Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Awal Pertumbuhan dan Induksi Mikroalga Haematococcus Pluvialis Witono, Judy Retti B.; Miryanti, Y.I.P. Arry; Santoso, Herry; Kumalaputri, Angela Justina; Novianty, Valine; Gunadi, Alvin
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.902 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v2i3.2516

Abstract

ABSTRAKMunculnya makanan cepat saji dan polusi udara mendatangkan kerusakan tubuh akibat radikal bebas. Untuk melawan radikal bebas, antioksidan menjadi semakin populer di berbagai kalangan dan salah satunya astaxanthin. Haematococcus pluvialis merupakan sumber astaxanthin alami tertinggi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pertumbuhan H. Pluvialis. Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah (1) konsentrasi inoculum awal yang berbeda (yaitu 10%-v/v dan 20%-v/v) terhadap kepadatan dan jumlah sel; (2) penambahan garam NaCl dan induksi cahaya terhadap rasio karotenoid dan klorofil. Mikroalga H. pluvialis secara fotoautotrof selama sembilan hari. Karotenogenesis diinduksi oleh penambahan NaCl 0,8%-b/v, diikuti oleh induksi di bawah intensitas cahaya tinggi. Kadar klorofil dan total karotenoid dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan H. pluvialis lebih baik dikulturkan dengan konsentrasi inokulum 10% dan diperoleh jumlah 70 x 105 sel/mL. Penambahan garam NaCl 0,8%-b/v disertai induksi intensitas cahaya tinggi dapat meningkatkan rasio kadar karotenoid terhadap klorofil sebesar 28,9%.Kata kunci:,Haematococcus pluvialis, induksi cahaya, karotenoid, klorofil, mikroalga.ABSTRACTFast food and air pollution lead to the production of free radicals in our body. To fight those, it is needed anti-oxidant. That is the reason why antioxidant become a popular supplement for many people and one of them is astaxanthin. Haematococcus pluvialis is the highest source of natural astaxanthin. The goal of this study is to observe the cell growth of H. pluvialis. The variables used in this research are (1) a different initial inoculum concentrations (i.e. 10%-v/v and 20%-v/v) to the density and number of cells; (2) the addition of salt NaCl and light induction to the ratio of carotenoids to chlorophyll. Microalgae H. pluvialis was cultured in batch mode and photoautotrophic cultivation for nine days. The carotenogenesis was induced by addition of NaCl 0.8%-b/v, followed by induction under high-light intensity. Chlorophyll levels and total carotenoids were analyzed using a spectrophotometer. It was observed that growth of H. pluvialis was preferable cultured with 10% inoculum concentration and obtained 70 x 105 cells/mL. The addition of NaCl 0.8%-b/v salt followed by high light intensity induction could increase the ratio of carotenoids to chlorophyll levels by 28.9%.Keywords: carotenoid, chlorophyll, Haematococcus pluvialis, light induction, microalgae.
EKSTRAKSI OLEORESIN JAHE YIP Arry Miryanti; Jenny Novianti; Hwei Liang
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2009)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.594 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan produk olahan hasil distilasi rimpang jahe yang telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan aditif parfum, antiseptik, obat – obatan, dan kosmetik. Selama ini ampas jahe sisa distilasi tidak diolah lebih lanjut dan langsung dibuang ke lingkungan sebagai limbah. Oleh karena itu pada penelitian ini ampas jahe di diolah sehingga diperoleh oleoresin yang memiliki nilai jual tinggi dengan ekstraksi padat – cair. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh perlakuan awal ampas jahe dan pengaruh rasio massa ampas jahe dengan pelarut etanol (F : S) dalam proses ekstraksi padat-cair terhadap yield oleoresin serta mempelajari apakah ada interaksi antara perlakuan awal ampas jahe dan rasio massa ampas jahe dengan pelarut etanol.Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode ekstraksi padat – cair (leahing) antara ampas jahe sisa distilasi menggunakan pelarut etanol 95 % yang dikontakkan secara perkolasi. Metode penelitian yang dilakukan dibagi dalam beberapa tahap yaitu perlakuan awal, penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Pada perlakuan awal dilakukan pembuatan bubuk jahe dan ampas jahe sisa distilasi. Pada penelitian pendahuluan dilakukan penentuan kadar oleoresin total dalam ampas jahe kering dengan ekstraksi soxhlet dan penentuan waktu kesetimbangan ekstraksi. Sedangkan pada penelitian utama dihitung yield oleoresin pada berbagai variasi perlakuan awal ampas jahe (dioven, dijemur matahari dan tanpa perlakuan) serta variasi rasio massa ampas jahe dengan pelarut etanol (F : S) sebesar 1 : 4, 1 : 6, 1 : 8, dan 1 : 10. Pada penelitian ini dilakukan analisis indeks bias, analisis kadar air, analisis tingkat kepedasan atau SHU (scoville heat unit) serta analisis ekonomi dan kelayakan usaha.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kandungan oleoresin total dalam ampas jahe adalah 31,06% dan waktu kesetimbangan ekstraksi adalah 130 menit. Perlakuan awal ampas jahe dan F : S berpengaruh terhadap yield oleoresin serta terdapat interaksi antara kedua variasi tersebut. Yield oleoresin terbesar (39,33%-berat) diperoleh dari variasi ampas jahe tanpa perlakuan dan F : S sebesar 1 : 10 yang memberikan nilai kepedasan scoville heat unit sebesar 150.000. Namun kualitas oleoresin terbaik (nilai kepedasan SHU tertinggi = 200.000) diperoleh pada yield terendah (18,86%), yaitu pada F : S = 1 : 4 dan perlakuan awal ampas jahe yang dioven. Jadi semakin tinggi yield oleoresin maka kualitas kepedasan yang dihasilkan semakin rendah.
EKSTRAKSI ANTIOKSIDAN DARI KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) YIP Arry Miryanti; Lanny Sapei; Kurniawan Budiono; Stephen Indra
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2011)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6022.239 KB)

Abstract

Pemanfaatan limbah kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) hingga saat ini masih terbataspada penyamakan kulit, pewarnaan tekstil dan obat tradisional. Namun, kulit buah manggis jugasebenarnya kaya sekali akan senyawa antioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatanmanusia dan potensi ini belum dimanfaatkan secara luas. Oleh karena itu proses ekstraksiantioksidan dari kulit buah manggis perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan penelitian adalah mengetahuipengaruh jenis pelarut, temperatur dan rasio umpan terhadap pelarut (F:S) dalam proses ekstraksiantioksidan yang terdapat pada kulit buah manggis terhadap aktivitas antioksidan. Jenis pelarutyang digunakan antara lain metanol, methanol-air (9:1) dan air. Sedangkan temperaturdivariasikan dari temperatur kamar, 35oC, dan 45oC serta variasi rasio F:S yang dipilih adalah1:7, 1:10, 1:15. Kulit buah manggis dikecilkan ukurannya dan kadar airnya dikurangi hingga ± 8-10%. Setelah itu dilakukan penelitian pendahuluan untuk penentuan waktu proses ekstraksi yangdianggap dapat mewakili lamanya waktu ekstraksi pada penelitian utama. Proses ekstraksipenelitian pendahuluan dilakukan pada temperatur kamar dengan pelarut air dan rasio F:S = 1:7.Karakteristik senyawa antioksidan yang terdapat pada ekstrak diuji lebih lanjut menggunakan ujifitokimia, FTIR, dan GC-MS. Di samping itu aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metoderadikal bebas stabil DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) yang ditunjukkan oleh nilai EC50(konsentrasi antioksidan yang mampu memberikan peredaman radikal bebas sampai 50%).Variabel proses hasil penelitian yang terbaik adalah ekstraksi antioksidan dengan pelarut metanol,temperatur 35oC dan rasio F:S=1:15, dengan nilai rendemen dan EC50 berturut-turut sebesar17,91% dan 8,667. Rancangan faktorial 3 faktor menunjukkan hanya jenis pelarut dan temperaturekstraksi yang berpengaruh terhadap nilai EC50. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kulitbuah manggis positif terhadap uji flavonoid dan polifenol, sedangkan hasil uji FTIR menunjukkanadanya gugus C=C, O-H, C-O dan cincin aromatik. Hasil uji GC-MS menunjukkan adanyasenyawa asam heksadekanoat, asam oleat dan katekin pada ekstrak kulit buah manggis. Senyawaxanthone yang merupakan antioksidan terbesar yang terdapat di kulit buah manggis tidakterdeteksi yang kemungkinan besar disebabkan karena bentuknya yang masih berupa senyawakompleks glikosida dan belum terhidrolisis.Kata kunci : kulit buah manggis, ekstraksi, antioksidan, DPPH, FTIR, GC-MS, fitokimia
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SILIKA DARI SEKAM PADI Andy Chandra; YIP Arry Miryanti; Livia Budyanto Widjaja; Andika Pramudita
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7651.352 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara penghasil padi terbesar ketiga didunia menghasilkan limbahagrikultural yang melimpah. Sekitar 20% dari limbah agrikultural yang diperoleh pada prosespenggilingan padi merupakan sekam padi yang potensinya belum dimanfaatkan secaramaksimal. Sekam padi memiliki kandungan silika yang cukup besar yaitu sekitar 16-18%.Oleh sebab itu sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif sumber bio-silikayang dapat dimanfaatkan dalam industri kaca, semen, adsorben, dan bahan keramik.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi silika dari sekam padi dengan melakukanperlakuan awal menggunakan larutan asam dan diikuti dengan perlakuan thermal. Kemudiandikaji lebih lanjut pengaruh perlakuan asam terhadap kemurnian dan karakteristik silika sertapengaruh kondisi perlakuan thermal terhadap karakteristik silika yang dihasilkan.Metode penelitian dibagi atas dua tahap yaitu tahap penyiapan sampel dan tahappenelitian utama. Pada tahap penyiapan sampel, sekam padi dicuci, dikeringkan dankemudian dilakukan penentuan kadar abu serta silika. Sedangkan pada tahap penelitianutama, proses isolasi silika diawali dengan perlakuan awal menggunakan asam klorida atauasam sitrat untuk penghilangan senyawa pengotor inorganik yang dilanjutkan dengan prosesthermal untuk penghilangan senyawa organik. Pembakaran dilakukan pada temperatur 350oC,550oC, dan 750oC selama 1, 5, dan 10 jam. Silika yang dihasilkan kemudian dianalisismorfologinya dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), komposisi dan strukturnyadengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan X-ray Diffraction (XRD), sertaluas permukaan spesifiknya dengan Brunauer, Emmett, Teller –Surface Area Analyzer (BETSAA).Yield abu dan silika yang diperoleh dari sekam padi pada penelitian ini berturut-turut~22% dan ~19%. Berdasarkan hasil SEM, silika paling banyak terdapat pada bagianepidermis luar sekam padi selain trikoma (rambut-rambut halus). Perlakuan awal denganasam klorida dan asam sitrat mampu mempertahankan struktur silika amorf walaupun dibakarpada temperatur 750oC serta silika murni berdasarkan uji XRD dan FTIR. Perlakuan awaldengan asam klorida dan asam sitrat dapat membantu melarutkan ion-ion pengotor dalamsekam padi sehingga dapat membantu meningkatkan luas permukaan spesifik abu sekampadi. Silika yang dihasilkan berwarna putih yang menunjukkan tingkat kemurnian yangcukup tinggi serta memiliki luas permukaan spesifik ~250-300 m2/g, sehingga memilikipotensi yang menjanjikan untuk dapat digunakan sebagai penyangga katalis atau adsorben.
STUDI KINETIKA DEHIDRASI OSMOTIK PADA IKAN TERI DALAM LARUTAN BINER DAN TERNER Judy Retti Witono; YIP Arry Miryanti; Lia Yuniarti
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.451 KB)

Abstract

Pengolahan ikan asin di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan sinar matahari. Meskipun metode ini murah, namun dapat menurunkan kualitas produk karena laju dehidrasinya tidak dapat bersaing dengan laju pembusukan ikan. Sedangkan penggunaan garam sampai batas tertentu dapat meningkatkan kecepatan pengurangan air namun dapat menimbulkan masalah dengan tekstur dan rasa ikan asin. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kinetika dehidrasi osmotik ikan teri dalam proses pengawetannya sehingga dapat mengendalikan kecepatan pengurangan air dan penambahan solute (NaCl & C12H22O11).Metodologi penelitian ini meliputi analisis awal ikan teri segar (kadar air, kadar garam, dan tekstur), proses dehidrasi osmosis dan dilanjutkan dengan pengeringan. Proses dehidrasi osmosis dilakukan dengan variasi jenis larutan osmosis (larutan NaCl – larutan Biner dan NaCl + sukrosa – larutan Terner), variasi konsentrasi larutan Biner (15%, 24,24%-jenuh, dan 50%). Penggunaan larutan Terner hanya diterapkan pada konsentrasi NaCl 24,24% dengan penambahan sukrosa 30%. Seluruh percobaan dilakukan pada temperatur ruang dan 40oC. Sebagai perbandingan, juga dilakukan penggaraman kering 10% dan 35 %-berat. Analisis produk ikan asin meliputi kadar air, kadar garam, kadar abu tak larut dalam asam, tekstur (kekerasan dan kekenyalan) sesudah pengeringan, serta uji rasa dan kesukaan pada ikan yang digoreng.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hilangnya air karena difusi garam ke substrat ikan mengalami peningkatan secara paralel dengan peningkatan konsentrasi larutan osmosis dan temperatur. Namun pada konsentrasi NaCl yang sangat tinggi (50%), temperatur tidak berpengaruh secara signifikan. Selain itu, penggunaan larutan Terner akan meningkatkan hilangnya air dan juga mengurangi penetrasi garam. Koefisien difusivitas air berada dalam rentang 1,001x10-5 sampai 4,736x10-5 cm2 s−1, sedangkan koefisien difusivitas NaCl berada dalam rentang 1,25x10-4 sampai 2,929x10-5 cm2 s−1. Kekerasan ikan meningkat dan kekenyalan ikan berkurang setelah mengalami proses dehidrasi osmosis yang diteruskan dengan pengeringan.Kata kunci : dehidrasi osmosis, ikan teri, larutan Biner, larutan Terner
Pengembangan Adsorben Activated Fly Ash untuk Reduksi Ion Cu2+ dan Cr6+ dalam Limbah Cair Industri Tekstil Judy Retti B. Witono; Y.I.P Arry Miryanti
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1708.316 KB)

Abstract

Industri yang berkembang di daerah Bandung dan sekitarnya saat ini adalah industri tekstil. Pengolahan limbah cair dari industri tekstil tersebut. sampai saat ini belum berhasil dengan baik. Salah satu penyebabnya karena metode pengolahan yang banyak digunakan adalah metode lumpur aktif. Metode ini mempunyai banyak hambatan dalam pelaksanaannya, yaitu selain penggunaan lahan pengolahan yang cukup luas metode ini memerlukan penanganan yang tidak mudah. Hal lain yang cukup penting adalah metode ini tidak dapat mengeliminasi ion logam yang terdapat dalam limbah cair industri tekstil. Padahal hampir semua zat warna kimia yang digunakan mengandung logam berat. Oleh karena itu, perlu dikembangkan pengolahan limbah cair industri tekstil secara fisika yang biayanya relatif murah, operasinya mudah serta dapat menghilangkan semua kontaminan yang terdapat dalam limbah. Penelitian ini memilih sistim terpadu koagulasi dan adsorpsi. Selain proses ini mudah operasinya, secara khusus juga akan memfokuskan pada pemilihan koagulan dan pengembangan adsorben berbahan dasar murah. Khusus untuk adsorben akan dikembangkan menggunakan limbah bahan bakar industri yaitu batubara. Selain limbah yang dihasilkannya yaitu fly ash berbahaya bagi kesehatan bila dibiarkan, nilai jualnyapun tidak ada. Metoda penelitian yang akan digunakan adalah proses karbonisasi pada suhu tinggi (400˚C dan 600˚C) dalam tungku pembakar bebas udara dilanjutkan dengan aktivasi menggunakan konsentrat asam (HCl) atau basa (NaOH) pada fly ash yang dikumpulkan dari pabrik pabrik. Sedang koagulan yang akan digunakan adalah mineral sederhana yaitu Al2(SO4)3 (alum) dan FeSO4 serta campuran keduanya. Pengujian kinerja adsorben dan integrasi metode koagulasi dan adsorpsi dilakukan terhadap limbah artificial yang mengandung ion logam Cu2+ dan Cr6+ (karena keduanyan merupakan ion logam berat yang paling sering ditemukan dalam limbah cair industri tekstil). Sedangkan analisa morfologi dan kandungan komponen dalam fly ash dilakukan dengan Scanning Electron Microscopes (SEM) dan Energy Dispersive Spectrometry (EDS). Dan untuk keperluan aplikasi di lapangan di kemudian hari, juga akan dilakukan perhitungan kinetika laju adsorpsi.Kata kunci : adsorpsi, fly ash, logam berat, koagulasi, alum, FeSO4.
Management of Technology Transfer in the Traditional Tempeh and Tofu Industries Ign. Suharto; YIP Arry Miryanti; Lita Wijaya
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.097 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v20i2.398

Abstract

The objective is to study the screening of Rhizopus sp inoculum, the utilization of this inoculum for a solid substrate soybean fermentation, to study the trial run of peeling machine and a fluidized bed reactor for the separation of soybean skin and soybean meat, to compare a manual cotton cloth bag filter and a manual rotary filter to separate soybean slurry, to run vertical technology transfer of a manual rotary filter into small scale tofu industry according to hygiene control and education skill training . The benefit of this research is to create a new business and to absorb manpower. The method used is a preparation of Rhizopus sp inoculum for fermentation. Trial run of the peeling machine and three phase fluidized bed reactor for the production of cleaned soybean. Cleaned soybeans are delivered to the production of a cake like fermented soybean , soy milk and tofu. Vertical transfer of technology of a manual rotary filter based on technometric approaches to soy milk and tofu industries. Education skill training was attended by 60 participants. The research results can be shown that the utilization of Rhizopus oligoporus and Rhizopus oryzae inoculum for soybean fermentation into a cake like fermented soybean can be accepted by the 60 panelists and local market. The trial run of peeling machine has a capacity of 30 kg per hour, the trial of three phase fluidized bed reactor can produce cleaned soybean after the total weight of soybean skin of about 35% from the total feed. Technology transfer of a manual rotary filter to the small scale of tofu industries can increase an efficiency of 66.37% for 25 minutes is better than a manual a cotton cloth bag filter with an efficiency of 62.62% for 36 minutes in tofu industry according to the hygiene control. This manual rotary filter can be scale-up into a larger scale. Education skill training was attended by 60 participants of a low income group people in rural areas in order to show how of the know how to do something better according to the hygiene control.
Studi Awal Pertumbuhan dan Induksi Mikroalga Haematococcus Pluvialis Judy Retti B. Witono; Y.I.P. Arry Miryanti; Herry Santoso; Angela Justina Kumalaputri; Valine Novianty; Alvin Gunadi
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i3.2516

Abstract

ABSTRAKMunculnya makanan cepat saji dan polusi udara mendatangkan kerusakan tubuh akibat radikal bebas. Untuk melawan radikal bebas, antioksidan menjadi semakin populer di berbagai kalangan dan salah satunya astaxanthin. Haematococcus pluvialis merupakan sumber astaxanthin alami tertinggi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pertumbuhan H. Pluvialis. Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah (1) konsentrasi inoculum awal yang berbeda (yaitu 10%-v/v dan 20%-v/v) terhadap kepadatan dan jumlah sel; (2) penambahan garam NaCl dan induksi cahaya terhadap rasio karotenoid dan klorofil. Mikroalga H. pluvialis secara fotoautotrof selama sembilan hari. Karotenogenesis diinduksi oleh penambahan NaCl 0,8%-b/v, diikuti oleh induksi di bawah intensitas cahaya tinggi. Kadar klorofil dan total karotenoid dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan H. pluvialis lebih baik dikulturkan dengan konsentrasi inokulum 10% dan diperoleh jumlah 70 x 105 sel/mL. Penambahan garam NaCl 0,8%-b/v disertai induksi intensitas cahaya tinggi dapat meningkatkan rasio kadar karotenoid terhadap klorofil sebesar 28,9%.Kata kunci:,Haematococcus pluvialis, induksi cahaya, karotenoid, klorofil, mikroalga.ABSTRACTFast food and air pollution lead to the production of free radicals in our body. To fight those, it is needed anti-oxidant. That is the reason why antioxidant become a popular supplement for many people and one of them is astaxanthin. Haematococcus pluvialis is the highest source of natural astaxanthin. The goal of this study is to observe the cell growth of H. pluvialis. The variables used in this research are (1) a different initial inoculum concentrations (i.e. 10%-v/v and 20%-v/v) to the density and number of cells; (2) the addition of salt NaCl and light induction to the ratio of carotenoids to chlorophyll. Microalgae H. pluvialis was cultured in batch mode and photoautotrophic cultivation for nine days. The carotenogenesis was induced by addition of NaCl 0.8%-b/v, followed by induction under high-light intensity. Chlorophyll levels and total carotenoids were analyzed using a spectrophotometer. It was observed that growth of H. pluvialis was preferable cultured with 10% inoculum concentration and obtained 70 x 105 cells/mL. The addition of NaCl 0.8%-b/v salt followed by high light intensity induction could increase the ratio of carotenoids to chlorophyll levels by 28.9%.Keywords: carotenoid, chlorophyll, Haematococcus pluvialis, light induction, microalgae.