.Hasil dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan terkait Demam Berdarah Dengue setelah memainkan permainan Jumantik, terutama pada aspek pencegahan breeding site nyamuk. Pada anak-anak, permainan ini meningkatkan kesediaan mereka untuk ikut memantau jentik nyamuk di rumah dan di sekolah. Sementara pada peserta dewasa permainan ini mampu meningkatkan kesetujuan akan peran anak-anak dalam pemberantasan sarang nyamuk di sekolah. Permainan ini dinilai menarik dan bermanfaat oleh anak-anak maupun dewasa. Kesimpulan yang dapat diambil adalah permainan Jumantik dapat menjadi salah satu media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap anak-anak maupun dewasa terkait pencegahan DBD di rumah dan sekolah.
Penyuluhan Cara Cuci Tangan Bagi Pengunjung Rumah Sakit Universitas Mataram Isna Kusuma Nintyastuti; Titi Pambudi Karuniawaty; Mohammad Rizki; Yunita Hapsari
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL GEMA NGABDI
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v3i2.145

Abstract

Washing hands with soap for 20 seconds is an effective prevention effort against various infectious diseases. In the COVID-19 pandemic, mastery of good and correct hand washing by the wider community plays a major role in efforts to prevent disease transmission. Mataram University Hospital which is a hospital that serves as a vehicle for education is the right place to apply knowledge and disseminate knowledge to the wider community, especially hospital visitors about how to wash hands in order to prevent the spread of COVID-19. Therefore, we do community service in the form of counseling on how to wash hands for visitors to the Mataram University Hospital. This service aims to increase the knowledge of visitors to the Mataram University Hospital on how to wash their hands. Counseling is carried out in the visitor's waiting room, both at registration, pharmacy and outpatient. Young doctors who are conducting education are also involved in this activity. Counseling is carried out by inviting the demonstrators to directly practice hand washing steps according to World Health Organization (WHO) standards. During the period from August to October, there were 7 counseling sessions and hand washing practices for visitors to the Mataram University Hospital. The media used in the counseling were banners with pictures of hand washing steps and hand sanitizers for direct practice by visitors. The involvement of young doctors and good coordination with the education and health promotion sectors of the hospital support this activity. 
PENYEDIAAN FASILITAS SANITASI DAN AIR BERSIH BAGI PENGUNGSI KORBAN BENCANA GEMPA DI DUSUN LENDANG RE, KABUPATEN LOMBOK BARAT Dian Puspita Sari; Dewi Suryani; Titi Pambudi Karuniawati; Wahyu Sulistya Affarah; Isna Kusuma Nintyastuti; Deasy Irawati
Jurnal Abdi Insani Vol 7 No 1 (2020): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v7i1.291

Abstract

Gempa besar yang melanda pulau Lombok pada akhir Juli sampai Agustus 2018 telah menyebabkan korban jiwa, korban luka dan kerusakan berbagai sarana dan prasarana serta tempat tinggal. Setelah terjadinya bencana alam apapun jenisnya, kejadian penyakit infeksi umumnya akan meningkat. Hal ini terjadi akibat kerentanan sistem kesehatan di suatu wilayah dan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi, tempat perlindungan dan pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah penduduk terdampak yang mengungsi ke pusat-pusat evakuasi juga akan meningkatkan kejadian penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kepadatan, air bersih, sanitasi dan higiene. Lebih dari itu, masalah ketersediaan air bersih dan sanitasi dapat berdampak pada meningkatnya kejadian stunting yang memiliki dampak kesehatan jangka panjang. Dusun Lendang Re merupakan salah satu wilayah yang terdampak bencana. Lebih dari 90% rumah hancur dan rusak berat dan sekitar 750 orang warga terpaksa mengungsi. Jumlah toilet darurat yang tersedia belum memenuhi kebutuhan pengungsi dan standar minimal. Hal ini rentan menyebabkan pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit terutama penyakit infeksi. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan akses warga pengungsi di Dusun Lendang Re terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi. Setelah melakukan survey pendahuluan, mengurus perijinan dan membangun komitmen dengan warga, tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat membangun dua set fasilitas sanitasi dan penampungan air bersih. Setiap set terdiri dari tiga bilik toilet/kamar mandi dengan jamban jongkok serta satu pelataran cuci dengan keran air. Sumber air bersih berasal dari sumur terdekat yang disalurkan melalui sistem pipa dengan pompa air listrik dan ditampung dalam tandon penampung air di atas menara baja. Komunikasi dan koordinasi yang baik dengan warga dan tokoh masyarakat, pemilihan lokasi dan perijinan penggunaan lahan serta serta kelayakan spesifikasi dan kelengkapan fasilitas yang dibangun mendukung keberlangsungan penggunaan fasilitas ini di lokasi bencana.
PROFILE OF NUTRITIONAL AND DEVELOPMENTAL STATUS OF UNDER FIVE YEARS OLD CHILDREN IN TANJUNG KARANG DISTRICT, MATARAM, INDONESIA Zulfikar Ihyauddin; Jeslyn Tengkawan; Ayu Anandhika Septisari; Nurhandini Eka Dewi; Titi Pambudi Karuniawaty
Media Gizi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2020): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v15i3.225-232

Abstract

To improve the human capacity in West Nusa Tenggara (WNT) province, a community-based intervention called Generasi Emas NTB (GEN) has been implemented in 2014. One of the programs is to ensure children’s nutritional and developmental wellbeing. However, there remains limited information regarding the situation of nutritional and developmental status of the children living in the GEN villages. This study aimed to assess the nutritional and developmental situation of under-fi ve years old children living in Tanjung Karang district, WNT. A cross-sectional study was conducted in Tanjung Karang district, one of the GEN villages in WNT, through integrated post service (posyandu). Children who met the sampling criteria were screened for their nutritional status using anthropometric measurement and developmental status using a prescreening developmental questionnaire (KPSP). A total of 638 children completed the demographic baseline assessment and were enrolled as participants. Most of the children were in the age group 7-12 months (19.1%) and 25-36 months (19.4%). The proportion of children who were underweight, stunting, and wasting were 19.4%, 32.2%, and 8.0%, respectively. The fi ndings for developmental screening showed that 12.2% children had dubious development and 3.1% (20/638) children were suspect of having a developmental delay. The proportion of under-fi ve years old children in Tanjung Karang district who were underweight, stunting, and wasting were still high but lower than the provincial average prevalence in 2017. Children who were found to have a doubtful result and suspect to have a developmental delay need to be evaluated further.
Sosialisasi Vaksinasi COVID-19 Populasi Khusus Bagi Civitas Akademia dan Hospitalia Universitas Mataram dalam Rangka Dies Natalis Universitas Mataram Ke-59 Tahun 2021 Eustachius Hagni Wardoyo; Didit Yudhanto; Linda Silvana Sari; Titi Pambudi Karuniawaty; Triana Dyah Cahyawati
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL GEMA NGABDI
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v4i1.156

Abstract

The national COVID-19 vaccination kick-off will begin on January 13, 2021, starting with the vaccine given to President Joko Widodo. The COVID-19 vaccination program has been running for 11 months and is still causing pros and cons in the community regarding its acceptance. The pros and cons, mainly targeting the special population, namely pregnant women, breastfeeding mothers and children still trigger doubts. The socialization of COVID-19 vaccination in this special population needs to be given to the community, starting from the educators represented by the academia and hospitalia members of the University of Mataram. This socialization was attended by 132 participants through a zoom meeting. Discussions related to the pathophysiology of COVID-19, how the COVID-19 vaccination protection is formed and how long, and also the prevention of COVID-19 have been well answered by the resource persons. One of the ways to respond to offline learning that has been answered is to speed up the vaccination program for school-age children, which starts at the age of junior-high school (12-17 years) and immediately follows the elementary age (6-11 years)
HUBUNGAN ANEMIA DENGAN KELAINAN LAMANYA PERDARAHAN MENSTRUASI PADA SISWI SMAN 2 MATARAM DI KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM Halia Wanadiatri; A. Rusdhy H. Hamid; Titi Pambudi K
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelompok remaja sebagai bagian terbesar penduduk Indonesia adalah kelompok yang paling strategis dimana posisinya pada siklus hidup sangat penting, namun kurang mendapat perhatian. Prevalensi anemia pada remaja cukup tinggi dan beragam sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan remaja secara umum. Khususnya remaja putri, selain anemia juga sering kali mengalami gangguan dalam masa reproduksinya. Beberapa gadis akan mencari penjelasan medis bila tiba-tiba mendapat siklus yang bervariasi meski sebenarnya masih dalam batas normal, sementara yang lainnya justru tidak waspada terhadap pola haidnya yang abormal yang bahkan sangat signifikan berhubungan dengan masalah kesehatan dan berbagai konsekuensi jangka panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian anemia dengan kelainan lamanya perdarahan menstruasi pada siswi SMAN 2 Mataram di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Penelitian ini adalah penelitian noneksperimental analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Subyek penelitian adalah siswi SMAN 2 Mataram tahun ajaran 2008-2009 yang telah mengalami menstruasi. Sampel penelitian sebanyak 71 orang, diperoleh dengan cara Proportional Cluster Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner dan pengukuran kadar Hb dengan Cyanmethemoglobin. Angka kejadia anemia pada siswi SMAN 2 Mataram sebesar 33,8%. Dengan 16,9% memiliki lebih dari empat gejala anemia. Angka kejadian kelainan lamanya perdarahan menstruasi dengan kategori hipomenorea adalah 31% dan kategori hipermenorea adalah 22,5%. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara anemia dengan kelainan lamanya perdarahan mestruasi dengan p=0,032 (p>0,05, tingkat kepercayaan 95%). Angka kejadian anemia pada siswi SMAN 2 Mataram di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram lebih tinggi dibandingkan angka kejadian anemia remaja putri di Indonesia pada umumnya, dan angka kejadian kelainan lamanya perdarahan mentruasi pada siswi SMAN 2 Mataram di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram baik kategori hipomenorea maupun hipermenorea cukup tinggi dibandingkan di tempat lain. Pada penelitian ini terdapat hubungan antara anemia dengan kelainan lamanya perdarahan menstruasi pada siswi SMAN 2 Mataram di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram
CORRELATION BETWEEN MATERNAL FACTOR AND STUNTING AMONG CHILDREN OF 6-12 MONTHS OLD IN CENTRAL LOMBOK Ratu M. Qurani; Titi Pambudi Karuniawaty; Ristania Ellya John; Ni Komang Ayu Swanitri Wangiyana; Qisthinadia Hazhiyah Setiadi; Jeslyn Tengkawan; Ayu Anandhika Septisari; Zulfikar Ihyauddin
Journal of Public Health Research and Community Health Development Vol. 5 No. 2 (2022): March
Publisher : Sekolah Ilmu Kesehatan Dan Ilmu Alam (SIKIA), Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jphrecode.v5i2.23525

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting is a child growth and development disorder that has been one of the nutritional problem in children living in developing countries until now. Maternal factor might be one of the risk factors of stunting. Method: This was an analytical observational study with cross sectional design that aimed to identify the correlation between the maternal factor and stunting, especially in children aged 6-12 months in 3 villages in Central Lombok. Result: There were 21,9% (33 of 151) of children suffering from stunting. Based on the maternal factor in stunting children, there were 6,1% of mothers who had low body mass index (BMI), 27,3% of mothers who had low arm circumference, 61% of mothers who had low weight gain during the pregnancy, and 39,4% of mothers who had height <150 cm. Maternal height was the only factor that significantly associated to the incidence of stunting (p = 0.044, OR = 2.3). Conclusion: Based on analysis of several maternal factors, there is a significant correlation between mother’s height and stunting (p<0,05 and OR=2,3).  ABSTRAKLatar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak, yang sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah gizi anak terutama di negara berkembang. Faktor maternal adalah salah satu faktor risiko stunting. Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor maternal dan stunting pada anak usia 6-12 bulan di 3 desa di Lombok Tengah. Hasil: Terdapat 21,9% (33 dari 151) anak yang mengalami stunting. Berdasarkan faktor maternal pada anak dengan stunting, sebanyak 6,1% memiliki ibu dengan indeks masa tubuh (IMT) rendah, 27,3% memiliki ibu dengan lingkar lengan atas rendah, 61% memiliki ibu dengan peningkatan berat badan yang rendah selama kehamilan, dan 39,4% memiliki ibu dengan tinggi badan <150 cm. Faktor tinggi badan ibu merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,044, OR=2,3). Kesimpulan: Berdasarkan analisis beberapa faktor maternal, terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu dan stunting (p<0,05 dan OR=2,3).