Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implikasi Faktor Makroekonomi Terhadap Kinerja Sistem Perbankan Ganda Di Indonesia Jannatul Liutammima Musta’in; Faaza Fakhrunnas
BALANCE: Economic, Business, Management and Accounting Journal Vol 15, No 01 (2018)
Publisher : UMSurabaya Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/blc.v15i01.1286

Abstract

ABSTRACT  Since the implementation of Banking Regulation Number 10 year 1998, Indonesia has two banking systems that must be maintained and controlled, is conventional banking and Islamic banking. Indonesia as a developing country is very vulnerable to economic turmoil related to macroeconomic factors. The problematic crisis experienced by Indonesia in 1998 has been a proof of the weakness of the resilience of the banking system in Indonesia, especially in conventional banking. The condition of syariah banking in Indonesia which majority originated from the Islamic bank window has the potential to have a high degree of vulnerability during a crisis. Let's say in the management of liquidity management is still dependent on the parent company, namely conventional banking. If conventional banking is experiencing financial difficulties due to unfavorable macroeconomic conditions, then the management of subsidiaries' liquidity also has the possibility to be disturbed. Based on the results of data analysis that has been described previously shows that macroeconomic factors such as the interest rate of Bank Indonesia, inflation rate and GDP growth have a significant influence on the performance of banks both measured by the level of profit and risk. This shows that the banking industry in Indonesia should pay great attention to the dynamics of macroeconomic factors that are happening. This should be done by the bank to be able to respond appropriately to the macroeconomic conditions that are and will happen to the fore.Keywords                   : Macroeconomics, Dual Banking System, Panel Data EstimationCorrespondence to      : jannatul.mustain@ep.uad.ac.id, fakhrunnasfaaza@gmail.com ABSTRAK  Sejak diterapkannya Undang-Undang No.10 Tahun 1998, Indonesia memiliki dua sistem perbankan yang harus dijaga dan dikendalikan yakni perbankan konvensional serta perbankan syariah. Indonesia sebagai negara berkembang sangat rentan terhadap gejolak ekonomi terkait faktor makroekonomi. Problematika krisis yang dialami oleh Indonesia ditahun 1998 menjadi bukti terkait lemahnya daya tahan sistem perbankan di Indonesia, terutama pada perbankan konvensional. Kondisi perbankan syariah di Indonesia yang mayoritas berawal dari islamic bank window berpotensi untuk memiliki tingkat kerentanan yang tinggi ketika terjadi krisis. Misalkan saja dalam pengelolaan manajemen likuiditas yang masih bergantung kepada perusahan induk, yakni perbankan konvensional. Jika perbankan konvensional sedang mengalami kesulitan keuangan karena kondisi makro ekonomi yang kurang baik, maka manajemen likuditas anak perusahaan pun memiliki kemungkinan untuk terganggu. Berdasarkan hasil analisa data yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukan bahwa faktor makro ekonomi seperti tingkat suku bunga Bank Indonesia, tingkat inflasi dan pertumbuhan GDP memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perbankan baik diukur dengan tingkat keuntungan maupun resiko. Hal ini menunjukan bahwa industri perbankan di Indonesia harus memberikan perhatian yang besar terhadap dinamika faktor makro ekonomi yang sedang terjadi. Hal tersebut harus dilakukan oleh bank untuk dapat memberikan respon secara tepat terhadap kondisi ekonomi makro yang sedang dan akan terjadi kedepan.Kata Kunci                 : Makro Ekonomi, Sistem Perbankan Ganda, Estimasi Data PanelKorespondensi             : jannatul.mustain@ep.uad.ac.id, fakhrunnasfaaza@gmail.com
Analisis Determinan Ketimpangan Pendapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta Rifki Khoirudin; Jannatul Liutammima Musta’in
Tirtayasa Ekonomika Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : FEB Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35448/jte.v15i1.6407

Abstract

 Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu dari indikator keberhasilan pembangunan di setiap wilayah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi berdampak pada ketimpangan pendapatan. Ketimpangan pendapatan (income inequality) menjadi isu penting bagi pembangunan setiap negara. Masalah utama dalam distribusi pendapatan adalah terjadinya perbedaan di dalam distribusi pendapatan. Ketimpangan pendapatan merupakan tolok ukur dari distribusi pendapatan masyarakat dalam suatu daerah atau wilayah pada periode tertentu. Semakin tinggi ketimpangan pendapatan berarti distribusi pendapatan di masyarakat semakin tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, tingkat pengagguran, disentralisasi fiskal, dan upah minimun terhadap tingkat ketimpangan distribusi  pendapatan di DIY tahun 2012 – 2018. Metode analisis yang akan digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah dengan menggunakan model regresi data panel menggunakan data sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukan tingkat pengangguran terbuka dan upah minimum kabupaten/kota berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat ketimpangan distribusi  pendapatan, sementara pertmbuhan ekonomi dan desentraliasi fiskal tidak berpengaruh terhadap tingkat ketimpangan distribusi  pendapatan.