Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemurnian Minyak Ikan Patin dari Hasil Samping Pengasapan Ikan Bandol Utomo, Bagus Sediadi; Basmal, Jamal; Hastarini, Ema
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.224

Abstract

Isi perut merupakan hasil samping pengasapan ikan patin (Pangasius hypophthalmus) yang jumlahnya mencapai 5-6%/hari dari jumlah ikan yang diasap. Jumlah hasil samping yang besar tersebut apabila tidak diolah dapat mencemari lingkungan. Masyarakat pengolah di Kabupaten Kampar, Riau telah mengekstraksi isi perut tersebut menjadi minyak ikan kasar dengan produksi 110 L/hari. Untuk itu diperlukan teknologi pemurnian yang dapat meningkatkan nilai ekonomi minyak ikan kasar yang ada. Penelitian ini bertujuan melakukan pemurnian minyak kasar hasil samping pengasapan ikan patin dengan menggunakan empat metode pemurnian. Masing-masing metode pemurnian tersebut memiliki perbedaan seperti konsentrasi bentonit, waktu dan suhu proses, konsentrasi NaOH pada proses netralisasi, dan penggunaan asam sitrat atau natrium klorida pada proses degumming. Bahan penelitian yang digunakan adalah dua jenis minyak ikan patin kasar yaitu hasil ekstraksi isi perut ikan patin dengan pengukusan dan hasil ekstraksi dengan pemanasan. Sebelum dan setelah dimurnikan, minyak ikan dianalisis bilangan asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan iodin, warna, dan profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan menggunakan metode I, terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,79%; peroksida sebesar 23,75%; dan peningkatan angka iodin 20,99%. Sedangkan pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pemanasan yang telah dimurnikan menggunakan metode II terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,30%; peroksida 49,77%; dan peningkatan angka iodin 30,92% Pemurnian minyak ikan patin terbaik dihasilkan dari minyak hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan dengan metode I dan minyak hasil ekstraksi dengan pemanasan yang dimurnikan dengan metode II karena telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh International Association of Fish Meal Manufactures, International Fish Oil Standard, dan standar farmakope Indonesia sebagai minyak ikan mutu pangan.
Karakteristik Biopelumas Berbasis Minyak Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Sari, Rodiah Nurbaya; Hastarini, Ema; Widyajatmiko, Athanatius Henang Wicaksono; Tambunan, Armansyah Halomoan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.675

Abstract

Proses pengolahan ikan patin di Indonesia memiliki hasil samping hingga 67% dari total bobotnya dan berpotensi menimbulkan polusi. Pemanfaatan hasil samping sebagai biopelumas yang ramah lingkungan merupakan salah satu solusi dalam penanggulangan hasil samping menjadi produk yang bernilai ekonomis. Namun, pelumas yang dihasilkan harus dapat memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Riset ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi biopelumas yang dibuat dari hasil samping produksi ikan patin Siam (Pangasius hypophthalmus), berupa bagian jeroan atau isi perut, dan membandingkannya dengan SNI 7069.9:2016. Isi perut patin diekstrak menjadi minyak kasar dengan metode wet rendering. Selanjutnya, minyak kasar diubah menjadi biopelumas melalui tahapan hidrolisis, polimerisasi, dan poliesterifikasi. Bahan baku minyak kasar diuji komposisi asam lemak, bilangan asam lemak bebas, dan bilangan penyabunan. Sementara itu, karakterisasi biopelumas dilakukan dengan variabel densitas, viskositas kinematik pada suhu 40 dan 100°C, warna, indeks viskositas, flashpoint, pour point, dan uji korosi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa suhu poliesterifikasi 135°C akan menghasilkan biopelumas terbaik. Biopelumas ini memiliki densitas 0,903 g/cm3; viskositas 40°C sebesar 39,76 cSt; viskositas 100°C sebesar 7,94 cSt; indeks viskositas 176; dan sifat korosi yang rendah (1A). Indeks viskositas dan korosi bilah tembaga menunjukkan bahwa minyak patin adalah bahan baku biopelumas yang potensial. Namun, titik nyala dari biopelumas masih rendah (127°C) dan titik tuangnya juga tinggi (27°C). Modifikasi proses lebih lanjut dapat dilakukan untuk menaikkan titik nyala serta menurunkan titik tuang, sehingga produk ini dapat memenuhi persyaratan sebagai biopelumas.ABSTRACTThe pangasius processing in Indonesia has a by-products waste, that can reach up to 67% of its total weight, and may cause pollution. An environmentally friendly lubricant (biolubricant) is a potential solution that transforms the by-products waste into an economically value product. However, the proceed biolubricant has to meet the Indonesian National Standard (abbreviated SNI). The purpose of this study were to characterize the biolubricant from pangasius (Pangasius hypophthalmus) by-products, which is the viscera part, and to compare the product with the Indonesian lubricant standard SNI 7069.9: 2016 reference. The crude fish oil was extracted from the viscera using the wet rendering method. Furthermore, the crude fish oil was converted into biolubricant through the stages of hydrolysis, polymerization, and polyesterification. The raw material of pangasius by-products was characterized by fatty acid profiles, free fatty acid numbers, and saponification numbers. Meanwhile, the biolubricant product was characterized by density, kinematic viscosity at temperatures of 40 and 100°C, color, viscosity index, flashpoint, pour point, and hazardous corrosion test. The results showed that the best biolubricants were those through the polyesterification temperature process of 135°C. This biolubricant has a density of 0.903 g/cm3; a viscosity at 40°C of 39.76 cSt; a viscosity at 100°C of 7.94 cSt; a viscosity index of 176; and low corrosion level (1A). The viscosity index and corrosion of copper blades were adequate for biolubricant standards. However, the biolubricant flashpoint was relatively low (127°C) and the pour point was relatively high (27°C). A further modification is needed to adjust the flash and pour points so that the biolubricant able to fullfil the national lubricant standard.