Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ALAM PAPASANGAN: REPRESENTASI NILAI KASUNDAAN DALAM POKO JAMPE (CONCEPT OF COUPLENESS: SUNDANESE VALUES IN THE SPELL OF POKO JAMPE) Dheka Dwi Agustiningsih; Ani Rostiyati
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.687 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.277

Abstract

Poko Jampe is one of the spells that developed in Baduy society. The spell was uttered by a Puun (chief of Baduy) without certain rituals. The purpose of this study is to analyze the Poko language style, namely the concept of “babalikan pungkasmuhu” which is a reduplication of sound, syllable, word or even the inal phrase of an array that is reused as the beginning of sound, syllables, words, or even the next phrase of Poko Jampe. The method used in this paper is qualitative descriptive method. The result showed that the language style of the multiplication of the “muhu” is about things that are paradoxical, dualistic, or the nature of coupleness, which generates the third entity, namely the forces (transcendent) that human need to obtain a balance life.AbstrakPoko Jampe adalah salah satu mantra yang berkembang di masyarakat Baduy. Jampe ini diujarkan oleh seorang puun (kepala adat Baduy) tanpa ritual tertentu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gaya bahasa poko yaitu babalikan pungkas-muhu yang merupakan perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bahkan frasa akhir sebuah larik yang digunakan kembali sebagai awal bunyi, suku kata, kata atau bahkan frasa larik selanjutnya dalam poko jampe. Metode yang digunakan dalam penelitin ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian mengenai gaya bahasa babalikan pungkasmuhu ini menunjukkan hal-hal yang paradoks, dualisme, atau alam papasangan yang dapat menghadirkan entitas ketiga, yaitu daya-daya (transenden) yang diperlukan manusia untuk memperoleh keseimbangan hidup.
TOLERANSI KERAGAMAN PADA MASYARAKAT CIGUGUR KUNINGAN Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.631 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.467

Abstract

Toleransi pada keragaman perlu dibangun agar masyarakat bisa hidup berdampingan secara damai, baik secara individual maupun kelompok. Masyarakat di Cigugur Kuningan merupakan contoh bagaimana toleransi pada keragaman agama dan kepercayaan terbangun dengan baik. Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan faktor apa saja yang menjadi penyebab adanya toleransi dan bagaimana wujud atau bentuk toleransi pada masyarakat Cigugur tersebut. Dari hasil penelitian terungkap bahwa ikatan darah atau kekeluargaan merupakan faktor solidaritas yang tinggi dibanding keyakinan keagamaan. Masyarakat merasa satu keturunan dari Kiai Madrais dan Pangeran Djatikusumah yang menjadi tokoh panutan dan pemersatu. Kesadaran komunitas ini merupakan the sacred yang merupakan bagian dari kepercayaan kolektif (collective belief).  Memori kolektif ini sebagai salah satu simpul yang memungkinkan keutuhan masyarakat berkat adanya identitas yang sama. Makna kolektif inilah memainkan peran penting dalam menjaga solidaritas dan keutuhan masyarakat Cigugur Kuningan. Penelitian ini menggunakan metode dokumenter dan kualitatif. Adapun pengambilan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan foto. Tolerance to diversity needs to be built so that people can live side by side peacefully, both individually and in groups. The community in Kuningan Cigugur is an example of how tolerance to religious diversity and trust is well established. In particular, the purpose of this study is to reveal what factors are the cause of tolerance and how it manifests or forms of tolerance in the Cigugur community. From the the research revealed that blood ties or familyhood is a factor of high solidarity compared to religious beliefs. The community feels one descendant from Kiai Madrais and Pangeran Djatikusumah who are role models and unifier. This awareness is ”the sacred” which is part of the collective belief. This collective memory is one of the reason that enables the integrity of society caused by same identity. This collectiveness played an important role in maintaining the solidarity and integrity of the community of the Kuningan Cigugur. This research conducted by using documentary and qualitative methods. The research data was collected through observation, interviews, literature studies, and photographs.
MEMAKNAI LUKISAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS BUDAYA VISUAL Ani Rostiyati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.293

Abstract

Sebuah lukisan adalah objek dalam bentuk visual yang memiliki makna. Sejalan dengan itu, tulisan ini bertujuan ingin memperlihatkan bagaimana suatu lukisan memadatkan gagasan dan nilai tertentu sebagai media untuk menyampaikan pesan. Penelitian ini menggunakan teori budaya visual dari Barnard dan gender dari Megawangi dan Abdullah. Kajian ini mengungkapkan bahwa empat lukisan perempuan Jawa yang dipamerkan oleh kelompok ”pepeling” Surakarta tersebut menggambarkan perempuan sebagai housewifization dan ibuisme yakni peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melakukan tugas domestik. Kesimpulan dari kajian ini adalah Housewifization dan ibuisme ini merupakan identitas visual yang dikontruksi sehingga menjadi sumber pembentukan atau citra perempuan dalam realitas sosial masyarakat Jawa, terutama di pedesaan. Kajian ini menggunakan metodologi etnografis interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara, studi pustaka, majalah, dan buku.
PERAN GANDA PEREMPUAN NELAYAN DI DESA MUARA GADING MAS LAMPUNG TIMUR Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.597 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.373

Abstract

Perempuan yang bekerja di sektor maritim mempunyai peran ganda, karena penghasilan suami sebagai pencari nafkah tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dari fenomena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana peran ganda perempuan nelayan di Desa Muara Gading Mas Lampung Timur sehingga kedua tanggungjawab baik peran domestik dan publik berhasil dilaksanakan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ganda perempuan nelayan di sektor maritim terkait dengan kontribusi perempuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dan peran domestik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni pendekatan yang dipakai untuk memahami aktivitas kehidupan dan peran perempuan nelayan secara utuh dan holistik. Penelitian bersifat analisis deskriptif yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga mudah dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan foto. Hasil penelitian, terungkap mereka berhasil mengembangkan strategi adaptasi sehingga peran ganda tersebut dapat dilakukan dengan baik. Upaya yang dilakukan  adalah menciptakan sumber usaha baru, mengatur alokasi waktu, dan meningkatkan keterampilannya mengikuti berbagai pelatihan, serta usaha simpan pinjam. Women who work in the maritime sector have a dual role, because the husband's income as a breadwinner cannot meet the needs of the family. From this phenomenon, the problem is how the dual role of fisherwomen in Muara Gading Mas village, East Lampung, so that both responsibilities both domestic and public roles are successfully implemented. The purpose of this study was to determine the dual role of fisherwomen in the maritime sector related to the contribution in meeting economic needs and domestic roles. This study uses a qualitative approach. The approach used to understand the activities of life and the role of fisherwomen holistically. The research is descriptive analysis that is analyzing and presenting the facts systematically so that they are easily understood and concluded. The data collection is done through observation, in-depth interviews, literature studies, and photographs. The results of the study revealed that they had succeeded in developing adaptation strategies, so the dual role could be carried out well. Efforts are made to create new business sources, manage time allocations, and improve their skills in participating in various trainings, as well as savings and loan businesses.
REPRESENTASI KUCING DALAM FOKLOR SUNDA ANI ROSTIYATI
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v6i1.167

Abstract

Penggambaran kedekatan kucing terdapat dalam berbagai folklor di berbagai belahan dunia. Pada masyarakat Sunda, kedekatan tersebut direpresentasikan dalam folklor lisan Nini Anteh  dan permainan tradisional anak. Namun, kajian mendalam tentang keterkaitan keberadaan kucing dalam folklor lisan cerita rakyat Nini Anteh dan permainan tradisional anak belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu, tujuan kajian ini adalah mengungkap representasi kucing dalam foklor lisan tersebut. Adapun metode penelitian adalah deskriptif-kualitatif dengan pengambilan data melalui studi pustaka serta wawancara mendalam pada informan yang dianggap memiliki enkulturasi penuh. Data yang telah diperoleh  kemudian dianalisis meliputi alur, makna, dan fungsinya. Hasil dari analisa tersebut diperoleh bahwa  kata  kucing dalam permainan tradisional anak merepresentasikan identitas budaya lokal dan kolektif bagi masyarakat Sunda serta media pendidikan bagi anak. Sedangkan kucing dalam cerita rakyat Nini Anteh dipandang sebagai subjek yang penting sebagai representasi dari domestikasi Nini Anteh yang menempatkan perempuan sebagai subordinat dari laki-laki dan menimbulkan ketimpangan sosial berbasis identitas gender.
KONTRUKSI PEREMPUAN DALAM FILM HANTU SUNDEL BOLONG Dheka Dwi Agustiningsih; Ani Rostiyati
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.904 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v5i1.25

Abstract

Abstrak        Penelitian ini mengkaji film-film horor yang mengangkat mitos mengenai hantu Sundel Bolong sebagai tema cerita. Empat film yang menjadi objek penelitian ini yaitu: Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), Legenda Sundel Bolong (2007), dan Sundel Bolong 2 (2008). Keempat film tersebut mengisahkan tentang perempuan yang menjadi sundel bolong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengafirmasi kekerasan seksual yang dialami perempuan. Penelitian ini menggunakan sudut pandang feminisme yang mencakup pembahasan mengenai hubungan seksual, femme fatale, dan teori film feminis. Kajian ini menggunakan metodologi interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perempuan dalam film sundel bolong merupakan objek dalam hubungan seksual dan kematiannya merupakan kebangkitannya dalam wujud hantu. Sundel Bolong yang kecewa terhadap laki-laki dan frustrasi muncul sebagai sosok femme fatale dan membalas dendam dengan menggunakan tipu muslihat feminin seperti kecantikan, pesona, dan daya tarik seksual. Penindasan seksualitas perempuan adalah subteks penting dari film horor bertema Sundel Bolong.Kata Kunci:
WACANA KEKUASAAN DALAM UPACARA SIRAMAN DAN NGALUNGSUR GENI DI DESA DANGIANG GARUT Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v12i2.645

Abstract

Kajian ini bertujuan mengungkap bagaimama wacana kuasa bekerja dalam upacara Siraman dan Ngalungsur Geni. Wacana kuasa ditelusuri dari relasi pemimpin adat (kuncen dan leluhur) dengan masyarakat Desa Dangiang. Dalam kajian ini menggunakan metode deskriptif explanatory dan teknik analisis data secara kualitatif interpretatif, yaitu mengangkat berbagai fenomena, kemudian diinterpretasi dengan teori dari Foucault tentang kekuasaan yang dikonstruksi secara positif dan tidak represif. Data yang digunakan merupakan hasil wawancara mendalam pada informan, observasi pada saat upacara berlangsung, pengambilan foto, dan studi pustaka. Hasil dari kajian ini adalah kekuasaan dalam pelaksanaan upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, dikonstruksi secara dinamis, positif, dan tidak represif yakni kekuasaan yang terpusat pada pemimpin adat kuncen yang didistribusi pada semua warga peserta upacara. Simbol dari distribusi kekuasaan tersebut adalah semua peserta merasakan adanya keberkahan yang didapat dari doa kuncen dan air bekas cucian benda-benda pusaka milik leluhur Desa Dangiang. The research aims to reveal how the power discourse works through Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies. The power discourse can be traced through the relationship between traditional leaders (kuncen and ancestors) and the people of Dangiang Village. The study uses descriptive explanatory methods and interpretative qualitative data analysis techniques. The researcher first raises the phenomenon to be interpreted with Foucault's theory of positive and non-repressive constructed power. The data used are the results of in-depth interviews with informants, observations during the ceremonies, photos, and literature study. The research reveals that power during Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies has been constructed dynamically, positively, and unrepressively. The power centered on traditional leader ‘kuncen’ is even distributed to all citizens participating in the ceremonies. The distribution of power is reflected when all ceremony participants can feel both the blessings of the prayers offered by the ‘kuncen’ and the water used for washing the heirlooms belonging to the ancestors of Dangiang Village.