Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Metode SCRUM dalam Perancangan Produk Backlog Sistem Cerita Desa Lia Farokhah; Fadhli Almu'iini Ahda; Lilis Widayanti; Vivi Aida Fitria
Jurnal Informatika: Jurnal Pengembangan IT Vol 5, No 1 (2020): JPIT, Januari 2020
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/jpit.v5i1.1658

Abstract

Abstract  The village is the smallest part of governance. Data from the Central Statistics Agency in 2018, villages have poverty greater than cities. The village has various weaknesses and strengths such as economics, psychology, engineering, skills, capital, successful application of hydroponic agriculture and others. On the other hand, collages have mandatory programs for the entire academic such as society dedication, research and internship programs for students. In the business sector, there are companies that are required to carry out CSR (Corporate social responsibility) to follow regulations in Indonesia. The problem of all actors is the inaccurate target of the distribution of aid in their soft skills and hard skills to bring their contribution to village development. Documentation and classification of problems and strengths in the village need to be mapped. Both of these relationships will be mutually beneficial subjects and objects in a development cycle. This study will examine the importance of the backlog product of the system model that will be developed using the SCRUM method. The results of the level of importance and priority of the backlog product will be used in system development and have an influence in determining the next stage of the Scrum method namely sprint planning meeting, sprint execution and scrum analysis. The results of the college backlog priority analysis are facilities 1,3,4,5,8,2 and 6. On the other hand, the priority order of backlog products for villages / communities is facility 1, 4,2,3,6,7,9, and 8 while Facility 5 is a very undesirable only 36%. The conclusions of the synchronization of two stakeholders based on their respective needs are facility 1, which is about the community's need for assistance from tertiary institutions and the needs of objects by tertiary institutions. Abstrak - Desa merupakan bagian terkecil dalam tata kelola pemerintahan. Data Badan Pusat Statistik tahun 2018, desa memiliki tingkat kemiskinan lebih besar dari kota. Desa memiliki berbagai kekurangan dan kelebihan seperti masalah, perekonomian, psikologi, bidang teknik, skill, permodalan, keberhasilan penerapan pertanian hidroponik dan yang lainnya. Disisi lain, perguruan tinggi memiliki banyak program wajib untuk seluruh civitas akademika dosen seperti pengabdian, penelitian dan program magang atau kuliah kerja nyata (KKN) bagi mahasiswa. Pada bidang bisnis, ada perusahan yang wajib melakukan CSR (Corporate social responsibility) sesuai aturan yang diberlakukan di Indonesia. Permasalahan ketiga aktor tersebut adalah kurang tepatnya sasaran penyaluran bantuan dalam softskill maupun hardskill yang mereka miliki untuk membawa kontribusinya bagi pembangunan desa. Dokumentasi dan klasifikasi permasalahan serta kelebihan yang ada di desa perlu dipetakan. Kedua hubungan ini akan menjadi subjek dan objek yang saling menguntungkan dalam sebuah siklus pembangunan.  Penelitian ini akan menguji tingkat kepentingan produk backlog dari model sistem yang akan dikembangkan menggunakan metode SCRUM. Hasil dari tingkat kepentingan dan prioritas produk backlog akan dipakai dalam pengembangan sistem dan memiliki pengaruh dalam menentukan tahap metode scrum berikutnya yaitu sprint planning  meeting, eksekusi sprint dan analisis scrum. Hasil analisis prioritas backlog perguruan tinggi adalah fasilitas 1,3,4,5,8,2 dan 6. Disisi lain, urutan prioritas produk backlog untuk desa/masyarakat adalah fasilitas 1, 4,2,3,6,7,9, dan 8 sedangkan Fasilitas 5 menjadi fasilitas yang sangat tidak diinginkan karena hanya 36 %. Adapun simpulan singkronisasi dua stakeholder berdasarkan kebutuhan masing-masing adalah adalah fasilitas 1 yaitu tentang kebutuhan masyarakat akan bantuan dari perguruan tinggi dan kebutuhan objek oleh perguruan tinggi. Kata Kunci - Teknologi, Desa, Permasalahan, Solusi, Singkronisasi
PELATIHAN PEMBUATAN DESAIN PROTOTIPE APLIKASI MENGGUNAKAN PROTO IO UNTUK MENUMBUHKAN MINAT PEMBELAJARAN PEMROGRAMAN di SMK NASIONAL MALANG Lia Farokhah; Fadhli Almu'iini Ahda; Suastika Yulia Riska
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 3, No 1 (2019): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.956 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v3i1.1033

Abstract

ABSTRAKMata pelajaran pemrograman merupakan salah satu mata kuliah kosentrasi atau jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  atau perguruan tinggi berbasis komputer. Mata kuliah pemrograman menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi siswa-siswi maupun mahasiswa dalam menempuh pembelajaran sesuai kosentrasi atau jurusan mereka. Hal ini sangat kontradiksi dengan jurusan yang mereka ambil sehingga perlu di ujicoba pengembangan pedagogi pengajaran untuk menunjang motivasi belajar dalam pemrograman. Pengembangan pembelajaran menjadi sangat penting karena selain kita berada pada abad teknologi yang membutuhkan lebih banyak aplikasi yang harus dikembangan untuk membantu kehidupan manusia. Pengembangan pedagogi pengajaran juga digunakan untuk menumbuhkan motivasi belajar pemrograman agar siswa-siswi atau mahasiswa dengan jurusan atau kosentrasi computer bisa menyukai mata pelajaran pemrograman dimana pada akhirnya menunjang kualitas lulusan yang dihasilkan sesuai bidangnya. Dalam pengembangan pedagogi pada pengabdian masyarakat yang dilakukan di SMK Nasional Malang dilakukan dengan melakukan pre test pertanyaan kuesioner sebelum dan sesudah diadakannya pelatihan pembuatan prototipe aplikasi menggunakan software instan PROTO IO. Hasil yang didapat dari analisis kuesioner didapatkan peningkatan motivasi belajar pemrograman sebesar 76,67% dan peningkatan motivasi minat menjadi programmer sebesar 16,66%. Kata kunci: pedagogi, pemrograman, motivasi belajar, aplikasi ABSTRACTProgramming lesson is one of the concentration courses or majors in Vocational Schools (SMK) or computer-based colleges. Programming lesson become one of the difficulties faced by students according to their concentration or their majors. This is very contradictory with their majors so that  it is necessary to test the development of teaching pedagogy to support learning motivation in programming lesson. The development of learning is very important because besides we are in the technology era that requires more applications that must be developed to help human life. The development of teaching pedagogy is also used to foster motivation to learn programming lesson so students with majors or concentrations of computers can like programming lesson which ultimately support the quality of graduates produced in their fields. In the development of pedagogy on society service carried out in SMK Nasional Malang, questionnaire were conducted before and after the training on making prototype applications using PROTO IO with instant software. The results obtained from questionnaire showed that an increase in programming learning motivation with 76.67% and an increase in motivation to become a programmer of 16.66%. Keywords: pedagogy, programming, learning motivation, application
Penerapan Metode Hybrid FIS Tsukamoto dan Algoritma Genetika untuk Prediksi Curah Hujan di Daerah Batu Ida Wahyuni; Fadhli Almu'iini Ahda; Philip Faster Eka Adipraja
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 5, No 4: Agustus 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.61 KB) | DOI: 10.25126/jtiik.201854836

Abstract

Curah hujan yang semakin tidak menentu memberikan efek yang cukup signifikan pada bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu bidang perkebunan yang memanfaatkan pola curah hujan adalah perkebunan apel. Petani apel membutuhkan perhitungan curah hujan untuk menentukan kapan proses pembungaan yang tepat agar hasil panen yang di dapatkan bisa maksimal. Namun, karena tidak menentunya pola curah hujan, petani menjadi kesulitan dalam menentukan waktu pembungaan dan panen apel menjadi tidak maksimal. Pada penelitian ini dibuat sebuah pemodelan yang paling optimal dalam memprediksi curah hujan di daerah Batu, Jawa Timur menggunakan metode hybrid FIS Tsukamoto dan algoritma genetika. Metode hybrid yang dilakukan adalah mengoptimasi batasan fungsi keanggotaan FIS Tsukamoto menggunakan algoritma genetika. Setelah proses pengujian, penerapan metode Metode hybrid FIS Tsukamoto dan algoritma genetika dapat digunakan untuk memprediksi curah hujan dengan nilai error RMSE lebih kecil dibandingkan dengan FIS Tsukamoto tanpa optimasi. Nilai error RMSE pada daerah Junggo sebesar 6.485, pada daerah Pujon sebesar 6.932, pada daerah Tinjomulyo sebesar 5.969, pada daerah Ngujung sebesar 5.498. AbstractThe erratic rainfall has a significant effect on agriculture and plantations. One area of plantations that utilizes rainfall patterns is apple plantations. Apple farmers need rainfall calculations to determine when the flowering process is right so that the yield can be maximized. However, due to the uncertainty of rainfall patterns, farmers have difficulty in determining the time of flowering and harvesting apples to be not optimal. In this study, the most optimal modeling was used to predict rainfall in the Batu area, East Java using the hybrid FIS Tsukamoto method and genetic algorithm. The hybrid method used is to optimize the boundary function of Tsukamoto's FIS membership using a genetic algorithm. After the testing process, the application of the hybrid method of the Tsukamoto FIS method and the genetic algorithm can be used to predict rainfall with a smaller RMSE error compared to the FIS Tsukamoto without optimization. RMSE error value in Junggo area is 6,485, in Pujon area is 6,932, in Tinjomulyo area is 5,969, in Ngujung area is 5,498.