I Ketut Suparta
STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu

PENERAPAN KONSEP ASTA KOSALA KOSALI BUMI PADA ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL MASYARAKAT HINDU DI DESA KARYA MUKTI KECAMATAN DAMSOL KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH I Ketut Suparta
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 5 No 1 (2014): Widya Genitri
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep asta kosala kosali bumi merupakan peninggalan leluhur masyarakat Bali yang memiliki nilai-nilai luhur sebagai sebuah konsep rancang bangun arsitektur masyarakat Bali. Konsep asta kosala kosali bumi memuat perpaduan harmonis terhadap mikrokosmos dan makrokosmos, namun pada dimensi praktis-empirik bagi masyarakat Hindu Desa Karya Mukti Kecamatan Damsol Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah ternyata belum memahami konsep tersebut, penerapannya mengalami benturan terutama pada pemberlakuan aturan-aturan desain. Hal tersebut memunculkan permasalahan yaitu apa esensi konsep asta kosala kosali bumi bagi masyarakat Hindu Desa Karya Mukti dan bagaimana penerapan konsep asta kosala kosali bumi pada arsitektur rumah tinggalnya. Setelah dilaksanakan penelitian diperoleh hasil bahwa masyarakat Hindu Desa Karya Mukti Kecamatan Damsol Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah belum memaknai secara mendalam dan benar berdasarkan keilmuan arsitektur, dimaknai sebagai konsep yang penting dalam pembangunan rumah tinggal belum mendalam pula, terdapat kebingungan dalam memaknai konsep asta kosala kosali bumi sebagai adat Bali atau agama Hindu, namun sudah dimaknai sebagai konsep rumah tinggal untuk menciptakan kenyamanan skala dan niskala. Penerapan konsep asta kosala kosali bumi pada arsitektur rumah tinggal masyarakat Hindu Desa karya Mukti, keberadaannya dirasakan melalui tingkat kenyamanan rumah, asta kosala kosali bumi efektif dalam pembangunan rumah tinggal, penerapan asta kosala kosali bumi tidak secara total tetapi masih sebatas pelaksanaan tata upacara dan penerapan ornamentasi atau lebih bersifat situasional, dalam menjamin hubungan masyarakat terhadap kelestarian konsep asta kosala kosali Bumi masih terjadi pertentangan terhadap penting tidaknya disosialisasikan kepada seluruh masyarakat Desa Karya Mukti maupun pemerintah desa.
FILSAFAT SAMKHYA AJARAN DINAMISME DALAM HINDU I K. Suparta
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 6 No 2 (2015): Widya Genitri
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep Ke-Tuhanan dalam Hindu merupakan bagian intisari dari ajaran Hindu itu sendiri. Keyakinan pada agama didasarkan pada pandangan kebenaran yang dimiliki oleh manusia. Semakin luas pandangan seseorang terhadap kebenaran semakin kuat keyakinan seseorang. Pandangan Samkhya bagian dari agama Hindu yang memperkuat teologi Hindu. Samkhya sebagai suplemen ke-Tuhanan dalam Hindu lebih bersifat Nir-Iswara tetapi tetap mengakui keberadaan Tuhan, Tuhan di transleter keberbagai bentuk kekuatan alam. Pandangan Samkhya mengajarkan umat Hindu untuk meyakinkan adanya kekuatan-kekuatan alam baik yang berwujud maupun tidak berwujud atau Tuhan sebagai super natural power ( kekuatan alam yang maha tinggi).
DAMPAK TERORISME BAGI MASYARAKAT HINDU DI DESA CATUR KARYA KECAMATAN BALINGGI KABUPATEN PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH IK Suparta
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 8 No 1 (2017): Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.479 KB) | DOI: 10.36417/widyagenitri.v8i1.213

Abstract

Konflik merupakan sesuatu yang menakutkan dan konflik sebagai sesuatu yang terjadi akibat adanya pertentangan. Konflik tersurat di dalam ajaran Agama Hindu dalam hukum Rta yang dikenal dengan istilah Rwabhineda. Konflik jika dimanajemen dengan baik dapat berguna untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran yang terpendam oleh keadaan harmoni semu. Sebagaimana yang terjadi di Desa Catur Karya Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah telah terjadi konflik akibat terorisme. Dengan adanya konflik teroris di desa tersebut menimbulkan permasalahan yaitu apa dampak terorisme bagi masyarakat Hindu di Desa Catur Karya Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi moutong?. Setelah dilaksanakan penelitian diperoleh hasil bahwa dampak terorisme bagi masyarakat Hindu di Desa Catur Karya yaitu Dampak negatif meliputi kerusakan fisik, kerusakan mental, kerusakan sosial budaya, kerusakan sektor ekonomi, kerusakan sektor pariwisata. Dampak positif sebagaimana masyarakat merefleksikan dirinya terhadap tindakan teror yang dilakukan terorisme meliputi: peningkatan Sraddha Bhakti, peningkatan kesadaran pentingnya organisasi keagamaan Hindu, meningkatnya kesadaran partisipasi masyarakat dalam kegiatan politik lokal, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengamanan swakarsa, peningkatan solidaritas antar anggota masyarakat dan peningkatan daya filterisasi informasi masyarakat.
PERSPEKTIF RADIKALISME DAN DERADIKALISASI DALAM BHAGAWAD GITA IK. Suparta
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 9 No 2 (2018): Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.659 KB) | DOI: 10.36417/widyagenitri.v9i2.238

Abstract

Bangsa Indonesia dekade ini mengalami disharmonis kehidupan keagamaan dan bernegara yang ditimbulkan oleh adanya gerakan radikal.Munculnya ide mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi lainnya semakin nyata terlihat dengan fakta keberadaan terorisme dan berkembangnya paham radikal keagamaan.Bhagawad Gita sebagai pedoman hidup Agama Hindu memberikan pandangan tentang radikalisme dan deradikalisasi.Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui perspektif radikalisme dan deradikalisasi dalam Bhagawad Gita.Artikel konseptual didasarkan pada penelusuran kepustakaan yang berkaitan dengan radikalisme dan deradikalisasi dalam Bhagawad Gita.Secara konseptual perspektif radikalisme dalam Bhagawad Gita menguraikan bahwa radikalisme sebagai kewajiban seorang kesatriya, radikalisme pembentukan disiplin diri dan radikalisme pendakian spiritual.Perspektif deradikalisasi dalam Bhagawad Gita yaitu usaha untuk mereduksi radikalisme dengan pemahaman terhadappengetahuan yang benar tentangkonsep perubahan dan kekekalan, konsepSwadharma dan Paradharma, konsep keterikatan dan kebebasan serta konsep keanekaragaman dan kesatuan.
POLA ADAPTASI PELAKU KONVERSI AGAMA DARI NON HINDU KE HINDU MELALUI PERKAWINAN Gusti Ayu Satiawati; I Ketut Suparta; Ni Ketut Ratini
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 12 No 2 (2021): Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36417/widyagenitri.v12i2.338

Abstract

Pelaku konversi agama memiliki pemahaman dan pengetahuan yang kurang dibandingkan dengan umat yang memang sejak lahir beragama Hindu. Namun beberapa pelaku konversi agama lebih memiliki pemahaman dan pengetahuan dari segi bebantenan. Pelaku terlihat aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keteguhan melaksanakan ajaran Agama Hindu. Pokok permasalahan:(1)Bagaimanakah pola adaptasi pelaku konversi agama dari non Hindu ke Hindu melalui perkawinan di Kota Palu?. (2)Apakah strategi yang digunakan oleh pelaku konversi agama non Hindu melalui perkawinan di Kota Palu?. Tujuan dari penelitian ini yaitu:(1)Untuk mengetahui pola adaptasi pelaku konversi.(2) Untuk mengetahui Strategi pelaku konversi Agama. Metode pengumpulan data observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan: Reduksi data, model data, penarikan dan verifikasi kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa: Pola adaptasi pelaku konversi agama dari non Hindu ke Hindu melalui perkawinan di Kota Palu yaitu: (1)Melakukan Sudhiwadani, (2)kesulitan dalam memahami tatacara hindu, (3)berusaha tidak menyerah, (4)melakukan upaya penyesuaian, (5)Mampu melaksanakan ritual agama. Sedangkan strategi yang digunakan pelaku yaitu: (1)belajar dari buku, (2)belajar dari mertua dan suami, (3)belajar dari lingkungan, (4)belajar ritual agama, (5)belajar dari media sosial.
FENOMENA PERKAWINAN MEKEDENG NGAD PADAMASYARAKAT HINDU Di kecamatan mepanga (Studi Kasus) Putu Seni jayanti; I Ketut Suparta; Ni Ketut Ratini
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 11 No 3 (2020): Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36417/widyagenitri.v11i3.339

Abstract

Perkawinan adalah ikatan lahir batin yang bertujuan membangun keluarga yang harmonis dan melanjutkan keturunan.Namun berbeda dengan perkawinan mekedeng ngad yang dapat menimbulkan penderitaan di Kecamatan Mepanga.Dalam penelitian ini ada masalahyaitu : (1) Bagaimanakah pemahaman Masyarakat Hindu mengenai perkawinan mekedeng ngad di Kecamatan Mepanga ?. (2) Apakah faktor yang mempengaruhi adanya perkawinan mekedeng ngad pada Masyarakat Hindu di Kecamatan Mepanga ?. Tujuanpenelitian ini yaitu: (1) Untuk mengetahui pemahaman Masyarakat Hindu mengenai perkawinan mekedeng ngad di Kecamatan Mepanga. (2) Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perkawinan mekedeng ngad pada Masyarakat Hindu di Kecamatan Mepanga. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Teori yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu teori fenomenologi dan terori fungsionalisme struktural.Teknik wawancara yang digunakan ada dua yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur.Teknik penentuan informan yaitu teknik purposive sampling.Metodepengumpulan data adalah reduksi data, display/penyajian, verifikasi atau penyimpulan.Disimpulkan berdasarkan penelitian: pemahaman Masyarakat Hindu mengenai perkawinan mekedeng ngad di Kecamatan Mepanga meliputi a) perkawinan yang dihindari, b) perkawinan sistem barter, c) perkawinan yang mendatangkan penderitaan. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan mekedeng ngad di Kecamatan Mepanga Kabupaten Parigi Moutong meliputi: a) faktor kenakalan remaja, b) faktor kurangnya sosialisasi, c) faktor tradisi perkawinan dalam keluarga.
PEMAHAMAN MASYARAKAT HINDU TERHADAP UPACARA MEGEDONG-GEDONGAN DI DESA KAYU CALLA KECAMATAN KAROSSA KABUPATEN MAMUJU TENGAH PROVINSI SULAWESI BARAT I Ketut Subadi; I Ketut Suparta; I Wayan Mudita
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 12 No 3 (2021): Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36417/widyagenitri.v12i3.359

Abstract

Upacara megedong-gedongan adalah upacara bayi dalam kandungan yang disucikan oleh umat Hindu. Masyarakat Hindu di Desa Kayu Calla Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah sebagian besar masyarakatnya tidak melaksanakan upacara megedong-gedongan tersebut. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah pemahaman masyarakat Hindu terhadap upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat ?, 2. Apakah faktor penyebab masyarakat Hindu tidak melaksanakan upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat ?. Secara khusus tujuan diadakan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pemahaman masyarakat Hindu terhadap upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat. 2. Untuk mengetahui faktor penyebab masyarakat Hindu tidak melaksanakan upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persepsi dan teori perubahan social. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan objek penelitiannya pemahaman masyarakat Hindu terhadap upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Analisis data yang digunakanpenelitianinireduksi data, penyajian data, penarikan dan vrifikasi kesimpulan. Dari penelitian yang telah dilakukan menunjukan hasil yaitu : 1. Pemahaman masyarakat Hindu terhadap upacara megedong-gedongan di DesaKayu Calla yaitu: a) Upacara pembersihan terhadap janin yang masih berada dalam kandungan b) Upacara janin dalam kandungan agar janin mendapatkan berkah, dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, 2. Faktor penyebab masyarakat Hindu tidak melaksanakan upacara megedong-gedongan di Desa Kayu Calla adalah: a) Masyarakat tidak terbiasa melaksanakan upacara megedong-gedongan karena faktor orang tua yang tidak pernah melaksanakan pada saat masih tinggal di bali, b)Kurangnya pengetahuan masyarakat Hindu terhadap upacara megedong-gedongan, c)Kurangnya pembinaan dari tokoh-tokoh umat kepada masyarakat Hindu di Desa Kayu Calla.
PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT DAN AGAMA HINDU TERHADAP RADIKALISME IK Suparta; Ni Nyoman Mastiningsih
Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu Vol 13 No 1 (2022): Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu
Publisher : STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36417/widyagenitri.v13i1.448

Abstract

Berbagai peristiwa kekerasan mengatasnamakan agama bermunculan di daerah-daerah seperti di provinsi Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah merupakan provinsi intoleran nomor Dua tingkat nasional. Berdasarkan fakta inilah peneliti merasa tertarik untuk mengangkat penelitian tentang persepsi tokoh masyarakat dan Agama Hindu di Kota Palu terhadap radikalisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi tokoh masyarakat dan Agama Hindu terhadap radikalisme dan upaya pencegahan terhadap berkembangnya paham tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode pengambilan data sekunder dan primer dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan penelusuran kepustakaan. Untuk mendapatkan informan ditentukan secara teknik purposive. Analisis datanya dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, kesimpulan dapat diambil setelah proses analisis deskriptif kualitatif dilakukan dan kemudian dilengkapi dengan beberapa penjelasan termasuk argumentasi. Berdasarkan penelitian maka hasil yang diperoleh bahwa persepsi Tokoh masyarakat dan Agama Hindu yaitu :1) Radikalisme merupakan paham yang menggunakan kekerasan. 2) Radikalisme merupakan paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila, intoleransi, berdampak negatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta melawan hukum. 3) Ide radikalisme lebih berbahaya dari tindakan. 4) Organisasi Massa (Ormas) Hindu di Kota Palu belum ada yang terpapar radikalisme. 5) Radikalisme terjadi tidak hanya pada tingkatan organisasi besar tetapi juga ada pada tingkatan keluarga. Upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran Radikalisme di Kota Palu meliputi: 1) Meningkatkan pembinaan kepada masyarakat Hindu. 2) Peningkatan pendidikan karakter pada pendidikan formal, informal maupun non formal. 3) Peningkatan keterampilan bagi para pemuda. 4) Peningkatan Kepekaan Sosial. 5) Penegakan Hukum yang adil. 6) Peningkatan pengawasan beredarnya buku pembelajaran yang mengandung nilai-nilai radikalisme.7) Peningkatan kehidupan keluarga yang harmonis dan 8) Perlunya filterisasi informasi. Dengan demikian berbahayanya penyebaran radikalisme di lingkungan masyarakat, menjadi kewajiban setiap warga negara untuk melakukan deradikalisasi.