Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

SAKARIFIKASI SERAT TANDAN KOSONG DAN PELEPAH KELAPA SAWIT SETELAH PRETREATMENT MENGGUNAKAN KULTUR CAMPURAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor Abimanyu, Haznan; Hanafi, Ahmad; Aristiawan, Yosi; Anita, Sita Heris; Risanto, Lucky; Hermiati, Euis
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan kultur campuran jamur pelapuk putih pada proses pretreatment bahan lignoselulosa belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan kultur  Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor pada proses pretreatment serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit terhadap hasil sakarifikasinya. Inokulum P. Chrysosporium dan T. versicolor dituangkan ke dalam sampel substrat serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit (40-60 mesh) yang telah disterilkan, masing-masing sebanyak 5% (w/v), sehingga total inokulum yang ditambahkan ke dalam kedua macam substrat masing-masing 10% (w/v). Sampel diinkubasikan pada suhu ±27°C selama 4 minggu. Sebagian dari contoh diambil dan lalu diperiksa setelah masa inkubasi 1, 2, 3, dan 4 minggu. Sakarifikasi dilakukan menggunakan enzim selulase sebanyak 20 FPU per g biomassa dan β-glukosidase dalam shaking waterbath pada suhu 50°C selama 48 jam. Analisis gula pereduksi, glukosa dan xilosa dilakukan terhadap hasil sakarifikasi. Rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari tandan kosong kelapa sawit. diperoleh dari sakarifikasi serat dengan pretreatment selama 4 minggu, yaitu masing-masing 13,08%, 0,86 mg/g dan 0,13 mg/g, sedangkan rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari pelepah kelapa sawit didapatkan dari sakarifikasi substrat dengan pretreatment selama 2 minggu, yaitu masing-masing 8,98%, 0,92 mg/g dan 0,23 mg/g.
Liberalisasi di Inggris, 1970-1990 Hanafi, Ahmad
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 7, No 1 (2003): Neolibralisme: Refleksi Kritis
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.795 KB)

Abstract

Under Margareth Tarcher leadership in 1970-an, Great Brittain lead a global process of transforming the role of the state in governing the econmy. The attempt to leaved the old framework of Keynesian welfare state and embarking on neoliberal terrain inevitably brought about the changing of class structure and marginalise the labour in order to gain international advantage.
Uji Potensi Bakteri Endofit Kitinolitik Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Sebagai Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) Hanafi, Ahmad; Purwantisari, Susiana; Raharjo, Budi
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol. 19, No. 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.909 KB) | DOI: 10.14710/bioma.19.1.76-82

Abstract

IAA (Indole Acetic Acid) is a hormone in plants that was role in the cleavage of roots, inhibits the growth of side shoots, stimulate cell division and the formation of xylem and phloem tissue. This study aimed to test the potential of endophytic bacteria chitinolytic rice crop as hormone-producing IAA. This study uses 9 isolates of endophytic bacteria chitinolytic rice plants in isolation during practical work. The experiment consisted of 15 treatments and 3 replications. This study uses a randomized block design. The treatments tryptophan concentration combined with a variation pH, the endophytic bacteria grown on media chitinolytic tryptophan concentration of 0 mg/L, 102 mg/L, 204 mg/L, 306 mg/L and 408 mg/L are combined with pH 5, 7 and 9. the treatment was observed for 48 hours and observation once every 3 hours. The measured variable is the result of the production of IAA hormone with the treatment combination of tryptophan with pH. IAA hormone outcome data were analyzed using Analysis of Variance Univariates at level of 95%. IAA hormone qualitative test results showed positive results in bacterial isolates KA12, KA11 and KB24. IAA hormone quantitative results of bacterial isolates producing IAA hormone KA12 high of 2,03 mg/L in the combination treatment of tryptophan 408 mg/L at pH 7 at 24 hours incubation. KA12 bacterial isolates are endophytic bacteria chitinolytic potential to produce hormones IAA, yet the results of data analysis showed that each treatment combination with pH tryptophan to IAA production were not significantly different. Keywords: hormone IAA, chitinolytic endophytic bacteria, tryptophan, pH
Pengaruh Simultan Parameter Suhu dan Konsentrasi Larutan NaOH Terhadap Kuantitas dan Kualitas Hasil Cellulose Powder pada Proses Delignifikasi Tongkol Jagung Suprianto, Suprianto; Tawfiequrrahman; Yunanto, Dedi Eko; Cabral, Claudino de Almeida; Hanafi, Ahmad
Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan Vol 6, No 2 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung merupakan sumber karbohidrat ketiga di Indonesia setelah padi dan ketela. Produksi jagung Indonesia meningkat terus menerus selama 10 tahun terakhir, yang diikuti dengan konsekuensi meningkatnya tongkol jagung sebagai produk ikutan pertanian jagung. Jumlah tongkol jagung dapat mencapai 40% dari produksi jagung. Fakta ini menunjukkan semakin tinggi potensi tongkol jagung untuk dapat dimanfaatkan bagi penunjang kehidupan manusia. Pemanfaatan tongkol jagung secara langsung sebagai bahan bakar maupun tidak langsung, yaitu melalui tahapan proses fisika dan kimia, sebelum dimanfaatkan langsung, telah mulai banyak menarik perhatian. Penelitian ini dimaksudkan untuk menambah informasi pengolahan tongkol jagung menghasilkan selulosa powder yang dapat digunakan sebagai cellulose gel, selulose membrane filter penjernihan air maupun sebagai bahan baku turunan senyawa selulosa, seperti selulosa asetat, carboxy methyl cellulose dan nitro selulosa. Proses pengolahan tongkol jagung menjadi cellulose prowder dilakukan dalam tiga tahapan proses, masing-masing untuk menghilangkan komponen hemiseluola, lignin dan warna dalam tongkol jagung. Proses tahap pertama menggunakan larutan asam nitrat 7,5% pada suhu 80 o C selama 2 jam, dilanjutkan dengan proses tahap kedua menggunakan larutan NaOH selama 2 jam dengan variasi suhu 80 sampai 100 o C dan variasi konsentrasi NaOH dari 1 N sampai 3 N dan selanjutnya proses tahap ketiga menggunakan hydrogen peroksida dengan konsentrasi 4%, suhu 80 o C dan waktu 2 Jam. Keberhasilan proses diidentifikasi dengan kuantitas dan kualitas hasil cellulose powder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi proses yang baik dalam tahap proses delignifikasi adalah suhu antara 85 sampai 95 o C dan konsentrasi NaOH antara 1,25 N sampai 2 N. Produk pengolahan dari tongkol jagung, dengan proses tiga tahap ini diperoleh hasil cellulose powder warna putih dengan kadar   selulosa sekitar 88 sampai 90%, dengan yield investor sekitar 30% dan yield akademik sekitar 80%. Katakunci: Tongkol jagung, cellulose powder, hidrolisis, delignifikasi, bleaching
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBANTUAN SOFTWARE FLUIDSIM PADA MAPEL INTALASI MOTOR LISTRIK DI SMKN 1 PUNGGING HANAFI, AHMAD
Jurnal Pendidikan Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2018): Vol 7 Nomer 1 (2018)
Publisher : Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Kelayakan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah kevalidan, keefektifan dan kepraktisan. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), dan lembar penilaian (LP). Langkah-langkah yang digunakan pada penelitian ialah 4D-Models yang telah disesuaikan dengan keadaan lapangan. Tahap dari 4D-Models dalam penelitian ini meliputi berikut: (1) define yang berupa front end analysis, (2) design, (3) develop yang berupa validasi ahli dan uji coba. Subjek uji coba pada penelitian ini ialah siswa kelas XI TITL 2 di SMKN 1 Pungging. Desain penelitian yang digunakan ialah one shot case study. Kelayakan perangat pembelajaran ditinjau dari aspek kevalidan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Silabus mendapatkan rata-rata 3,57 diketegorikan tanpa revisi; (2) RPP rangkaian  berurutan manual mendapatkan rata-rata 3,61 diketegorikan tanpa revisi; (3) RPP rangkaian  berurutan otomatis mendapatkan rata-rata 3,61 diketegorikan tanpa revisi; (4) RPP rangkaian  bergantian manual mendapatkan rata-rata 3,61 diketegorikan tanpa revisi; (5) RPP rangkaian  bergantian otomatis mendapatkan rata-rata 3,61 diketegorikan tanpa revisi; (6) LKS rangkaian berurutan manual mendapatkan rata-rata 3,53 diketegorikan tanpa revisi; (7) LKS rangkaian berurutan otomatis mendapatkan rata-rata 3,53 diketegorikan tanpa revisi; (8) LKS rangkaian bergantian manual mendapatkan rata-rata 3,53 diketegorikan tanpa revisi, (9) LKS rangkaian bergantian otomatis mendapatkan rata-rata 3,53 diketegorikan tanpa revisi; (10) LP kompetensi sikap  mendapatkan rata-rata 3,55 diketegorikan tanpa revisi; (11) LP kompetensi pengetahuan  mendapatkan rata-rata 3,61 diketegorikan tanpa revisi; (12) LP kompetensi keterampilan mendapatkan rata-rata 3,60 berkategori tanpa revisi. Kelayakan perangkatat pembelajaran ditinjau dari aspek keefektifan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) kompetensi sikap mendapatkan dua hasil meliputi sikap spiritual mendapatkan rata-rata 87,81 dan sikap sosial mendapatkan rata-rata 89,90; (2) kompetensi pengetahuan dianalisis menggunakan teknik one sample t test. Dari analisis tersebut mendapatkan signifikansi 0,000, yang berarti nilai rata-rata siswa telah mencapai KKM dengan nilai rata-rata mencapai 84,30; (2) kompetensi keterampilan dianalisis menggunakan teknik one sample t test. Dari analisis tersebut mendapatkan signifikansi 0,000, yang berarti nilai rata-rata siswa telah mencapai KKM dengan nilai rata-rata mencapai 84,30. Kelayakan perangat pembelajaran ditinjau dari aspek kepraktisan diperoleh hasil sebagai berikut; (1) presentase respons guru sebesar 87,5%; (2) presentase respons siswa sebesar 82,9%. Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat dinyatakan layak ditinjau dari aspek kevalidan, keefektifan dan kerpraktisan. Kata kunci: perangkat pembelajaran, kevalidan, keefektifan, kepraktisan. Abstract This research aims to know the advisability of the developed learning equipment. The objectives of this research are validtiness, effectiveness and practicaliness. The developed learning equipment is syllabus, daily learning plan, student warksheet and assessment sheet. The steps which are used in this research is 4D-Models that has been customized with the field situation. Steps of 4D-Models in this research are (1) define that is front end analysis, (2) design (3) develop that is expert appraisal and developmental testing. The subject in this research is the second class of electrical installation techniques 2 at State Vocational High School Number1 of Pungging. The reseach design which is used, is one shot case study. Learning equipment advisability is reviewed from validitiness aspect is followed  result:  (1) syllabus gets average 3,57 is categorized without revision; (2) daily learning plan of sequential manually circuit gets average 3,61 is categorized without revision; (3) daily learning plan of sequential otomatically circuit gets average 3,61 is categorized without revision; (4) daily learning plan of alternates manuallly circuit gets average 3,61 is categorized without revision; (5) daily learning plan of alternates otomatically circuit gets average 3,61 is categorized without revision; (6) student worksheet of sequential manually circuit gets average 3,53 is categorized without revision; (7) student worksheet of sequential otomatically circuit gets average 3,53 is categorized without revision; (8) student worksheet of alternates manuallly circuit gets average 3,53 is categorized without revision; (9) student worksheet of alternates otomatically circuit gets average 3,53 is categorized without revision; (10) attitude assesment sheet gets average 3,55 is categorized without revision; (11) knowledge assesment sheet gets average 3,55 is categorized without revision; (12) Skill assesment sheet gets average 3,60 is categorized without revision. Learning equipment advisability is reviewed from effectiveness aspect is followed result: (1) attitude competency gets two result which is spiritual attitude gets average 87,81 and social attitude gets average 89,90; (2) Knowledge competency is analyzed with one sample t test technique. From that analysis get significance 0,000, it means student average result has reached criteria for minimum competency with average 84,93; (2) skill competency is analyzed with one sample t test technique. From that analysis get significance 0,000, it means student average result has reached criteria for minimum competency with average 84,30. Learning equipment advisability is reviewed from practicaliness aspect is followed result: (1) teacher response percentage gets 87,5%; (2) student response persentage gets 82,9%. From the above description can be conclude that developed learning tool is able to be declared worthy of validitiness aspect, effectiveness aspect and practicaliness aspect. Keyword: learning equipment, validtiness, effectiveness, practicaliness.
Nilai Kesufian pada Naskah Asal Usul Besi Kharsani Hanafi, Ahmad
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18829

Abstract

ABSTRAKAjaran tasawuf tidak dapat dipisahkan seiring perkembangan Islam di Indonesia.Masuknya Islam ke Indonesia yang kerap dikatakan secara damai, tidak luput dari penyebaranajaran tasawuf. Tumbuhnya ajaran tasawuf dan ‘sepak terjang’ para sufi di awalmasuknya Islam ke Indonesia terekam dalam sejumlah manuskrip yang dapat dikatakansebagai ‘hikayat hagiografis’. Munculnya hagiografi tersebut dikarenakan para sufi dikagumidan dipuja sebagai ‘orang suci’ karena menarik diri dari kenikmatan duniawi (zuhd),melakukan perjalanan panjang, mengembara, demi pencapaian spiritual dan dakwah kepadaorang lain. Diyakini bahwa pencapaian spiritual ini membuat mereka mampu menampakkantindakan-tindakan di luar kebiasaan (khawariq al-‘adat). Tulisan ini akan mengkajinaskah Asal Usul Besi Kharsani (AUBK) yang di dalamnya berbicara tentang ilmu BesiKharsani sebagai warisan sejarah dan budaya masyarakat Kerinci, yang berbentuk bungarampai dan merupakan bagian dari sastra Melayu klasik yang bergenre Hagiografi. Strukturgenre tersebut mengandung unsur hikayat, syair, sejarah, silsilah, dan hidayat. Juga termasukadanya unsur mitologi penelitian ini dikerjakan dengan metode kajian filologi.Kata kunci: sufisme, hagiografi, Kerinci, besi kharsaniABSTRACTThe teachings of Sufism can not be separated as the development of Islam in Indonesia.The entry of Islam into Indonesia that can be said peacefully, did not escape the spread ofSufism teachings. The growth of Sufism and the action of the Sufis in the early entry of Islaminto Indonesia is recorded in a number of manuscripts that can be said as ‘hagiographic saga’.The emergence of hagiography is due to The Sufis are admired and revered as ‘saints’ bywithdrawing from worldly pleasures (zuhd), Making long journeys, wandering, for the sakeof spiritual attainment and preaching to others. It is believed that this spiritual achievementenables them to manifest unbelievable acts (khawariq al-’adat). This paper will examinethe manuscripts of the Origin of Besi Kharsani (AUBK) in which it speaks of the science ofBesi Kharsani as a historical and cultural heritage of Kerinci society, which is in the formof a potpourri and is part of the classical Melayu literature of the Hagiography genre. Thestructure of the genre contains elements of saga, poetry, history, genealogy, and hidayat. Alsoincluded mythological elements. This research is done by the method of philological studies.Keywords: sufism, hagiography, Kerinci, besi kharsani
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KELAS IBU BALITA DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS LANJUT KECAMATAN SINGKEP PESISIR KABUPATEN LINGGA TAHUN 2021 Muhaimin, Rusyadi Al; Muryanto, Irwan; Rany, Novita; Hanafi, Ahmad; Sa’am, Zulfan
Ensiklopedia of Journal Vol 4, No 2 (2022): Vol 4 No. 2 Edisi 2 Januari 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v4i3.1048

Abstract

Berdasarkan data dari UPT Puskesmas Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga diperoleh data 3 tahun terakhir yang menunjukkan bahwa tidak tercapainya target dari pelaksanaan program kelas ibu balita. Tahun 2018 terdapat 59%, tahun 2019 terdapat 43% dan tahun 2020 terdapat 36%. Hal ini tidak mencapai target 100% sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Tujuannya untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang Analisis Pelaksanaan Program Kelas Ibu Balita Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah Kualitatif dengan menggunakan pendekatan phenomenology dengan pengolahan data dilakukan triangulasi sumber, triangulasi metode dan triangulasi data. Pengumpulan data dengan menggunakan pedoman wawancara, telaah dokumen, dan observasi. Analisis data menggunakan analisis isi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kurangnya pengetahuan dan persepsi ibu terhadap pentingnya kelas ibu balita, manfaat dan akibat jika tidak mengikuti kelas ibu balita, masih banyak keluarga terutama suami yang tidak mendukung seperti tidak mengantarkan, menjemput dan ikutserta dalam kegiatan kelas ibu balita di posyandu. Bagi UPT Puskesmas Lanjut Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga dapat melakukan Bina Suasana yang baik kepada masyarakat dalam melakukan  promosi kesehatan per individu (door to door), memberikan reward saat penyuluhan, dan menggunakan media yang lebih menarik kepada masyarakat dalam penyampaian informasi kesehatan.