Edianto Edianto
H. Adam Malik Central General Hospital, Medan 20136

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Correlation between Disclosure Status and Stress in Men who Have Sex with Men with HIV Edianto Edianto; Agung Waluyo; Sri Yona; Ina Martiana
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 23, No 3 (2020): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v23i3.1101

Abstract

Men who have sex with men living with HIV (MSM-LWH) experience psychological and social issues, including depression, anxiety, fear of infecting others, frustration, and social isolation. They may also experience problems in their relationships due to a fear of social stigma, such as marital issues, family conflicts, a lack of family support, economic difficulties, and social rejection by the family. This research aimed to assess the relationship between HIV status disclosure and stress in MSM-LWH in Medan, Indonesia. Here, a cross-sectional design and the convenience sampling technique were used. A total of 176 respondents who were MSM, HIV positive, and residents of Medan City were included in this work. Data were collected by means of HIV Status Disclosure questionnaires and a Perceived Stress Scale (PSS). Overall, 70.9% respondents reported disclosing their status to others and approximately half revealed experiencing stress. Moreover, HIV status disclosure was significantly associated with stress (p= 0.025). This study reveals that HIV status disclosure may result in negative effects on MSMLWH, represent a barrier to medical treatment, and increase internal stress. Abstrak Hubungan antara Status Disclosure dengan Stres pada Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki dengan HIV. Lelaki yang berhubungan Seks dengan lelaki (LSL) yang hidup dengan HIV mengalami masalah psikologis dan sosial termasuk depresi, kecemasan, ketakutan menulari orang lain, frustasi dan isolasi sosial. Selain itu juga mengalami masalah dalam hubungan sosial karena takut akan stigma, konflik dalam keluarga, kurangnya dukungan keluarga, kesulitan ekonomi dan penolakan oleh keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status disclosure HIV dengan stress pada LSL yang hidup dengan HIV di Medan, Indonesia. Metode yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan teknik convenience sampling. Sebanyak 176 responden LSL dengan HIV positif dan tinggal di wilayah kota Medan. Data dikumpulkan dengan menggunakan HIV Status Disclosure Questionare dan Perceived Stress Scale (PSS). Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 70,9% responden memiliki status disclosure HIV rendah, sementara itu sebanyak 55,1% resonden mengalami stress yang tinggi. Status disclosure HIV secara ber-makna dikaitkan dengan stress (p= 0,025). Penelitian ini mengungkapkan bahwa status disclosure HIV dapat mem-berikan efek negatif pada LSL yang hidup dengan HIV dan menjadi penghalang untuk perawatan medis dan mening-katkan stress internal.Kata Kunci: HIV, lelaki yeng berhubungan seks dengan lelaki, status disclosure, stres
A Secondary Analysis of Peer Support and Family Acceptance Among Homosexual Living with HIV and Antiretroviral Therapy: Quality of Life Perspectives Ina Martiana; Agung Waluyo; Sri Yona; Edianto Edianto
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 24, No 1 (2021): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v24i1.1095

Abstract

Men who have sex with men (MSM) comprise a population at risk for HIV infection. Assessing the Quality of Life (QOL) in MSM might be different than other populations. This study showed a secondary analysis from our previous research. It was needed to understand whether peer support and family acceptance had an impact on QOL of MSM living with HIV and ART (Antiretroviral Therapy). A total of 175 respondents were involved in this cross-sectional study that was carried out with purposive sampling. The questionnaires were translated to Bahasa and tested for validity and reliability. Data questionnaires completed were analyzed. Results showed that peer support was positively correlated with QOL (p= 0.023; OR= 2.070), and also, family acceptance was significantly related to QOL (p= 0.001; OR= 2.766). Thus, peer support and family acceptance are important factors affecting the well-being and QOL of MSM living with HIV and ART. This finding can be used for the improvement of QOL in people living with HIV. Abstrak  Dukungan Sebaya dan Penerimaan Keluarga terhadap Kualitas Hidup Homoseksual dengan HIV dan Terapi Antiretroviral. Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan populasi yang berisiko terinfeksi HIV. Menilai kualitas hidup (QOL) pada LSL mungkin berbeda dari populasi lainnya. Penelitian ini merupakan analisis sekunder dari penelitian sebelumnya. Kami menguji apakah dukungan sebaya dan penerimaan keluarga berdampak pada kualitas hidup pada LSL dengan HIV dan ART (terapi antiretroviral). Sebanyak 175 responden dilibatkan dalam studi cross-sectional yang dilakukan melalui purposive sampling. Data kuesioner yang sudah terisi komplit, akan dilakukan analisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sebaya berhubungan positif dengan kualitas hidup (p= 0,023; OR= 2,070) dan juga penerimaan keluarga secara signifikan berhubungan dengan kualitas hidup (p= 0,001; OR= 2,766). Dengan demikian, dukungan sebaya dan penerimaan keluarga merupakan variabel penting yang mempengaruhi kesejahteraan dan kualitas hidup LSL yang hidup dengan HIV dan ART. Temuan ini dapat digunakan untuk peningkatan QOL pada orang dengan HIV. Kata Kunci: dukungan sebaya, HIV, kualitas hidup, penerimaan keluarga