Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Scholastica : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Emotional Quotient dalam Pendidikan Islam Sudirman Sudirman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1 No 2 (2019): November
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One important component to be able to live in the midst of the community is the ability to direct the emotions well. Research conducted by Goleman shows that the contribution to the success of one’s IQ is only about 20% of the remaining 80% is determined by the cognate factor called emotional intelligence. In fact now it can be seen that the high IQ is not necessarily successful and not necessarily a happy life. People who are high IQ but because emotionally unstable and irritability are often mistaken in determining and solving the problems of life because they cannot concentrate. Emotions are not growing, not overwhelmed, often make change in the face of problems and be- have towards others so much conflict. Emotions are less processed also easily lead to others that sometimes are very excited agree on anything, but in a short time changed reject, so that disrupt the agreed cooperation with others. Thus, the man failed. Islamic education has a high attention to this. It can be seen from the Islamic educational task is to guide and direct the growth and human development from stage to stage of life of the students to achieve the optimal performance point. Attention Islamic education on IQ and EI because Islamic education has a major influence in the growth of education, knowledge, and reason.
Hubungan Negara dan Agama dalam Pandangan Islam Kontemporer Sudirman Sudirman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 2 No 1 (2020): Mei
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The relationship between state and religion can be seen based on the civilization that will relate to the community, both groups and cooperation that existed at that time. This relationship is an interesting discussion, because in the past the relationship between state and religion was one of the biggest problems, because the uneven distribution of religion made this inseparable from the understanding of various groups. The factor that makes this relationship complicated is the absence of the right leader who can be relied on to find a solution to the problem. This study aims to explain the relationship between state and religion in the perspective of contemporary Islam so that we can see the relationship between these two in the past. The research method used is descriptive research so that we can see a picture of the events that occurred during the lamp period. The results in this study indicate that the role of leaders in the relationship between state and religion is one of the factors supporting the spread of religion in the past.
Pentingnya Ilmu Jiwa Agama dalam Kehidupan (Tinjauan: Teori dan Konsep Ilmu Jiwa) Sudirman Sudirman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3 No 1 (2021): Mei
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religion Soul Science is defined as a science that studies the symptoms of a normal, mature and civilized human soul. Psychology is now used generally for the study of human behavior and experience. Psychology of religion examines the influence of religion on attitudes and behavior of people or mechanisms that work within a person, because the way a person thinks, behaves, reacts and behaves cannot be separated from his beliefs, because beliefs are included in personal construction.
Perkembangan Psikologi Agama Sudirman Sudirman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1 No 1 (2018): November
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbangan manusia dilandasi kepercayaan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuhan akan beragama tertanam dalam dirinya. Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Ketika mengkaji psikologi agama, seseorang dihadapkan pada dua hal yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kajian aspek yang sama yaitu aspek batin manusia. Memang, manusia mungkin saja memanipulasi apa yang dialaminya secara kejiwaan, hingga terlihat berbeda dalam sikap dan tingkah lakunya, bahkan mungkin bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk membahas lebih lanjut mengenai psikologi agama, maka dalam makalah berikut akan diuraikan tentang pengertian, sejarah, metode, dan psikologi agama dalam Islam.
Hubungan Agama dan Kesehatan Mental Sudirman Sudirman
SCHOLASTICA: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1 No 1 (2019): Mei
Publisher : LP3M STITNU AL HIKMAH MOJOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di zaman kuno penyakit yang diderita manusia sering dikaitkan dengan gejala-gejala spiritual. Seorang penderita sakit dihubungkan dengan adanya gangguan dari roh jahat oleh semacam makhluk halus. Karenanya, penderita selalu berhubungan dengan para dukun yang dianggap mampu berkomunikasi dengan makhluk halus dan mampu menahan gangguannya. Pengobatan penyakit dikaitkan dengan gejala rohani manusia (Jalaluddin, 2004: 146). Sebaliknya, di dunia modern penyakit manusia didiagnosis berdasarkan gejala-gejala biologis. Makhluk-makhluk halus yang diasumsikan sebagai roh jahat di masyarakat primitif, ternyata sama dengan penggunaan perangkat medis modern dapat dideteksi dengan mikroskop, yaitu berupa kuman atau virus. Kemajuan dalam bidang teknologi kedokteran membawa manusia demikian yakin bahwa gejala sistomastis penyakit disebabkan faktor fisik semata. Kepercayaan ini sebagian besar memang dapat dibuktikan oleh keberhasilan pengobatan dengan menggunakan peralatan dan pengobatan hasil temuan di bidang kedokteran modern.