Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Perancangan dan Perakitan Modulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transmiter Payload Satelit IINUSAT-01 Ahmad Muhiddin; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.223 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.137

Abstract

Tren disain sistem komunikasi satelit setelah debut selama hampir setengah abad silih berganti bagaikan sebuah negara dengan 100 musim. Tren disain satelit yang sudah lama muncul namun tetap hangat diperbincangkan adalah satelit dengan ukuran mini, yaitu micro dan nano satelit. Menyusutkan ukuran juga berarti menyusutkan biaya pembuatan dan juga operasional dari sebuah satelit. Indonesia sebagai salah satu negara yang potensial untuk dapat memanfaatkan layanan komunikasi satelit tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan teknologi ini. Melalui program Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research and Education (INSPIRE) Indonesia mencoba mengembangkan satelit ilmiah nano yang dimulai dari proyek IiNUSAT-01. Penelitian ini berfokus pada perakitan perangkat modulator payload komunikasi IiNUSAT-01 yang memiliki kecepatan transfer data sebesar 9600 bps (baud) dengan tipe modulasi FSK. Perangkat modulator dirancang agar dapat memodulasi sinyal carrier dengan deviasi frekuensi tertentu sesuai dengan masukan sinyal logic informasi. Melalui proses disain analitis, perakitan dan pengujian alat, didapatkan sebuah perangkat modulator FSK 9600 baud berbasis IC tranceiver ADF7021-N. Perangkat modulator ini dapat memodulasi frekuensi sinyal carrier pada sisi downlink IiNUSAT-01 (436.915 MHz) dengan deviasi frekuensi ± 1.08 kHz.
Kajian Implementasi Standar Long-Term Evolution (LTE) pada Sistem Komunikasi Taktis Militer Aris Pradana; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.123 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.117

Abstract

Sistem komunikasi taktis memungkinkan banyak pengguna dengan mobilitas tinggi, memiliki kemampuan network recovery dan network entry yang baik, serta diperkuat dengan sistem keamanan transmisi yang tahan terhadap jamming. Di sisi lain kemajuan telekomunikasi mendorong dikembangkannya LTE (Long-Term Evolution). LTE meningkatkan kapasitas sistem, cakupan area, high peak data rates, didukung dengan sistem keamanan yang baik guna mewujudkan pelayanan komunikasi menjadi lebih baik. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan pengkajian penggunaan standar teknologi LTE agar mampu mendukung dan meningkatkan kualitas sistem komunikasi taktis militer. Simulasi dilakukan untuk menguji kemampuan LTE terhadap jamming. Dari hasil simulasi dan pengkajian didapatkan bahwa sistem uplink LTE, dengan penambahan convolutional coding dan interleaver 8×8, memiliki ketahanan terhadap jamming dengan amplitudo di bawah 2,5 V, serta lebih tahan terhadap multitone-jamming pada sub-carrier yang berbeda daripada multitone-jamming pada sub-carrier yang sama. Arsitektur LTE dengan dukungan teknik AMC, AAA server, dan fast cell selection mampu mendukung sistem super network, network entry, dan network recovery pada sistem komunikasi taktis.
Kinerja Sistem Komunikasi Satelit Ka-band Menggunakan Site Diversity Di Daerah Tropis Krisnatianto Tanjung; Gamantyo Hendrantoro; Achmad Mauludiyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.374 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.95

Abstract

Frekuensi Ka-band yang dapat digunakan pada sistem komunikasi satelit adalah sebesar 20 GHz (Downlink) dan 30 GHz (Uplink). Namun, pada kondisi daerah tropis dimana intensitas curah hujan yang cukup tinggi dapat menyebabkan kondisi sistem komunikasi satelit akan teredam di sisi penerima. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghindari dampak adanya redaman hujan adalah dengan metode site diversity. Metode site diversity adalah metode dengan proses transmisi dari satelit ka-band ke lebih dari satu lokasi stasiun bumi. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai signal to noise ratio (SNR). Penerapan metode site diversity pada sistem komunikasi satelit ka-band mengakibatkan adanya peningkatan kinerja sistem komunikasi bila dibandingkan dengan sistem komunikasi tanpa site diversity. Hal tersebut dapat dilihat pada probabilitas 0,1% nilai SNR pada link perak dengan kondisi downlink dan uplink sebesar -4,349 dB dan 0,09804 dB, sedangkan dengan menggunakan teknik selection combining menghasilkan nilai SNR kondisi downlink dan uplink sebesar 10,31 dB dan 25,15 dB.
MODELING HIDDEN NODES COLLISIONS IN WIRELESS SENSOR NETWORKS: ANALYSIS APPROACH Rachman, A. Sjamsjiar; Wirawan, Wirawan; Hendrantoro, Gamantyo
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 8, No 1, Januari 2010
Publisher : Department of Informatics, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.071 KB) | DOI: 10.12962/j24068535.v8i1.a69

Abstract

This paper studied both types of collisions. In this paper, we show that advocated solutions for coping with hidden node collisions are unsuitable for sensor networks. We model both types of collisions and derive closed-form formula giving the probability of hidden and visible node collisions. To reduce these collisions, we propose two solutions. The first one based on tuning the carrier sense threshold saves a substantial amount of collisions by reducing the number of hidden nodes. The second one based on adjusting the contention window size is complementary to the first one. It reduces the probability of overlapping transmissions, which reduces both collisions due to hidden and visible nodes. We validate and evaluate the performance of these solutions through simulations.
PEMODELAN ARIMA DAN DETEKSI OUTLIER DATA CURAH HUJAN SEBAGAI EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER Mauludiyanto, Achmad; Hendrantoro, Gamantyo; P, Mauridhi Hery; Suhartono, Suhartono
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 7, No 3, Januari 2009
Publisher : Department of Informatics, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.925 KB) | DOI: 10.12962/j24068535.v7i3.a76

Abstract

The purpose of this paper is to provide the results of Arima modeling and outlier detection in the rainfall data in Surabaya. This paper explained about the steps in the formation of rainfall models, especially Box-Jenkins procedure for Arima modeling and outlier detection. Early stages of modeling stasioneritas Arima is the identification of data, both in mean and variance. Stasioneritas evaluation data in the variance can be done with Box-Cox transformation. Meanwhile, in the mean stasioneritas can be done with the plot data and forms of ACF. Identification of ACF and PACF of the stationary data is used to determine the order of allegations Arima model. The next stage is to estimate the parameters and diagnostic checks to see the suitability model. Process diagnostics check conducted to evaluate whether the residual model is eligible berdistribusi white noise and normal. Ljung-Box Test is a test that can be used to validate the white noise condition, while the Kolmogorov-Smirnov Test is an evaluation test for normal distribution. Residual normality test results showed that the residual model of Arima not white noise, and indicates the existence of outlier in the data. Thus, the next step taken is outlier detection to eliminate outlier effects and increase the accuracy of predictions of the model Arima. Arima modeling implementation and outlier detection is done by using MINITAB package and MATLAB. The research shows that the modeling Arima and outlier detection can reduce the prediction error as measured by the criteria Mean Square Error (MSE). Quantitatively, the decline in the value of MSE by incorporating outlier detection is 23.7%, with an average decline 6.5%.
Spatial Correlation of Radio Waves for Multi-Antenna Applications in Indoor Multipath Environments Hendrantoro, Gamantyo; Handayani, Puji; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.989 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.36-42

Abstract

This paper presents the results of a concerted effort in characterizing the spatial correlation of radio waves detected by a multi-element antenna system in indoor environments. The number of arriving paths and their directions are first studied through a series of measurements. The results are then used in a simulation to obtain spatial correlation indoors. It is found that generally an antenna array positioned near the center of the room will experience more rapidly decreasing correlation with spacing, which is a desired trait. In addition, a linear array oriented perpendicular to the length of the room in general shows better characteristics in terms of faster slope of correlation compared to the one in parallel with the length of the room. The average correlation indoors is also found to be similar to the correlation function arising from the two-dimensional circularly distributed random scatterers proposed by Clarke. For practical implementation of antenna arrays in small terminals for indoor wireless applications, it is suggested that the inter-element spacing be made 0.3? in the least.
Rancang Bangun Demodulator FSK 1200 Baud untuk Perangkat Receiver Payload Satelit IiNUSAT-01 Iwan Hendrianto; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.554 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.93

Abstract

Satelit merupakan suatu space segment yang berfungsi sebagai repeater dari ground segment (stasiun bumi) dapat menerima dan memancarkan kembali sinyal dari stasiun bumi untuk komunikasi data yang memiliki dimensi terbatas (nano satelit). Salah satu bagian dari payload satelit adalah demodulator yang berfungsi mengembalikan sinyal hasil modulasi ke bentuk semula. Dalam makalah ini membahas perancangan dan pemembuatan perangkat demodulator FSK 1200 baud beserta pengujiannya. Demodulator ini dibuat dalam dua rangkaian yaitu demodulator dengan TCM 3105 dan demodulator dengan ADF 7021. Untuk hasil uji demodulator TCM 3105 telah teruji dan bisa mendemodulasikan sinyal yang dikirim dengan baik, pengiriman data teks dengan menggunakan media radio juga memperoleh hasil yang baik. Sedangkan pengujian demodulator ADF 7021 juga dapat mendemodulasikan dengan sinyal yang dikirim dengan baik hanya saja umur pakainya tidak terlalu lama. Dari hasil seluruh pengujian maka demodulator dengan TCM 3105 mimiliki kinerja yang baik dan bisa digunakan komukasi pada satelit Iinusat-01.
Underwater Acoustic Channel Characterization of Shallow Water Environment Santoso, Tri Budi; Widjiati, Endang; Wirawan, Wirawan; Hendrantoro, Gamantyo
EMITTER International Journal of Engineering Technology Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24003/emitter.v6i1.243

Abstract

Understanding of channel propagation characteristics is a key to the optimal design of underwater acoustic communication. Generally, modelling of underwater acoustic channel is performed based on measurement result in certain site at certain times. Different sites might have different characteristics, each of which can generally be described by a model obtained by averaging measurement results at multiple points in the same environment. This paper describes a characterization of the underwater acoustic channel of tropical shallow water in a Mangrove estuary, which has sediment up to 60 cm at the bottom. Such a channel model is beneficial for the design of communication system in an autonomous underwater vehicle, for instance. The measurement result of delay spread parameter from three different points with the distance of 14 ~ 52 m, has various values. The root mean square (RMS) of delay spread ranges between 0.0621 ~ 0.264 ms, and the maximum delay spread varies with the value of 0.187 ~ 1.0 ms. The pdf fitting shows that Rayleigh distribution describes the fading variation more accurately than Nakagami and Ricean.
Rancang Bangun Alat Musik Berbasis Perubahan Arus Perpindahan Muhammad Dwi Rifqi; Gamantyo Hendrantoro; Wirawan Wirawan
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.495 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23881

Abstract

Studi ini dilakukan untuk mengetahui perubahan frekuensi pada alat musik Theremin pada saat dimainkan dengan menyesuaikan jarak tangan pemain dengan antena. Konsep dari Theremin ini adalah sebuah alat musik, dimana cara memainkan alat musik tersebut tidak menggunakan kontak fisik langsung terhadap alat tersebut, dimana menggunakan teori arus perpindahan yaitu suatu medan listrik yang berubah terhadap waktu yang dimana arus perpindahan itu akan terjadi ketika terdapat dua lempeng penghantar atau kapasitor pada suatu dielektrik yang diberikan tegangan dan akan menghasilkan medan listrik. Pada alat ini juga terdapat prinsip heterodinamis dimana terdapat dua frekuensi antena yang bercampur yang saling mengurangi sehingga menghasilkan frekuensi yang dapat didengar oleh telinga manusia. Pada eksperimen dapat dilihat hasilnya bahwa pada saat tangan pemain mendekati antena, frekuensi yang akan dihasilkan akan semakin besar sehingga menghasilkan nada yang lebih tinggi, begitu juga sebaliknya.
Shadowing Correlation Model for Indoor Multi-hop Radio Link in Office Environment Fadhli, Mohammad; Handayani, Puji; Hendrantoro, Gamantyo; Mukti, Prasetiyono Hari
JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.151 KB)

Abstract

Propagation environment greatly affect the performance of wireless network. The excistence of obstacles between transmitter and receiver antennas provide shadowing effect to the transmitted signal. In multi-hop radio link, any link pairs experience shadowing effect that can be correlated if the links have a similar propagation environment. Various studies have shown that correlated shadowing has significant impacts on wireless network’s performance. This paper discusses  shadowing correlation of measured two-hop radio link. We propose models that can be used to predict shadowing correlation coefficient of link pairs using  deterministic and stochastic formulas. We give an example of the effect of correlated shadowing on the performance of multi-hop radio link in term of its outage probability.