Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Perbandingan Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Sekolah Dasar Di Malaysia, India Dan Indonesia Agustinus Tanggu Daga
Jurnal Edukasi Sumba (JES) Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : SekolahTinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53395/jes.v4i1.82

Abstract

Pemerintah berbagai negara telah menjadikan pendidikan karakter sebagai topik pembahasan  dan prioritas dalam pengembangan sumberdaya manusia. Pendidikan dasar telah mengimplementasikan pendidikan karakter baik dalam kurikulum maupun praktek pendidikan. Lembaga Pendidikan dasar bertanggung jawab mengembangkan dan melaksanakan pendidikan karakter bangsa dalam rangka memajukan keberadaban bangsa. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai inti yang berakar dalam kehidupan masyarakat. Melalui pendidikan karakter dihasilkan manusia yang berkualitas dalam seluruh dimensi kepribadiannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perbandingan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah dasar tiga negara yaitu Malaysia, India, dan Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian  kualitatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dokumen. Dan berdasarkan analisis berbagai dokumen kurikulum ditemukan bahwa ketiga negara tersebu mengimpplementasikan pendidikan karakter baik dalam kurikulum maupun dalam kegiatan pendidikan. Ada persamaan dan perbedaan pendidikan karakter ketiga negara tersebut. Kesamaan dan perbedaan tersebut ditinjau dari tiga aspek yaitu pendidikan karakter dalam kurikulum, nilai-nilai karakter dalam kurikulum, dan strategi implementasi pendidikan karakter.
Kebijakan Pengembangan Kurikulum di Sekolah Dasar (Sebuah Tinjauan Kurikulum 2006 hingga Kebijakan Merdeka Belajar) Agustinus Tanggu Daga
Jurnal Edukasi Sumba (JES) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : SekolahTinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53395/jes.v4i2.179

Abstract

Curriculum development is very important for curriculum developers in primary schools to improve the quality of educational processes and outcomes. The aim of this research is to find out how curriculum development in primary schools in the KBK, KTSP, Curriculum 2013, and the independent learning policy. This research method is descriptive qualitative. Literature review method is taken to collect the data from relevant resources.  The research found out that curriculum development of the primary school occurs in the span of Indonesian history. The primary school curriculum is a competency-based curriculum designed in the KBK, KTSP, Curriculum 2013, and independent learning. The characteristics of the primary school curriculum in KTSP are a separated curriculum for grades IV-VI and thematic curriculum for grades I-III. The characteristics of the primary school curriculum in the 2013 curriculum are a cross curriculum or integrated curriculum for all grades with a scientific approach and authentic assessment. The primary school curriculum in independent learning needs to pay attention to curriculum simplification, national exams, simplifying lesson plans, the teaching profession. Meanwhile, the implementation of independent learning must include objectives, flexibility, and benefits of the curriculum.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013 untuk Mengembangkan Keterampilan Abad 21 Siswa Sekolah Dasar Agustinus Tanggu Daga
JIRA: Jurnal Inovasi dan Riset Akademik Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Ahlimedia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47387/jira.v3i1.137

Abstract

Keterampilan abad 21 sangat dibutuhkan oleh peserta didik dewasa ini untuk mengantisipasi perubahan global yang sangat cepat. keterampilan abad 21 sangat relevan dengan tren pembelajaran abad 21 yang diterapkan di sekolah dasar.  Pendekatan saintifik yang diterapkan kurikulum 2013 dapat meningkatkan keterampilan abad 21 siswa kolah dasar. Masalah  dalam penelitian ini adalah bagaimana  penerapan pendekatan  saintifik untuk meningkatkan  keterampilan abad 21 siswa sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan tentang kurikulum 2013 di sekolah dasar, keterampilan abad 21, dan implementasi pendekatan saintifik mengembangkan keterampilan abad 21. Penelitian ini menggunakan  pendekatan kualitatis dengan metode kepustakaan. Data diperoleh dari berbagai referensi yang berkaitan dengan topik penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis konten. Penelitian ini menemukan bahwa (1) kurikulum 2013 menerapkan pendekatan saintifik dalam perencanaan,  proses dan evaluasi pembelajaran; (2) keterampilan abad 21 di sekolah dasar meliputi keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolabrasi, dan kreativitas; (3) implementasi pendekatan saintifik dalam  proses pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas peserta didik; (4) implementasi pendekatan saintifik dapat dipadukan dengan  strategi dan model pembelajaran yang relevan seperti pembelajaran aktif dan kooperatif.
Makna Merdeka Belajar dan Penguatan Peran Guru di Sekolah Dasar Agustinus Tanggu Daga
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 7 No. 3 (2021): July-September
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v7i3.1279

Abstract

Esensi merdeka belajar adalah kebebasan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Kebebasan ini tidak dialami guru dan siswa selama ini karena guru lebih mengerjakan adminstrasi pendidikan dan pembelajaran. Guru juga kurang memahami konsep dan perannya dalam kebijakan merdeka belajar. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan tentang konsep dan makna merdeka belajar, peran guru dalam merdeka belajar. Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan. Analisis konten digunakan untuk menganalisis data penelitian. Hasil penelitian ini adalah (1) merdeka belajar meliputi 4 kebijakan yaitu ujian sekolah berstandar nasional dilaksanakan oleh pihak sekolah, asesmen kecakapan minimum dan survei karakter, penyederhanaan RPP, sistem zonasi penerimaan siswa baru; (2) makna merdeka belajar meliputi merdeka berpikir, merdeka berinovasi, belajar mandiri dan kreatif, merdeka untuk kebahagiaan; (3) peran guru sangat bervariasi meliputi fasilitator pembelajaran merdeka belajar, guru inovatif dan kreatif, guru berkarakteristik sebagai guru, dan guru penggerak. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman makna merdeka belajar dan peran guru dalam merdeka belajar membantu guru dan siswa lebih merdeka dalam berpikir, lebih inovatif dan kreatif, serta bahagia dalam kegiatan pembelajaran.
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII SMP Aloysius Bandung Agustinus Tanggu Daga; Yoksiana
VEKTOR: Jurnal Pendidikan IPA Vol. 1 No. 1 (2020): VEKTOR: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : HMPS Tadris IPA FTIK IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/vektor.v1i1.10

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan hasil belajar IPA siswa kelas VIII dengan menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) dan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VIII D dan VIII E SMP Santo Aloysius Bandung. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes. Analisis data dilakukan untuk menentukan nilai rata-rata, persentase ketuntasan kelas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata pre-test kelas eksperimen adalah 11 dan kelas kontrol adalah 10. Nilai rata-rata post-tes kelas kontrol adalah 81 dan kelas eksperimen adalah 87. Persentase ketuntasan kelas kontrol adalah 83% dan kelas eksperimen adalah 100%. Hasil uji statistik diperoleh harga t = 2.058, db= 47 dan sig. (2-tailed) atau p-value = 0.045/2 = 0.023 < 0.05, atau H0 ditolak. Hasil uji statistik tersebut menunjukan adanya perbedaan skor kedua kelas tersebut. Skor kelas yang diajar dengan model STAD lebih tinggi daripada skor di kelas yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, hasil belajar, student team achievement division The purpose of this research was to determine the differences in learning outcomes of natural science students in class VIII using the Student Team Achievement Divisions (STAD) learning model and quasi-experimental method. This research is a quantitative study with a quasi-experimental method. The data source of this study were students of class VIII D and VIII E of St. Aloysius Junior High School in Bandung. Data collection using test instruments. Data analysis was performed to determine the average value, the percentage of class completeness, and hypothesis testing. The results showed that the average pre-test value of the experimental class was 11 and the control class was 10. The average post-test value of the control class was 81 and the experimental class was 87. The percentage of completeness of the class for the control class was 83% and the experimental class was 100% Statistical test results obtained a t value of 2.058, db = 47 and sig. (2-tailed) or p-value = 0.045 / 2 = 0.023 <0.05, or H0 is rejected. The results of the statistical tests show differences in the scores of the two classes. Class scores taught with the STAD model are higher than class scores taught with conventional learning models.
Pelatihan Sikap Bertanggungjawab Anak Panti Asuhan Cahaya Kasih Sumber Sari Bandung Agustinus Tanggu Daga; Wahyuning Dwi Wardani Ndraha; Maria Oktaviane
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 11, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v11i2.1202

Abstract

One of the problems in the Cahaya Kasih orphanage is the lack of responsibility of the children at the orphanage. The purpose of this training activity is to develop a responsible attitude for the children of the Cahaya Kasih orphanage. The problem-solving method used is training through emotional freedom therapy, group sensitivity, reality therapy, and lectures on responsibility material. Participants' responses to this training were obtained through written answers collected at the end of each activity session.The results of this training show that the participants can help increase their knowledge and understanding of responsible attitudes, help them recognize and let go of negative emotions that hinder responsibility, help them identify the skills that support a responsible attitude, help them to realize their aspirations and the efforts that have been and will be made to achieve them. Based on these results, the authors conclude that responsible attitude training through emotional freedom therapy, group sensitivity, and reality therapy activities can increase knowledge and understanding and develop a responsible attitude for the children of the Cahaya Kasih orphanage in Bandung. Therefore, the authors suggest that training on emotional freedom therapy, group sensitivity, reality therapy can be applied to reduce negative behavior and develop a responsible attitude for orphanage children.