Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Effect of Magnetic Induction on Seeds Infected Fusarium Sp. Toward Generative Growth of Red Chili (Capsicum annuum. L) Rochmah Agustrina; Berekhya Glori Hernawati; Yulianty Yulianty; Bambang Irawan
Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Lampung in collaboration with The Indonesian Association of Biology (PBI) Lampung Branch.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jbekh.v6i2.42

Abstract

Magnetic fields are proven to improve the quality of growth of various plants. In the study, it was examined whether the treatment of magnetic fields on chili seeds (Capsicum annuum. L) infected by Fusarium sp. could maintain plant growth to the generative phase. This research is two-factor research using a randomized block design. The first factor is the 0.2 mT magnetic field induction treatment consisting of 7 minutes 48 seconds (M7), 15 minutes 36 seconds (M15) and control (M0) as control and the second factor is the Fusarium oxysporum infection treatment consisting of 60 minutes infected (F60) and not infected (F0). Each treatment unit was repeated 5 times. Data obtained were analyzed for variance at a 5% significance level. The results of the analysis showed that the treatments in this study did not provide significant differences in carbohydrate content, flowering speed and number of flowers, as well as the fruiting rate of plants from seeds infected with Fusarium sp (M0F60, M7, F60, and M15F60), thus the magnetic field treatment could be causing plants to be resistant to Fusarium sp. so plants from seeds infected with Fusarium sp. able to flower and bear fruit at the same speed and produce the same amount of interest.
PERTUMBUHAN AKAR KECAMBAH KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.) DI BAWAH PENGARUH MEDAN MAGNET Taufik Ardiyanto; Rochmah Agustrina; Rini Rita T Marpaung
Jurnal Bioterdidik: Wahana Ekspresi Ilmiah Vol 2, No 9 (2014): Jurnal Bioterdidik
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of long exposure of 0.1 mT magnetic field to root length of mung bean sprouts and the results of the research are used as material for making student’s worksheets. Research compiled in acompletely randomized design (CRD) with one factor that is a long exposure of 0.1mT magnetic field consisting of control (0 min), 7'48", 11'44" and 15'36". The mung beans used in the research were variety of Arta Ijo. The parameters measured were seedling root length. Data were analyzed variance followed by LSD test at level α = 5%. The results showed that 0.1 mT magnetic field exposure affects root length of mung bean sprouts. Treatment led to the highest root growth is 15'36". Experts test results on the student’s worksheet show that it  can be used as a source of learning material.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama pemaparan medan magnet 0,1 mT terhadap panjang akar kecambah kacang hijau dan hasilnya dijadikan bahan untuk membuat LKS. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu lama pemaparan medan magnet 0,1 mT yang terdiri atas kontrol (0 menit), 7'48", 11'44" dan 15'36". Kacang hijau yang digunakan adalah varietas Arta Ijo. Parameter yang diukur adalah panjang akar kecambah. Data dianalisis ragam dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaparan medan magnet 0,1 mT memengaruhi panjang akar kecambah kacang hijau.  Perlakuan yang menyebabkan pertumbuhan akar tertinggi adalah 15'36". Hasil uji ahli terhadap LKS yang disusun menunjukkan bahwa LKS tersebut layak dijadikan sumber belajar. Kata kunci :  kacang hijau, LKS, medan magnet, panjang akar kecambah
PENGARUH MEDAN MAGNET 0,1 mT TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.) Aji Kurnia Irawan; Rochmah Agustrina; Rini Rita T. Marpaung
Jurnal Bioterdidik: Wahana Ekspresi Ilmiah Vol 2, No 9 (2014): Jurnal Bioterdidik
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of exposure duration of magnetic field 0.1 mT on the germination of green beans. Research compiled in a completely randomized design (CRD) with a single factor, namely the long exposure of 0.1 mT magnetic field comprising: control (A), 7 minutes and 48 seconds (B), 11 minutes 44 seconds (C), and 15 minutes 36 seconds (D). The parameter measured was the percentage of germination. The results of data analysis at the α = 5% indicates that all treatments of magnetic field affects the germination rate.  The optimal duration exposure of magnetic field 0,1 mT to increase germination rate is 15 minutes 36 seconds (D).  The average value of the test results for the eighth grade students for sub material of Plant Growth using the student worksheet (SW) which is based on the results of this study indicate that SW feasible to use as a learning resource.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pemaparan kuat medan magnet 0,1 mT terhadap perkecambahan kacang hijau. Penelitian disusun dalam   Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal, yaitu lama pemaparan medan magnet 0,1 mT yang terdiri dari: Kontrol (A), 7 menit 48 detik (B), 11 menit 44 detik (C), dan 15 menit 36 detik (D). Parameter yang diukur adalah persentase perkecambahan. Hasil analisis data pada α = 5% menunjukkan bahwa semua perlakuan medan magnet mempengaruhi kecepatan perkecambahan.  Lama pemaparan yang optimal berpengaruh terhadap parameter adalah lama pemaparan 15 menit 36 detik (D). Nilai rata-rata hasil ujian Siswa SMP kelas VIII untuk sub materi Pertumbuhan Tumbuhan menggunakan lembar kerja siswa (LKS) yang disusun berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan LKS tersebut layak digunakan sebagai sumber belajar. Kata kunci: kacang hijau, medan magnet, persentase perkecambahan.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS DAN PENYIRAMAN TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN KEDELAI Singgih Primantoro Santoso; Rochmah Agustrina; Rini Rita T Marpaung
Jurnal Bioterdidik: Wahana Ekspresi Ilmiah Vol 2, No 9 (2014): Jurnal Bioterdidik
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the effect of compost dose and watering intervals on the soybean growth. The results of the study are used as source material of Student’s Worksheet (SW). Research factorial arranged in a completely randomized design (CRD) with two factors and four replications. The first factor, compost dose: 2.5; 5; 7.5 tons/ha. The second factor, watering interval: 0.5 L/day, 0.5 L/2 days, and 0.5 L/ 3 days. The parameters measured were the soybean plants growth rate and viability of SW. Data were analyzed and tested range of HSD at 5% level. The results showed that the watering interval of 0.5 L/day significantly affected the soybean plants growth rate during the period 7-14 and 21-28 days after planting while the 0.5 L/3 days significantly in the period 14-21 days after planting. The mean value test of the SW application to students of class XII is 82. Thereby very feasible used as a source of learning.Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kompos dan interval penyiraman terhadap  pertumbuhan  kedelai.  Hasil penelitian digunakan sebagai sumber materi penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS). Penelitian disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor dan 4 ulangan.  Faktor pertama,  dosis kompos: 2,5; 5; 7,5 Ton/Ha.  Faktor kedua, interval penyiraman: 0,5 L/hari, 0,5 L/2 hari, dan 0,5 L/3 hari.  Parameter yang diukur adalah kecepatan pertumbuhan tanaman kedelai  dan  kelayakan LKS. Data dianalisis ragam dan diuji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval penyiraman 0,5 L/hari berpengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman kedelai pada periode 7-14 dan 21-28 HST sedangkan 0,5 L/3hari berpengaruh nyata pada periode 14-21 HST.  Nilai rerata ujian  penerapan LKS bagi siswa kelas XII SMA adalah 82.  Dengan demikan LKS  dinyatakan sangat layak digunakan sebagai sumber belajar.Kata kunci: dosis kompos, kecepatan pertumbuhan, kedelai, penyiraman.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS DAN PENYIRAMAN TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN KACANG HIJAU Destra Mutia; Rochmah Agustrina; Rini Rita T Marpaung
Jurnal Bioterdidik: Wahana Ekspresi Ilmiah Vol 2, No 9 (2014): Jurnal Bioterdidik
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to determine the effect of dose of compost and watering interval on the growth rate of green beans. The results of the research are used as source material for preparation Student Worksheet (SW). Research factorial was  arranged in completely randomized design (CRD) with two factors and 4 replications. The first factor, compost dose: 2.5; 5.0; and 7.5 tons / ha. The second factor, watering intervals: 0,5L/ day; 0,5L/ 2 days; and 0.5 L/ 3 days (3). Parameters measured pace of growth and viability of SW as a learning resource. Data were analyzed variants and HSD at 5% level. The results showed that the dose of compost, watering intervals and the interaction between both significantly affected the rate of green bean plant growth. Mean value of the test results of the SW application to high school students, class XII was 80.84. Thus SW is declared feasible to be used  as a learning resource.Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kompos dan interval  penyiraman terhadap kecepatan pertumbuhan kacang hijau. Hasil penelitian digunakan sebagai sumber materi penyusunan  Lembar Kerja Siswa (LKS). Penelitian disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor dan 4 ulangan.  Faktor pertama, dosis kompos:  2,5 ;  5,0;  dan  7,5 Ton/Ha.  Faktor kedua, interval penyiraman: 0,5L/hari;  0,5L/2hari; dan  0,5 L/3 hari (3). Parameter yang diukur kecepatan  pertumbuhan dan kelayakan LKS sebagai sumber belajar. Data dianalisis varians dan BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kompos, interval penyiraman dan interaksi antara keduanya berpengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman kacang hijau.  Nilai rerata ujian  hasil penerapan LKS terhadap siswa  SMA kelas XII IPA adalah 80,84. Dengan demikian LKS dinyatakan layak digunakan sebagai sumber belajar.  Kata Kunci : dosis kompos, kacang hijau, kecepatan pertumbuhan, penyiraman.
Pengaruh Bakteri Fotosintetik Anoksigenik terhadap Pertumbuhan Padi (Oryza sativa l.) Inpari 34 pada Media Salin Sumardi Sumardi; Rochmah Agustrina; Bambang Irawan; Siti Mardiana
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2022): AGROVITAL VOLUME 7, NOMOR 1, MEI 2022
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v7i1.2020

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh isolat bakteri fotosintetik anoksigenik (BFA) terhadap pertumbuhan padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari 34. Isolat BFA yang digunakan adalah dari bagian supernatan dan pelet sel BFA pada sumber yang sama. Parameter yang diamati adalah daya kecambah, pertumbuhan kecambah dan pertumbuhan padi pada lumpur mangrove yang salin. Analisis data daya kecambah hanya diketahui berdasarkan persentase perkecambahan. Data pertumbuhan kecambah dan pertumbuhan tanamanan dianalisis dengan ANOVA pada α = 0,05. Perlakuan pelet sel BFA dan supernatan BFA menghasilkan daya kecambah 96–100%. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa pemberian isolat BFA dalam bentuk pelet dan supernatan memberikan hasil pertumbuhan kecambah yang signifikan. Isolat BFA dari pelet isolat meningkatkan panjang kecambah, jumlah akar, panjang akar secara nyata. Sedangkan,BFA dari supernatan isolat tidak mempengaruhi pertumbuhan kecambah. Isolat yang menghasilkan pertumbuhan kecambah yang baik adalah B2BM, B, D, AS, dan L2, sedangkan isolat AM dan L1 tidak menunjukkan pertumbuhan kecambah yang baik. Respon pertumbuhan daun yang baik dihasilkan dari isolat B, AS, dan L2, sedangkan isolat B2DM menghasilkan daun yang sedikit. Adapun parameter berat segar dan berat kering tidak menunjukkan respon yang berbeda terhadap perlakuan isolat.
DETECTION OF NITROGENASE PRODUCING BACTERIA FROM THE SOIL OF LIWA BOTANICAL GARDEN Cristina Nugroho Ekowati; Mica Mirani; Kusuma Handayani; Rochmah Agustrina
Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Lampung in collaboration with The Indonesian Association of Biology (PBI) Lampung Branch.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jbekh.v8i2.204

Abstract

Liwa Botanical Gardens is an ex-situ conservation area for various types of plants. Each plant produces organic matter that will provide nutrients for the growth of nitrogen-fixing bacteria. This indicates the existence of an environment that supports the growth of nitrogen-fixing bacteria. Nitrogen is one of the nutrients needed by plants for their growth. However, the abundance of nitrogen in the atmosphere cannot be utilized directly by plants but needs to transform into ammonium and nitrate first. This transformation can be done by nitrogen-fixing bacteria through an enzymatic process. This research aims to obtain bacterial isolates that can fix nitrogen. Nitrogen-fixing bacteria were isolated using Nutrient Agar (NA) medium and furthered by nitrogenase activity detection test with semi-solid Nitrogen Free Bromothymol Blue (NFB). Nitrogen-fixing bacteria are characterized by color changes in the medium. The results obtained 22 isolates with 3 isolates detected capable of producing nitrogenase enzymes, namely TBP B3, TB1 B2, and TMA2 B2.
Insektisida Metabolit Sekunder Daun dan Bunga Kenikir (Tagetes erecta) Terhadap Semut Hitam (Delichoderus thoracicus) Dengan Metode Penyemprotan Dan Penetesan Rochmah Agustrina; Shella Wijaya; Gina Dania Pratami; Bambang Irawan
BIOMA Vol 7, No 2 (2022): BIOMA: JURNAL BIOLOGI DAN PEMBELAJARAN BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bioma.v7i2.8634

Abstract

Di daerah beriklim tropis, semut merupakan hama rumah tangga ketiga setelah nyamuk dan kecoa. Upaya pengendalian hama semut ini pada umumnya menggunakan insektisida sintetis. Akan tetapi, penggunaan insektisida sintetis menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan hewan sekitarnya serta menimbulkan pencemaran lingkungan.  Oleh sebab itu, tersedianya teknik pengendalian semut yang lebih ramah lingkungan perlu diupayakan. Tanaman kenikir (Tagetes erecta) merupakan salah satu tanaman hias herbal yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai agen hayati pengendalian hama semut. Bagian bunga maupun daunkenikir diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid yang memiliki daya insektisida.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya insektisida yang berasal dari ekstrak bunga dan daun kenikir dalam mngendalikan semut hitam. Percobaan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Lengkap (RKTL) dengan 3 faktor. Faktor pertama merupakan jenis ekstrak tanaman yang terdiri dari daun dan bunga kenikir.  Faktor kedua merupakan konsentrasi ekstrak yang terdiridari 5 level, yaitu 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%.  Faktor ketiga adalahcaraaplikasiekstrak, yaitu cara 1 dan cara 2.  Parameter yang diamati adalah jumlah kematian semut hitam selama periode 1-4 jam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (anara) dan jika terdapat perbedaan nyata antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey =5%.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak bunga dan daun kenikir yang efektif membasmi semut hitam terdapat pada perlakuan aplikasi konsentrasi ekstrak sebesar 100%. Berdasarkan daya toksik ekstrak kenikir menggunakan perlakuan cara aplikasi ekstrak diketahui bahwa ekstrak bunga kenikir dengan cara 2 memiliki nilai LC50 sebesar 47.84, sedangkan aplikasi ekstrak daun kenikir dengan cara 1 maupun cara 2  masing-masing memiliki nilai LC50 50.60 dan 49.45. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak bunga kenikir lebih efektif untuk dijadikan insektisida dalam pengendalian semut hitam.
ANALISIS KANDUNGAN KARBOHIDRAT TERLARUT TOTAL PLANLET BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) MENGGUNAKAN METODE FENOL-SULFUR SECARA IN VITRO Endang Nurcahyani; Nurul Aniqotun Mutmainah; Salman Farisi; Rochmah Agustrina
Analit: Analytical and Environmental Chemistry Vol 4, No 1 (2019): Analit: Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Sumatri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.071 KB) | DOI: 10.23960/aec.v4i1.2019.p73-80

Abstract

Buncis merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang cukup populer dikalangan masyarakat karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan memiliki potensi nilai ekonomi-sosial yang baik serta berdaya guna untuk mempertahankan kesuburan tanah. Rhizoctonia solanii merupakan salah satu mikoriza yang dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan proses penyerapan air tanah pada saat tanaman sedang mengalami cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian Rhizoctonia solanii pada kandungan karbohidrat planlet buncis (Phaseolus vulgaris L.) dalam kondisi cekaman kekeringan secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor, yaitu inokulasi Rhizoctonia dengan 2 taraf [V0 (tidak diinokulasi Rhizoctonia) dan V1 (diinokulasikan Rhizoctonia)] dan konsentrasi Poly Ethylene Glycol (PEG 6000) dengan 3 taraf [P0 (0 %), P1 (15 %) dan P2 (30 %)]. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dan uji lanjut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5 %. Masing-masing konsentrasi dilakukan 4 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 3 biji buncis dalam setiap botol kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza Rhizoctonia solanii belum memberikan pengaruh terhadap kandungan karbohidrat terlarut total planlet buncis dalam kondisi cekaman kekeringan secara in vitro.doi: http://dx.doi.org/10.23960/aec.v4.i1.2019.p73-80 
EFEK INOKULASI Rhizoctonia solanii TERHADAP KANDUNGAN KARBOHIDRAT TERLARUT TOTAL PLANLET KACANG PANJANG (Vigna unguiculata (L.) Walp.) SECARA IN VITRO Endang Nurcahyani; Muhamad Rizkci Sazilly; Salman Farisi; Rochmah Agustrina
Analit: Analytical and Environmental Chemistry Vol 4, No 1 (2019): Analit: Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Sumatri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.308 KB) | DOI: 10.23960/aec.v4i1.2019.p81-90

Abstract

Kendala yang dihadapi dalam memproduksi kacang panjang antara lain musim kemarau yang berkepanjangan. Mikoriza Rhizoctonia solanii dapat membantu menyerap unsur hara dan air bagi tumbuhan. Poly Ethylene Glykol (PEG 6000) diberikan pada medium kultur jaringan untuk mensimulasi cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek inokulasi Rhizoctonia solanii terhadap kandungan karbohidrat terlarut total planlet kacang panjang yang diberi PEG 6000 secara in vitro. Penelitian ini dilakukan menggunakan pola dasar Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor V; tanpa inokulasi Rhizoctonia solanii/Kontrol (V0), dan Inokukasi (V1), faktor P; PEG 0 % Kontrol (P1), 15 % (P2), 30 % (P3). Penelitian ini dilakukan dengan 4 pengulangan. Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu kandungan karbohidrat terlarut total. Data yang diperoleh di homogenkan menggunakan uji Levene, kemudian dilanjutkan uji ANOVA pada taraf nyata 5%, jika signifikan maka dilakukan uji Lanjut pada BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza Rhizoctonia solanii tidak berpengaruh nyata pada kandungan karbohidrat terlarut total, sedangkan PEG 6000 tidak berpengaruh nyata pada kandungan karbohidrat terlarut total. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa inokulasi pada akar mikoriza Rhizoctonia solanii tidak memberikan pengaruh pada kandungan karbohidrat terlarut total planlet kacang panjang terhadap cekaman kekeringan.doi: http://dx.doi.org/10.23960/aec.v4.i1.2019.p81-90