Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Evaluasi Gedung Mnc Tower Menggunakan Sni 03-1726-2012 Dengan Metode Pushover Analysis Fajar Aribisma; I Gusti Putu Raka; Tavio Tavio
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.179 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i1.9178

Abstract

Pembaruan SNI 03-1726-2002 menjadi SNI 03-1726-2012 membuat perbedaan perancangan gedung MNC Tower terhadap beban gempa berubah. Perancangan gedung MNC Tower menggunakan SNI 03-1726-2002 perlu dievaluasi kembali akibat beberapa perbedaan antara peraturan lama dengan yang baru diantaranya perubahan nilai area repon spectrum percepatan menjadi 15 area spectrum dari 6 area spectrum kemudian di SNI 1726 2002 hanya diperhitungkan respon percepatan gempa periode pendek dibandingkan dengan SNI 1726 2012 yang memperhitungkan periode pendek dan periode 1 detik Kenaikan nilai R untuk sistem SRPMK dari 8.5 menjadi 8 yang akan mengubah percepatan respon gempa dan periode yang mengakibatkan perbedaan rancangan ketahanan struktur gedung pada gempa bumi. Perbedaan isi dalam SNI 03-1726-2002 dengan SNI 03-1726-2012 menjadi focus tugas akhir ini dimana dalam mengetahui kelayakan gedung dalam menerima beban gempa yang terbarukan digunakan metode Pushover Analisis yang merupakan sebuah analisa static nonlinier berdasarkan Performance Base Design yang pada intinya adalah mencari kapasitas struktur suatu bangunan. Peraturan pushover anisis mengambil acuan dari ATC 40 (Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings, Redwood City, California, USA) dan menggunakan bantuan program softwear 2000 dalam mengevaluasi gedung MNC Tower. Perkuatan struktur direkomendasikan dengan beberapa metode jika hasil akhir evaluasi gedung mengalami kelelehan dibeberpa elemen.
Desain Modifikasi Struktur Gedung Hotel Premier Inn Surabaya dengan Menggunakan Beton Prategang dan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) Firdauziah Ramadhani; I Gusti Putu Raka; Tavio Tavio
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.291 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26800

Abstract

Beton prategang merupakan teknologi beton struktural yang sering digunakan untuk mengakomodir kebutuhan ruang yang lebih luas tanpa adanya gangguan dari kolom. Balok beton prategang mengijinkan perancang untuk mendesain bentang yang lebih panjang dibandingkan dengan balok beton bertulang dengan bentang pendek. Gedung hotel Premier Inn Surabaya ini memiliki 18 lantai, dimana lantai 16 dan lantai atapnya dimodifikasi dengan balok beton prategang. Hal ini berdasarkan kebutuhan ruang yang luas sebagai ballroom tanpa adanya kolom pada lantai 15 dan 16 untuk memikul bentang bebas sepanjang 12,25 m. Sistem struktur yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dikarenakan Kategori Desain Seismik (KDS) bangunan ini yaitu KDS-D. Pembebanan yang digunakan dalam desain mengacu PPIUG 1983 dan perhitungan gaya gempa dengan metode respon spektrum berdasarkan SNI 1726:2012 dan Peta Hazard Gempa Indonesia 2010. Sedangkan untuk desain struktur beton mengacu pada SNI 2847:2013. Hasil dari desain bangunan ini menunjukkan bahwa telah memenuhi semua persyaratan sehingga mampu untuk menahan beban gravitasi dan beban gempa di wilayah kota Surabaya.
Desain Modifikasi Struktur Apartemen Puncak Dharma Husada Surabaya Dengan Kombinasi Shearwall Dan Outrigger System Angga Bayu Christianto; Tavio Tavio; I Gusti Putu Raka
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.843 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26787

Abstract

Perkembangan pesat dan industrialisasi besar di kota metropolitan menyebabkan naiknya angka urbanisasi ke kota tersebut. Dengan minimnya lahan diperkotaan, perlu dikembangkan bangunan vertikal. Pengembangan ini rentan terhadap beban lateral seperti angin dan gempa. Dengan demikian, para insinyur harus solutif dalam memilih sistem mana yang digunakan untuk merancang bangunan. Pemilihan sistem harus mempertimbangkan aspek kekuatan dan efisiensi sistem struktur karena bangunan yang kuat menahan gaya gempa memerlukan biaya konstruksi yang sangat mahal. Apartemen Puncak Dharma Husada berkapasitas 40 lantai menggunakan kombinasi shearwall dan outrigger system. Outrigger merupakan elemen struktur terdiri dari balok setinggi satu lantai yang berfungsi untuk meningkatkan kekakuan keseluruhan bangunan sehingga dapat mereduksi dimensi balok dan kolom. Meningkatnya kekakuan juga dapat mengurangi periode dan simpangan bangunan. Pada tugas akhir ini, elemen outrigger dan belt truss, dimana outrigger dirancang sebagai balok tinggi beton bertulang dan belt truss yang dirancang sebagai struktur rangka yang terbuat dari baja.
Pengaruh Beban Berulang terhadap Lebar Retak Pelat Beton Satu Arah dengan Pendekatan Mekanika Retakan Djojoatmodjo, Agoes Soehardjono Moesono; Raka, I Gusti Putu; Suprobo, Priyo
Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 1 (2004)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.896 KB)

Abstract

Abstrak. Masalah lebar retak merupakan hal yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Rumusan yang ada masih menunjukkan penyebaran yang lebar dan pengaruh beban berulang terhadap lebar retak dianggap belum memuaskan. Hal ini telah diungkapkan oleh beberapa peraturan internasional seperti Eurocode 2 dan ACI 318. Analisis tentang pengaruh beban berulang terhadap lebar retak pelat beton satu arah dengan pendekatan mekanika retakan akan mengamati pengaruh variasi tegangan baja, angka tulangan, dan beban berulang. Analisis tinggi retak awal (ξi ) dan laju perambatan retak (ξi = f(fs,N)) pada material komposit (beton bertulang) akan dibahas dalam menentukan lebar retak. Perhitungan lebar retak merupakan pengembangan rumusan hasil eksperimen (A. Carpinteri) dan peneliti lain dalam menentukan rumusan usulan. Studi parameter dilakukan terhadap pelat beton dengan memperhitungkan faktor intensitas tegangan KIC akibat kombinasi beban aksial / momen, dan hasilnya menunjukkan bahwa parameter tegangan baja dan beban berulang merupakan parameter yang penting. Ternyata pada tegangan baja tertentu (fs/fy = 0,6) dan beban berulang diatas nilai tertentu (N >8.560.000 kali), beban berulang (N) mempengaruhi lebar retak dengan fungsi logaritma pangkat (w = 0,1267 log 0,2495) sampai kondisi batas lelah (N = 10.000.000 kali).Abstract. The problem of crack width is the case that must be observed further. The formula available still shows wide scatter and the effect of repeated loading to crack width regarded that it has not satisfied yet. This case has been expressed by some international rules such as Euro code 2 and ACI 318. The analyze about the effect of repeated loading to crack width on one-way slab with fracture mechanic approach will observe the effect of the variation of the steel stress, the reinforcement ratio and the repeated loading. The analyze of the initial crack depth (ξi) and the crack growth rate (ξi = f(fs,N)) on composite material (reinforced concrete) will be discussed to determine the crack width. The crack width calculation is the development of the result of experiment (A.Carpinteri) and other observer to determine proposed formula Parameter study is done to the concrete slab by calculating the stress intensity factor KIC due to the axial / moment load combination, and the result shows that the steel stress and the repeated loading parameter are the important parameter. In fact in the steel stress (fs/fy= 0,6) and the repeated loading above certain value (N > 8.560.000 times), the repeated loading effect the crack width with power logarithmic function (w = 0,1267 log 0,2495) until fatigue limit state (N = 10.000.000 times).
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Isabella Tower Bekasi Menggunakan Elemen Pracetak dan Hollow Core Slab dengan Sistem Ganda Diana Dwi Yunita; I Gusti Putu Raka; Faimun Faimun
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.399 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45902

Abstract

Isabella Tower Bekasi pada kondisi sebenarnya dibangun dengan menggunakan metode konvensional dengan ketinggian 20 lantai. Gedung tersebut difungsikan sebagai hunian atau tempat tinggal. Gedung hunian tersebut akan dilakukan perancangan menggunakan elemen pracetak. Perencanaan struktur gedung ini didesain menggunakan sistem ganda dengan kategori seismik E. Rangka utama didesain sebagai sistem rangka pemikul momen khusus dan dinding struktur beton khusus. Hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh bahwa rangka atau frame utama gedung mampu menahan beban lateral X dan Y yang masing masing bernilai  sebesar 29.95% dan 34.73%, sehingga persyaratan untuk sistem ganda terpenuhi. Perencanan elemen pracetak didasarkan pada tiga kondisi, yakni saat pengangkatan, sebelum komposit, dan setelah komposit. Digunakan tebal plat hollow core menggunakan tebal sebesar 15 cm. Dimensi balok terbesar ialah 50 x 70 cm dan dimensi kolom terbesar ialah 70 x 70 cm. Dalam perencanaan struktur gedung ini harus mengacu pada bagunan tahan gempa terbaru yakni, SNI 2847:2013, SNI 1727:2013, RSNI 2847:2018, RSNI 1726:2018, dan referensi lainnya. Pada tugas akhir ini  membahas perancangan struktur gedung Isabella Tower Bekasi, sehingga akan menghasilkan perencanaan yang berisikan spesifikasi dan gambar yang sesuai dengan perencanaan struktur yang mengacu pada peraturan atau standarisasi yang berlaku.
Desain Modifikasi Struktur Gedung Hotel Sun Royal Menggunakan Sistem Balok Prategang dan Sistem Ganda Ni Putu Ary Yuliadewi; I Gusti Putu Raka; Faimun Faimun
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.986 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45877

Abstract

Perencanaan Gedung Hotel Sun Royal yang terletak di kabupaten Badung, Bali setinggi 5 lantai yang menggunakan sistem beton bertulang konvensional pada keseluruhan lantai akan dimodifikasi menjadi 15 lantai yang dirancang dengan menggunakan beton bertulang pada keseluruhan lantai serta menggunakan beton prategang pada lantai 15 yang akan di desain menjadi ballroom tanpa ada struktur kolom di tengah ruangan sehingga ballroom menjadi lebih luas dan nyaman. Karena jika menggunakan balok beton bertulang yang akan menghasilkan dimensi yang lebih besar. Perencanaan gedung hotel Sun Royal ini menggunakan sistem ganda. Sistem ganda adalah salah satu sistem struktur yang beban gravitasinya dipikul bersama oleh rangka utama sedangkan beban lateralnya dipikul bersama oleh rangka utama dan dinding struktur. Rangka utama dan dinding struktur didesain sebagai Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Dinding Geser. Perencanaan akan memenuhi persyaratan keamanan struktur berdasarkan RSNI 1726:2018, RSNI 2847:2018 dan SNI 1727:2013. Dari hasil analisa yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa balok prategang pada atap memiliki dimensi sebesar 650×1000 mm dan gaya prategang awal sebesar 2500 kN. Kehilangan gaya prategang yang di alami oleh balok sebesar 20,9% dan tebal dinding geser sebesar 50 cm dengan special boundary element pada ujung-ujung dinding geser tersebut. Pondasi menggunakan tiang pancang diameter 60 cm dengan kedalaman 25 meter.
Analysis of Retrofit Building Behavior with Base Isolation System Using Nonlinear Time History Analysis Septiarsilia, Yanisfa; Tavio, Tavio; Raka, I Gusti Putu
IPTEK Journal of Proceedings Series No 1 (2017): The 2nd International Conference on Civil Engineering Research (ICCER) 2016
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i1.2204

Abstract

        Now,  procedures of design for the earthquake resistance of buildings and non-building structures SNI 1726: 2012 has been approved the procedures for seismic design for buildings SNI 1726-2002.  SNI 1726: 2012 refers to the development  of  modern seismic regulations are due to changes in tectonic plates located on the active track on the path of circum-Pacific and the Indian track - the Himalayas. With the enactment of the new  SNI earthquake,  namely SNI 1726: 2012, then all existing buildings and designed with old  SNI earthquake, that  is SNI - 1726-2002 should be evaluated against for the new regulations. Handling scheme for existing buildings should be made to determine and improve safety. Analysis and solutions are required to improve the safety of buildings. Retrofitting Seismic Isolation is one of  the effective and practical methode to increase safety of buildings against earthquakes, because  this methode can reduce the earthquake acceleration response. Retrofitting seismic isolation can not only improve the safety and functionality seismic, but also to maintain the original design. Without the need to demolish and rebuild the building, the building will remain intact. So that historic buildings and cultural heritage can still be preserved. The concept of base isolation is to decouple the upper structure from its foundation and inserting isolator which has a small horizontal stiffness. This techniques can reducing the seismic impact from the soil vibration which could be from seismic motion. This study will compare the ratio building safety for old structural design that uses SNI-1726-2002 (old) vs SNI 1726: 2012 (new). The results shows that retrofitting seismic isolation building have better performance in terms of ductility demand, natural period, and lower internal forces due to earthquake.
Study of Confinement Index of High-Strength Concrete Columns Reinforced with High-Strength Steel Bars Agustiar, Agustiar; Tavio, Tavio; Putu Raka, I Gusti
IPTEK Journal of Proceedings Series No 6 (2017): The 3rd International Conference on Civil Engineering Research (ICCER) 2017
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i6.3311

Abstract

Nowadays, the need of mega structures such high-rise buildings and long-span bridges due to the rapid growth of population is becoming increasingly urgent. The bigger the structures the higher the load should be carried by their structural members. To resist higher load, it normally requires larger size members. In reinforced concrete members, the capacity enhancement can be attained by either increasing the element size, the grade of materials used (concrete and steel bars), or the number or size of the steel bars used. However, higher-strength materials such as concrete and steel typically have more brittle properties. To improve the ductility of the concrete, it can be achieved by providing confining steel through transverse reinforcement. For higher-strength steel bars, a chemical based research has been conducted in recent years to come up with the high strength yet ductile steel material. This paper focuses on the analysis of various strengths of concrete columns 30 MPa and to 60 MPa reinforced and confined with high-strength reinforcing steel bars 550 MPa (Grade 80) with variety cross section of columns. From the study, it can be concluded that the confinement index decreases significantly with the increase of concrete strength. The use of higher-strength transverse steel increases the confinement index. The greater strengths of concrete used, the confinement ratio will be smaller at the same spacing.
Studi Perbandingan Efisiensi Struktur Atas Jembatan Beton Pratekan Antara Sistem Jembatan Konvensional dengan Jembatan Integral pada Berbagai Variasi Bentang Yusak Nurrizki; I Gusti Putu Raka
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.54258

Abstract

Sebagian besar pembangunan jembatan di Indonesia, khususnya pada ruas jalan Kabupaten dan Kota menggunakan jenis simple beam (sistem jembatan diatas dua tumpuan). Pada struktur jembatan dengan menggunakan simple beam pada umumnya terdapat siar muai (expansion joint) dan celah (dilatasi) antara struktur bangunan atas dan bangunan bawah. Akibatnya, apabila tidak dilakukan perawatan jembatan dengan baik dapat menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan yang mengakibatkan mahalnya biaya perawatan. Untuk menghindari hal tersebut di gunakanlah sistem jembatan tanpa expansion joint dan bearing pads yang disebut jembatan integral. Di Indonesia jembatan integral tidak sepopuler dari jembatan simple beam. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah masih minimnya penelitian tentang struktur jembatan integral di Indonesia. Pada tugas akhir kali ini dilakukan analisis perbandingan efisiensi dari struktur utama bangunan atas jembatan gelagar beton prategang pada sistem jembatan konvensional dan jembatan integral untuk bentang 20 m, 30 m, dan 40 m. Jembatan integral dimodelkan menggunakan SAP2000 dengan model tiga dimensi. Dari hasil perencanaan dan analisis yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan perbandingan efisiensi struktur atas untuk jembatan bentang 20 m, sistem struktur integral unggul dalam hal lendutan dan tidak adanya expansion joint, sedangkan pada sistem konvensional unggul dalam hal kemudahan perencanaan, beban tambahan yang mampu dipikul, kehilangan, dan volume penulangan balok girder. Untuk jembatan bentang 30 m, sistem struktur integral unggul dalam hal lendutan , volume penulangan balok girder, dan tidak adanya expansion joint, sedangkan pada sistem konvensional unggul dalam hal kemudahan perencanaan, beban tambahan yang mampu dipikul, dan persentase kehilangan. Untuk jembatan bentang 40 m, sistem struktur integral unggul dalam hal lendutan, desain tendon, volume penulangan balok girder, beban tambahan yang mampu dipikul, dan tidak adanya expansion joint, sedangkan sistem pada sistem konvensional unggul dalam hal kemudahan perencanaan dan persentase kehilangan.
Desain Modifikasi Struktur Tower Caspian Apartemen Grand Sungkono Lagoon Menggunakan Sistem Balok Prategang dan Sistem Ganda Nyoman Adisurya Wijaya; Faimun Faimun; I Gusti Putu Raka
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.58417

Abstract

Gedung Tower Caspian terdiri atas 50 lantai dan 3 basement yang pada kondisi sebenarnya dibangun menggunakan metode beton bertulang konvensional pada keseluruhan lantainya. Pada tugas akhir ini struktur Tower Caspian akan dimodifikasi ulang menjadi 20 lantai dengan 1 basement yang dirancang dengan menggunakan beton bertulang pada keseluruhan lantai dan direncananakan menggunakan atap datar dengan dak beton yang akan difungsikan sebagai roof garden dan aktivitas semi outdoor yang tumpu menggunakan balok prategang pada lantai 19 yang akan di desain menjadi ballroom tanpa ada struktur kolom di tengah ruangan sehingga ballroom menjadi lebih luas dan nyaman. Karena jika menggunakan balok beton bertulang yang akan menghasilkan dimensi yang lebih besar. Perencanaan Tower Caspian ini menggunakan sistem ganda. Sistem ganda adalah salah satu sistem struktur yang beban gravitasinya dipikul bersama oleh rangka utama sedangkan beban lateralnya dipikul bersama oleh rangka utama dan dinding struktur. Rangka utama dan dinding struktur didesain sebagai Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Dinding Geser. Dari hasil Analisa yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa balok prategang pada atap arah memanjang dan melintang memiliki dimensi sebesar 500 x 1100 mm dan gaya prategang sebesae 3000 kN. Kehilangan gaya prategang yang di alami oleh balok sebesar 18.7% dan tebal dinding geser sebesar 40 cm. Pondasi menggunakan tiang pancang diameter 60 cm dengan kedalaman 40 meter.