Apri Arisandi
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

EFEKTIVITAS ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE MENGGUNAKAN SUMBER CAHAYA BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAP IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) Ifa Nur Rosyidah; Akhmad Farid; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.902

Abstract

In fish catching activity, the fishermen in Banyuanyar district use mini tools for catching fish (purse seine) and use light assist tools for an operation in the night day. The light, that is used, is kerosene pressure lantern and mercury lights or lamp that is used on water surface (surface lamp). This kind of light is used to collect “pelagic” fish that has positive phototaxis characteristic. Puffer fish’s response towards different sourse of light, that’s kerosene pressure lantern and mercury light is needed to be known. Therefore, we can know the source of light that is more effective in order to collect the fish. It is hoped that the productivity of puffer fish will be developed for the fishermen. During the research with ten times repeating, the total account of puffer fish’s haul that is resulted with two different treatment  by using kerosene pressure lantern and mercury light is that 810 kg and 1.460 kg. The data of puffer fish’s haul that is gotten after using Mann-Whitney test shows that the kerosene pressure lantern and mercury light not to really different, especially in the haul of puffer fish in significant standart (0,05) is 2,262, while in Mann-Whitney test account is 0,171. That means the fishermans in Banyuanyar can use kerosene pressure lantern and mercury light for catching fish as the light assist tools for an operation in the night day. Keywords     :   Purse Seine, Mercury Light and Kerosene Pressure Lantern, Puffer Fish (Rastrellinger sp.).
DAYA HAMBAT EKSTRAK METANOL RUMPUT LAUT (Euchema spinosum) TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila Y Yunus; Apri Arisandi; Indah Wahyuni Abida
Jurnal Kelautan Vol 2, No 2: Oktober (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i2.854

Abstract

Rumput laut secara tradisional telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan, kosmetik dan obat-obatan, karena kaya akan mineral, elemen makro dan elemen  mikro lainnya, disamping itu rumput laut juga berfungsi sebagai bahan antimikroba seperti penyakit bakteri Aeromonas hydrophila yang sering menginfeksi ikan pada budidaya air tawar sehingga banyak merugikan petani. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penelitian tentang konsentrasi ekstrak metanol rumput laut yang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi ekstrak metanol rumput laut Eucheuma spinosum yang tepat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophyla. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, Pertama menggunakan Uji MIC  konsentrasi sebagai berikut : 25%; 12,5%; 6,25%; 3,125%; 1,56%; 0,78%; 0,39%; 0,195%; 0,098%; 0,049%; 0,025%; dan 0,0125%. Kedua menggunakan Uji Cakram konsentrasi 3%, 6%, 9%, 12%, dan 0%  sebagai kontrol. Hasil uji MIC setelah dibandingkan dengan kontrol positif sangat rendah yaitu sebesar 0,049%, hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi tersebut menghambat pertumbuhan bakteri Aeromnas hydrophila. Pada hasil uji cakram kemampuan ekstrak rumput laut pada konsentrasi 3%, 6% dan 9% dalam menghambat bakteri Aeromons hydrophila bersifat bakteriostatik, sedangkan pada konsentrasi 12% bersifat bakteriosidal.  Kata Kunci : Eucheuma spinosum, Polifenol, Aeromonas hydrophila
EFEKTIVITAS HORMON 17 α-METILTESTOSTERON UNTUK MEMANIPULASI KELAMIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PEMELIHARAAN SALINITAS YANG BERBEDA Wayan Jajhang Bustaman; Apri Arisandi; Indah Wahyuni Abida
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.903

Abstract

Secara alami produksi benih ikan nila sebagian besar merupakan individu betina, dengan perbandingan 1 jantan : 3 – 6 betina. Hal tersebut dapat menyebabkan biomass yang dihasilkan lebih kecil, sehingga produksi budidaya tidak maksimal, maka budidaya monoseks jantan merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan produksi dengan menggunakan hormon 17 α-Metiltestosteron. Desain Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan melalui dua tahap. Tahap yang pertama dilakukan dengan metode perendaman selama 6 jam, tahap yang kedua pada perlakuan A setelah perendaman secara terkontrol selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 0 0/00, perlakuan B setelah perendaman dengan hormon MT 5 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 5 0/00, perlakuan C setelah perendaman dengan hormon MT 10 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 10 0/00. Data yang diambil dengan mengukur jumlah persentase jantan, ADG, SR, Efek pemberian hormon dan kualitas air. Sehingga dapat diketahui persentase kelamin jantan ikan nila pada perlakuan A (62 %), perlakuan B (78 %), perlakuan C (85 %). Persentase ADG pada perlakuan A (66,1 %), perlakuan B (50,2 %), perlakuan C (47,1 %) dan pertumbuhan berat ikan nila pada perlakuan A lebih cepat dari perlakuan B dan C dan pertumbuhan panjang ikan nila pada perlakuan C lebih cepat dari perlakuan A dan B. Laju kelangsungan hidup ikan nila pada perlakuan A menghasilkan 92,5 %, perlakuan B menghasilkan 93 % dan perlakuan C menghasilkan 95 %. Efek negatif akibat pemberian hormon pada perlakuan B dan C dapat diketahui dengan kelainan pada tubuh ikan diantaranya kelainan rongga tanpa bola mata, kelainan tubuh terlipat, kelainan tubuh tidak berekor, kelainan ekor terlipat, sedangkan pada perlakuan A tidak terdapat adanya kelainan pada tubuh ikan.Kata Kunci : Hormon 17 α-Metiltestosteron, manipulasi kelamin dan salinitas
PENGARUH JARAK LOKASI PEMELIHARAAN TERHADAP MORFOLOGI SEL DAN MORFOLOGI RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI DESA LOBUK KECAMATAN BLUTO, KABUPATEN SUMENEP Ardiansyah Rozaki; Haryo Triajie; Eva Ari Wahyuni; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.783

Abstract

Lokasi pemeliharaan rumput laut pada jarak yang berbeda akan dipengaruhi oleh parameter oceanografi. Rumput laut memiliki syarat hidup pada kondisi yang baik dan mendukung pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi sel dan rumput laut terhadap jarak lokasi pemeliharaan berbeda pada rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii di desa Lobuk, kecamatan Bluto, kabupaten Sumenep. Pemeliharaan Kappaphycus alvarezii menggunakan  metode rakit apung  sebanyak 3 buah diletakkan pada jarak 300 m, 600 m, 900 m. Rancangan percobaan menggunakan RAK kemudian hasil dianalisis dengan sidik ragam untuk mengetahui perbedaan perlakuan. Hasil penelitian didapatkan rata – rata panjang thallus utama rumput laut 13,85 cm (300 m), 13,58 cm (600 m), 14,26 cm (900 m). Rata – rata diameter thallus utama rumput laut 10,19 mm (300 m), 9,97 mm (600 m), 10 mm (900 m). Kemudian untuk hasil ADG, diperoleh 2,43 % (300 m), 3,09 % (600 m), 3,46 % (900 m). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa  morfologi sel dan morfologi rumput laut tidak menunjukkan perbedaaan yang nyata dari setiap jarak lokasi pemeliharaan. Jarak lokasi pemeliharaan 300 m dari garis pantai masih layak digunakan untuk pembudidayaan rumput laut.Kata Kunci: jarak lokasi, morfologi , Kappaphycus alvarezii
KAJIAN UJI HAYATI AIR LIMBAH HASIL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DR. RAMELAN SURABAYA Candra Putra Prakoso; Agus Romadhon; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.899

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kualitas air limbah hasil pengolahan dan mengkaji respon ikan uji yang digunakan sebagai parameter pengolahan buangan air limbah dengan berbagai konsentrasi yang berbeda. Analisa kualitas air saat percobaan dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO). Metode analisa data dilakukan dengan metode deskriptif dan korelasi statistik. Dari hasil perhitungan statistik dapat disimpulkan bahwa Kualitas air hasil IPAL dari sifat fisika menunjukkan masih dalam taraf dapat ditoleransi, sedangkan untuk sifat kimia khususnya NH3- melebihi baku mutu yang ditetapkan (0,1 mg/L). Batas toleransi spesies uji terhadap konsentrasi air hasil IPAL yang diujikan menunjukkan bahwa konsentrasi 50%  merupakan batas tertinggi yang dapat ditolerir oleh spesies uji. Diatas konsentrasi 50% (75% sampai 100%), spesies uji sudah tidak mampu untuk mentolerir keberadaan unsur yang terkandung dalam air hasil IPAL, utamanya NH3. Kata Kunci : Air limbah, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Uji Hayati
DAMPAK FAKTOR EKOLOGIS TERHADAP SEBARAN PENYAKIT ICE-ICE Apri Arisandi; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 7, No 1: April (2014)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v7i1.793

Abstract

Faktor ekologis berperan terhadap sebaran infeksi penyakit ice-ice.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi of Kappaphycusalvarezii dan sebaran infeksi penyakit ice-ice.  Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apungdan diamati setiap 15 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi mulai terlihat sejak awal tanam dan dipengaruhi oleh faktor ekologis.Kata Kunci: ice-ice,sebaran, Kappaphycus alvareziiIMPACT OF ECOLOGICAL FACTORS ON DISTRIBUTION OF DISEASE ICE - ICEABSTRACTEcological factors contribute to the spread of infectious diseases ice-ice. This study aims to determine the morphological changes of Kappaphycus alvarezii and distribution of ice-ice disease infection. The study was conducted using the method of cultivation in a raft and observed every 15 days. The results showed that the infection started seen since early planting and influenced by ecological factors.Keywords: distribution, ice – ice, Kappaphycus alvarezii
PERTUMBUHAN Kappaphycus alvarezii YANG TERKONTAMINASI EPIFIT DI PERAIRAN SUMENEP Apri Arisandi; Akhmad Farid; Sri Rokhmaniati
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.784

Abstract

Peningkatan suhu musim kemarau yang relatif tinggi memicu peningkatan kontaminasi penyakit dan epifit di perairan Sumenep, sehingga mempengaruhi rata-rata pertumbuhan harian Kappaphycus alvarezii.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kontaminasi epifit, terhadap pertumbuhan K. alvarezii di perairan Sumenep.  Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apung, thallus K. alvarezii yang terkontaminasi epifit diamati serta dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya.  Hasil penelitian menunjukkan,kontaminasi epifitmenyebabkanrata-rata pertumbuhan harian K. alvareziimenurunhingga-0,07% sampai 0,92%, oleh karena itu K. alvareziiyang telah terkontaminasiharus segera dipanen.Kata Kunci: epifit, pertumbuhan, K. alvarezii
INVENTARISASI TERUMBU KARANG DI PULAU MAMBURIT KEPULAUAN KANGEAN KABUPATEN SUMENEP Badrud Tamam; Apri Arisandi; Mat Saleh
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.976 KB) | DOI: 10.21107/jk.v6i2.785

Abstract

Inventarisasi terumbu karang adalah satu langkah untuk mengetahui tutupan karang suatu kawasan. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui keragaman spesies dan persentase tutupan karang hidup, serta keragaman spesies ikan karang di pulau Mamburit sebagai data awal untuk menjadikan Sumenep daerah tujuan wisata bahari. Pertumbuhan terumbu karang di pulau mamburit terdapat 11 Genus karang dengan tipe terumbu karang tepi (fringing reef) dari arah pantai menuju tubir membentuk paparan (reef flat).Kata Kunci: inventarisasi, terumbu karang
Pengembangan Wisata Edukasi dan Konservasi Bawah Laut – Usaha Travel Wisata Snorkeling dan Diving Antar Pulau Apri Arisandi; Badrut Tamam
Jurnal Ilmiah Pangabdhi Vol 4, No 1: April 2018
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.303 KB) | DOI: 10.21107/pangabdhi.v4i1.4576

Abstract

Keindahan terumbu karang di Kepulauan Sumenep oleh para penyelam dijuluki sebagai Surga Tersembunyi di Timur Madura.  Wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Sumenep selama ini adalah komunitas-komunitas pecinta lingkungan, wisatawan backpacker dan wisatawan lokal Madura.  Peminat wisata bahari yang terus meningkat disertai permintaan fasilitas pendukung (peralatan selam, kapal, penginapan dan guide selam yang terlatih) menuntut pengelola wisata untuk lebih profesional dalam mengembangkan usahanya. Hasil pelaksanaan kegiatan IbIKK saat ini, terbukti telah berhasil mempromosikan keindahan pulau-pulau dan destinasi wisata bawah air di Kepulauan Sumenep.  Semakin banyaknya kunjungan wisata dari dalam dan luar negeri yang dipandu oleh Travel Kangean Wisata, serta publikasi di media masa merupakan dampak dari telah dikenalnya keindahan alam Kepulauan Sumenep.  Promosi yang semakin gencar baik dari Tim IbIKK dan Pemda Sumenep, semakin meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Kepulauan Sumenep.  Melihat hal tersebut menambah optimisme Tim IbIKK bahwa usaha Travel Wisata Snorkeling dan Diving antar Pulau akan terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.       
Estimasi Daya dukung Perairan Pesisir Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan untuk Kegiatan Budidaya Udang Vannamei Berdasarkan Laju Biodegradasi Limbah Moh Ismail; Apri Arisandi; Ahmad Farid
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 7, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v7i1.120

Abstract

Kegiatan usaha budidaya udang vannamei di Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan mengalami peningkatan yang baik hal  ini di dukung oleh teknologi  budidaya dari tradisional  ke intensif selain itu potensi sumber daya alam yang mendukung pengembangan usaha budidaya udang vannamei kedepan memberikan peluang baik bagi pengusaha dan pemilik lahan untuk membuka usaha budidaya udang vannamei baru. Pengembangan usaha budidaya udang vannamei di Kecamatan Pademawu berpotensi mencemari lingkungan perairan, karena Kegiatan usaha budidaya udang vannamei menghasilkan limbah dan limbah dibuang keperairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung perairan untuk kegiatan usaha budidaya udang vannamei. Penelitian dilakukan pada tanggal 16 April 2021 diperairan Kecamatan Pademawu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume air yang tersedia selama 1 hari di perairan pesiri pademawu 33.591.227 m3. Jumlah limbah maksimal yang dapat ditampung dalam bentuk TSS (Total Suspendet Solit) adalah  282 ton/hari. kegiatan budidaya udang sistem intensif luasan tambak maksimal 30.56 hektar dengan produksi 575.21 ton/musim tanam. Kegiatan budidaya udang sistem semi intensif luasan tambak maksimal 244.16 hektar dan produksi 624.31 ton/musim tanam. Kegiatan budidaya udang sistem tradisional luasan tambak maksimal 577.87 hektar dan produksi 450.16 ton/musim tanam.