Budi Handono
Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Karakteristik Luaran Kehamilan Dengan Ketuban Pecah Dini Di Rsup Dr. Hasan Sadikin Periode Tahun 20132015 Abrar, Nazila Maghfiratul; Handono, Budi; Triyanti, Gita Indah
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.993 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12499

Abstract

Ketuban Pecah Dini merupakan salah satu permasalahan obstetrik dan merupakan faktor yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas perinatal. 4,5%-7,6% dari seluruh kehamilan di Indonesia mengalami ketuban pecah dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik luaran kehamilan dengan ketuban pecah dini. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan data cross sectional yang telah dilakukan sejak bulan Oktober sampai November 2016. Data diambil dari rekam medis pasien ketuban pecah dini di RSUP Dr. Hasan Sadikin tahun 2013-2015. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dan didapatkan sampel sebanyak 483. Ketuban pecah dini ≥37 minggu kehamilan terjadi 13,9% dari seluruh persalinan. Terjadi paling banyak pada wanita dengan rentang usia 20-35 (77,8%), dan multipara (54,4%). Luaran kehamilan pada ibu paling banyak terdapat hipertensi gestasional yaitu 3,9% pada ketuban pecah dini <6 jam dan 4,3% pada ketuban pecah dini ≥6 jam. Luaran bayi terdapat kejadian asfiksia sedang sebesar 2,6% pada ketuban pecah dini <6 jam dan 5,3% pada ketuban pecah dini ≥6 jam. Karakteristik luaran kehamilan pada ibu dengan ketuban pecah dini adalah tertinggi pada usia 20-35, multipara, dan terdapat kejadian hipertensi gestasional, sementara luaran bayi adalah terdapat asfiksia sedang, dan tidak ada infeksi.Kata Kunci: infeksi neonatus, ketuban pecah dini, luaran kehamilan, tanda vital
PERBANDINGAN KERAPATAN KOLAGEN LIGAMENTUM SAKROUTERINA PADA PASIEN DENGAN DAN TANPA PROLAPS UTERI Silitonga, Intan Renata; Sukarsa, M. Rizkar A.; Pohan, Lasma R.; Armawan, Edwin; Handono, Budi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.755 KB)

Abstract

Kerapatan kolagen merupakan satu faktor penting dalam kejadian prolaps uteri. Beberapa penelitian menunjukkan pasien prolaps uteri mempunyai kerapatan kolagen ligamentum sakrouterina yang rendah. Penelitian ini bertujuan mengukur perbedaan kerapatan kolagen ligamentum sakrouterina pada pasien dengan dan tanpa prolaps uteri. Penelitian ini adalah penelitian analitik komparatif dengan case control study terhadap 16 pasien prolaps uteri dan 16 pasien tanpa prolaps uteri di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RS jejaring. Bahan penelitian diambil dari ligamentum sakrouterina saat operasi histerektomi lalu dibuat sediaan dengan pewarnaan hematoksilin-eosin dan Masson?s trichrome. Uji kemaknaan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan hubungan bermakna antara kerapatan kolagen dan kejadian prolaps uteri, yaitu kerapatan kolagen pada pasien prolaps uteri lebih rendah (15,3%) dibanding dengan tanpa prolaps uteri (48,75%). Cut-off point kerapatan kolagen ligamentum sakrouterina untuk prediksi prolaps uteri adalah ? 30%; sensitivitas 93,8%; spesifisitas 87,5%; dan akurasi 90,6%. Simpulan penelitian ini adalah bahwa kerapatan kolagen ligamentum sakrouterina pada pasien prolaps uteri lebih rendah dibanding dengan pasien tanpa prolaps uteri. Cut-off point kerapatan kolagen ligamentum sakrouterina yang dapat memprediksi prolaps uteri adalah ? 30%. [MKB. 2015;47(4):212?7]Kata kunci: Kerapatan kolagen, ligamentum sakrouterina, prolaps uteriThe Comparison of Uterosacral Ligament Collagen Density in Patients with and without Uterine ProlapseAbstractCollagen density is one important factor in uterine prolapse. Several studies has shown that uterine prolapse patients have lower uterosacral ligament collagen density. The purpose of this study was to reveal the uterosacral ligament collagen density differences in patients with and without uterine prolapse. This case control study was an analitic comparative research of 16 uterine prolapse patients and 16 patients without uterine prolapse who underwent hysterectomy in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and its networking hospitals during November?December 2008. Uterosacral ligament was sampled and then stained using HE and Masson?s trichrome staining. The significance of the result was analyzed using Mann-Whitney. The study found a significant correlation between collagen density and uterine prolapse, with the collagen density of uterine prolapse patients was lower (15.3%) than patients without uterine prolapse (48.75%). The uterosacral ligament collagen density cut-off point in predicting women having uterine prolapse was ?30%; with 93.8% sensitivity, 87.5% specificity, and 90.6% accuracy. The conclusion of this study is that uterosacral ligament collagen density in patients with uterine prolapse is lower (15.3%) than patients without uterine prolapse (48.75%). The uterosacral ligament collagen density cut-off point in predicting a women having uterine prolapse is ?30%. [MKB. 2015;47(4):212?7] DOI: 10.15395/mkb.v47n4.624
Pengaruh Pemberian Vitamin D3 terhadap Kadar Reactive Oxygen Species (ROS) pada Sel PHM1-41 yang Mengalami Hipoksia Aziz, Muhammad Alamsyah; Krisnadi, Sofie Rifayani; Setiabudiawan, Budi; Handono, Budi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v50n3.1408

Abstract

Kelahiran preterm (kurang bulan) merupakan salah satu penyebab kematian bayi yang hingga kini menjadi permasalahan di seluruh dunia. Salah satu mekanisme patofisiologis yang menyebabkan kelahiran kurang bulan adalah aktivitas sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) pada ibu dan janin. Stres maternal biologis berupa hipoksia merupakan salah satu penyebab terjadi mekanisme kelahiran kurang bulan melalui jalur aktivasi sumbu HPA ibu dan sebagai respons terhadap reactive oxygen species (ROS).  Vitamin D3 sebagai salah satu sumber ion Ca2+ dibutuhkan untuk mekanisme kontraksi dan relaksasi otot halus miometrium. Selain itu, vitamin D diduga berpengaruh terhadap kerja sumbu HPA. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan vitamin D3 pada sel lini PHM1-41 yang menjadi model in vitro dari kontraksi miometrium pada ibu hamil yang mengalami stres hipoksia terhadap kadar ROS intraseluler sel PHM1-41. Penelitian dilakukan di Laboratorium penelitian Aretha Medika Utama, Biomolecular and Biomedical Research Centre dengan kurun waktu penelitian dari bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Sel PHM1-41 yang telah dikultur dengan keadaan hipoksia selama 24 jam diberi penambahan vitamin D3, kemudian diukur kadar ROS intraselulernya. Hasil menunjukkan bahwa kadar ROS menurun signifikan pada kelompok sel yang diberi penambahan vitamin D3 dengan konsentrasi 150 nM dibanding dengan kelompok sel kontrol hipoksia. Hal ini menunjukkan  bahwa penambahan vitamin D3 150 nM memiliki potensi mencegah kelahiran kurang  bulanEffects of Vitamin D3 Treatment on Reactive Oxygen Species (ROS) Level in PHM1-41 Cell Line Experiencing HypoxiaPreterm birth is one of the major global cause of perinatal mortality. One of the pathophysiologic mechanisms leading to preterm birth is the Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) axis activity of mother and fetus.. Maternal biological stress, such as hypoxia condition, is one of the trigger  of preterm birth through the activation of HPA axis as a response to the reactive oxygen species (ROS). Vitamin D3 as a source of Ca2+ ion is needed for myometrium smooth muscle’s contraction and relaxation mechanism. Vitamin D is also thought to strongly influence the HPA axis’s work. The purpose of this study was to determine the effect of  vitamin D3 provisionon PHM1-41 cell line induced by hypoxia as an  of pregnant women’s myometrium contraction through assessment of intracellular ROS level in PHM1-41 cell lines. This study was conducted in Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Centre from December 2017 to February 2018. PHM1-41 cells were cultured for 24 hours in hypoxia condition,Vitamin D3 was then added and the level of intracellular ROS was measured. Results showed that the ROS level decreased in cell clusters receiving 150nM vitamin D3 when compared to control hypoxia cell cluster. This indicates that the provision of 150nM vitamin D3 potentially prevents preterm  labor incidents.  
Knowledge and Severity of Female Urinary Incontinence and Reasons for Not Seeking Treatment Susiarno, Hadi; Prakasa, Ryandra; Handono, Budi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 53, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v53n3.2310

Abstract

Urinary incontinence (UI) is a commonly overlooked problem in women, particularly women of post-menopausal age. Despite the medical, social, and hygiene burdens conferred by UI to its sufferers, past studies have shown that only a few among women afflicted with UI sought treatment. This may be due to various reasons: lack of knowledge and awareness of UI or a wrong belief of UI as a natural part of aging. This study aimed to investigate the association between knowledge and severity of UI and reasons for not seeking treatment among post-menopausal women in Bandung, Indonesia. This was an analytic cross-sectional study conducted at the Geriatric and Gynecology Clinic, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, in September 2013. Ninety-one women who met the inclusion criteria were interviewed to assess their knowledge of UI. The severity of UI was assessed using Urinary Distress Inventory 6 (UDI-6). Data were analyzed using the chi-square test. Sixty-five respondents (70.7%) had poor knowledge of UI. Knowledge of UI was not associated with awareness of UI as a medical condition (p=0.633). The difference in UI severity was associated with the perception of UI as a normal part of aging (p=0.008). Post-menopausal women are poorly informed regarding urinary incontinence. However, knowledge alone might not be adequate to encourage women to seek treatment. Further studies are needed to investigate women’s reasons for not seeking treatment for UI.