Pheni Cahya Kartika
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN BAHAN AJAR BERBASIS ANDROID NEMO BAHASA INDONESIA UNTUK MAHASISWA BIPA TINGKAT PEMULA PROGRAM DARMASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA Insani Wahyu Mubarok; Pheni Cahya Kartika
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 4, No 1 (2019): Metalingua, Edisi April 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.727 KB) | DOI: 10.21107/metalingua.v4i1.6124

Abstract

Media pembelajaran berbasis aplikasai android sebagai salah satu cara efektif, dikarenakan peserta didik memiliki peningkatan dan motivasi lebih dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Media pembelajaran  memanfaatkan android yang   menekankan pada beberapa aplikasi yang mudah dimiliki oleh semua peserta didik dan pengajar atau instruktur, sehingga dengan mudah dan tidak banyak mengeluarkan biaya. Gagne dan Briggs dalam Buku (Azhar, 2002) memberikan batasan mengenai lingkup median  meliputi alat alat bersifat fisik dengan tujuan menyampaikan materi pelajaran seperti buku, tape recorder/ perekam, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan computer. Nemo Bahasa Indonesia adalah aplikasi android yang dirancang sebagai media belajar dan pembelajaran bahasa indonesia dengan penguasaan sejumlah kata yang berguna. Dalam aplikasi android, Nemo seperti kamus saku sederhana sehingga membantu dalam meningkatkan materi untuk belajar dan pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini mendapatkan temuan bahwa ada pengaruh Efektifitas Penggunaan bahan ajar berbasis android Nemo Bahasa Indonesia untuk mahasiswa BIPA tingkat pemula program Darmasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya pada mata kuliah Ketrampialn menyimak. Dalam kegiatan belajar mengajar membuat hasil belajar  lebih baik daripada kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan android. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa efektifitas media pembelajaran terhadap hasil belajar ternyata lebih efektif daripada kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan media pembelajaran pada mata kuliah ketrampilan menyimak, Nilai rata-rata yang lebih baik ini berarti keberhasilan di dalam kegiatan belajar mengajar.
Meningkatkan Jiwa Sosial Anak Melalui Karya Sastra Berupa Dongeng (Kajian Sastra Anak) Pheni Cahya Kartika
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v8i2.93

Abstract

Kehadiran sastra anak memiliki konstribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan sebagai manusia yang mempunyai jati diri yang jelas. Dengan demikian, berarti konstribusi sastra bagi pembaca dan pendengar yang masih anak-anak dapat membentuk pertumbuhan berbagai pengalaman, sedangkan nilai sosial yang muncul semenjak anak usia 2 tahun juga dianggap penting bagi tahap perkembangannya selain intelektual dan emosisonal. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial anak usia dini. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerja sama. Penelitian ini termasuk dalam bidang kajian sastra, pada konsentrasi kajian sosial. Penelitian ini termasuk kepada jenis content analisys atau analisis isi, yakni penekanan pada sastra anak khususnya dongeng, serta nilai sosial pada anak. Melalui dongeng selain metode sederhana yang disukai anak anak, melestarikan kegiatan ini akan menambah khasanah tersendiri dalam menjaga keberadaan sastra anak kedepannya.
KONFLIK PSIKIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LUTTE KARYA GITLICIOUS KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Pheni Cahya Kartika; Yuli Maulidiyah; Muhammad Ridlwan
Pena Literasi Vol 5, No 1 (2022): Pena Literasi
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/pl.5.1.45-55

Abstract

Tujuan Penelitian ini  untuk mendeskripsikan: (1) bentuk konflik psikologis yang dialami tokoh utama, (2) usaha tokoh utama dalam menyelesaian konflik psikologis yang dialaminya  dalam novel Lutte karya Gitlicious. Teori yang digunakan adalah teori psikoanalisis sigmund freud. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif  kualitatif. Dalam penelitian ini yaitu berupa kata, frasa dan kalimat. Sumber data yang digunakan yaitu novel yang berjudul Lutte karya Gitlicious. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu (1) teknik (2) pustaka baca, dan (3) teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bentuk konflik psikologis yang dialami oleh tokoh utama dalam novel  Lutte karya Gitlicious yaitu berupa kecemasan, kebimbangan, pertentangan, dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan. (2) usaha penyelesaian konflik psikologis oleh tokoh utama dalam novel Lutte karya Gitlicious yaitu dengan cara sublimasi, proyeksi, represi, rasionaisasi
Ragam Bahasa pada Acara Ini Talk Show di NET TV pada Januari 2015 Dianty Nur Fitri; Pheni Cahya Kartika
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v9i1.2531

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah ragam bahasa dan bahasa plesetanyang digunakan pada acara Ini Talkshow di NET TV pada Januari 2015. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan ragam bahasa dan bahasa plesetan pada acara IniTalkshow di NET TV pada Januari 2015. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah acara Ini Talkshow di NET TVyang teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik simak bebas libat cakap danteknik rekam. Teknik analisis data yang digunakan adalah pereduksian data,penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwapenggunaan ragam bahasa pada acara Ini Talkshow terdapat 72 tuturan ragam bahasabaku, 39 ragam bahasa tidak baku, 2 ragam bidang jurnalistik, 2 ragam bahasa bidangtransportasi, 8 ragam bahasa bidang kesehatan, 6 ragam bahasa bidang psikologi, 4ragam bahasa bidang kewirausahaan, 6 ragam bahasa bidang olahraga dan 64 ragamdaerah. Ragam bahasa yang paling banyak digunakan adalah ragam bahasa baku.Pada penggunaan ragam bahasa tersebut, ditemukan jenis bahasa plesetan, yaitu 43plesetan fonologis, 23 plesetan grafis, 31 plesetan morfemis, 5 plesetan frasa, 14plesetan ekspresi, 13 plesetan ideologis, dan 2 plesetan diskursi. Pada penggunaanragam bahasa tersebut, bahasa plesetan yang paling banyak ditemukan adalah jenisbahasa plesetan fonologis.
Pluralisme Agama dalam Kakawin Sutasoma Hasan Irsyad; M. Ridlwan; Pheni Cahya Kartika
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v9i2.1179

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pluralisme agama dalam Kakawin Sutasoma serta Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks asli Kakawin Sutasoma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan konsep pluralisme agama yang diajarkan Kakawin Sutasoma dan Bhinneka Tunggal Ika sesuai dengan konteks asli Kakawin Sutasoma. Untuk menemukan pluralisme agama dalam Kakawin Sutasoma, digunakan tiga prinsip pluralisme agama Coward. Penelitian ini berbentuk penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, sedangkan analisis data dilakukan secara diskriptif. Dokumen yang digunakan adalah Kakawin Sutasoma terjemahan Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2009.  Penelitian berhasil mengidentifikasi adanya pluralisme agama SiwaBuddha dalam Kakawin Sutasoma yang bercirikan toleransi dan saling menghormati antaragama, Tuhan dianggap sebagai hakikat tunggal yang berwujud jamak, agamaagama dianggap setara dan semuanya baik sebagai jalan menuju kebenaran, serta pengabsahan Buddha sebagai perwujudan Siwa lebih ditekankan daripada sebaliknya. Penelitian juga mendapati bahwa Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma adalah ungkapan yang mengajarkan pluralisme agama. Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma berbeda dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Sebagai semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika cakupannya diperluas dan tidak mengajarkan pluralisme agama.
Efektivitas Media Wayang Kertas Terhadap Kemampuan Mendongeng Mata Kuliah Keterampilan Berbicara Mahasiswa Program Dharmasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Tisan Fitrotun Nufus; M. Ridlwan; Pheni Cahya Kartika
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v12i1.2445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan mendongeng dengan menggunakan media wayang kertas. Dengan dua rumusan masalah sebagai berikut yaitu bagaimana efektivitas dan peningkatan media wayang kertas terhadap kemampuan mendongeng mahasiswa dharmasiswa. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kuantitatif. Karena penelitian ini bertujuan untuk memaparkan hasil data dengan menggunakan angka-angka sebagai representasi dari efektivitas media wayang dan Sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa dharmasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Tahun Ajaran 2017/2018 di kelas BIPA. Teknik pengumpulan data dengan cara tes berbicara mendongeng dengan menggunakan media wayang secara berkelompok dengan penilaian secara individu, setelah memperoleh data, data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Simpulan hasil penelitian menunjukan efektivitas media memperoleh nilai rata-rata sebesar 67,46 dengan kategori nilai BC (Cukup Baik). Tes kedua nilai rata-rata yang diperoleh mahasiwa darmasiswa sebesar 70,6 dengan kategori nilai B (Baik). Sedangkan, pada peningkatan penggunaan media pemerolehan nilai yang dihasilkan selalu melebihi angka yang telah ditentukan. Nilai pada pertemuan pertama mencapai 84,33 dibulatkan menjadi 85 persen. Sedangkan pertemuan kedua mencapai 88,25 dibulatkan menjadi 89 persen. artinya nilai yang diperoleh dari tes kedua diketahui lebih meningkat meskipun tes pertama nilai yang dihasilkan sudah lebih dari target.