Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Gel Chitosan terhadap Jumlah Leukosit Tikus Putih pada Penyembuhan Luka Insisi Syafruddin Syafruddin; Dessy Ayu Mega Putri; Budianto Panjaitan; Arman Sayuti
Buletin Veteriner Udayana Vol. 14 No. 2 April 2022
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.365 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2022.v14.i02.p09

Abstract

This study aims to determine the effect of chitosan gel on the number of white mouse leukocytes (Rattus norvegicus) on incision wound healing. This study used 10 female white rats that were 2 months old and weighed ± 165 g, that was designed with a Split-plot design using 10 rats and was divided into 2 treatment groups with each treatment group consisting of 5 replications. Treatment I (control) incision wound smeared with gentamicin ointment, treatment II incision wound smeared with chitosan gel 2 times a day for 14 consecutive days. This study used chitosan gel with a 5% concentration. Blood sampling through the lateral tail vein as much as 0.5 ml and observation of the number of leukocytes was carried out on days 0, 3, 7 and 14 after treatment. Examination of the number of leukocytes is done with a hemocytometer and using the Neubauer method. The parameters of this study are the number of leukocytes in the incision wounds healing process in white rats. The research data were analyzed using analysis of variance based on the Split-plot Design with the SPSS program. The number of leukocytes in group I (gentamicin) vs group II (chitosan) on days 0; 3; 7; and 14 was 7.89×104/mm3 vs 7.30×104/mm3; 6.28×104/mm3 vs 10.23×104/mm3; 7.27×104/mm3 vs 10.28×104/mm3; and 7.02×104/mm3 vs 7.52×104/mm3, respectively. From the results of this study it can be concluded that the use of chitosan gel is better than gentamicin ointment in the healing process of incision wounds in white rats. The results of thisstudy can be followed by conducting research on other animals for wound treatment applications.
Pemberian Gonadotropin Releasing Hormone Meningkatkan Konsentrasi Hormon Testosteron pada Domba Waringin Teuku Armansyah; Sara Febria Putri; Oppi Oktaviany; Tongku Nizwan Siregar; Syafruddin Syafruddin; Budianto Panjaitan; Arman Sayuti
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.2 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.22.3.342

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan konsentrasi testosteron adalah dengan pemberian gonadotropin releasing hormone (GnRH). Peningkatan testosteron menyebabkan peningkatan kualitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian gonadotropin releasing hormone (GnRH) terhadap peningkatan kualitas semen dan level testosteron domba waringin. Dalam penelitian ini digunakan tiga ekor domba waringin dengan rancangan pola bujur sangkar latin 3 x 3 sehingga hewan percobaan menerima suntikan NaCl fisiologis sebagai kontrol (K0), 50 ìg GnRH (K1), dan 100 ìg GnRH (K2). Penampungan semen dilakukan satu kali ejakulasi/minggu, selama tiga minggu. Sampel semen dikoleksi menggunakan elektroejakulator 24 jam setelah perlakuan dan diamati warna, konsistensi, volume, motilitas, konsentrasi, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa. Koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi hormon testosteron dilakukan 60 menit setelah penyuntikan GnRH. Analisis konsentrasi testosteron dilakukan menggunakan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Data mengenai warna dan konsistensi semen dilaporkan secara deskriptif, sedangkan level testosteron, volume semen, motilitas, konsentrasi, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa dianalisis dengan analisis varian. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa warna dan konsistensi semen yang dikoleksi pada semua kelompok perlakuan adalah krem dengan konsistensi kental. Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa volume semen, konsentrasi spermatozoa, motilitas spermatozoa, viabilitas spermatozoa dan abnormalitas spermatozoa setelah pemberian GnRH menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (P>0,05). Rata-rata (±SD) konsentrasi testosteron pada kelompok K0, K1, dan K2 masing-masing adalah 1,82±1,08; 8,05+2,24; dan 8,81±1,09 ng/mL (P<0,05). Disimpulkan bahwa pemberian GnRH tidak memengaruhi kualitas semen namun dapat meningkatkan konsentrasi hormon testosteron pada domba waringin.
PENGARUH DEPOSISI SEMEN SAAT INSEMINASI BUATAN TERHADAP ANGKA KEBUNTINGAN SAPI (The Effect of Semen Deposition During Artificial Insemination on Pregnancy Rate in Cows) wanti dessi dana; hamdan hamdan; budianto panjaitan; ginta riady; sri wahyuni; cut dahlia iskandar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.643 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.4812

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh deposisi semen saat inseminasi buatan terhadap angka kebuntingan sapi. Responden dalam penelitian ini adalah petugas inseminator profesional (bersertifikat) yang bertugas di Kecamatan Kuta Cot Glie, Krueng Barona Jaya, dan Blang Bintang. Jumlah sampel responden untuk angka kebuntingan pada penelitian ini adalah sapi-sapi betina yang ada di tiga kecamatan di Aceh Besar tersebut yang siap untuk diinseminasi selama bulan April sampai Mei 2017. Hasil dari penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan deposisi semen pada cincin serviks ketiga lebih rendah dibandingkan dengan deposisi semen pada cincin serviks keempat dengan persentase non return rate (60-90 hari) pada responden  I, II dan III secara berturut-turut adalah 80,56% ; 87,64%  dan 94,55%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa angka kebuntingan pada deposisi semen cincin serviks keempat lebih tinggi dari pada deposisi semen pada cincin serviks ketiga. ABSTRACTThe aims of study was to determine the effect of semen deposition during artificial insemination on pregnancy rate cow. Respondents in this research are professional inseminator (certified) from Kecamatan Kuta Cot Glie, Krueng Barona Jaya and Blang Bintang. The number of respondent samples for pregnancy rate in this study were female cows in three subdistricts in Aceh Besar that available for artifial inseminated during April and May 2017. The data of this study were analyzed descriptively. The results of this study indicated that the position at the fourth cervical ring of semen deposition has the higher pregnancy rate with the percentage of NRR (60-90 days) on the respondent I, II and III respectively is 80.56%; 87.64% and 94.55%. Based on the results of the research can be concluded that pregnancy rate on the fourth cervical ring semen deposition better was than semen deposition on the third cervical ring semen deposition.
DENSITAS RADIOGRAFI TULANG FEMUR ANJING LOKAL (Canis lupus familiaris) YANG DIOVARIOHISTEREKTOMI (Radiography Density of Femur Bone On Lokal Dogs (Canis lupus familiaris) That In Ovariohisterektomi) Dinda Jasmal Sikumbang; Budianto Panjaitan; Syafruddin Syafruddin; Erwin Erwin; Dian Masyitha; Hamdan Hamdan
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 3 (2018): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.32 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i3.7815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran densitas radiografi tulang femur pada anjing lokal. Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 ekor anjing betina lokal dengan kisaran umur 5-7 bulan. Pengambilan gambar radiografi dan pengukuran densitas radiografi tulang femur dengan menggunakan Software Image J pada minggu ke 0 (sebelum diovariohisterektomi), minggu ke 1, 2, 3, dan 4 (setelah diovariohisterektomi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata densitas radiografi tulang femur sebelum diovariohisterektomi adalah 151,8401±5,8767. Hasil ini menunjukkan berbeda nyata  pada  minggu 1, 2, dan 4 setelah diovariohisterektomi dengan hasil densitas radiografi tulang 168,7952±7,88446, 181,0557±7,81876, dan 169,1759±4,73123. Pada minggu 3 setelah diovariohisterektomi menunjukkan hasil tidak berbeda nyata dengan densitas radiografi tulang sebelum diovariohisterektomi yaitu 152,9360±7,38131. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa densitas tulang dari hasil pengambilan gambar radiografi tulang femur anjing lokal (Canis lupus familiaris) didapatkan terjadi peningkatan densitas radiografi pada minggu ke 1, 2, 4 dan menurun pada minggu 3. Penurunan dan peningkatan densitas radiografi pada tulang femur bersifat fluktuasi. (This study aimed  to get radiodensity of femoral bone in local dog. Animals used in this study were 3 local female dogs with the age range of 5-7 months. Radiographic imaging and radiographic density measurements of femur bone using Software Image J before and after ovariohysterectomy at weeks 1, 2, 3, and 4. The results show that the average radiodensity of femur bone before ovariohysterectomy was 151,8401± 5,8767. This result had significantly different with 1, 2, and 4 weeks after ovariohysterectomy. In week 3 after ovariohysterectomy, the results were not significantly different from the radiograph density of the femur bone before in ovariohysterectomy that was 152.9360 ± 7.38131. Based on the results of the study it can be concluded that bone density resulting from radiography imaging of local dog's femur (Canis lupus familiaris) using Image Software Image J obtained  radiographic density increased at week 1, 2, 4 and decreased at week 3. The decrease and increase of radiographic density of the femur bone is a fluctuation).
DENSITAS RADIOGRAFI TULANG HUMERUS ANJING LOKAL (Canis lupus familiaris) YANG DI OVARIOHISTEREKTOMI. (Radiography Density Of Humerus Bone On Local Ovariohisterektomi Dogs (Canis lupus familiaris). meutya silviana morow; budianto panjaitan; syafruddin syafruddin; dian masyitha; erwin erwin; cut nila tasmi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 3 (2018): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.168 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i3.7907

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendapatkan gambaran densitas radiografi tulang humerus pada anjing lokal (Canis lupus familiaris) sebelum dan sesudah dilakukan ovariohisterektomi. Penelitian ini menggunakan tiga ekor anjing betina lokal dengan kisaran umur 5-7 bulan. Teknik perlakuan diambil  gambar radiografi sebelum dilakukan ovariohisterektomi selanjutnya semua hewan dilakukan ovariohisterektomi melalui linea alba, setelah itu hewan di ovariohisterektomi. Pada minggu 1,2,3, dan 4 setelah di ovariohisterektomi dilakukan pengambilan gambar radiografi dan pengukuran densitas tulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata densitas tulang pada minggu 0 sebelum ovariohisterektomi adalah 157.3661667 ± 23.3043699, hasil ini tidak berbeda nyata dengan hasil rata-rata densitas pada minggu 1,3, dan 4 yaitu 156.8621982 ± 12.07528008, 153.8854886 ± 15.93987235, dan 156.1769175 ± 19.84084989, perbedaan terjadi pada minggu ke 2 dengan hasil 144.6901974 ±10.76999831. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan  bahwa penurunan densitas radiografi tulang humerus hanya bersifat sementara pada minggu ke 2 terjadi penurunan kemudian meningkat kembali pada minggu ke 3 dan minggu ke 4.ABSTRACTThe aim of this study was to obtain a picture of radiographic density of humerus bone in local dog (Canis lupus familiaris) before and after ovarianohysterectomy. This study used three local female dogs with the age range of 5-7 months. The technique of treatment is taken radiographic images before the next ovarianohysterectomy is done all animals are done ovariohisterektomi through linea alba, after which the animal in ovariohisterektomi. At weeks 1,2,3 and 4 after ovarianohysterectomy, radiographic imaging and bone density measurements were performed. The results showed that the average bone density at week 0 before ovariohisterectomy was 157.3661667 ± 23.3043699, this result was not significantly different with the average density results at weeks 1.3 and 4, ie 156.8621982 ± 12.07528008, 153.8854886 ± 15.93987235, and 156.1769175 ± 19.84084989, the difference occurs at week 2 with the result 144.6901974 ± 10.76999831. Based on the results of this study it can be concluded that degradation of humerus bone radiography density is only temporary at 2 weeks decrease then increase again at week 3 and week 4.
DETEKSI PROTOZOA DARAH BABI LIAR (Sus scrofa) DI KECAMATAN LHOKNGA, ACEH BESARDETEKSI PROTOZOA DARAH BABI LIAR (Sus scrofa) DI KECAMATAN LHOKNGA, ACEH BESAR Maria Ferawati Magai; Muttaqien Bakri; Muhammad Hambal; T Fadrial Karmil; Budianto Panjaitan; Nurliana Nurliana
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.4538

Abstract

 Penelitian  ini bertujuan  mendeteksi jenis-jenis protozoa darah yang terdapat pada babi liar di kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan empat ekor babi liar yang diperoleh dengan cara dijerat secara tradisional di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Darah untuk pemeriksaan protozoa diambil dengan cara ditampung menggunakan vacuum tube. Pengamatan dilakukan dengan membuat preparat ulas darah babi liar yang diwarnai dengan Giemsa 10%. Pembuatan preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa 10%, antara lain darah yang telah diperoleh diteteskan di atas gelas objek untuk dibuat preparat ulas darah. Kemudian dikeringkan selama sekitar 1-2 menit, dengan diangin-anginkan lalu difiksasi menggunakan metanol absolut selama 10-15 menit dan dikeringkan beberapa saat. Preparat yang telah kering diletakkan di rak pewarnaan, didiamkan sebentar lalu preparat ditetesi dengan Giemsa 10% dan didiamkan selama 30 menit sampai 1 jam. Kemudian preparat diangkat dari rak pewarnaan dan dibilas dengan aquades atau air yang mengalir lalu didiamkan hinga kering. Preparat siap untuk diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran  100x menggunakan minyak emersi. Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap darah  dari empat ekor babi liar, diketahui sebanyak dua ekor dari darah babi liar ditemukan protozoa darah. Protozoa darah yang ditemukan yaitu Anaplasma spABSTRACT This study aims to detect the types of blood protozoa found in wild boar in the subdistrict of Lhoknga, Aceh Besar. This study used four wild boar obtained by traditional snares in Lhoknga Sub-district, Aceh Besar. Blood for protozoan examination was taken by a vacuum tube. The observations were made by preparing the preparations of the wild pig blood smeared with 10% of Giemsa. Preparation of blood review material with staining 10% of Giemsa there is; blood that has been obtained dripped on the object glass to be made blood review. Then dried for about 1-2 minutes, with aerated then fixed using methanol for 10-15 minutes and dried for a while. The dried preparations are placed on a coloring rack, momentarily silenced and the preparations are stained with 10% of Giemsa and left for 30 minutes to 1 hour. Then the preparations are removed from the staining rack and rinsed with aquades or running water and then left until dry. Preparations are ready to be observed under a microscope with 100x magnification using emersive oil. The results of blood tests of four wild pigs, known as two of the wild pigs blood found protozoa blood. The blood protozoa found is Anaplasma sp  
ANALISIS KADAR LEMAK SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWA SEBELUM DAN SESUDAH DIPASTEURISASI DI PETERNAKAN LAMNYONG KOTA BANDA ACEH (Analysis Of Milk Fat Content Ettawa Before And After Pasteurization At The Farm Lamnyong Banda Aceh) Mirza Yusa; ismail ismail; razali razali; t reza ferasyi; safruddin safruddin; budianto panjaitan
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.71 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i1.5887

Abstract

ABSTRAKSusu kambing segar bersifat mudah rusak dan memerlukan penanganan pasca panen dan pengolahan yang cepat dan memadai. Pasteurisasi adalah perlakuan yang diberikan terhadap susu segar supaya tidak cepat rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar lemak susu  kambing peranakan Etawa di peternakan Lamnyong Kota Banda Aceh sebelum dan sesudah dipasterusisasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode Gerber dengan pasteurisasi suhu rendah waktu lama (low temperature long time /LTLT = 62 0C – 65 0C ). Penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif dengan masing-masing 6 kali ulangan sehingga mendapatkan hasil yang akurat. Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan kadar lemak susu segar sebelum dan sesudah dipasteurisasi terdapat perbedaan. Susu yang diberi perlakuan pasteurisasi memiliki kadar lemak 5% dan susu tidak diberi perlakuan atau tidak dipasteurisasi memiliki kadar lemak 4,5%. Hal ini terjadi karena setelah dilakukan pasteurisasi susu terjadi penguapan komponen-komponenya sehingga kadar lemak susu cenderung meningkat. ABSTRACTFresh goat's milk is easily damaged and requires quick and adequate post-harvest handling and processing. Pasteurization is the treatment given to fresh milk so as not to be damaged quickly. This study aims to find out and provide information to the public about the fat content of goat milk Ettawa breeding Lamnyong Banda Aceh before and after the pasteurized. This research was done by Gerber method and using pasteurization method with low temperature long time (LTLT = 62 0C - 65 0C).This research was conducted with descriptive analysis with 6 replication so that get accurate result. Based on the results of the study showed that fresh milk fat content before and after dipasteurisasi there is a difference Milk treated with pasteurization has 5% fat content and milk is not treated or not pasteurized has a fat content of 4.5%. This happens because after milk pasteurization occurs evaporation of its components so that milk fat content tends to increase.
Amputasi ektremitas kaudalis sinistra pada kucing domestik akibat gigitan biawak . Syafruddin; Intan Rahayu; Budianto Panjaitan
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 3 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.4.3.49-50

Abstract

Seekor kucing domestik jantan dengan nama Sarji, berwarna hitam-putih, berat badan 3,1 kg dan berumur ± 2,5 tahun dibawa ke Laboratorium Klinik dengan keadaan luka akibat gigitan biawak. Kondisi os tibia ekstremitas sinistra distal menjulur keluar dari muskulus yang sudah tidak ditutupi kulit dan bagian metatarsal telah mengalami kematian jaringan. Kucing ditangani dengan tindakan amputasi ekstremitas kaudalis khususnya os tibia fibula sinistra. Pasien diberikan antibiotik, anti inflamasi dan anti nyeri pascaamputasi. Pasien tidak menjalani perawatan pascaoperasi secara intensif di klinik karena permintaan pemilik. Proses kesembuhan kucing pascaamputasi berjalan dengan baik berdasarkan informasi pemilik. Luka telah mengering dan hewan mampu berjalan dengan baik menggunakan ketiga kaki lainnya
UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL DAUN MALAKA (Phyllantus emblica) TERHADAP MENCIT (Mus musculus). (Acute Toxicity Test of Ethanolic Extract of Malaka (Phyllantus emblica) Leaves on Mice (Mus musculus)) T. Armansyah TR; Sudi Indriany; Amalia Sutriana; Rosmaidar Rosmaidar; Nuzul Asmilia; Budianto Panjaitan; Dwinna Aliza; Hamdan Hamdan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.831 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5137

Abstract

ABSTRACT The aim of this research was to asses the acute toxicity of ethanolic extract of malaka leaves using lethal dose 50 (LD50) on mice (Mus musculus). Twenty male mice weighing between 20-30 g were randomly divided into 4 groups (group K1-K4) of 5 mice each. All mice in group K1, K2, K3, and K4 were administered ethanolic extract of malaka leaves with the dose of 2, 4, 8, and 16 g/kg bw, respectively. Single dose of ethanolic extract of malaka leaves were given by oral gavage prior to clinical observation . The observation period was 14 days post administration, for sign of toxicity symptom, weight loss, and mortality. The result showed that no mortality was observed in the experimental animals during this study. Slight reduction of body weight was observed in group K2, K3, and K4, and no toxicity sign was found during fourteen days of observation. The LD50 of ethanolic extract of malaka leaves was higher than 16 g/kg body weight, thus, the substance was practically non toxic substance.
Aplikasi Metode Pemeriksaan Kimia Urin Untuk Diagnosis Kebuntingan Dini Pada Sapi Masyarakat Di Desa Lampu’uk Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar Syafruddin Syafruddin; Arman Sayuti; Tongku Nizwan Siregar, MP; Teuku Armansyah; Sri Wahyuni; Hafizuddin Hafizuddin; Budianto Panjaitan; Amalia Sutriana; Mulyadi Adam
Peternakan Abdi Masyarakat (PETAMAS) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/petamas.v3i1.30921

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan meningkatkan pengetahuan peternak tentang kerugian yang diakibatkan oleh ketiadaan pemeriksaan kebuntingan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan inseminator tentang metode pemeriksaan kimia urin. Kelompok sasaran dari kegiatan ini adalah 15 (lima belas) orang masyarakat petani peternak sapi di Desa Lampu’uk Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar dan 2 (dua) orang inseminator di wilayah setempat. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan 2 metode, yaitu (1) metode pendidikan dan penyuluhan dan (2) demonstrasi dan pelatihan di lapangan. Pada kegiatan penyuluhan, peternak akan diajarkan tentang kerugian akibat ketiadaan diagnosis kebuntingan.  Kepada inseminator setempat  diperkenalkan cara dan alat/bahan yang diperlukan untuk diagnosis kebuntingan. Pada kegiatan demonstrasi akan dilakukan pemeriksaan urin sapi yang telah diinseminasi buatan. Dari hasil kegiatan  disimpulkan bahwa pengetahuan peternak tentang kerugian yang diakibatkan oleh ketiadaan pemeriksaan kebuntingan meningkat dan inseminator terampil melakukan diagnosis kebuntingan melalui pemeriksaan kimia urin.