Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

INKUBATOR BAYI BERBASIS MIKROKONTROLER DILENGKAPI SISTEM TELEMETRI MELALUI JARINGAN RS 485 Roni Wijaya; Fransiscus Dalu Setiaji; Daniel Santoso
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 12 No. 01 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.323 KB)

Abstract

Saat ini angka kematian bayi di Indonesia tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya adalah tidak meratanya penyebaran inkubator bayi yang fasilitasnya lengkap, karena harganya mahal. Penelitian ini bertujuan merancang dan merealisasikan sebuah inkubator bayi yang memiliki fasilitas lebih baik dibandingkan dengan inkubator sederhana yang dijual di pasaran, dengan harga yang tetap terjangkau. Pada penelitian ini digunakan elemen pemanas listrik sebagai sumber panas, AVR ATmega 8535 sebagai pengendali serta sensor suhu dan kelembaban SHT 11. Metode pengendalian elemen pemanas yang digunakan adalah metode on – off dengan histeresis. Suhu ruang inkubator dapat diatur oleh pengguna antara 28°C – 37°C. Inkubator dilengkapi penanda saat terjadi kesalahan pada salah satu fungsi inkubator. Sistem telemetri berbasis RS 485 juga diimplementasikan pada inkubator ini, sehingga suhu dan kelembaban ruang inkubator dapat dipantau melalui sebuah komputer dari jarak jauh. Hasil pengujian menunjukkan suhu ruang inkubator dapat dijaga stabil pada kisaran 28°C – 37°C ralat maksimal 1°C. Program aplikasi antarmuka sistem telemetri dapat mengirimkan perintah permintaan data pada inkubator setiap 30 detik kemudian data logger akan mencatat data hasil pengukuran yang diterima dari inkubator setiap lima menit sekali.
PEMANFAATAN PANAS BUANG PENGKONDISI UDARA SEBAGAI PEMANAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN PENUKAR PANAS HELIKAL Daniel Santoso; Fransiscus Dalu Setiaji
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 12 No. 02 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2827.347 KB)

Abstract

Pada penelitian ini telah direalisasikan sistem pemanas air yang memanfaatkan panas buang pengkondisi udara. Sistem serupa pernah direalisasikan dengan memasang penukar panas yang disisipkan di antara kompresor dan kondensor, menggunakan penukar panas berbentuk pipa vertikal dari tembaga. Sedangkan pada penelitian ini, digunakan penukar panas helikal berdimensi setara dengan penukar panas pipa vertikal yang digunakan pada penelitian sebelumnya. Hasil pengujian menunjukkan penukar panas helikal yang dibuat memiliki koefisien penukar panas yang 9% lebih besar dibandingkan penukar panas pipa vertikal.
Perancangan Alas Setrika Sebagai Pengisi Baterai (Battery Charger) dengan Memanfaatkan Energi Panas Terbuang pada Saat Jeda Menyetrika Tri Wahyu Yulianingrum; F. Dalu Setiaji; Lukas B. Setyawan
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 14 No. 02 (2015)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.574 KB) | DOI: 10.31358/techne.v14i02.131

Abstract

Pada makalah ini dirancang suatu alas setrika yang akan mengubah energi panas setrika yang terbuang saat jeda menyetrika, menjadi energi listrik menggunakan modul TEG (Thermoelectric Generator) yang selanjutnya akan digunakan untuk mengisi sebuah baterai.
PENGUAT AUDIO KELAS D TANPA TAPIS LC DENGAN MODULASI TIGA ARAS Suryo Santoso; Fransiscus Dalu Setiaji; Matias H.W. Budhiantho
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 12 No. 01 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4944.745 KB)

Abstract

Penguat audio kelas D pada umumnya menggunakan tapis LC pada bagian keluarannya. Tapis LC mempunyai ukuran yang relatif besar sehingga sulit digunakan pada perangkat portabel berukuran kecil, misalnya telepon selular. Oleh karena itu, dikembangkan penguat audio kelas D tanpa tapis LC dengan modulasi tiga aras keluaran. Teknik modulasi dengan tiga aras keluaran yang dipakai dalam perancangan ini adalah noise-shaping coding. Noiseshaping coding merupakan pengembangan dari teknik modulasi sigma delta. Bagian keluaran penguat kelas D ini diwujudkan dengan penguat jembatan penuh (full-bridge) dengan MOSFET yang keluarannya dapat langsung dihubungkan ke penyuara. Berdasarkan hasil pengukuran, penguat kelas D yang telah dibuat mempunyai spesifikasi: daya keluaran maksimum 7 Watt pada beban 4 Ohm, tanggapan frekuensi 20 Hz – 20 kHz dengan riak 0,5 dB, SNR = 28,88 dB, THD < 0,976%, efisiensi 65,03%, keduanya diukur pada saat daya keluaran maksimum (7W).
PENYEREMPAK PENUNJUKWAKTU BERDASARKAN GMT SECARA NIRKABEL Fransiscus Dalu Setiaji; Darmawan Utomo
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 10 No. 02 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.174 KB)

Abstract

Adanya perbedaan waktu yang ditampilkan sejumlah penunjuk waktu yang dipasang dalam lingkup suatu instansi, misalnya pada sejumlah jam dinding yang terdapat di lingkungan kampus UKSW Salatiga, dapat menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh, keterlambatan mahasiswa, dosen, maupun pegawai salah satunya disebabkan karena mereka mengacu pada jam yang berbeda-beda. Untuk mengatasi permasalahan ini, pada makalah ini direalisasikan suatu penyerempak penunjuk waktu dengan acuan Greenwich Mean Time (GMT). Sistem penyerempak terdiri atas modul master clock dan slave clock yang dihubungkan secara nirkabel. Master clock yang berfungsi sebagai pengendali utama akan menerima data waktu dan tanggal dari GMT dengan menggunakan Global Position System (GPS) receiver. Selanjutnya Master clock mengirimkan data tersebut ke slave clock. Slave clock yang berfungsi sebagai penerima data waktu dan tanggal dari master clock akan menampilkan data tersebut pada modul penampil dot matrix yang berukuran 60cm x 30cm x10cm yang masih terlihat jelas dari jarak 10 meter. Pada pengujian, modul master clock ditempatkan pada gedung perpustakaan lantai tujuh sedangkan modul slave clock ditempatkan pada tiap gedung dalam lingkup kampus. Jarak maksimum antara master clock dan slave clock yaitu 120 meter. Pada saat cuaca terang master clock dapat menerima data dari satelit dalam waktu sekitar 39 detik, dan pada saat hujan sekitar 1 menit 22 detik. Halangan berupa gedung bertingkat dengan kondisi tembok yang tebalnya lebih dari 30 cm akan mengganggu ketepatan pengiriman data dari master clock ke slave clock.
Penguat Audio Kelas D Dengan Umpan Balik Tipe Butterworth Setiaji, Franciscus Dalu; Pragustha, Tio; Dewantoro, Gunawan
JURNAL NASIONAL TEKNIK ELEKTRO Vol 5, No 1: Maret 2016
Publisher : Jurusan Teknik Elektro Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jnte.v5n1.178.2016

Abstract

A class D amplifier would, in ideal sense, amplify signals without any noises and distortions which yield 100% efficiency and 0% Total Harmonic Distortion (THD). However, class D amplifiers have some drawbacks that lead to nonlinearity and increasing THD. Therefore, a feedback mechanism was employed to enhance THD performance of amplifier. Some feedback techniques have been using first order filter in the feedback path to retrieve audio signals. This research proposed a second order filter with Butterworth approach. A power amplifier was realized using full-bridge amplifier with MOSFETs to provide greater power. This class D amplifier was designed to meet following specifications: maximum output power up to 32.6 W with an 8 Ω load, sensitivity of 90 mV/W, frequency response ranging from 20 Hz – 20 kHz with tolerance ± 1 dB, THD as low as 1.1 %, SNR up to 90.16 dB, and efficiency of 82.1%.    Keywords : Class D Amplifier, Feedback, Butterworth, Total Harmonic Distortion                                                                                    Abstrak—Proses penguatan sinyal pada penguat kelas D idealnya tidak terdapat derau dan distorsi sehingga penguat kelas D dapat menghasilkan efisiensi hingga 100 % dan THD (Total Harmonic Distortion) 0%. Namun pada praktisnya, penguat kelas D memiliki beberapa kekurangan yang menyebabkan keluaran penguat kelas D menjadi tidak linear sehingga mengakibatkan naiknya THD. Oleh karena permasalahan tersebut, diberikan sutau mekanisme umpan balik negatif yang dapat memperbaiki kualitas THD dari penguat. Beberapa teknik umpan balik negatif menggunakan tapis orde 1 pada umpan balik untuk mendapatkan frekuensi audio. Penelitian ini merancang teknik umpan balik negatif menggunakan tapis orde 2 dengan pendekatan Butterworth. Penguat daya diwujudkan menggunakan penguat jembatan penuh dengan MOSFET yang dapat menghasilkan daya lebih besar. Penguat kelas D yang dibuat mempunyai spesifikasi antara lain: daya keluaran maksimum mencapai 32,6 Watt pada beban 8 Ω, dengan kepekaan penguat 90 mV/W, memiliki tanggapan frekuensi 20 Hz – 20 kHz dengan toleransi ± 1 dB, THD dengan umpan balik mencapai 1,1 % , SNR hingga 90,16 dB serta efisiensi penguat mencapai 82,1%.                                                       Kata Kunci : Penguat Kelas D, Umpan Balik, Butterworth, Total Harmonic Distortion
PENGATUR INTENSITAS LAMPU PHILIPS MASTER LED SECARA NIRKABEL Fransiscus Dalu Setiaji; Daniel Santoso
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 11 No. 02 (2012)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.575 KB)

Abstract

Teknologi lampu Light Emitting Diode (LED) terus berkembang karena penggunaannya yang hemat energi, umur lampu panjang, radiasi panas rendah, dan tahan terhadap guncangan. Pada makalah ini dirancang alat yang dapat mengatur 10 tingkat kecerahan lampu Philips Master LED secara nirkabel menggunakan remote control. Alat juga dilengkapi detektor infra merah untuk mendeteksi keberadaan orang. Lampu akan mati secara otomatis jika selama tiga menit tidak ada orang di dalam ruangan. Jika ada orang lagi, maka lampu akan otomatis menyala sesuai tingkat intensitas terakhir yang dipilih. Alat sudah berhasil diuji di ruangan dengan ukuran lantai 3m3m dan 4m4m, dan lampu diletakkan di ketinggian 2,8 meter.
Gain Minimum untuk Menjaga Stabilitas Non-inverting Amplifier Op Amp yang Berbeban Kapasitif Dalu Setiaji, F.
Jurnal Teknik Elektro Vol 5, No 1 (2005): MARET 2005
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.346 KB) | DOI: 10.9744/jte.5.1.

Abstract

Non-inverting amplifier is one of the two basic operational amplifier (op amp) circuits. In this type of amplifier product between close loop gain at zero hertz (ADC) and bandwidth (BW) will be constant and equal to unity-gain frequency (ft). A capacitive load (CL) together with op amp output resistance (R0) will create a new pole at frequency fp, thus modifying frequency response of the amplifier. If ft greater than fp , a non-inverting amplifier might become unstable by having a high overshoot on its step response. One of the references used in this paper stated that the amplifier will be stable if ADC equal or greater than 10.(fp/ft). This paper explains that we can choose ADC much lower than 10.(fp/ft) while maintaining a relatively stable non-inverting amplifier. This conclusion agrees with simulation and measurement results. Abstract in Bahasa Indonesia : Non-inverting amplifier merupakan salah satu konfigurasi dasar amplifier berbasis op amp. Pada amplifier ini, hasil perkalian antara close loop gain pada frekuensi nol (ADC) dengan bandwidth (BW) akan bernilai konstan yaitu sebesar unity-gain frequency (ft) op amp yang dipakai. Sebuah beban kapasitif pada non-inverting amplifier bersama hambatan keluaran op amp (Ro) akan menciptakan satu kutub (pole) tambahan (fp) yang memodifikasi respon frekuensi amplifier. Apabila fp lebih kecil daripada ft maka amplifier dapat menjadi tidak stabil, yang ditunjukkan dengan adanya overshoot pada step response keluaran. Salah satu acuan yang dipakai menyatakan bahwa amplifier akan mencapai kestabilan bila dipenuhi nilai ADC minimal (ADCmin) sebesar 10.(ft/fp). Makalah ini menjelaskan bahwa kita dapat memilih ADC yang jauh lebih kecil dibandingkan 10.(ft/fp) dengan tetap mempertahankan kestabilan relatif non-inverting amplifier. Kesimpulan ini didukung oleh hasil simulasi perangkat-lunak dan pengujian amplifier secara riil. Kata kunci: Non-inverting amplifier, beban kapasitif, kestabilan, gain minimum.
MODUL LAMPU LED YANG DICATU OLEH SEL SURYA Fransiscus Dalu Setiaji; Diestha Djati Purnomo; Deddy Susilo
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 9 No. 01 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.022 KB)

Abstract

Makalah ini membahas tentang perancangan dan pembuatan sebuah perangkat penerangan ruangan menggunakan modul lampu LED yang dibuat dari sejumlah LED, yang dicatu sel surya. Modul lampu LED (Light-Emitting Diode) yang dibuat dibandingkan unjuk kerjanya dengan lampu pijar dan lampu CFL (compact fluorescents lamp). Orientasi sel surya dapat diatur secara manual (pasif), atau secara otomatis (aktif) menyesuaikan pergerakan matahari, untuk mendapatkan energi cahaya yang maksimal. Hasil pengujian menunjukkan modul lampu LED yang dibuat, pancarannya relatif terfokus dibandingkan lampu pijar dan lampu CFL. Sedangkan pengaturan sel surya secara aktif mampu memberikan peningkatan energi listrik yang disimpan aki sebesar 24% dalam rentang waktu pengujian 10 hari, dibandingkan dengan menggunakan pengaturan pasif.
Analisis dan Pengukuran Rangkaian Pengisi Baterai pada Beberapa Produk Lampu Baca Fransiscus Dalu Setiaji
Techné : Jurnal Ilmiah Elektroteknika Vol. 18 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.19 KB) | DOI: 10.31358/techne.v18i01.186

Abstract

Produk lampu baca yang dilengkapi dengan baterai yang bisa diisi ulang dapat membantu penggunanya untuk membaca pada saat listrik padam. Terdapat banyak jenis produk lampu baca yang beredar, termasuk di antaranya yang belum memiliki tanda SNI (Standar Nasional Indonesia), seperti empat jenis produk yang diteliti pada makalah ini. Penelitian difokuskan pada bagian pengisi baterai (charger) yang merupakan bagian utama produk tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengisian yang digunakan adalah float charging, karena baterai terus diisi dalam kondisi penuh. Namun arus pengisian yang digunakan terlalu besar masih dan memiliki riak (ripple) yang signifikan. Padahal kedua faktor tersebut akan memperpendek umur baterai, seperti yang dialami empat dari 12 baterai yang diteliti. Baterai rusak tersebut tidak bisa diisi lagi, atau bersifat hubung buka, setelah digunakan selama tiga bulan. Kerusakan baterai ternyata membuat komponen lain pada charger menjadi rusak yaitu kapasitor perata arus, akibat mendapatkan tegangan berlebih dan indikator pengisian baterai, karena mendapat arus berlebih.