O Hasbiansyah
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Menimbang Positivisme Hasbiansyah, O
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harus diakui, pengaruh positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi. masih sangat kuat dan luas. Hal ini, misalnya, bisa dilihat dalam rumusan-rumusan metodologipenelitian. Masalah generalisasi. objektivitas. deskripsi sebab-akibat, yang sederhana, kerap ditemukan. Tak bisa dipungkiri, memang. bahwa positivisme berjasa dalam mengembangkan metodologi ilmiah. di samping dosa-dosanya yang juga cukup besar. Karena itu, pemahaman asumsi-asumsi positivisme. dan kritik-kritik terhadapnya, cukup penting bagi para ilmuwan. Sebab, hal ini, secara filosofis, sangat pendasar. Penting disadari, positivisme telah memberikan landasan sistematis, dan membantu cara berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Positivisme telah memberikan bimbingan. melalui verifikasi dalam proses penelitian,misalnya. Tetapi juga,dengan memahami kritik-kritik tadi. penting juga disadari bahwa penalaran ilmu pengetahuan positivisme. telah memperkerdil realitas. Padahal realitas itu sangat kaya dan penuh nuansa. Realitas direduksi ke dalam gambaran yang kering dan miskin, sehingga realitas sesungguhnya (yang diungkap) bisa keliru. dan menyesatkan. Dengan demikian. betapapun serangan bertubi-tubi dilancarkan pada positivisme. masih ada sejumlah manfaat yang bisa dipetik. Kritik-kritik tajam itu. mungkin. tak bisa menghapus seluruh penalaran yang didasarkan pemahaman positivisme. Kritik-kritik demikian harus dipandang sebagai proses dialektis. untuk menemukan pendekatan yang dianggap lebih baik.
Characteristic of Moslem Intellectual, a Perspective of Communication Psychology Hasbiansyah, O
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna intelektual muslim tidak terpisahkan dari makna intelektual itu sendiri. Seseorang dikatakan sebagai intelektual bukan karena gelar akademik atau tingkat pendidikan yang dicapainya. tetapi dilihat apakah ia memiliki komitmen untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik lewat gagasan dan alesi-alesi yang dikembangkannya. Seiring dengan pengertian ini. intelektual muslim adalah orangyang terikat dengan ajaran Islam. yang dengan kecerdasannya dan kearifannya. merasa terpanggil untuk menerjemahkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi manusia dan alam semesta. Dalam perspektifkomunikasi. seorang intelektual muslim adalah orang yang terbuka sekaligus kritis. Kehadiran mereka di tengah umat sangat dibutuhkan sebagai mitra dialog agar umat tidak terjerembab pada fanatisme buta serta mampu menggali hikmat dari berbagai informasi dan perbedaan paham. lebih-lebih di tengah membludaknya arus informasi padajaman sekarang ini.
The Search for Meaning of Life: Existentialism, Communication, and Islam Hasbiansyah, O
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna merupakan hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa makna, kehidupan akan tanpa arah dan penuh kegelisahan. Makna hidup dapat dicari melalui nilai-nilai kreatif, nilai-nilai pengalaman, nilai-nilai cara bersikap, komunikasidan partisipasi,pemahaman diri, dan pemahaman akan ajaran agama. Islam menawarkan aspek nomatif bagi pencapaian hidup bermakn lewat pembersihan diri, kontemplasi, serta komitmen pada keilmuan dan kemasyarakatan.
Konstelasi Paradigma Objektif dan Subjektif dalam Penelitian Komunikasi dan Sosial Hasbiansyah, O
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma berkaitan dengan cara memandang terhadap realitas. Realitas yang sama akan tampak berbeda bila dilihat dengan paradigma yang berbeda. Dalam ilmu sosial dan komunikasi, terdapat sejumlah paradigma, biasanya secara sederhana dikelompokkan secara dikotomis ke dalam paradigma objektif, yang lebih populer dengan istilah kuantitatif, dan subjektif, yang lebih dikenal dengan sebutan kualitatif. Paradigma objektif memandang bahwa realitas itu tunggal dan objektif, kebenaran itu bersifat universal, ilmu dikembangkan dalam konteks yang bebas nilai. Paradigma subjektif memandang realitas sebagai majemuk, hasil konstruksi sosial, dan kebenaran yang diperoleh itu sifatnya relatif yang hanya berlaku pada wilayah geografis tertentu, serta ilmu dikembangkan tidak bebas nilia. Paradigma mengimplikasikan pada metode peneltian. Dalam paradigma objektif dikenal, antara lain, metode peneltian survei dan eksperimen. Dalam paradigma subjektif, dikenal, atara lain, pendekatan fenomenologi, studi kasus, etnografi, biografi, grounded theory.
Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi Hasbiansyah, O
Mediator Vol 9, No 1 (2008): Isu Komunikasi Kesehatan yang Ter-”Pojok”-kan
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phenomenology, initially, is a philosophy made popular by Edmund Husserl. Phenomenology, in essential, taught people to interact and learn more from phenomenon so that the meaning of reality, and the natural essence of reality, could be grasped by the observer. Phenomenology today develops as one of fundamental research method whose assumptions respect human uniqueness and subjective experiences. Phenomenon as experienced consciously by human was analyzed by two descriptions: textual description and scriptural description.
Konstelasi Paradigma Objektif dan Subjektif dalam Penelitian Komunikasi dan Sosial O Hasbiansyah
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i2.1157

Abstract

Paradigma berkaitan dengan cara memandang terhadap realitas. Realitas yang sama akan tampak berbeda bila dilihat dengan paradigma yang berbeda. Dalam ilmu sosial dan komunikasi, terdapat sejumlah paradigma, biasanya secara sederhana dikelompokkan secara dikotomis ke dalam paradigma objektif, yang lebih populer dengan istilah kuantitatif, dan subjektif, yang lebih dikenal dengan sebutan kualitatif. Paradigma objektif memandang bahwa realitas itu tunggal dan objektif, kebenaran itu bersifat universal, ilmu dikembangkan dalam konteks yang bebas nilai. Paradigma subjektif memandang realitas sebagai majemuk, hasil konstruksi sosial, dan kebenaran yang diperoleh itu sifatnya relatif yang hanya berlaku pada wilayah geografis tertentu, serta ilmu dikembangkan tidak bebas nilia. Paradigma mengimplikasikan pada metode peneltian. Dalam paradigma objektif dikenal, antara lain, metode peneltian survei dan eksperimen. Dalam paradigma subjektif, dikenal, atara lain, pendekatan fenomenologi, studi kasus, etnografi, biografi, grounded theory.
The Search for Meaning of Life: Existentialism, Communication, and Islam O Hasbiansyah
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 2 (2002): Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif?
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i2.769

Abstract

Makna merupakan hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa makna, kehidupan akan tanpa arah dan penuh kegelisahan. Makna hidup dapat dicari melalui nilai-nilai kreatif, nilai-nilai pengalaman, nilai-nilai cara bersikap, komunikasidan partisipasi,pemahaman diri, dan pemahaman akan ajaran agama. Islam menawarkan aspek nomatif bagi pencapaian hidup bermakn lewat pembersihan diri, kontemplasi, serta komitmen pada keilmuan dan kemasyarakatan.
Characteristic of Moslem Intellectual, a Perspective of Communication Psychology O Hasbiansyah
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i1.762

Abstract

Makna intelektual muslim tidak terpisahkan dari makna intelektual itu sendiri. Seseorang dikatakan sebagai intelektual bukan karena gelar akademik atau tingkat pendidikan yang dicapainya. tetapi dilihat apakah ia memiliki komitmen untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik lewat gagasan dan alesi-alesi yang dikembangkannya. Seiring dengan pengertian ini. intelektual muslim adalah orangyang terikat dengan ajaran Islam. yang dengan kecerdasannya dan kearifannya. merasa terpanggil untuk menerjemahkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi manusia dan alam semesta. Dalam perspektifkomunikasi. seorang intelektual muslim adalah orang yang terbuka sekaligus kritis. Kehadiran mereka di tengah umat sangat dibutuhkan sebagai mitra dialog agar umat tidak terjerembab pada fanatisme buta serta mampu menggali hikmat dari berbagai informasi dan perbedaan paham. lebih-lebih di tengah membludaknya arus informasi padajaman sekarang ini.
Menimbang Positivisme O Hasbiansyah
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v1i1.687

Abstract

Harus diakui, pengaruh positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi. masih sangat kuat dan luas. Hal ini, misalnya, bisa dilihat dalam rumusan-rumusan metodologipenelitian. Masalah generalisasi. objektivitas. deskripsi sebab-akibat, yang sederhana, kerap ditemukan. Tak bisa dipungkiri, memang. bahwa positivisme berjasa dalam mengembangkan metodologi ilmiah. di samping dosa-dosanya yang juga cukup besar. Karena itu, pemahaman asumsi-asumsi positivisme. dan kritik-kritik terhadapnya, cukup penting bagi para ilmuwan. Sebab, hal ini, secara filosofis, sangat pendasar. Penting disadari, positivisme telah memberikan landasan sistematis, dan membantu cara berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Positivisme telah memberikan bimbingan. melalui verifikasi dalam proses penelitian,misalnya. Tetapi juga,dengan memahami kritik-kritik tadi. penting juga disadari bahwa penalaran ilmu pengetahuan positivisme. telah memperkerdil realitas. Padahal realitas itu sangat kaya dan penuh nuansa. Realitas direduksi ke dalam gambaran yang kering dan miskin, sehingga realitas sesungguhnya (yang diungkap) bisa keliru. dan menyesatkan. Dengan demikian. betapapun serangan bertubi-tubi dilancarkan pada positivisme. masih ada sejumlah manfaat yang bisa dipetik. Kritik-kritik tajam itu. mungkin. tak bisa menghapus seluruh penalaran yang didasarkan pemahaman positivisme. Kritik-kritik demikian harus dipandang sebagai proses dialektis. untuk menemukan pendekatan yang dianggap lebih baik.
Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi O Hasbiansyah
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 9, No 1 (2008): Isu Komunikasi Kesehatan yang Ter-”Pojok”-kan
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v9i1.1146

Abstract

Phenomenology, initially, is a philosophy made popular by Edmund Husserl. Phenomenology, in essential, taught people to interact and learn more from phenomenon so that the meaning of reality, and the natural essence of reality, could be grasped by the observer. Phenomenology today develops as one of fundamental research method whose assumptions respect human uniqueness and subjective experiences. Phenomenon as experienced consciously by human was analyzed by two descriptions: textual description and scriptural description.