Aulia Fikri Hidayat
Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Pharmacy

Kajian Pengembangan Sistem Nanopartikel Berbasis Lipid sebagai Pembawa Zat Aktif pada Sediaan Tabir Surya Zalfa Hasna Raniah; Aulia Fikri Hidayat
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.575 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.2816

Abstract

Abstract. Excess solar radiation may harm the skin. Thus, additional protection like sunscreen is needed. Sunscreen contains chemical and physical (synthetic) UV filter materials to absorb, reflect, and scatter solar radiation before it hits the skin. UV filters that are unstable to light can be degraded and absorbed systematically into the skin. It is necessary to have a sound carrier system to prevent the UV filter from being degraded but still maintain an excellent photoprotective effect. Lipid-based nanoparticle carrier systems, such as solid lipid nanoparticles (SLN) and nanostructured lipid carriers (NLC), can protect UV filters from degradation and reflect UV radiation due to their lipid content. To increase the safety of sunscreen preparations, adding natural ingredients may be considered to provide a photoprotective effect. So the use of UV filters can be reduced due to the antioxidant effect of plants that work synergistically with UV filters. This research was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method. The results obtained indicate that the use of lipid-based nanoparticles can prevent UV filter degradation because it is stable after irradiation, has a sustained release effect, increases the SPF value, and can reduce the use of UV filter concentration by adding natural ingredients that contain antioxidants. Abstrak. Radiasi sinar matahari berlebih berdampak buruk pada kulit sehingga diperlukan perlindungan tambahan seperti tabir surya. Tabir surya mengandung bahan filter UV kimia dan fisika (sintetis) yang berfungsi menyerap, memantulkan dan menyebarkan radiasi matahari sebelum mengenai kulit. Filter UV yang tidak stabil terhadap cahaya dapat terdegradasi dan terserap secara sistematik ke dalam kulit. Perlu adanya sistem pembawa yang baik untuk mencegah filter UV terdegradasi, namun tetap mempertahankan efek fotoproteksi yang baik. Sistem pembawa nanopartikel berbasis lipid, seperti solid lipid nanoparticle (SLN) dan nanostructured lipid carrier (NLC), dapat mencegah filter UV terdegradasi dan mampu bekerja dengan memantulkan radiasi UV karena kandungan lipidnya. Untuk meningkatkan keamanan sediaan tabir surya, dapat ditambahkan bahan alam yang mampu memberikan efek fotoproteksi. Sehingga penggunaan filter UV dapat dikurangi karena adanya efek antioksidan dari tanaman yang bekerja sinergis dengan filter UV. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa penggunaan nanopartikel berbasis lipid mampu mencegah degradasi filter UV karena stabil setelah penyinaran, memberikan efek pelepasan diperlambat, meningkatkan nilai SPF, dan mampu mengurangi penggunaan konsentrasi filter UV dengan penambahan bahan alam yang mengandung antioksidan.
Identifikasi Epitop Sel-T COVID-19 terhadap Reseptor Imun TLR-2 (Toll-like Receptor-2) untuk Pengembangan Vaksin Berbasis Peptida Ridwan Wijaya; Aulia Fikri Hidayat; Taufik Muhammad Fakih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.565 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3393

Abstract

Abstract. The coronavirus outbreak that is sweeping the world is a serious challenge for the international health system. Overcoming the lack of information regarding experimental data, tools and even understanding of the body's immune response to SARS-CoV2, it is necessary to take effective steps to anticipate the spread and control the COVID-19 pandemic. Therefore, a COVID-19 epitope T-cell protein-peptida docking simulation against the TLR-2 (Toll-like Receptor-2) immune receptor target with the PDB code 2Z80 computationally was carried out in order to add dry laboratory data information, anticipate contact and crowds so as to minimize the spread of the SARS-CoV2 outbreak. There are several bioactive peptidas that are potential candidates for SARS-CoV2 vaccines such as bioactive peptidas FLAFVVFLL, FVLAAVYRI, FVVFLLVTL, VLLFLAFVV and YVYSRVKNL. This study aims to identify and evaluate the molecular interactions that occur between bioactive peptida molecules and TLR-2 enzyme macromolecules with PDB code 2Z80 using in-silico protein-peptida-based molecular docking method. Bioactive peptida sequence modeling using PEP-FOLD software. Furthermore, the best conformation was selected to be used in the study of interactions with TLR-2 macromolecules using the HPEPDock software. Further exploration was carried out on the results of molecular interactions formed using the BIOVIA Discovery Studio 2019 software. Based on the results from molecular anchoring, the bioactive peptida FLAFVVFLL had the best affinity for TLR-2 macromolecules (PDB code 2Z80) with a bond free energy value of -155,194 kJ/mol. So it can be concluded that the bioactive peptida is predicted to be used as a candidate for TLR-2 enzyme inhibitor. Abstrak. Wabah virus corona yang sedang melanda dunia ini merupakan suatu tantangan yang serius bagi sistem kesehatan internasional. Mengatasi kurangnya informasi mengenai data eksperimental, alat bahkan pemahaman mengenai respons imun tubuh terhadap SARS-CoV2 diperlukan langkah yang efektif agar mengantisipasi penyebaran sekaligus mengendalikan pandemic COVID-19. Maka dari itu dilakukan simulasi docking protein-peptida sel-T epitope COVID-19 terhadap target reseptor imun TLR-2 (Toll-like Receptor-2) dengan kode PDB 2Z80 secara komputasi agar menambahkan informasi data laboratorium kering, mengantisipasi kontak dan kerumunan sehingga meminimalisir penyebaran wabah SARS-CoV2. Terdapat beberapa peptida bioaktif yang berpotensi sebagai kandidat vaksin SARS-CoV2 seperti peptida bioaktif FLAFVVFLL, FVLAAVYRI, FVVFLLVTL, VLLFLAFVV dan YVYSRVKNL. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi interaksi molekuler yang terjadi antara molekul peptida bioaktif dengan makromolekul enzim TLR-2 dengan kode PDB 2Z80 menggunakan metode penambatan molekuler berbasis protein-peptida secara in-silico. Pemodelan sekuensi peptida bioaktif dengan menggunakan perangkat lunak PEP-FOLD. Selanjutnya dipilih konformasi terbaik untuk digunakan pada studi interaksi terhadap makromolekul TLR-2 dengan menggunakan perangkat lunak HPEPDock. Dilakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap hasil interaksi molekuler yang terbentuk dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2019. Berdasarkan hadil dari penambatan molekuler, ppeptida bioaktif FLAFVVFLL memiliki afinitas yang paling baik terhadap makromolekul TLR-2 (kode PDB 2Z80) dengan nilai energi bebas ikatan -155,194 kJ/mol. Sehingga dapat disimpulkan, peptida bioaktif tersebut diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat inhibitor enzim TLR-2.
Formulasi dan Karakterisasi Transfersom Andrografolid Syafanisa Alifia Rahma; Aulia Fikri Hidayat; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.443 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3751

Abstract

Abstract. Andrographolide is the main bioactive compound in the sambiloto plant (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees). Andrographolide is known to have poor solubility and low oral bioavailability. The transdermal route can be an alternative for the delivery of andrographolide compounds. Transfersome is one of the drug delivery systems that can increase the penetration ability of active substances in the transdermal route. This study aims to obtain the best andrographolide transfersome formula based on the characterization carried out and compare the penetration ability of the andrographolide transfersome and pure andrographolide. Four andrographolide transfersome formulas are made with variations in the ratio of phospholipid and surfactant concentrations, namely F1 (90:10), F2 (80:20), F3 (70:30), and F4 (60:40). Thin-layer hydration method was applied for transfersome preparation. The transfersomes obtained are characterized by the determination of entrapment efficiency, particle size, polydispersity index, and zeta potential. F4 with an entrapment efficiency value of 90.762%±0.592, particle size of 626,633±19,858 nm, polydispersity index of 0,456±0,055, and zeta potential of -4,067±1,097 mV was selected as the best andrographolide transfersome formula. In vitro penetration test was performed on the best transfersome andrographolide formula using the Franz diffusion cell method. The results of in vitro penetration tests show that andrographolide transfersome have better penetration ability than pure andrographolide. Andrographolide transfersome provide a cumulative amount andrographolide penetrated 108.583±0.918 μg/cm2 and flux 36.194±0.014 μg/cm2.h-1, while pure andrographolide provide a cumulative amount andrographolide penetrated 66,930±1,345 μg/cm2 and flux 22,301±0.448 μg/cm2.h-1. Abstrak. Andrografolid merupakan senyawa bioaktif utama yang terkandung dalam tanaman sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees). Andrografolid diketahui memiliki sifat kelarutan buruk dan bioavailabilitas oral rendah sehingga rute transdermal dapat menjadi alternatif untuk penghantaran senyawa andrografolid. Transfersom merupakan salah satu sistem penghantaran yang dapat meningkatkan kemampuan penetrasi zat aktif pada penghantaran dengan rute transdermal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula transfersom andrografolid terbaik berdasarkan karakterisasi yang dilakukan dan membandingkan kemampuan penetrasi dari transfersom andrografolid dan andrografolid murni. Empat formula transfersom andrografolid dibuat dengan variasi perbandingan konsentrasi fosfolipid dan surfaktan yaitu F1 (90:10), F2 (80:20), F3 (70:30), dan F4 (60:40) menggunakan metode hidrasi lapis tipis. Transfersom yang diperoleh dikarakterisasi meliputi penentuan nilai persentase efisiensi penjerapan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan potensial zeta. F4 dengan nilai efisiensi penjerapan 90,762%±0,592, ukuran partikel 626,633±19,858 nm, indeks polidispersitas 0,456±0,055, dan potensial zeta -4,067±1,097 mV dipilih sebagai formula transfersom andrografolid terbaik. Terhadap formula transfersom andrografolid terbaik dilakukan uji penetrasi in vitro dengan metode sel difusi Franz. Hasil uji penetrasi in vitro menunjukan bahwa transfersom andrografolid memiliki kemampuan penetrasi yang lebih baik dibandingkan andrografolid murni. Transfersom andrografolid memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi 108,583±0,918 µg/cm2 dan fluks 36,194±0,014 µg/cm2.jam-1. Sedangkan andrografolid murni memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi 66,930±1,345 µg/cm2 dan fluks 22,301±0,448 µg/cm2.jam-1.
Kajian Pengembangan Sistem Nanokapsul untuk Senyawa Flavonoid yang Memiliki Aktivitas Antioksidan Farha Fadila; Aulia Fikri Hidayat; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.634 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4318

Abstract

Abstract. The clinical use of flavonoid compounds is limited because their activity decreases during storage which is influenced by temperature, light, pH and oxygen. The nanocapsule system can be chosen to protect the compound from being rapidly degraded. The success of the nanocapsule formulation is influenced by the type of coating material and the manufacturing method used. This study aims to examine the effect of the nanoencapsulation in the nanocapsule system on antioxidant activity, and also to examine the types of coating materials and manufacturing methods that can be used in nanocapsule formulations for flavonoid compounds that have antioxidant activity. The study was conducted systematically on a number of international articles from reputable publishers. The results showed that nanoencapsulation in the nanocapsule system was able to increase the value of antioxidant activity in the range of 1,1-31 fold. The nanocapsule formulation of flavonoid compounds can be carried out using phase inversion, nanoprecipitation, double emulsion and layer-by-layer methods using coatings, such as PLGA, PCL, ethyl cellulose, PEG-lecithin, PCL-PEG, PLGA-PEG, and chitosan-lecithin. It can be concluded that the development of nanocapsules is able to increase antioxidant activity by using appropriate coating materials and methods Abstrak. Penggunaan klinis senyawa flavonoid terbatas karena mengalami penurunan aktivitasnya selama penyimpanan yang dipengaruhi suhu, cahaya, pH dan oksigen. Sistem nanokapsul dapat dipilih untuk melindungi senyawa supaya tidak cepat terdegradasi. Keberhasilan formulasi nanokapsul dipengaruhi oleh jenis bahan penyalut dan metode pembuatan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh nanoenkapsulasi pada sistem nanokapsul terhadap aktivitas antioksidan, dan juga mengkaji jenis bahan penyalut serta metode pembuatan yang dapat digunakan pada formulasi nanokapsul untuk senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Kajian dilakukan secara sistematis terhadap sejumlah artikel internasional dari penerbit bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanoenkapsulasi pada sistem nanokapsul mampu meningkatkan nilai aktivitas antioksidan dengan rentang 1,1 – 31 kali lipat. Formulasi nanokapsul senyawa flavonoid dapat dilakukan dengan metode inversi fasa, nanopresipitasi, double emulsion dan layer-by-layer) dengan menggunakan penyalut, seperti PLGA, PCL, etil selulosa, PEG-lesitin, PCL-PEG, PLGA-PEG, dan kitosan-lesitin. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan sediaan nanokapsul mampu meningkatkan aktivitas antioksidan dengan menggunakan bahan penyalut dan metode yang sesuai.
Uji Aktivitas Antioksidan Kopi Arabika (Coffea arabica) Papandayan dan Gunung Halu Nabila Shofura Mahardhika; Taufik Muhammad Fakih; Aulia Fikri Hidayat
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8822

Abstract

Kopi merupakan minuman yang populer di kalangan masyarakat Indonesia di seluruh dunia karena memiliki rasa dan cita rasa yang khas serta bermanfaat bagi kesehatan. Kopi mengandung antioksidan yang salah satunya berasal dari senyawa fenolik yang disebut asam klorogenat. Antioksidan dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dan menekan efek negatifnya. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) pada panjang gelombang 517 nm. Nilai IC50 kopi Arabika Gunung Halu sebesar 56,3463 ppm, dan Kopi Arabika Papandayan sebesar 58,2608 ppm. Hasil uji aktivitas antioksidan yang diperoleh pada kedua jenis kopi arabika menunjukkan tingkat aktivitas antioksidan yang kuat. Kopi adalah minuman populer di kalangan orang Indonesia di seluruh dunia karena memiliki rasa dan rasa yang berbeda dan bermanfaat bagi kesehatan seseorang. kopi mengandung antioksidan, salah satunya berasal dari senyawa fenolik yang disebut asam klorogenik. Antioksidan dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dan menekan efek negatifnya. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH ( 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl ) pada panjang gelombang 517 nm. Nilai IC50 dari kopi Arabika Gunung Halu adalah 56,3463 ppm, dan yang dari Kopi Arabika Papandayan adalah 58,2608 ppm. Hasil tes aktivitas antioksidan yang diperoleh pada kedua jenis kopi Arabica menunjukkan tingkat aktivitas antioksidan yang kuat.