Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

CHARACTERIZING OF ONGGOK FLOUR USING THREE DIFFERENT DRYING METHODS Sari, Marinda; -, Warji; Novita, Dwi Dian; -, Tamrin
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.916 KB)

Abstract

The processing of cassava becoming tapioca flour will produce solid fiber waste called as onggok.  Onggok can be used as raw material for making onggok flour.  One of the processing steps on the producing of onggok flour is drying.  In common practice, solar dryer is used but it takes long time and strongly depends on weather.  The hybrid dryer (solar electrical energy), solar radiation dryer, and electrical dryer would be used in this research.  The aims of this study were to determine and to compare whiteness degree, the degree of acidity (pH), and the characteristics of onggok flour (color and aroma) and its organoleptic justification of onggok flour dryed by the three different drying methods.  The results showed that drying process under solar radiation dryer produced onggok flour at better color compared with the others, drying process using electrical dryer produced onggok flour at better aroma compared with the others, the best product based on organoleptic tests was onggok  flour dried by electrical dryer with color criteria a little white, the aroma criteria slightly cassava aromaed, and overall acceptance a bit like. Keywords: Onggok flour, drying, aroma, flour color
Penentuan Pola Peningkatan Kekerasan Kulit Buah Manggis Selama Penyimpanan Dingin Dengan Metode NIR Spectroscopy Dwi Dian Novita; Usman Ahmad; Sutrisno .; I Wayan Budiastra
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.917 KB) | DOI: 10.19028/jtep.025.1.%p

Abstract

Abstract Pericarp hardening of mangosteen fruit has correlation with the decrease in moisture content due to transpiration and respiration during storage.  The change of pericarp moisture content during storage may be determined nondestructively using near infrared (NIR) spectroscopy. The objectives of this study were to build calibration model of NIR reflectance to predict the moisture content of the pericarp, and to determine the pattern of pericarp hardening based on change of moisture content during storage using NIR reflectance. NIR reflectance spectra were obtained from fruits stored at 8ºC, 13ºC, and room temperature.  Calibrations were built using partial least squares (PLS) and artificial neural network (ANN) models.  Results of analysis indicated that pericarp moisture content could be predicted well by NIR reflectance using the calibration model of PLS for mangosteen stored at 8ºC, 13ºC, and room temperature. The pattern of pericarp hardening based on change of moisture content also could be determined using NIR reflectance for mangosteen stored at 13ºC and room temperature. Keywords : mangosteen fruit, pericarp hardening, moisture content NIR spectroscopy, PLS, ANN Abstrak Pengerasan kulit buah manggis memiliki korelasi dengan penurunan kadar air kulit buah akibat dari proses transpirasi dan respirasi buah selama penyimpanan. Perubahan kadar air kulit buah selama penyimpanan bisa ditentukan secara non-destutive dengan menggunakan near infrared (NIR) spectroscopy. Tujuan penelitian ini adalah menyusun model kalibrasi reflektan NIR untuk memprediksi kadar air kulit buah manggis, serta untuk menentukan model pengerasan kulit buah berdasarkan perubahan kadar air selama penyimpanan menggunakan reflektan NIR. Spektra reflektan NIR diambil dari buah manggis yang disimpan pada suhu 8oC, 13oC dan suhu ruang. Kalibrasi dibangun dengan menggunakan model partial least squares (PLS) dan artificial neural network (ANN). Hasil analisis mengindikasikan bahwa kadar air kulit buah dapat diprediksi secara baik dengan reflektan NIR menggunakan model kalibrasi PLS untuk buah manggis yang disimpan pada suhu 8oC, 13oC dan suhu ruang. Model pengerasan kulit buah berdasarkan perubahan kadar airnya juga dapat ditentukan dengan reflektan NIR untuk buah manggis yang disimpan pada suhu 13oC dan suhu ruang. Kata kunci : buah manggis, pengerasan kulit, NIR spectroscopy, PLS, ANNDiterima: 19 Oktober 2010; Disetujui: 10 Maret 2011  
PENGARUH KONSENTRASI KARAGENAN DAN GLISEROLTERHADAP PERUBAHAN FISIK DAN KANDUNGAN KIMIA BUAH JAMBU BIJI VARIETAS “KRISTAL” SELAMA PENYIMPANAN Dwi Dian Novita
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.25 KB)

Abstract

Aplikasi edible coating berfungsi untuk menggantikan lapisan lilin alami pada buah yang hilang akibat penanganan pascapanen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi karagenan dan gliserol dalam larutan edible coating terhadap perubahan fisik dan kandungan kimia buah jambu kristal selama penyimpanan.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial.  Faktor pertama adalah konsentrasi karagenan yang terdiri dari 5 level yaitu 1% (b/v), 1,5% (b/v), 2% (b/v), 2,5 (b/v) dan 3% (b/v).  Faktor kedua adalah konsentrasi gliserol yang terdiri dari 2 level yaitu 1% (v/v) dan 2% (v/v). Hasil analisis sidik ragam pada taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi karagenan dan gliserol hanya berpengaruh nyata terhadap 3 parameter yaitu susut bobot, kekerasan, dan total asam buah jambu kristal.  Perlakuan K5G2 (konsentrasi karagenan 3% dan gliserol 2%) adalah yang terbaik pada penelitian ini.  Perlakuan edible coating dapat menekan perubahan susut bobot dan kekerasan buah serta mempertahankan kandungan total asam pada buah jambu kristal selama penyimpanan. Kata kunci:  jambu kristal, edible coating, karagenan, gliserol.
ANALISIS EKONOMI ALAT PENGERING BIJI KAKAO TIPE BAK SISTEM PENGHEMBUS UDARA PANAS (STUDI KASUS DI DESA PENENGAHAN KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN PROVINSI LAMPUNG) Damanta, Thareh Kemal; Asmara, Sandi; Novita, Dwi Dian; Tamrin, Tamrin
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.565 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i1.106

Abstract

Kakao adalah salah satu komoditas pertanian andalan dengan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Mutu biji kakao sangat dipengaruhi oleh kondisi kakao dan cara pengolahannya, salah satunya yaitu pengeringan. Alternatif proses pengeringan biji kakao yang dapat digunakan yaitu pengering tipe bak. Kelebihan dari alat ini yaitu waktu penjemuran lebih singkat, tidak memerlukan banyak tenaga kerja, suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur sesuai keinginan, dan kebersihan dapat diawasi sebaik-baiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keuntungan/ pendapatan per tahun yang akan diperoleh dan untuk mengetahui nilai kelayakan ekonomi dari alat pengering biji kakao tipe bak sistem penghembus udara panas di Desa Penengahan, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Mei 2018 di Desa Penengahan, Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Data-data yang diperlukan dalam melakukan analisis ekonomi ini diperoleh dari data kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif, hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Data kuantitatif diperoleh dengan mewawancarai secara langsung petani pemilik alat menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) sebagai alat bantu pengumpulan data. Sedangkan data kualitatif diperoleh dengan melakukan pengamatan atau pengukuran langsung di lapangan. Data-data tersebut diisi kedalam tabel yang sesuai dengan data dan rincian biaya yang telah dikeluarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan per tahun dari usaha pengeringan ini yaitu sebesar Rp 42.242.668,01/tahun, dan dinilai layak secara finansial yang ditunjukkan dengan nilai NPV (Rp 165.318.779,07/tahun) bernilai positif, B/C Ratio (1,07) > (1), dan IRR (554,36%) > suku bunga bank (7%). Berdasarkan analisis sensitivitas, perubahan terhadap kenaikan biaya produksi, penurunan penerimaan, dan penurunan jam kerja alat menunjukkan bahwa usaha pengeringan biji kakao tetap layak untuk dilakukan.
Pengaruh Hot Water Treatment (HWT) dan Perlakuan Pelilinan Dengan Ekstrak Jahe Terhadap Umur Simpan Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Cicih Sugianti; Dwi Dian Novita; Diana Mustika
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 12, No 1 (2018): TEKNOTAN, April 2018
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3064.638 KB) | DOI: 10.24198/jt.vol12n1.5

Abstract

Penyakit antraknosa salah satu penyakit penting pada tanaman cabai yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Hot water treatment (HWT) merupakan salah satu teknologi yang dapat diterapkan dalam penanganan pascapanen untuk menekan perkembangan penyakit antraknosa pada cabai merah. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari perlakuan pelilinan dengan ekstrak jahe terhadap umur simpan cebe merah. Faktor pertama adalah suhu HWT dengan 3 taraf (45°C, 50°C, dan 55°C) selama 15 menit, dan faktor yang kedua adalah pelilinan menggunakan ekstrak jahe dengan 2 taraf (30% v/v dan 40%v/v). Hasil penelitian menunjukkan analisis sidik ragam dengan taraf 5% perlakuan suhu pencelupan berpengaruh nyata terhadap susut bobot, kekerasan, dan kadar air. Faktor konsentrasi ekstrak jahe berpengaruh nyata terhadap kekerasan dan kadar air. Sedangkan interaksi faktor suhu pencelupan dan konsentrasi jahe berpengaruh nyata terhadap kekerasan dan kadar air. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perlakuan interaksi terhadap parameter kekerasan, kadar air, dan penampakan cabai merah pada hari ke-18 penyimpanan didapatkan perlakuan terbaik yaitu perlakuan dengan temperatur 45°C dan konsentrasi ekstrak jahe 30%.Kata kunci: cabai merah, antraknosa, hot water treatment, pelilinan antimikroba.
INTRODUKSI MESIN PERAJANG DAN PENIRIS PADA PENGEMBANGAN USAHA PRODUKSI BAWANG GORENG KWT “SEJAHTERA” DI KECAMATAN GEDONG TATAAN, KABUPATEN PESAWARAN Dwi Dian Novita
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v5i1.262

Abstract

KWT “Sejahtera” di Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran telah merintis usaha pengolahan bawang goreng sebagai salah satu solusi pengolahan bawang merah saat terjadi penurunan harga jual. Proses produksi yang keseluruhannya masih manual menyebabkan tingkat kejerihan kerja yang tinggi pada saat proses pengirisan dan perajangan bawang merah. Selain itu tingginya kadar minyak dalam produk bawang merah goreng yang dihasilkan mengakibatkan produk tersebut tidak renyah, cepat berbau tengik, dan tidak dapat disimpan lama. Pelaksanaan kegiatan PKM melalui introduksi mesin perajang dan peniris pada pengembangan usaha produksi bawang merah goreng KWT “Sejahtera” menjadi salah satu solusi dalam peningkatan produktivitas dan kualitas produk bawang merah goreng. Penggunaan mesin perajang dan peniris dapat meningkatkan kapasitas produksi maksimal 4 kali lipat, meningkatkan total pendapatan sebesar 260% dan keuntungan sebesar 375% , serta mampu menekan biaya produksi sebesar 9,5% dibandingkan dengan cara manual yang sebelumnya dilakukan oleh KWT.
PEMBERDAYAAN WANITA TANI DALAM USAHA PRODUKSI ABUCA (ABON DAN BUBUK CABAI) DI KECAMATAN ADILUWIH KABUPATEN PRINGSEWU Dwi Dian Novita; Winda Rahmawati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v4i2.169

Abstract

Teknologi pengolahan abon dan bubuk cabai (Abuca) tergolong cukup mudah sehingga dapat diterapkan oleh para istri petani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) “Maju” di Desa Waringinsari Timur, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu. Pemberdayaan KWT dalam usaha produksi Abuca menjadi salah satu solusi bagi permasalahan harga jual cabai yang sangat rendah pada saat panen raya. Rangkaian kegiatan PKM ini terdiri dari: (1) sosialisasi dan koordinasi, (2) penyuluhan pascapanen dan peluang usaha pengolahan cabai, (3) penentuan merk dan desain label kemasan (4) praktik produksi Abuca dan pemasaran produk, serta (5) evaluasi kegiatan. Transfer pengetahuan dan alih teknologi kepada mitra dilakukan dengan metode pelatihan dan praktik. Setelah dibina selama 4 bulan (Juli—Oktober 2019), para anggota KWT Maju kini telah memiliki pengetahuan dan keterempilan untuk memproduksi Abuca dan telah memiliki produk dengan merk “Hot Asoy”. Terdapat 3 varian abon cabai yang diproduksi yaitu rasa teri, rebon, dan original (rasa bawang). Abon cabai dikemas per 50 gram dalam botol dan standing pouch plastik dengan harga jual Rp.18.000,- dan Rp.15.000,-. Sedangkan bubuk cabai dikemas per 100 gram dalam standing pouch plastik dengan harga jual Rp.10.000,-.
Prediction of Self Life of Kemplang Crackers Packaged in Polypropylene Plastick with Thickneses Astrid Wulandari; Sri Waluyo; Dwi Dian Novita
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.604 KB)

Abstract

Kemplang crackers are classified as absortive food.  This may cause kemplang crackers are easly soggy and their texture become tougher and chewier.  The objective of this research was to predict the self life of packaged kemplang crackers placed in different storage conditions. Kemplang crackers were stored in a polypropylene (PP) plastic with three different thicknesses : 0,3 mm, 0,5 mm and 0,7 mm and relative humidity (RH) of about 63% and about 53%.  The packages were stored in ambient temperature.  The results showed that kemplang crackers stored at lower RH and thicker plastick have a longer self life.  The self life of kemplang cracker stored in PP plastic with thickness of 0,3 mm, 0,5 mm, and 0,7 mm and in ambient RH were 12 days, 14 days, and 33 days, respectively, while the self life of kemplang cracker storaged in PP plastic with thickness of 0,3 mm, 0,5 mm, and 0,7 mm and RH of about 53% were ranging from 185 days to more than >365 days. Keywords: Kemplang Crackers, Polypropylene Plastic, Self -life
UJI KINERJA ALAT PENGERING HYBRID TIPE RAK PADA PENGERINGAN CHIP PISANG KEPOK Ika Novita Sari; Warji .; Dwi Dian Novita
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.94 KB)

Abstract

Lampung Province was one of the banana production centers areas in Indonesia, one of them is kepok banana.  Bananas don't have a long shelf life, so that it needs an alternative treatment to prolong shelf life so it can provide the value-of banana fruit.  Drying system with hybrid is an alternative option. The purpose of this study is to test the performance of the hybrid dryer shelves type for drying banana chips.  This research was conducted with three treatments, they were drying using solar energy, drying using electrical energy, and drying using solar energy and electricity, which was using 5 kg banana chips for each treatments.  The three treatments of this research showed different results.  It took 9 hours to drying banana chips until it reached the water content 10%-12% on drying using solar energy, while drying using electrical energy needed 11 hours, and 8 hours on drying using solar energy and electricity.  Energy produced on drying using solar energy amounted to 55859,52 kJ, drying using electrical energy amounted to 27680,4 kJ and drying using solar energy and electricity was 64417,17 kJ. Keywords: Kepok banana chips, drying, the shelves type hybrid dryer
THE PRODUCTION AND CHARACTERISTICS TEST OF SYNTHETIC RICE MADE OF MAIZE FLOUR Arif Dwi Santoso; warji -; Dwi Dian Novita; Tamrin -
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.194 KB) | DOI: 10.23960/jtep-l.v2i1.%p

Abstract

Synthetic rice made of maize flour has a great opportunity to be developed as a staple food. Peopleused to consume synthetic rice, but only limited studies reported about the preferred characteristic of synthetic rice. The purpose of this study is 1) to produce and examine the characteristic of synthetic rice including moisture content, particle size, storage time and steam duration, and 2) toobtaine the preferred sensory level of synthetic rice based on aroma, texture, flavor and color.The procedure was startedbymakingthe maize flourto produce synthetic rice using a granulator machine. The granules was then steamed and dried under the sun light.  Seventype of synthetic rice was used in this research, namely pure maize rice (100% maize flour), three mixed synthetic rice of maize flour and wheat flour, and three mixed synthetic riceofmaize flour and tapioca flour withthree different ratio 95:5, 85:75, and 75:25.). The results showed that the water content of synthetic rice was measured between 10.37 to 13.79%.  While the steaming timewas reached around 46 to 68 minutes. The rice wasable to be stored about 24-26 hour. The organoleptic testsshowed that the most favorite synthetic rice was a mixture maize rice of 95% maize flour and 5% of tapioca flour  for all level preference of the sensory test. Keywords: Maize flour, rice synthetic, granulator, organoleptic.