Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Intervensi Peningkatan Perilaku Prososial dalam Upaya Menurunkan Perundungan miftahul jannah, putri
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7 No 1 (2018): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v7i1.1466

Abstract

Perundungan merupakan isu utama yang menjadi masalah di SMA XYZ sehingga menyebabkan siswa merasa tertekan secara psikologis dan merasa tidak nyaman di sekolah. Dari studi literatur diketahui bahwa semakin positif hubungan antar siswa, yang ditandai dengan tingginya tingkat perilaku prososial, tingkat kejadian perundungan akan semakin rendah. Sebelum intervensi dilakukan, peneliti melakukan studi baseline di SMA XYZ.  Berdasarkan studi baseline tersebut, diketahui bahwa beberapa siswa memiliki kemauan untuk mengubah tradisi perundungan dan menginginkan hubungan yang lebih positif di sekolah. Penelitian ini bertujuan meningkatkan perilaku prososial siswa pada kelompok intervensi, agar terbentuk hubungan yang positif di sekolah. Partisipan pada kelompok intervensi adalah pengurus OSIS, yang terdiri dari 10 siswa kelas X dan 10 siswa kelas XI. Perimbangan pemilihan pengurus OSIS adalah karena mereka dapat menjadi agent of change di SMA XYZ. Intervensi dirancang dengan memodifikasi program CEPIDEA (Caprara et al., 2014), yaitu dengan memberikan pelatihan keterampilan regulasi emosi, empati dan komunikasi serta penguatan perilaku melalui teknik persuasi media sosial pada siswa. Indikator keberhasilan intervensi ini adalah meningkatnya perilaku prososial siswa secara signifikan. Hasil pengukuran wilcoxon signed rank test menunjukkan terdapat peningkatan secara signifikan pada skor keterampilan regulasi emosi, empati,  komunikasi, self efficacy dan perilaku prososial siswa. Implikasi penelitian intervensi ini dibahas dalam artikel.
Nature Relatedness as a Predictor of Psychological Well-Being: A Study of Indonesian Urban Society Bartolomeus Yofana Adiwena; Ratna Djuwita
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v34i4.2578

Abstract

The complexity of urban life can have its own negative impact on the psychological well-being (PWB) of its society. It is thought that the natural environment can reduce that negative impact and have an important role in the health and well-being of urban society. Nature relatedness (NR) is a construct which illustrates an approach to, or a subjective individual relationship with, the natural environment. Previous research indicates that NR has a positive relationship with the PWB of a person; however such research used a sample of society in Western countries. Does a relationship between NR and PWB exist also in the context of urban Indonesian society? The principle aim of this research was to prove a relationship between NR and PWB, using a sample from urban Indonesian society. This research was of a non-experimental nature, with 178 respondents. Analysis using structural equation modeling (SEM) proved that the NR level of an individual is a positive predictor of the PWB they have. For this reason, the higher the level of NR an individual has, the higher also is the level of PWB they will have. The authors recommend that all people managing vested interests pay attention not only to situational factors, such as the existence of open green spaces and the cleanliness of the environment, but also pay attention to dispositional factors, such as NR, which is proven to have an important role for PWB.
Teaching Pro-Environmental Behavior: A Challenge in Indonesian Schools Ratna Djuwita; Aditya Benyamin
Psychological Research on Urban Society Vol 2, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.332 KB) | DOI: 10.7454/proust.v2i1.48

Abstract

Although most researchers agree that environmental education is very important to develop pro-environmental behavior (PEB) in children, it is uncertain whether environmental education has positive outcomes, especially in Indonesian schools. This study tried to get some insight into whether green school students will have a higher nature relatedness and thus will behave more environmentally friendly, compared with students from schools with a regular national curriculum. In this study, 304 elementary public schools’ students and 229 green schools’ students participated. Data were collected through self-report scale, behavioral observation and Focus Group Discussion (FGD). The result shows that green school student’s, as well as children from public school, do not differ in their appreciation and understanding of their interconnectedness with all other living things on the earth. In other words, their nature relatedness (NR) are relatively similar. As hypothesized, if faced with the choice to act environmentally friendly, the PEB of green school students were significantly higher than public school students. But interestingly, information from FGD reveals that green school children PEB is not based on knowledge or concern for the environment, but rather a result of habituation and social modelling of their friends. On the other hand, public schools students have the knowledge, but they do not implement it in daily lives because they are not used to do it. It is concluded that environmental education curriculum does have a role in shaping students PEB, but to develop a sustainable PEB in young children, schools should focus on environmental knowledge, to develop and internalized pro-environmental value, and they should also develop ways to habituate PEB.
Perundungan dan School Well-being: Place Attachment sebagai Moderator Katarina Menik Astuti; Ratna Djuwita
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 7 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.984 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i2.5942

Abstract

Abstrak. Salah satu bentuk perilaku yang dapat menurunkan school well being dan membuat iklim sekolah menjadi tidak menyenangkan adalah perundungan. Studi literatur menunjukkan bahwa selain perundungan, place attachment terhadap sekolah ternyata juga mempengaruhi school well being. Peneliti mengajukan hipotesis bahwa place attachment berperan sebagai moderator dalam hubungan antara perundungan dan school well being. Pengambilan data dilakukan pada 133 orang mahasiswa tingkat pertama dengan menggunakan kuesioner yang mengadaptasi alat ukur school well-being dan place attachment. Selain itu ditanyakan pula pengalaman perundungan responden saat di SMA. Hasil penelitian membuktikan bahwa place attachment berperan sebagai moderator dalam hubungan antara perundungan dengan school well-being; semakin tinggi place attachment maka semakin kuat hubungan negatif antara perundungan dengan school well-being. Hal ini menunjukkan bahwa place attachment dapat menjadi penangkal terhadap perundungan. Bagi siswa yang memiliki ikatan dan identifikasi diri yang kuat terhadap sekolah, maka perundungan yang terjadi tidak menurunkan school well-beingnya. Mereka akan tetap merasa nyaman bersekolah walaupun perundungan masih terjadi.Kata kunci: Perundungan, Place Attachment, School Well-being, ModeratorAbstract. One form of behavior that can reduce school well-being and make unpleasant school climate is bullying. Literature studies shows, that besides bullying, place attachment to school also affects school well being. The researcher hypothesized that place attachment acts as a moderator in the relationship between bullying and school well being. Data collection was conducted on 133 first-degree students using a questionnaire adapting the school well-being and place attachment questionnaire. In addition, the questionnaire also asked about respondents' bullying experience when in high school. The results show that place attachment acts as a moderator in the relationship between bullying with school well-being: Higher  place attachment will act as a buffer on bullying.  Students who have strong bonds and identify themself strongly with their schools, their school well-being will not be harmed by bullying. This suggests that students with high place attachment can remain comfortable and happy in school, even though bullying still occurs in their schools.Keywords: Bullying, Moderation, Place Attachment, School Well-being
Gambaran Perundungan pada Siswa Tingkat SMA di Indonesia Grista N. A. Damanik; Ratna Djuwita
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i1.875

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk memetakan kejadian dan perilaku perundungan pada siswa tingkat SMA di Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini adalah 138 mahasiswa tingkat pertama yang bersasal dari SMA di Indonesia, yang diminta mengingat dan menceritakan kembali pengalamannya terkait perundungan semasa SMA. Hasil analisis deskriptif menunjukkan perundungan terjadi pada 75,8% sekolah dari partisipan. Sebagian besar perundungan berbentuk verbal (35,1%), terjadi di dalam kelas (63,1%), dan pada jam istirahat (64,5%). Partisipan yang pernah menjadi pelaku (18,8%) menyalahkan perilaku aneh korban sebagai penyebab utama perundungan. Dari 34,1% partisipan yang pernah menjadi korban, sebagian besar memilih untuk mengabaikan kejadian. Sementara dari 69,6% partisipan yang pernah menjadi saksi perundungan, sebagian besar memilih untuk tidak melakukan apa-apa karena tidak ingin terlibat. Meskipun perundungan terbukti terjadi di sekolah, keseluruhan partisipan memiliki persepsi positif terhadap sekolah. Meski demikian, hasil uji t-test menunjukkan persepsi yang lebih baik mengenai sekolah pada partisipan yang belum pernah menjadi korban, saksi, maupun pelaku dibandingkan partisipan yang pernah.   
PENGGUNAAN THEORY OF PLANNED BEHAVIOR DALAM MENGANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI FOOD WASTE BEHAVIOR PADA DOSEN Dimas Teguh Prasetyo; Ratna Djuwita
Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen Vol. 13 No. 3 (2020): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.222 KB) | DOI: 10.24156/jikk.2020.13.3.277

Abstract

Salah satu lingkungan yang turut berkontribusi menghasilkan sampah makanan ialah lingkungan institusi perguruan tinggi. Studi ini bertujuan menganalisis perilaku membuang makanan pada dosen dan faktor-faktor yang memengaruhinya dengan menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Studi 1 dilakukan dengan mewawancari empat dosen yang mengikuti pelatihan dosen. Studi 2 dilakukan untuk menguji faktor yang memengaruhi perilaku membuang makanan dengan kerangka TPB secara kuantitatif. Survei daring dilakukan kepada 99 dosen dari 11 fakultas. Hasil analisis tematik secara kualitatif menemukan bahwa makanan yang terbuang sia-sia dianggap dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk bagi kampus (behavioral belief). Rekan sejawat menjadi kelompok yang dapat mendorong atau menghambat perilaku membuang makanan dalam pelatihan (normative belief). Para dosen pun sepakat bahwa makanan dapat dibuang jika mengandung gizi yang berlebihan (control belief). Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi dengan analisis regresi ganda yang menemukan bahwa hanya atittude dan subjective norm yang mampu memprediksi intensi secara signifikan. Selain itu, Perceived Behavioral Control (PBC) dan intensi secara terpisah mampu memprediksi perilaku membuang makanan secara signifikan. Identifikasi belief-belief sebagai anteseden variabel prediktor dalam kerangka TPB memudahkan peneliti untuk menangkap gambaran perilaku food waste secara spesifik. Hasil studi ini juga dapat menjadi acuan intervensi untuk mengurangi perilaku membuang makanan pada dosen di kegiatan pelatihan.
Alah bisa Karena Biasa: Peran Perceived Behavioral Control dalam Perilaku Memilah Sampah di Kalangan Penjual Kantin Universitas XYZ Ashma Nur Afifah; Ratna Djuwita
Jurnal Psikologi Sosial Vol 17 No 2 (2019): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.098 KB) | DOI: 10.7454/jps.2019.16

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku memilah sampah dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya dalam kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Spesifiknya, kami ingin mengeksplorasi dan menguji faktor apa dari TPB yang berperan pada penjual kantin Universitas XYZ. Studi 1 dilakukan dengan wawancara ke 6 penjual kantin. Hasil eksplorasi kualitatif menemukan bahwa penjual kantin sudah terbiasa memilah sampah. Analisis tematik menemukan bahwa perilaku ini dibentuk dari program wajib dari universitas, penilaian individu terhadap konsekuensi dan tujuan pemilahan (sikap), contoh dan teguran dari pihak yang dianggap penting atau otoritas (norma subjektif), serta kemudahan dalam memilah sampah dengan adanya pengetahuan dan penyediaan fasilitas pemilahan (perceived behavioural control). Studi 2 dilakukan untuk menguji kerangka TPB dan dimensi kepuasan fasilitas pemilahan pada pedagang kantin secara kuantitatif. Kami menyebarkan kuesioner kepada 89 penjual kantin. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa variabel attitude dan norma subjektif secara signifikan berkontribusi 17% terhadap intensi memilah sampah dan hanya perceived behavioural control yang signifikan berkontribusi sebanyak 21% terhadap perilaku memilah sampah. Pemilahan yang sudah menjadi kebiasaan menjadi faktor yang diasumsikan menguatkan peran PBC dan meniadakan peran intensi. Peran PBC menjadi penting untuk dapat menjaga perilaku pemilahan sampah di kalangan penjaga kantin Universitas XYZ.
Manusia dan lingkungan alam: Analisis faktor konfirmatori terhadap Nature Relatedness Scale Bahasa Indonesia Bartolomeus Yofana Adiwena; Ratna Djuwita
Jurnal Psikologi Sosial Vol 20 No 1 (2022): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2022.08

Abstract

The relationship or closeness between humans and the natural environment is a psychological construct that can be used to overcome environmental problems nowadays. Nature Relatedness Scale (NRS) is a questionnaire used to measure the relationship between humans and the natural environment, which is proven to be related to pro-environment behavior. However, there are no studies that have adapted and analyzed the structure of NRS in Indonesia, so that it can be used for studies on environmental psychology in Indonesia. This study aims to test the construct validity and reliability of NRS Bahasa Indonesia using confirmatory factor analysis (CFA) with a sample of Indonesian people (N= 174). The result shows that NRS Bahasa Indonesia has the same factor structure as the original NRS, namely: NR Self, NR Perspective, and NR Experience and can be used in research with a population of Indonesian people. NR Self and NR Experience have good construct reliability and validity, while NR Perspective has moderate construct reliability and validity. The potential of the NRS to investigate pro-environmental concerns and behavior, as well as suggestions for further research are discussed.
Internet dan Kebahagiaan di Masa Pandemi Aidal Masrura; Ratna Djuwita; Joevarian Hudiyana

Publisher : Ilmu Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/jip.v9i1.2584

Abstract

This study aims to see the relationship between internet use and happiness, especially during the pandemic Covid-19. This study uses a non-experimental quantitative approach utilizing bivariate correlation analysis. There were 3938 respondents consisting 76% women in this study. The results showed that internet use, in general, was correlated with happiness, but not across all dimensions of internet use. Dimensions that are positively and significantly correlated are only those dimensions that can meet basic psychological needs. The implications of this research need to be discussed further.
Intervensi Bagi Guru SD Perempuan di Masa Pandemi COVID-19: Sebuah Pelatihan Peningkatan Kebahagiaan Psikologis Umi Fitriati Nasihah; Ratna Djuwita
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 2, No 1 (2021): J-P3K APRIL
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v2i1.87

Abstract

Pelaksanaan PJJ membawa tantangan bagi guru-guru di Indonesia, termasuk guru SD perempuan. Kebahagiaan psikologis menjadi hal penting untuk dicapai agar guru mampu menjalankan peran dengan optimal. Penelitian intervensi dalam bentuk pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kebahagiaan psikologis guru dalam masa pandemi COVID-19. Desain penelitian pada pelatihan ini adalah one group pretest-posttest design. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 16 orang. Materi pelatihan yang diberikan dalam pelatihan ini adalah mindfulness dan komunikasi. Pengukuran dilakukan terhadap ketiga variabel sebelum dan sesudah pelatihan dilakukan. Meskipun dari perhitungan secara keseluruhan tidak ditemukan kenaikan signifikan, namun jika dilihat perindividu maka terdapat 9 orang mengalami kenaikan nilai pretest ke posttest pada kebahagiaan psikologis, 12 orang mengalami kenaikan pada pengukuran mindfulness dan 9 orang mengalami kenaikan pada pengukuran komunikasi. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan analisis statistik tidak terjadi peningkatan yang signifikan pada pengetahuan partisipan terhadap kebahagiaan psikologis, tapi secara kualitatif partisipan pelatihan merasakan pelatihan memiliki manfaat bagi mereka dan berpotensi positif meningkatkan kebahagiaan psikologis.