Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengelompokan Mikro dan Makro dalam Kajian Linguistik Austronesia secara Diakronis Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.038 KB) | DOI: 10.22146/jh.1986

Abstract

Pengelompokan bahasa dalam rangka kajian linguistik diakronis, biasa dikenal juga dengan istilah klasifikasi genealogis (genetis) atau subgruping bahasa. Dalam arti itu, pengelompokan bahasa seringkali dikaitkan dengan pembagian rumpun bahasa atau keluarga bahasa, seperti rumpun bahasa IndoEropa,  Afro-Asia, Austronesia atau Malayo-Polinesia, dan sebagainya.Istilah  pengelompokan mikro dimaksudkan untuk menjelaskan pengelompokan bahasa-bahasa sekerabat pada tingkat lebih rendah. Pengelompokan makro dapat diartikan pengelompokan bahasa kerabat yang cakupan penjelasan mengenai hubungan antarbahasa serumpun, diamati secara khusus pada tingkat yang lebih tinggi atau pada tingkat atas.
INVENTARISASI BAHASA-BAHASA DAERAH DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Inyo Yos Fernandez
Humaniora Vol 19, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.388 KB) | DOI: 10.22146/jh.907

Abstract

The inventarisation to understand the number and status of languages dialects in East Nusa Tenggara should be conducted using the right theory and methodology. The inventarisation should be done by implementing quantitavie and qualitative approaches so that satisfactory results can be achieved in the process of inventarisation in the future. Despite the fact that there may be some weaknesses in the use of the quantitative approach to determine family language using kexicostatistics technique, the result may provide clear and reliable descriptions of the NTT family language
Konstruksi Posesif Bahasa-bahasa Austronesia dan Non Austronesia di Kawasan Timur Indonesia: Studi Bandingan Bahasa Tetun (Timor Timur), Lamaholot (Flores Timur), dan Mai Brat (Kepala Burung) Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 5 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5443.978 KB) | DOI: 10.22146/jh.1877

Abstract

Bahasa Tetun Terik yang disebut juga Tetun Fenan atau Tetun Laos digunakan olen sebagian penduduk di daerah Propinsi Timor Timur. Penutur dia1ek Tetun Terik yang berjumlah sekitar 400.000 orang mendiami wilayah Kabupaten Vikeke, Kovalima, dan di sebagian wilayah Kabupaten Manatuto. Selain digunakan di Timor Timur, Bahasa Tetun Terik digunakan juga di Kabupaten Belu, di Propinsi Nusa Tenggara Timur, di Wilayah Timor yang berbatasan dengan Propinsi Timor Timur.
BEBERAPA CATATAN TENTANG BAHASA MELAYU DILI: STUDI AWAL MENGENAI BAHASA MELAYU DI TIMOR TIMUR Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.967 KB) | DOI: 10.22146/jh.2026

Abstract

Menurul Suparlan (1978:44), ada beragam ras di antara berbagai kelompok etnik yang mendiami Propinsi Timor Timur. Dapat disebutkan antara lain Papua Melenesoid, Veda Austrotoid, Kaukasoid, Mongoloid, dan Melayu. Keberadaan ras Melayu di antara berbagai ras tersebut adalah wajar mengingat penyebaran suku Melayu hampir meliputi seluruh pelosok tanah air, dan telah menjadi kenyataan sejarah. Di berbagai daerah puak Melayu dan kebudayaannya berbaur dengan kehidupan budaya setempat, salah satu perwujudan lahir dari pembauran itu tampak anlara lain dalam eksistensi bahasa Melayu dialek daerah setempat, seperti halnya bahasa Melayu Dili (MD) yang digunakan di Dili, Timor Timur. Bahasa MD digunakn oleh sekitar 1000 penutur, yang berdiam di beberapa tempat di kota Dili, terutama di kampung Alor. Penghuni kampung Alor pada umumnya adalah kaum pedagang pendatang keturunan Arab dan yang sering identik dengan puak Melayu. Dewasa ini bahasa MD sebagai bahasa ibu merupakan alat komunikasi utama di kalangan penuturnya, di samping bahasa Tetum Dili dan bahasa Indonesia (BI). Seperti bahasa Melayu dialek daerah lainnya di Indonesia, bahasa MD berkembang dari bahasa pidgin.
Persesuaian SUbjek-Verba dalam Bahasa Mai Brat Dialek Ayamaru dan Lamaholot Dialek lie Mandiri: Studi Perbandingan Pengaruh Bahasa Non-Austronesia terhadap Bahasa Austronesia Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.954 KB) | DOI: 10.22146/jh.1945

Abstract

Bahasa Mai Brat dialek Ayamaru di Sarong, Irian Jaya, dan bahasa Lamaholot dialek lie Mandiri di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam kajian lingulstik diakronis Austronesia merupakan dua bahasa daerah di Indonesia bagian timur yang status relasi kekerabatannya di bidang sintaksis masih belum diketahui dengan jelas. Kelompok bahasa Non-Austronesla (NAN), merupakan suatu kelompok bahasa yang hingga kinibelum diidentifikasi lebih jauh untuk dapat membedakannya dari kelompokAustronesia (AN). Seperti diketahui pada hampir sebagian besar kawasanAsia Tenggara-Pasifik terdapat bahasa yang termasuk: dalam kelompok bahasa AN. Bahasa lamaholot dialek Ile Mandiri di Flores Timur, termasuk salah satu di antara bahasa-bahasa dl Propinsi Nusa Tenggara Timur yang secara fonologis dan leksikal tergolong dalam kelompok bahasa AN (Femardez, 1981).
DIALEKTOLOGI BAHASA MELAYU DI PESISIR KABUPATEN BENGKAYANG ., Patriantoro; ., Sumarlan; Fernandez, Inyo Yos
Kajian Linguistik dan Sastra Vol 24, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.91 KB)

Abstract

This research discusses the dialectology of Malay used by the people in the coastal area of Bengkayang. Particulary those who live in the downstream area of the river. Malay has been used by a great number of people who reside in the coastal area. This research employs quantitative as well as qualitative research method. The data are collected trought the use of in-depth interview method and elicitation technique by directly showing the picture, pointing the reeal objects, or explaining the intended activities. The synchronic method is used to analyze the dialectology of Malay, and the diachronic comparative method is used to help with the analysis of the language reconstruction. The dialectometry is used to figure the percentage of lexicon differences between the reseaech area. The top down reconstruction technicque serves as the way ti analize the data to find the retention and innovation forms. The lexicon differences in different areas are calculated by applying the triangular or poligones de thiessen. The result of the data analysis area 1-2, 1-3, 2-3, 2-4, 3-4 hold under 21% lexicon differences with indicates that they share the same and not different. In the areas whwre the research is conducted, some the relic forms of the proto-language are still found, as well as the innovation forms and the borrowing.
PENERAPAN TEKNIK LEKSIKOSTATISTIK DALAM STUDI KOMPARATIF BAHASA BARANUSA, KEDANG, DAN LAMAHOLOT DI NUSA TENGGARA TIMUR Sulistyono, Yunus; Fernandez, Inyo Yos
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 16, No 1: Februari, 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alor-Pantar islands lie between Austronesian and non-Austronesian languages. Baranusa, one of the Austronesian languages spoken in the island of Pantar, estimated to have a kinship relation with Kedang and Lamaholot, two other Austronesian languages spoken in Lembata and East Flores. This hypothesis arises from a glance observation of base form of the three languages. The method of the current study is a quantitative method with lexicostatistics technique. The data were 200 base forms of Swadesh taken from three languages, namely Baranusa, Kedang, and Lamaholot. The data were analyzed quantitatively to find out the percentage of kinship and arranged in the form of a family tree diagram.  The result leads to the conclusion that Baranusa, Kedang, and Lamaholot have a close kinship relations. 
Fonologi Bahasa Paluqe dan Perlakuan terhadap Unsur Serapan Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 1 (1989)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.511 KB) | DOI: 10.22146/jh.2260

Abstract

Bahasa Paluqe digunakan oleh masyarakat penutur sebuah kelompok etnis yang mendiami pulau Paluqe, yang terletak di lepas pantai Flores Tengah bagian utara, berdekatan dengan wilayah pesisir Lio Utara (di Kabupaten Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur). Bahasa itu lebih dikenal dengan "Sara Luqa" di kalangan penuturnya. Masyarakat Paluqe dewasa ini telah berhasil menyisihkan julukan sebgai "suku terasing" yang disandang mereka karena keterbelakangan mereka dalam hal kemajuan di berbagai segi kehidupan jika dibandingkan dengan kelompok etnis lain di daerah sekitarnya (di Flores).
BAHASA JURNALISTIK DALAM ERA PEMBANGUNAN Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.545 KB) | DOI: 10.22146/jh.2095

Abstract

Bahasa Indonesia ragam jurnalistik atau disingkat bahasa jurnalistik, adakalanya diistilahkan dengan bahasa media massa atau disebut pula dengan bahasa surat kabar. Ragam bahasa ini merupakan salah satu variasi bahasa yang digunakan di kalangan wartawan untuk menyampaikan informasi tertulis dalam berkomunikasi. Dalam era pertumbuhan masyarakat Indonesia sebegai masyarakat informasi di satu sisi dan sebagai masyarakat edukasi di sisi lain , bahasa jurnalistik mempunyai peranan yang cukup penting baik yang berhubungan dengan berbagai upaya para wartawan untuk meliput aneka ragam informasi, maupun untuk menyajikan berbagai macam gagasan yang dapat dicerna oleh masyarakat.
KATEGORI DAN EKSPRESI LINGUISTIK DALAM BAHASA JAWA SEBAGAI CERMIN KEARIFAN LOKAL PENUTURNYA: KAJIAN ETNOLINGUISTIK PADA MASYARAKAT PETANI DAN NELAYAN Fernandez, Inyo Yos
Kajian Linguistik dan Sastra Vol 20, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.366 KB) | DOI: 10.23917/kls.v20i2.4966

Abstract

The study examines the local discernment of Javanese community in Central Java, DIY, and in East Java, viewed from the work of farmer and fisher which is reflected in their expression and linguistic category of Javanese language. The samples of the study are farmers in the village Wonosari (on the hill of Gunung Kawi, Malang, East Java),  Kemuning Sari (Jember, East Java), Petung Kriyana (Pekalongan, Central Java), fishers of the south coast in the village Puger (Jember, East Java) and those in the village Kemadang (Gunung Kidul, DIY). The data were collected by using eth- nography and ethno-science methods in the framework of ethno-linguistics. The study shows that based on the Javanese linguistic expression and category, there is a myth of the Javanese farmers represented in the ritual ceremony of rice pre-plantation as the reflection of thank to god “Dewi Sri”. The myth is still contained within the register “wiwitan” as managed by the leader of ceremony. So, there is an enclosed Javanese life style within to care to vertical and horizontal human relation in nature. Such phenomena also occur in the Javanese fishers in the south coast, i.e. in their local understanding to keep the natural force which may sometimes threaten their safety when working on the sea or when they have to meet the natural symbol “Nyi Rara Kidul”. Among the related registers to use are “labuhan kapat” ‘thanksgiv- ing’, and “selametan petik laut” (every the Syura month 15th). This reflects the Javanese life style’s care to the natural, social, and thought ecology. The Javanese worth culture asset represents the local discern crystallization which has been en- closed within the Javanese linguistic expressions and categories. Key words:    local discernment, ranah bahasa petani dan nelayan, ethno-linguistics, ethno-science, dan ecology.