Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN EKONOMI FAKIR MISKIN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Dede Rodin
Economica: Jurnal Ekonomi Islam Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/economica.2015.6.1.787

Abstract

Kaum fakir dan miskin adalah dua kelompok kaum lemah (dhu’afa) yang banyak disebutkan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kedua kelompok tersebut umumnya dalam konteks bagaimana mengentaskan kemiskinan yang mereka hadapi. Dari telaah atas ayat-ayat Al-Qur’an tentang pemberdayaan fakir miskin diperoleh kesimpulan bahwa upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan kaum fakir dan miskin menurut Al-Qur’an terkait dengan  pemanfaatan dan distribusi harta. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang harta ada yang berupa perintah dan anjuran dan yang kedua berupa larangan. Dari dua ketentuan ini, Al-Quran menempuh beberapa model langkah untuk pemberdayaan fakir miskin, yaitu perintah bekerja, perintah memberi makanan pokok, perintah berinfak, perintah mengeluarkan zakat, pemberian dari sebagian harta warisan, pembagian ganimah dan fa’i, larangan monopoli (ihtikār) dan menimbun harta (iktināz). Beberapa model pemberdayaan di atas dapat dibagi menjadi dua kelompok; langkah-langkah yang bersifat struktural dan yang bersifat kultural. Langkah struktural lebih ditekankan kepada lembaga khusus yang menanganinya agar berjalan dengan baik, sedangkan langkah kultural lebih ditekankan pada individu, baik individu yang diharapkan menjadi salah satu subjek pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan kaum fakir dan miskin maupun yang menjadi objeknya. Pada langkah struktural maupun kultural, keterlibatan pemerintah sangat diperlukan, bahkan dipandang sebagai sebuah keniscayaan.
Reinterpretasi Kontroversi Kepemimpinan non-Muslim dalam Alquran Dede Rodin
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI
Publisher : Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.912 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2017.7.1.24-49

Abstract

This article aimed to explore several kinds of understanding and interpretation towards the Qur’anic idea on non-Muslim leadership. Some Muslim scholars’ respond would be a case of study to see their logical reason and their interpretation of the Qur’an on the issue of non-Muslim leadership. The study obtained the following conclusions: first, there are some gaps or perhaps a shifting paradigm between the classical idea of non-Muslim with the modern scholars. Those who lived in the modern times, to some extent, are holding an inclusive idea to allow non-Muslim be a leader in Muslim society. This is because they see that the command of the Qur’an to forbid non-Muslim to hold a leadership is limited to whom they are hostile to Islam and Muslims. Hence the act of banning should not be apllied in general. On the other hand, the historical context of the verse (sabab al-nuzûl) also suggests that the nuance of confrontation between Muslims and non-Muslims is part of the consisting code of conduct at that time, so that the verses above should be put into consideration if the conditions are in peace.