Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Health Locus Of Control pada Perawat yang Merokok dan yang Tidak Merokok Putri Mandasari Dwi Jayanti; Rina Rahmatika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i1.887

Abstract

Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan memiliki perilaku yang sehat, namun masih terdapat pula perawat yang merokok. Merokok atau tidak merokok pada perawat terkait dengan bagaimana keyakinan akan pihak yang  mengontrol kesehatan diri mereka, atau biasa disebut sebagai health locus of control. Tujuan dari penelitian ini adalah peneliti ingin melihat perbedaan health locus of control antara perawat yang merokok dengan yang tidak merokok. Subjek penelitian adalah 92 perawat di Jakarta dengan rentang usia 21-30 tahun, diperoleh dengan metode incidental sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur health locus of control adalah Multidimentional Health Locus of Control Form A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada dimensi chance dalam health locus of control pada perawat yang merokok dan tidak merokok dengan nilai t = 2,691 (p=0,0090,05), artinya perawat yang merokok lebih memiliki keyakinan bahwa kesehatannya dipengaruhi oleh keberuntungan atau takdir dibandingkan dengan perawat non perokok, sedangkan pada dimensi internal dan powerful others tidak terdapat perbedaan pada perawat yang merokok dan tidak merokok.
Peran Self-Compassion terhadap Dimensi-dimensi Kualitas Hidup Kesehatan pada Remaja Panti Asuhan Annisa Zahra Kawitri; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika
Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 7, No 1 (2020): PSYMPATHIC
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/psy.v7i1.4406

Abstract

The purpose of thi study is to examine whether self-compassion can predict the level of health-related quality of life (HRQoL) among adolescents who live in foster care. The study used quantitative method with cross-sectional design. The sample were 140 teenagers recruited using convenience sampling technique from several foster care in Bekasi and Jakarta. Self Compassion Scale (SCSC) and KIDSCREEN-27 instrument were used to measure the level of self-compassion and HRQoL. Regression test was found that the influence of self-compassion toward HRQoL is significant on the dimension of physical wellbeing, psychological wellbeing, parent relations and autonomy, and school environment. However, self-compassion did not have significant influence toward health-related quality of life on the dimension of social support and peers. The role of self-compassion toward HRQoL implied that adolescents living at foster care need to develop a compassionate attitude for theirself in order to achieve better HRQoL.
Program Penyuluhan Persiapan Memasuki Dunia Kerja bagi Siswa SMKN 31 Jakarta Sari Zakiah Akmal; Rina Rahmatika; Novika Grasiaswaty
Jurnal PkM Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 03 (2019): Jurnal PkM Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v2i03.3642

Abstract

Dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, seharusnya siswa SMK lebih mudah untuk diterima di dunia kerja. Pada kenyataannya, masih banyak lulusan SMK yang mengalami hambatan untuk memasuki dunia kerja. Hasil analisa kebutuhan dengan guru Bimbingan Konseling SMKN 31 ditemukan bahwa sebagian besar alumni SMKN 31 gagal untuk mendapatkan pekerjaan, terutama pada tahap psikotes dan wawancara. Kegagalan ini juga dialami oleh siswa-siswa yang memiliki prestasi akademis yang baik di sekolah. Berdasarkan hasil analisa kebutuhan terhadap siswa di SMKN 31, siswa juga menyatakan membutuhkan pelatihan untuk persiapan memasuki dunia kerja terutama persiapan untuk mengikuti psikotes dan wawancara. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan untuk mempersiapkan siswa SMKN 31 memasuki dunia kerja, terutama menghadapi psikotes dan wawancara. Kegiatan penyuluhan diikuti oleh 45 siswa SMK, dilaksanakan tanggal 23 Januri 2019 pukul 12.00 – 16.00. Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, dilakukan evaluasi dengan membandingkan kemampuan siswa pada saat sebelum (pre test) dan setelah kegiatan (post test). Berdasarkan hasil evaluasi, diketahui bahwa kegiatan yang dilakukan dapat meningkatan pengetahuan siswa mengenai psikotes dan wawancara (t = 13.53, p < 0.01). Selain itu, kegiatan penyuluhan yang dilakukan juga mendapatkan penilaian positif dari peserta pada aspek kebermanfaatan kegiatan, sikap pemateri dan kejelasan materi yang disampaikan
Seberapa Jauh Aku Bisa Bangkit? Sebuah Studi Mengenai Profil Resiliensi Psikologis Remaja Panti Asuhan Bellatrix Dwi Rachmawati; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 15, No 2 (2019): Insight : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ins.v15i2.1884

Abstract

The purpose of this research is to describe the profile and level of psychological resilience of adolescents living at social shelter.  This research is using quantitative, cross-sectional design, descriptive approach and the population is adolescents who live at social shelter in Jakarta and Bekasi. Due to the explorative nature of this study and lack of the acurate data about total amount the teenagers, the sample of this research is taken by using convenience sampling technique across 12 Social Shelter in Jakarta and Bekasi. The sample of the study is 200 Adolescents. Adapted scale of resilience by Connor – Davidson was used for measure resilience level and descriptive statistic was used for the analysis. The result of this research found that 46.5% of participants have high resilience and 52.5% has moderate level of resilience. Whereas, only 1% who has low level of resiliences. Based on the analysis from each dimension, the highest dimension of resilience is in the domain of “Personal Competence” and the lowest one is on “Tolerance of Negative Affect”. This result implied that to developing resilience program for adolescents at social shelter, it is needed to help them develop their ability to overcome the negative affect.
Kontribusi Kebersyukuran dalam Peningkatan Kualitas Hidup Kesehatan pada Remaja di Panti Asuhan Santri Wijayanti; Rina Rahmatika; Ratih Arruum Listiyandini
Psycho Idea Vol 18, No 1 (2020): Psycho Idea
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.636 KB) | DOI: 10.30595/psychoidea.v18i1.4123

Abstract

Remaja yang tinggal di panti asuhan lebih rentan mengalami masalah dalam kualitas hidup terkait kesehatan. Namun demikian, terdapat pula mereka yang memandang kehidupannya sebagai pengalaman yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran kebersyukuran sebagai faktor pelindung terhadap kualitas hidup kesehatan pada remaja di panti asuhan. Sampel dalam penelitian ini adalah 200 remaja panti asuhan yang diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur kebersyukuran versi Indonesia dan adaptasi skala kualitas hidup kesehatan. Hasil uji regresi menemukan bahwa kebersyukuran berperan terhadap kualitas hidup kesehatan pada dimensi kesejahteraan psikologis serta dukungan sosial dan teman sebaya. Akan tetapi, kebersyukuran tidak berperan terhadap kualitas hidup kesehatan dimensi kesejahteraan fisik, hubungan orang tua dan kemandirian serta lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi mengenai pentingnya pengembangan kebersyukuran dalam rangka peningkatan kualitas hidup kesehatan pada remaja yang tinggal di panti asuhan, khususnya dalam aspek kesejahteraan psikologis dan dukungan sosial serta teman sebaya.
HUBUNGAN ANTARA HEALTH LOCUS OF CONTROL DAN SELF EFFICACY BERHENTI MEROKOK PADA MAHASISWA KEPERAWATAN YANG MEROKOK Nisa Nurjanah; Rina Rahmatika
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 3 No.2 November 2017
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.123 KB) | DOI: 10.29313/schema.v0i0.3388

Abstract

Mahasiswa keperawatan diharapkan memiliki kontrol perilaku sehat yang baik. Namun, masih terdapat data-data mengenai perilaku merokok pada mahasiswa keperawatan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran mereka untuk mengontrol kesehatan. Health locus of control merupakan salah satu aspek psikologis untuk mengetahui perilaku sehat individu. Selain itu, self efficacy juga dirasa memiliki peranan yang penting dalam usaha berhenti merokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara health locus of control dan self efficacy berhenti merokok pada mahasiswa keperawatan yang merokok. Partisipan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa keperawatan yang berusia 18-25 tahun sebanyak 139 orang. Penelitian ini menggunakan skala MHLoC untuk mengukur health locus of control, dan menggunakan skala SEQ-12 untuk mengukur self efficacy untuk berhenti merokok pada partisipan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara internal health locus of control dan internal smoking self efficacy (r=0,384, ρ=0,000), chance health locus of control dan external smoking self efficacy (r=0,284, ρ=0,001), dan antara powerful others health locus of control dan internal smoking self efficacy (r=0,406, ρ=0,000) dan external smoking self efficacy (r=0,282, ρ=0,001) pada mahasiswa keperawatan yang merokok.