Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

POLA DEMOKRASI YANG DIKEMBANGKAN PENDIRI BANGSA Hariyono, Hariyono
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i2.2117

Abstract

The founding fathers have concerned with democracy since the early struggle of nation independence. They have considered that Indonesian people could not develop their justice and prosperity without democracy. Colonialism and feodalism had influenced mentality and character of Indonesian people as an inferior personality. Considering those situation, the founding fathers attempted to develop a daily democratic system which is practiced in government system. In general, there are two existing models of democracy which is developing, that are, the cultural democracy and the radical democracy. The cultural democracy model tends to develop as a gradual process and their supporters could cooperate with the colonial government. On the contrary, the radical democracy model assumed that democracy, included economic and political aspects and also their supporter, could not cooperate with the colonial government. Keywords: The Founding Father’s, cultural democracy and radical democracy.   Para pendiri bangsa telah peduli dengan demokrasi sejak perjuangn awal kemerdekaan bangsa. Mereka menganggap bahwa orang Indonesia tidak bisa berkembang menuju keadilan dan kesejahteraan tanpa demokrasi. Kolonialisme dan feodalisme telah mempengaruhi mentalitas dan karakter bangsa Indonesia sebagai pribadi yang rendah. Melihat situasi tersebut para pendiri bangsa berusaha mengembangkan sistem demokrasi dalam kehidupan sehari-hari yang dipraktikkan dalam sistem pemerintah. Secara umum, model demokrasi yang berkembang dapat dibedakan dalam dua model, yang merupakan demokrasi budaya dan demokrasi radikal. Model demokrasi budaya cenderung berkembang sebagai rangkaian proses bertahap dan pendukungnya bisa kerjasama dengan pemerintah kolonial. Sebaliknya, model demokrasi radikal berasumsi bahwa demokrasi termasuk baik aspek ekonomi dan politik dan kerjasama pendukungnya tidak bisa dengan pemerintah kolonial. Kata kunci: pendiri bangsa, demokrasi kulrural, demokrasi radikal.  
Evaluasi Pemberantasan Demam Berdarah Dengue dengan Metode Spasial Geographic Information System (GIS) dan Identifikasi Tipe Virus Dengue di Kota Kediri Peristiowati, Yuly; Kusumawardani, Lingga; Hariyono, Hariyono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.957 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.12

Abstract

Penyakit demam berdarah dengue (DBD)  merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat  di Indonesia   dan sering menimbulkan suatu  kejadian luar biasa (KLB). Salah satu yang bisa dilakukan untuk merancang program pemberantasan dan pencegahan DBD yang lebih baik adalah dengan melakukan analisis spasial dengan menggunakan Geographic Informatioon System (GIS). GIS dapat memetakan penyakit berbasis alamat penderita bermanfaat dalam melihat sebaran penyakit sehingga mampu mengidentifikasi daerah yang berisiko tinggi. Selain itu, dilakukannya analisis spasial memungkinkan suatu penyakit untuk dilihat dari berbagai konteks sehingga diharapkan mampu dilakukan perencanaan yang lebih baik dalam memberantas dan mencegah suatu penyakit. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh faktor  keberadaan kontainer air, sanitasi lingkungan  dan kepadatan  vektor terhadap  peningkatan kasus DBD di Kota Kediri. Perilaku masyarakat berpengaruh dalam upaya pencegahan dan pemberantasan DBD terhadap terhadap kejadian penyakit  DBD  di Kota Kediri. Hasil identifikasi tipe virus DHF dengan menggunakan PCR di daerah endemis DBD kota Kediri di dapatkan serotype negative untuk Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4. GIS berperan dalam evaluasi program pemberantasan kasus DBD di Kota Kediri dimana dapat menggambarkan peta daerah kasus endemis DBD di kota Kediri.Kata Kunci:  Demam berdarah, Geographic Informatioon System (GIS), tipe virus dengue 
THOMAS STAMFORD RAFFLES: SEORANG UNIVERSALIS ATAU IMPERIALIS? Hariyono, Hariyono; Wijaya, Daya Negri
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5144

Abstract

It is debatable that Raffles is seemed to be a Universalist or an imperialist. The first refers to a belief that he is an agent of the spread of Western values to the Eastern. Others claim that he is the Western imperialist to the Eastern. This is caused by the forced values to the Eastern. Raffles issued the reformation of policy because the colonialism of VOC and the government of French-Dutch did not have any humanistic policy. He issued many humanistic policies till the end of his government in Java. One of his policies was the slavery tax. The tax was used specifically to abolish the practice of slavery and to the welfare of people. In other side, Raffles forced people to work in his friend’s land, Alexander Hare who opened the plantation in Banjarmasin. The life of workers was really suffering however his thoughts and his efforts becoming an insight to oppose the heritage of feudalism (slavery). To short, there was a lesson learnt why Raffles’ ideas were failed and came back to the previous structure.  Raffles dalam satu sisi terlihat sebagai seorang universalis dan disisi lain sebagai seorang imperialis. Ada yang memandang Raffles di Nusantara adalah penyebar nilai-nilai Barat ke dunia Timur. Sejarawan lain memandang Raffles sebagai bagian dari imperialisme Barat ke dunia Timur karena nilai-nilai yang ditawarkan tidak cocok dan dipaksakan secara politis. Raffles melakukan reformasi kebijakan karena kolonialisme VOC dan pemerintah kolonial Prancis-Belanda dirasa tidak humanis. Dia mengeluarkan banyak kebijakan yang bersifat humanis hingga akhir kepemimpinan. Salah satu kebijakannya adalah memberlakukan pajak bagi rakyat yang memiliki budak. Pajak digunakan sebagai penghapus praktek perbudakan secara khusus dan untuk kemaslahatan umat secara umum. Pada sisi lain Raffles mengirim pekerja pada sahabatnya Alexander Hare yang membuka perkebunan di dekat Banjarmasin. Kehidupan pekerja disana tentu sangat menderita tetapi pemikiran dan usahanya menjadi pelopor dalam menentang warisan feodalisme (perbudakan) yang patut dicela. Setidaknya dapat dijadikan pelajaran mengapa ide Raffles akhirnya terbentur dan kembali pada tatanan sebelumnya. 
Pancasila & Karakter Bangsa ( Basis dan Orientasi Karakter Bangsa) Hariyono, Hariyono
Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series Vol 4, No 4 (2021): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v4i4.50594

Abstract

Pancasila & Karakter Bangsa ( Basis dan Orientasi Karakter Bangsa)
Penerapan Iptek Budidaya Padi Berwawasan Lingkungan Untuk Kemandirian Kelompok Wanita Tani Di Desa Kranggan, Kulonprogo Astuti, Agung; Hariyono, Hariyono
Berdikari: Jurnal Inovasi dan Penerapan Ipteks Vol 5, No 2 (2017): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bdr.5219

Abstract

Prioritas permasalahan yang akan diselesaikan yaitu sulit merubah perilaku penggunaan pupuk dan pestisida sintetik, pengelolaan sampah dan bahan organik menjadi pupuk kompos, akar bambu yang belum dimanfaatkan sebagai MOL. Target luaran adalah terbangun kesadaran menggunakan pupuk organik dan biopestisida pada budidaya padi. Metode pelaksanaan yaitu 1) Kunjungan dan belajar ke petani organik Sayegan; 2) penyuluhan, dengan materi pembuatan kompos, MOL dan biopestisida; 3) transfer teknologi alat fermentor galon dan alat enkast; 4) Demplot budidaya padi oleh anggota Kelompok Wanita Tani (KWT);5) pendampingan dan monevhingga berhasil melakukan praktek budidaya padi yang sehat dan ramah lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa telah dilaksanakan penyuluhan dan pelatihan kepada anggota KWT Kranggan yaitu pembuatan kompos, PGPR dan biopestisida CORIN untuk diaplikasi pada budidaya padi sehat. Setelah penyuluhan tentang bahaya residu pupuk dan pestisida, ada peningkatan 26,6 % dari yang semula ragu menjadi mantap. Dan sebagian besar anggota KWT (95%) sudah mengetahui tentang “Pertanian Sehat” dan hanya 5% yang belum tahu. Namun setelah penyuluhan ini, menjadi yain 100%. Apalagi setelah kunjungan ke petani organik di Sayegan, maka anggota KWT yang semula sudah yakin (85%) bahwa pertanian menjadi sehat dengan pupuk organik, dan 5% yang semula belum yakin serta 10% ragu-ragu, semua menjadi yakin 100%. Sebagian besar anggota KWT (77,5 %) semula tidak mengetahui tentang pembuatan “MOL-kompos, PGPR, CORIN” dan ada 5% yang ragu-ragu. Namun setelah pelatihan ini, maka ada peningkatan ketrampilan sebesar 77,5% . Setelah aplikasi kompos, PGPR, biopestisida CORIN pada budidaya padi sehat, maka hasil padi yang dipanen menghasilkan gabah yang lebih ber-”nas” dengan bobot sekitar 30 kg beras SEHAT. Kata Kunci : pupuk kompos, MOL, biopestisida, budidaya padi sehat
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Perempuan Terhadap Iklim Komunikasi Dan Kinerja Pegawai Pada Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tamiang Hariyono, Hariyono
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Simbolika Oktober
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/simbollika.v4i2.1819

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Perempuan terhadap iklim komunikasi dan kinerja pegawai pada Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tamiang. Teori yang digunakan adalah teori gaya kepemimpinan oleh Kartini Kartono, teori iklim komunikasi oleh  Face dan Faules dan teori birokrasi organisasi oleh Max Weber. Metode Penelitian ini merupakan metodologi kuantitatif, menggunakan metode Survey ekplanatif dengan analisis statistik regresi linear sederhana. Hasil hipotesis kemudian di uji dengan uji t. Analisis data menggunakan software pengolahan data statistik SPSS 24.0 for windows. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 58 orang, maka jumlah sampelnya diambil secara keseluruhan, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan secara parsial menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan perempuan terhadap iklim komunikasi dan kinerja pegawai pada Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tamiang. Gaya kepemimpinan perempuan yang mampu mengarahkan, membimbing dan mengatur bawahan dengan baik serta mampu membangun suasana kekeluargaan dalam organisasi ternyata mampu menciptakan dan memberikan iklim komunikasi yang positif serta dapat meningkatkan kinerja pegawai yang baik pula.
POLA DEMOKRASI YANG DIKEMBANGKAN PENDIRI BANGSA Hariyono, Hariyono
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i2.2117

Abstract

The founding fathers have concerned with democracy since the early struggle of nation independence. They have considered that Indonesian people could not develop their justice and prosperity without democracy. Colonialism and feodalism had influenced mentality and character of Indonesian people as an inferior personality. Considering those situation, the founding fathers attempted to develop a daily democratic system which is practiced in government system. In general, there are two existing models of democracy which is developing, that are, the cultural democracy and the radical democracy. The cultural democracy model tends to develop as a gradual process and their supporters could cooperate with the colonial government. On the contrary, the radical democracy model assumed that democracy, included economic and political aspects and also their supporter, could not cooperate with the colonial government. Keywords: The Founding Father’s, cultural democracy and radical democracy.   Para pendiri bangsa telah peduli dengan demokrasi sejak perjuangn awal kemerdekaan bangsa. Mereka menganggap bahwa orang Indonesia tidak bisa berkembang menuju keadilan dan kesejahteraan tanpa demokrasi. Kolonialisme dan feodalisme telah mempengaruhi mentalitas dan karakter bangsa Indonesia sebagai pribadi yang rendah. Melihat situasi tersebut para pendiri bangsa berusaha mengembangkan sistem demokrasi dalam kehidupan sehari-hari yang dipraktikkan dalam sistem pemerintah. Secara umum, model demokrasi yang berkembang dapat dibedakan dalam dua model, yang merupakan demokrasi budaya dan demokrasi radikal. Model demokrasi budaya cenderung berkembang sebagai rangkaian proses bertahap dan pendukungnya bisa kerjasama dengan pemerintah kolonial. Sebaliknya, model demokrasi radikal berasumsi bahwa demokrasi termasuk baik aspek ekonomi dan politik dan kerjasama pendukungnya tidak bisa dengan pemerintah kolonial. Kata kunci: pendiri bangsa, demokrasi kulrural, demokrasi radikal.  
THOMAS STAMFORD RAFFLES: SEORANG UNIVERSALIS ATAU IMPERIALIS? Hariyono, Hariyono; Wijaya, Daya Negri
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5144

Abstract

It is debatable that Raffles is seemed to be a Universalist or an imperialist. The first refers to a belief that he is an agent of the spread of Western values to the Eastern. Others claim that he is the Western imperialist to the Eastern. This is caused by the forced values to the Eastern. Raffles issued the reformation of policy because the colonialism of VOC and the government of French-Dutch did not have any humanistic policy. He issued many humanistic policies till the end of his government in Java. One of his policies was the slavery tax. The tax was used specifically to abolish the practice of slavery and to the welfare of people. In other side, Raffles forced people to work in his friend’s land, Alexander Hare who opened the plantation in Banjarmasin. The life of workers was really suffering however his thoughts and his efforts becoming an insight to oppose the heritage of feudalism (slavery). To short, there was a lesson learnt why Raffles’ ideas were failed and came back to the previous structure.  Raffles dalam satu sisi terlihat sebagai seorang universalis dan disisi lain sebagai seorang imperialis. Ada yang memandang Raffles di Nusantara adalah penyebar nilai-nilai Barat ke dunia Timur. Sejarawan lain memandang Raffles sebagai bagian dari imperialisme Barat ke dunia Timur karena nilai-nilai yang ditawarkan tidak cocok dan dipaksakan secara politis. Raffles melakukan reformasi kebijakan karena kolonialisme VOC dan pemerintah kolonial Prancis-Belanda dirasa tidak humanis. Dia mengeluarkan banyak kebijakan yang bersifat humanis hingga akhir kepemimpinan. Salah satu kebijakannya adalah memberlakukan pajak bagi rakyat yang memiliki budak. Pajak digunakan sebagai penghapus praktek perbudakan secara khusus dan untuk kemaslahatan umat secara umum. Pada sisi lain Raffles mengirim pekerja pada sahabatnya Alexander Hare yang membuka perkebunan di dekat Banjarmasin. Kehidupan pekerja disana tentu sangat menderita tetapi pemikiran dan usahanya menjadi pelopor dalam menentang warisan feodalisme (perbudakan) yang patut dicela. Setidaknya dapat dijadikan pelajaran mengapa ide Raffles akhirnya terbentur dan kembali pada tatanan sebelumnya. 
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN DI PERGURUAAN TINGGI Hariyono, Hariyono
Jurnal Nusantara Aplikasi Manajemen Bisnis Vol 4 No 2 (2019): Jurnal NUSAMBA
Publisher : UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.182 KB) | DOI: 10.29407/nusamba.v4i2.13834

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam perkembangan bisnis semakin pesat. Tentu saja, hal tersebut berdampak pada meningkatnya persaingan bisnis. Dalam pendidikan, pembelajaran kewirausahaan dimasukkan dalam kurikulum. Khusus di STKIP PGRI Nganjuk, mata kuliah Kewirausahaan sudah diterapkan di setiap program studi. Namun demikian, luaran yang diperoleh belum mengarah pada peningkatan kemampuan dalam berwirausaha. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran pada mata kuliah kewirausahaan. Sampel yang digunakan terdiri dari 50 mahasiswa yang menempuh mata kuliah Kewirausahaan di STKIP PGRI Nganjuk. Pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan ada 8 karakter yang berpengaruh terhadap kemampuan technopreneur yang dikaji. Karakter wirausaha tersebut meliputi optimalisasi teknologi dan informasi, implementasi keilmuan, percaya diri, berorientasi hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, orisinalitas produk, dan berorientasi masa depan. Rata-rata penilaian terhadap kompetensi karakter memiliki nilai sebesar 80 (dalam kategori baik). Pada penelitian ini proses pembelajaran memanfaatkan e-learning dalam bentuk Moodle. E-learning ini merupakan program cms yang merubah konsep pembelajaran offline kedalam bentuk web. Dosen dapat memberikan materi pembelajaran dalam format apapun, diskusi, chating, dan tes secara online. Siswa lebih mudah mempelajari materi, menyelesaikan permasalahan, konsultasi, dan berkomunikasi dengan dosen kapan saja dan dimana saja. Proyek mahasiswa juga dapat dengan mudah dikontrol oleh dosen melalui aplikasi yang disediakan.
STUDY EKSPERIMENTAL PERILAKU ALIRAN FLUIDA PADA SAMBUNGAN BELOKAN PIPA Hariyono, Hariyono; Rubiono, Gatut; Mujianto, Haris
Virtual of Mechanical Engineering Article Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pipe  network  is  common  instalation  in  daily  life.  Elbow  is  a  component  in  pipe  network.This research is aimed to get fluida flow behavior in elbow. The experiment is conduct with fluid flow apparatus with number of elbows. The apparatus consist ¾ inch diameter of PVC pipe and a pump which generate water flow and pressure. Volume flow rate is vary by valve opening which are ¼, ½, ¾ and full open. The flow rate is measured using flow meter and a stopwatch.This flow rate is used to get Reynold number. The pressure before and after elbow are measured using U tipe manometer. The measurement takes 5 times at 5 measurement points. The result shows that fluid  flow  tend  to  have  pressure  decreasing.  Much  elbow  number  caused  greater  pressure decreasing.  The  maximum  pressure  occur  at  Re  3049,60  at  first  point  measurement  which  is592,52 kg/m2. The minimum pressure occur at Re 1532,45 at fifth point measurement which is 8,18 kg/m2.