Rajuddin Rajuddin
Department Of Obstetrics And Gynecology Faculty Of Medicine, Syiah Kuala University/ Dr. Zaenal Abidin General Hospital Banda Aceh

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Administration Oral Misoprostol after Radical Hysterectomy Due to Cervical Cancer in the Early Stage Decrease Urinary Retention Incident: Pemberian Misoprostol Per Oral Pasca Histerektomi Radikal Pada Karsinoma Serviks Stadium Awal Untuk Menurunkan Insiden Retensio Urine Rajuddin rajuddin; Lutfi N. Nugroho; hasanuddin hasanuddin
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 7 No. 4 October 2019
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.146 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v7i4.997

Abstract

Abstract Objective: to determine the effect of oral Misoprostol after Radical Hysterectomy in the early stage Cervical Cancer to reduce the incidence of urinary retention.Methods: The study was conducted with a prospective cohort method, randomized control trial and double blind to the patients with early stage cervical cancer who performed Radical Hysterectomy in Dr. Zainoel Abidin hospital, Banda Aceh. There are 34 research subjects who had agreed to participate in the study. The research subject divided into 2 groups. The first group who received Misoprostol orally as the intervention group and the other group that received placebo as the control group.Results: The incidence of urinary retention after Radical Hysterectomy in Dr. Zainoel Abidin hospital, Banda Aceh, decreased significantly in the intervention group compared to the control group (P 0,049). In the intervention group Misoprostol reduce residual urine. Ability to void spontaneously and urine volume were increase. The duration of catheterization and length of hospital stay for the patients were shorter.Conclusion: Administration of Misoprostol orally reduce the incidence of urinary retention after Radical Hysterectomy. Oral Misoprostol can be recommended as an additional procedure to reduce urinary retention.Keywords: cervical cancer, misoprostol , radical hysterectomy, urinary retention. Abstrak Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pemberian Misoprostol per oral pasca operasi Histerektomi Radikal pada pasien Karsinoma Serviks stadium awal terhadap insidensi retensio urin.Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kohort prospektif, randomized control trial dan double blind, pada pasien karsinoma serviks stadium awal yang dilakukan Histerektomi Radikal di RS dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Terdapat 34 pasien yang telah menyetujui mengikuti penelitian, yang dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat Misoprostol tablet per oral sebagai kelompok perlakuan dan kelompok yang mendapat plasebo sebagai kelompok kontrol. Residu urin pada kedua kelompok diukur dan faktor-faktor lain yang terkait dilakukan pendataan untuk dilakukan analisis. Hasil: Kejadian retensio urin pasca Histerektomi Radikal di RS dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, menurun secara bermakna pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol (P0,049). Pada kelompok perlakuan Misoprostol menurunkan residu urin.Peningkatan kemampuan berkemih spontan dan volume urin .lama pemakaian kateter transuretra dan lama perawatan menjadi lebih singkat.Kesimpulan: Pemberian Misoprostol per oral mengurangi insiden retensio urin pasca Histerektomi Radikal. Saran : Misoprostol per oral dapat direkomendasikan sebagai prosedur tambahan untuk mengurangi retensio urin.Kata kunci: karsinoma serviks, histerektomi radikal, misoprostol, retensio urin
TEROBOSAN BARU PENGENDALIAN KESUBURAN PEREMPUAN DENGAN MENGGUNAKAN KURKUMIN Rajuddin Rajuddin
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v21i1.19333

Abstract

Peran kurkumin pada sistem reproduksi dapat dipakai pada pengaturan kesuburan melalui beberapa cara, yaitu: [1] Kurkumin menyebabkan kadar LH serum menurun dan tidak memberikan gambaran lonjakan LH pada pertengahan siklus haid, sehingga berperan menghambat ovulasi; [2] Kurkumin menyebabkan kadar estradiol serum rendah, progesteron serum rendah, tampilan VEGF di endometrium rendah dan ketebalan endometrium menjadi tipis sehingga dapat mencegah nidasi; [3] Kurkumin menyebabkan pertumbuhan folikel ovarium kecil, sehingga kecil kemungkinannya ovulasi terjadi. Untuk pengembangan ke depan, penelitian kurkumin perlu dilakukan  lebih lanjut supaya dapat menghasilkan temuan-temuan inovatif baru yang bermanfaat untuk masyarakat, sehingga kurkumin dapat dipergunakan sebagai obat pengatur kesuburan atau sebagai obat baru untuk kontrasepsi. Universitas Syiah Kuala diharapkan menjadi pusat pengembangan riset lebih lanjut terkait rempang kunyit sebagai antifertilitas. Sebagai bahan riset, kunyit sangatlah mudah diperoleh karena populasi tumbuhan ini tersebar dalam jumlah besar di berbagai tempat di Aceh. Penelitian yang menghasilkan temuan-temuan inovatif ini merupakan sumbangsih yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan dan pemakaian kontrasepsi rakyat Indonesia, khususnya Aceh sebagai wujut pengabdian Universitas Syiah Kuala kepada masyara­kat.
Penanganan Adenomiosis dengan Reseksi Laparotomik pada Perempuan Infertil (Pengalaman pada 32 kasus) RAJUDDIN RAJUDDIN; T. Z. JACOEB
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.463 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk melihat hasil tatalaksana pengobatan adenomiosis dengan reseksi. Rancangan/rumusan data: Kajian retrospektif deskriptif. Tempat: Klinik Fertilitas dan Menoandropause SamMarie Jakarta. Bahan dan cara kerja: Dikumpulkan kasus adenomiosis pada perempuan infertil selama tiga tahun (Januari 1999 sampai Desember 2001) yang diagnosis ditegakkan dengan USG transvaginal. Kasus dilakukan reseksi secara laparotomi dan dilakukan pemeriksaan Patologi anatomi sebagai diagnosis pasti adenomiosis uteri. Dan pascareseksi dinilai perubahan gejala klinis, angka keberhasilan hamil dan laju kekambuhan. Hasil: Selama 3 tahun ditangani 1619 kasus infertilitas dan terdapat 66 (4,07%) kasus adenomiosis yang didiagnosis dengan USG trasvaginal. Sebanyak 32 kasus dilakukan tindakan operasi reseksi dengan hasil histopatologi menunjukkan 30 (93,75%) kasus adenomiosis dan 2 (6,25%) kasus mioma uteri. Yang berhasil hamil adalah 3 (9,4%) kasus yaitu dua kasus melahirkan hidup, satu kasus berakhir dengan abortus 6 minggu. Dan 25 (78,1%) kasus tidak hamil dan 4 (12,5%) kasus terjadi kekambuhan penyakit. Hilang gejala tapi tidak hamil 24 (75,35%) kasus. Kesimpulan: Pengobatan adenomiosis dengan reseksi dapat menyembuhkan lesi dan dapat terjadi kehamilan. Kekambuhan penyakit dapat terjadi setelah satu tahun pascareseksi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 22-5] Kata kunci: adenomiosis, reseksi, infertil
Role of C-Reactive Protein, Erythrocyte Sedimentation Rate, Progesterone and Estradiol Hormone Levels in First Trimester Threatened Abortion: Peran C-Reactive Protein, Laju Endap Darah, Progesteron dan Estradiol pada Abortus Imminens Trimester Pertama Rajuddin Rajuddin; Fitra Rizia; Sarah I. Nainggolan
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 9 No. 1 January 2021
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v9i1.1386

Abstract

Objective: To assess correlation of High sensitivity C-Reactive Protein (Hs-CRP), erythrocyte sedimentation rate (ESR), progesterone and estradiol levels in the first trimester threatened abortion incidence in Dr. Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh.Methods: Case control design used in this study divided threatened abortion into a case group and normal pregnancy into a control group with a total of 20 subjects for each group. This research was conducted in the Emergency Room and Obstetric Ward of Dr. Zainoel Abidin hospital Banda Aceh in 2019. Eta correlation test was conducted to find out the link between variables towards threatened abortion with 95% confidence level followed by the Receiver Operating Curve (ROC) analysis to find out the cut off points.Results: Progesterone levels (14.76 ng/mL), estradiol (427.61 pg/mL), Hs-CRP (2.57 mg/L) and ESR (28.75 mm/hour) case group were lower compared to the control group. Incidence of threatened abortion correlates to progesterone and estradiol with the correlation strength respectively -0.838 and -0.416.Conclusion: Progesterone and estradiol correlate negatively with first-trimester abortion incidence. Evaluation of these two hormones levels is useful for diagnostic purposes and screening of threatened abortion with a cut point of progesterone 23.03 ng/mL and estradiol 468.8 pg/mL.Keywords: C-Reactive Protein, erythrocyte sedimentation rate, estradiol, progesterone, threatened abortion Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi antara kadar High sensitivity C-Reactive Protein (Hs-CRP), Laju Endap Darah (LED), progesteron dan estradiol terhadap kejadian abortus imminens pada trimester pertama di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode: Desain kasus kontrol digunakan dalam penelitian ini dimana kejadian abortus imminens menjadi kelompok kasus dan kehamilan normal menjadi kelompok kontrol dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 20 sampel. Penelitian ini dilakukan di Instalasi Gawat Darurat dan ruang rawat Obstetri Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh pada tahun 2019. Uji korelasi Eta digunakan untuk mengetahui korelasi antar variabel terhadap abortus imminens dengan tingkat kepercayaan 95% dilanjutkan dengan analisis Receive Operating Curve (ROC) untuk menentukan titik potong. Hasil: Kadar progesteron (14,76 ng/mL), estradiol (427,61 pg/mL), Hs-CRP (2,57 mg/L) dan LED (28,75 mm/jam) kelompok kasus lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Kejadian abortus imminens berkorelasi terhadap progesteron dan estradiol dengan kekuatan korelasi (R) secara berurutan -0,838 dan -0,416. Kesimpulan: Progesteron dan estradiol berkorelasi negatif terhadap kejadian abortus imminens pada trimester pertama kehamilan. Evaluasi kadar kedua hormon tersebut bermanfaat untuk kepentingan diagnostik dan penapisan abortus imminens dengan titik potong progesteron 23,03 ng/mL dan estradiol 468,8 pg/mL. Kata kunci: abortus imminent, C-Reactive Protein, estradiol, laju endap darah, progesteron
Fetomaternal Outcome of Aterm Labor with Pregnant Thrombocytopenia: Luaran Fetomaternal pada Ibu Hamil Aterm dengan Trombositopenia Rajuddin Rajuddin; Muhammad Iqbal; Cut M. Yeni
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 10 No. 1 January 2022
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v10i1.1526

Abstract

Objective : To determine the relationship between term pregnant women and the incidence of post-partum haemorrhage, duration of healing of incision/perineorhaphy wounds, fetal thrombocytopenia, APGAR value and birth weight of infants in dr. Zainal Abidin Hospital Banda Aceh.Methods: Design of research is observational analytic with a cross sectional approach. The research sample was taken by the total sampling method. The population in this study were all pregnant patients at term who came to the dr. Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh and experienced thrombocytopenia at a predetermined time, met the inclusion and exclusion criteria. Analysis data with the Pearson correlation test formula to assess the strength of the relationship between two variables.Results: The prevalence of aterm pregnant women with thrombocytopenia who visited and gave birth at Dr. Zainoel Abidin General Hospital during the study period was 1.62% from 1850 visited pregnant women. A total of 30 samples in this study, obtained a maternal outcome were postpartum haemorrhage as much as 60% (p-value 0.000). The duration of wound healing was 26.70%, (p-value 0.008). While the fetal outcomes were the incidence of neonatal thrombocytopenia 50% (p-value 0,000), nenonatal asphyxia with an APGAR value of 4-6 as much as 43.30% (p-value 0.003) and low birth weight of the baby at 36.70% (p-value 0.033). The five variables obtained a positive correlation with varying strengths of the relationship.Conclusion: There is a close relationship between the incidence of thrombocytopenia at term pregnant women at delivery and fetomaternal outcomes in dr. Zainoel Abidin Hospital Banda AcehKeywords: fetal outcome, maternal outcome, Score APGAR, thrombocytopenia. Abstrak Tujuan : Untuk mengetahui hubungan ibu hamil aterm dengan kejadian perdarahan post-partum, lamanya penyembuhan luka insisi/perineorafi, trombositopenia janin, nilai APGAR dan berat badan lahir bayi di Rumah Sakit Umum dr. Zainal Abidin Banda Aceh. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian diambil dengan metode total Sampling. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien hamil aterm yang datang ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dan mengalami trombositopenia pada rentang waktu yang telah ditentukan, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data dengan melakukan uji korelasi Pearson untuk menilai kekuatan hubungan dua variabel.Hasil: Prevalensi ibu hamil aterm dengan trombositopenia pada penelitian adalah 1,62% dari 1850 ibu hamil yang berkunjung. Sebanyak 30 sampel pada penelitian didapatkan luaran maternal yaitu perdarahan postpartum sebanyak 60% (p-value 0,000). Lama penyembuhan luka didapatkan26,70%, (p-value 0,008). Sedangkan luaran fetal yaitu kejadian trombositopenia neonatus 50% (p-value 0,000), asifiksia nenonatus dengan nilai APGAR 4-6 sebanyak 43,30% (p-value 0,003) dan berat badan bayi lahir rendah 36,70% (p-value 0,033). Kelima variabel didapatkan korelasi positif dengan kekuatan hubungan yang bervariasi.Kesimpulan: Terdapat hubungan erat antara kejadian trombositopenia ibu hamil aterm saat persalinan terhadap luaran fetomaternal di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Kata kunci : luaran fetal, luaran maternal, nilai APGAR, trombositopenia.
Serum Vascular Endothelial Growth Factor Levels and Uterine Fibroid Volume: Hubungan Kadar Serum Vascular Endothelial Growth Factor dengan Volume Mioma Uteri Rajuddin Rajuddin; Ronald Oscar; Tengku P. Dewi
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 8 No. 2 April 2020
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.357 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v8i2.1186

Abstract

Background: Tumor size is related to variations associated with molecular markers. In recent years, it has been reported that investigation of tumor volume has become very popular. Measurement of uterine fibroids volume is very important for treatment response. Objective: The aims of this study is to find the correlation of VEGF levels and uterine fibroids volume. Methods: Observational analytic study was carried out on 80 patients with uterine fibroids indicated myomectomy. Each sample was examined for VEGF levels and volume of myoma tissue post myomectomy was measured by using Archimedes' law. Correlation test using the Spearman test. Results: A total of 80 samples of patients were examined for VEGF levels and uterine fibroids volume. The median VEGF is 360 pg/mL, the median uterine fibroids volume is 325 ml. The Spearman’s test shows p values ​​(<0.01) and r (0.999). Conclusion: There is a significant correlation between VEGF levels and uterine fibroids volume. The higher the VEGF level, the greater the volume of uterine fibroids. Keywords: VEGF, uterine fibroids volume, Archimedes law *Corresponding author: Rajuddin e-mail: rajuddin@unsyiah.ac.id dan Ronald_drozz@yahoo.com
Administration of Dydrogesterone in first trimester of pregnancy will increase the level of PlGF (Placental Growth Factor) Dewi K. Rusly; Kanadi Sumapraja; . Rajuddin; Kartini Hasballah
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 3, No 1 (2013): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.771 KB)

Abstract

Early placental development can be determined by measuring placental growth factor or Placental growth factor (PlGF) through the mother's blood since the first trimester of pregnancy. The purpose of this study was to determine the effect of supplementation on the development didrogesteron placenta in pregnancy by measuring the levels of PlGF. This study is a randomized double-blind clinical trial (Randomized Controlled Clinical Trial) held at the Antenatal Clinic (ANC) at the General Hospital dr. Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Acehto women of reproductive age in the first trimester in RSUZA ANC checkup. Nonprobability sampling sampling with consecutive sampling. In this study there were two groups of women of reproductive age who are not in pairs is given didrogesteron group A while group B received placebo. Measurement of PlGF levels in both groups performed before and after treatment. PlGF levels prior to treatment in Group A 25.95 pg/ml while Group B 40.80 pg/ml. PlGF levels after the measurement results given didrogesteron in Group A for 4 weeks gainedincreasing levels of PlGF is 212.15 pg/ml, whereas in group B were given a placebo for 4 weeks was 89.60 pg/ml. Data analysis was performed using bivariate analysis between supplementation didrogesteron and PlGFlevels using SPSS 17. Analysis of data for comparative analytical numerical information unpaired two groups: Group A: the results of a PlGF levels in pregnant subjects were given didrogesteron and Group B: the results ofa PlGF levels in pregnant patients given placebo. Unpaired t-test results of the two groups showed that the group receiving didrogesteron have elevated levels of PlGF were significantly (p = 0.000 or p 0.05) compared with the placebo group were only given alone. From these results it can be concluded that the administration can trigger didrogesteron PlGF levels in women of reproductive age.
The Role of Ferritin Levels Serum of Third Trimester Obese Pregnant Women in Neonatal Outcome: Peran Kadar Feritin Serum pada Perempuan Hamil Trimester Tiga dengan Obesitas terhadap Luaran Bayi Rudy S. Harahap; Hasanuddin Hasanuddin; Mohd. Andalas; Rajuddin Rajuddin; Cut M. Yeni
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 9 No. 4 October 2021
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v9i4.1387

Abstract

Efektivitas dan Keamanan Elektroakupunktur pada Manajemen Nyeri Persalinan Ima Indirayani indirayani; Putri Ade Meuratana Meuratana; Rizka Aditya Aditya; Rajuddin Rajuddin
Journal of Medical Science Vol 3 No 1 (2022): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.181 KB) | DOI: 10.55572/jms.v3i1.64

Abstract

Nyeri persalinan menjadi suatu kendala yang menghambat suksesnya persalinan pervaginam dan tidak tahan terhadap nyeri saat persalinan menjadi penyebab meningkatnya permintaan Seksio Caesaria (SC) dimana tindakan SC sendiri meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas terhadap ibu. Manajemen nyeri di Kamar Bersalin terutama di kota Banda Aceh saat ini belum berjalan sebagaimana mestinya, pasien bersalin belum mendapatkan pelayanan manajemen nyeri saat persalinan. Elektroakupunktur merupakan salah satu metode manajemen nyeri non-farmakologi yang terbukti efektif menurunkan nyeri dengan efek samping yang hampir tidak ada serta terjangkau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas Elektroakupunktur dalam menurunkan derajat nyeri persalinan serta menilai keamanan elektroakupunktur. Penelitian ini merupakan studi prospektif, experimental randomized contolled trial dengan double blind. Ibu dengan kehamilan tanpa komplikasi yang menjalankan proses persalinan dan sudah memasuki kala 1 aktif diacak untuk mendapatkan baik intervensi Elektroakupunktur atau intervensi Sham Akupunktur (Plasebo) sebagai manajemen nyeri persalinan. Luaran primer efektitivitas yang dinilai adalah penurunan nyeri rata-rata yang diukur dengan Numerical Rating Scale (NRS) dari sebelum intervensi, dan setelah 30 menit, 60 menit, 90 menit hingga 120 menit pasca intervensi. Luaran primer keamanan yaitu efek samping yang terjadi dalam 15 menit pasca Tindakan. Luaran sekunder lainnya yang dinilai yaitu durasi persalinan, penggunaan oksitosin, derajat ruptur perineum, jumlah perdarahan serta skor APGAR. Terdapat 12 pasien yang berhasil direkrut. Terdapat penurunan skala nyeri pada kelompok elektroakupunktur yang lebih besar dibandingakan dengan kelompok sham baik pada 30, 60, 90, 120 menit pasca intervensi meskipun tidak mencapai nilai signifikan masing-masing 1.14, 1.33, 1.8, dan 1.3 versus -0.2, 0.25, 0.67, dan 0. Tidak dijumpai efek samping dari intervensi yang diberikan dari kedua kelompok. Tidak ada perbedaan luaran yang signifikan dari durasi persalinan, jumlah perdarahan, penggunaan oksitosin, derajat ruptur dan skor APGAR bayi dari kedua kelompok. Penerapan Elektroakupunktur pada titik EX-B2, BL 32, BL 33 dan BL 34 dapat digunakan sebagai terapi non farmakologi untuk mengurangi nyeri dan durasi persalinan serta aman dan mudah digunakan dengan tidak ada efek samping. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu pertimbangan untuk manajemen nyeri saat persalinan pada layanan di kamar bersalin RSUD dr. Zainoel Abidin ke depan, sehingga meningkatkan kualitas layanan bersalin dan memberi kepuasan pasien dalam menjalani proses persalinan.  
Gambaran pengetahuan dan penanganan dengan kualitas nyeri pada siswi aliyah Madrasah Ulumul Quran Pagar Air tahun 2021 Syaza Azra; Rajuddin Rajuddin; Fitri Dewi Ismida
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v22i1.23786

Abstract

Abstrak. Kejadian dismenorea pada remaja usia sekolah masih tergolong tinggi. Banyaknya dampak yang diakibatkan oleh dismenorea berakibat pada penurunan produktivitas dan prestasi belajar siswi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan penanganan dismenorea dengan kualitas nyeri yang terjadi pada siswi Aliyah Madrasah Ulumul Quran Pagar Air. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 83 siswi kelas X, XI, dan XII IPA Madrasah Ulumul Quran Pagar Air. Pemilihan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Penelitian dilakukan dengan membagikan kuesioner yang selanjutnya diisi oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswi terhadap dismenorea masih kurang (69,8%). Penanganan siswi terhadap dismenorea juga masih kurang (46,9%). Dismenorea umum dialami dalam skala nyeri sedang (49,4%). Pada siswi dengan pengetahuan yang kurang mengenai dismenorea, skala nyeri yang umum ditemui berada dalam skala sedang (53,4%). Pada siswi dengan penanganan yang kurang terhadap dismenorea, skala nyeri yang umum ditemui berada dalam skala ringan (51,3%).Abstract. The incidence of dysmenorrhea in students is still relatively high. Many impacts caused by dysmenorrhea result in a decrease for students productivity and learning achievement. This study aims to determine the description of knowledge and treatment with the quality of pain that occurs in female students of Aliyah Madrasah Ulumul Quran Pagar Air. This method of research is a quantitative descriptive with a cross sectional design. The research sample was 83 students of class X, XI, and XII IPA Madrasah Ulumul Quran Pagar Air. Sample selection using stratified random sampling technique. The research was conducted by distributing questionnaires which were then filled out by the respondents. The results showed that the knowledge about dysmenorrhea was still in the poor category (69.8%). The treatment of dysmenorrhea also in the poor category (46.9%). Generally, the pain of dysmenorrhea was in moderate scale (49.4%). In students with less knowledge about dysmenorrhea, the pain scale that is commonly encountered is on a moderate scale (53.4%). In female students with poor handling of dysmenorrhea, the pain scale that is commonly encountered is on a mild scale (51.3%).