Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Perubahan Komposisi Kimiawi Produk Yogurt dengan Penambahan Kalsium Karbonat pada Kultur Starter Campuran Safari, Agus; Ghina, Sarah Fahma; Djajasoepena, Sadiah; ', O. Suprijana; Indrawati, Ida; Rachman, Saadah D.; Kamara, Dian S.; Ishmayana, Safri
Jurnal Natur Indonesia Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.46 KB) | DOI: 10.31258/jnat.17.1.5-12

Abstract

Mixed lactic acid bacteria culture is commonly used in yogurt production. In the present study, two lactic acid bacteria (Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophillus) was used as starter culture. Calcium carbonate was added to the starter culture to increase the quality of mixed starter culture of L. bulgaricus and S. thermophillus with ratio of 4:1. The present study was directed to investigate the chemical composition of mixed starter culture with and without calcium carbonat addition. Furthermore, the effect of each starter culture on yogurt product chemical composition was also examined. The pH, lactose, soluble protein and acid content was determined as chemical composition parameters. For starter culture without calcium carbonate addition, the yogurt has pH, lactose, soluble protein and acid content of 4.18–4.39, 4.18–4.39% w/v, 2.88–4.36% w/v and 0.82–0.99% w/v, respectively. While for starter culture with calcium carbonate addition, the yogurt product has pH, lactose, soluble protein and acid content of 4.26–4.37, 1.47–1.75% b/v, 3.42–4.95% w/v and 0.86–1.11% w/v, respectively. Addition of 0.05% w/v calcium carbonate to mixed starter culture gave effect on lactose consumption, where it still can convert lactose to lactic acid up to 45 days of storage. Furthermore, the yogurt product made with starter culture with calcium carbonate addition has higher soluble protein content compared to yogurt made with starter culture without calcium carbonate addition
PENGARUH KONSUMSI YOGURT YANG DIBUAT DENGAN KULTUR DUA BAKTERI (Sterptococcus thermophillus DAN Lactobacillus bulgaricus) DAN TIGA BAKTERI (Sterptococcus thermophillus, Lactobacillus bulgaricus DAN Lactobacillus acidophilus) TERHADAP KADAR KOLESTEROL SERUM DARAH TIKUS Ishmayana, Safri; Juanda, Asep; Suprijana, O.; Djajasoepena, Sadiah; Idar, Idar; Rachman, Saadah D.
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.154 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n3.9302

Abstract

Tingginya kadar kolestrol serum darah berhubungan dengan meningkatnya resiko aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Produk susu terfermentasi seperti yogurt dapat menurunkan kadar kolesterol serum darah sehingga dapat meningkatkan resiko kedua penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsumsi yogurt yang dibuat dengan dua dan tiga bakteri terhadap kadar kolesterol serum darah tikus putih. Pada percobaan ini 15 tikus putih jenis Wistar dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok tiga atau empat ekor. Kelompok pertama diberi pakan dan air, kelompok kedua diberi pakan dan susu murni, kelompok ketiga diberi pakan dan yogurt 2 bakteri sedangkan kelompok keempat diberi pakan dan yogurt 3 bakteri. Perlakuan diet diberikan selama 56 hari, setiap dua minggu contoh darah tikus diambil dan ditentukan kadar kolesterol serumnya dengan metode Lieberman-Burchard. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya efek hipokolesterolemik, dan efek paling baik teramati pada periode ketiga untuk grup 4, dimana tikus diberi pakan dan yogurt yang dibuat dengan kultur 3 bakteri dimana kadar kolesterolnya sebesar 16,57% lebih rendah dibandingkan kontrol.
PERUBAHAN SIFAT FISIKOKIMIA TEPUNG SORGUM SETELAH HIDROLISIS PARSIAL DENGAN ENZIM α-AMILASE DARI Bacillus Sp. (TERMAMYL®) Fadhlillah, Muhammad; Ishmayana, Safri; Idar, Idar; Soemitro, Soetijoso; Subroto, Toto
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.479 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n1.10444

Abstract

Salah satu upaya untuk memperbaiki sifat tepung adalah dengan menggunakan perlakuan enzimatik dengan enzim α-amilase. Sifat fisikokima tepung sorgum yang sudah dihidrolisis sebagian dapat mengalami perubahan. Penelitian kelompok kami sebelumnya menunjukkan bahwa α-amilase komersial (Termamyl®) memiliki kemampuan untuk mendegradasi tepung sorgum. Pada penelitian ini sifat tepung sorgum yang telah didegradasi ditentukan yaitu mencakup volume pengembangan, viskositas, dan kristalinitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan volume pengembangan sebesar 60% pada suhu 95°C, penurunan suhu pembentukan pasta dari 80-85°C menjadi 70-75°C, dan pengurangan refleksi kristalit yang menunjukan perubahan kristalinitas dari semikristalin menjadi amorf pada tepung sorgum terhidrolisis bila dibandingkan dengan tepung sorgum sebelum hidrolisis.
FERMENTASI BIAK RENDAM MOLASES DENGAN Aspergillus niger UNTUK PRODUKSI ASAM SITRAT Carolina, Anne; Sidik, Abubakar; Maksum, Iman Permana; Rachman, Saadah Diana; Safari, Agus; Ishmayana, Safri
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.699 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9171

Abstract

Asam sitrat terdapat melimpah di alam dan dihasilkan sebagai salah satu zat antara pada siklus asam sitrat saat karbohidrat dioksidasi menjadi karbondioksida. Asam sitrat merupakan penyebab rasa asam pada berbagai buah seperti jeruk, nanas dan pir. Karena kelarutannya yang tinggi, rasanya yang enak dan toksisitasnya yang rendah maka asam sitrat banyak digunakan dalam industri makanan, minuman dan obat-obatan. Salah satu metode yang digunakan untuk produksi asam sitrat adalah dengan metode fermentasi. Aspergilus niger merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat digunakan pada proses produksi asam sitrat. Produksi asam sitrat pada penelitian ini dilakukan dengan tahap pemeliharaan A. niger pada media agar miring, aktivasi kultur A. niger dalam inokulum dan produksi asam sitrat dalam media fermentasi yang mengandung 20, 25, 30 dan 35% konsentrasi molase dengan metode biak rendam. Analisis yang dilakukan mencakup perubahan pH, berat kering sel, konsumsi gula pereduksi, serta konsentrasi asam sitrat yang dihasilkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asam sitrat paling banyak diproduksi pada media yang mengandung 30% molase, yaitu diperoleh 85,8 g/L asam sitrat.
KUALITAS YOGHURT YANG DIBUAT DENGAN KULTUR DUA (Lactobacillus bulgaricus DAN Streptococcus thermophilus) DAN TIGA BAKTERI (Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus DAN Lactobacillus acidophilus) Rachman, Saadah D.; Djajasoepena, Sadiah; Kamara, Dian S.; Idar, Idar; Sutrisna, Roni; Safari, Agus; Suprijana, O.; Ishmayana, Safri
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.243 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n2.9192

Abstract

Yoghurt merupakan produk susu terfermentasi yang dibuat dengan menambahkan kultur bakteri asam laktat (BAL) ke dalam susu. Kultur BAL yang ditambahkan dapat berupa kultur bakteri tunggal ataupun campuran. Pada umumnya, kultur campuran yang biasa digunakan untuk membuat yoghurt adalah campuran antara Lactobacilus bulgaricus (Lb) dan Streptococcus thermophilus (St). Namun berdasarkan beberapa penelitian kedua bakteri ini tidak bertahan lama pada saluran pencernaan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan penambahan Lactobacillus acidophilus (La) untuk memperbaiki sifat probiotik dari produk yoghurt. Pada pembuatan kultur starter, kultur tunggal bakteri ditumbuhkan pada media susu skim 10%. Kemudian susu sapi hasil pasteurisasi diinokulasi dengan kultur starter dengan perbandingan kultur yang berbeda-beda yaitu 1:1, 1:4 dan 4:1 (Lb:St) untuk kultur dua bakteri serta 1:1:1, 1:4:1 dan 4:1:1 (Lb:St:La) untuk kultur tiga bakteri. Susu yang telah diinokulasi kemudian diinkubasi pada suhu 40°C selama 12 jam. Analisis terhadap produk yoghurt meliputi pengukuran pH, kadar laktosa, kadar asam laktat dan kadar protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan L. acidophilus cenderung memberikan efek penghambatan pembentukan asam laktat, seperti ditunjukkan oleh pH yang lebih tinggi, kadar asam laktat yang lebih rendah serta kadar laktosa sisa yang lebih tinggi pada yoghurt yang menggunakan kultur tiga bakteri.
PRODUKSI PENISILIN OLEH Penicillium chrysogenum L112 DENGAN VARIASI KECEPATAN AGITASI PADA FERMENTOR 1 L Rachman, Saadah D; Safari, Agus; Fazl, Fazli; Kamara, Dian S; Sidik, Abubakar; Udin, Linar Z; Ishmayana, Safri
Kartika : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.492 KB) | DOI: 10.26874/kjif.v4i2.59

Abstract

ABSTRAKPenisilin merupakan golongan antibiotika β-laktam yang memiliki nilai komersial tinggi karenadigunakan secara luas untuk memproduksi antibiotik semisintetik lain (amoksilin, ampisilin) sertamempunyai kemampuan mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Proses produksi penisilinpada skala industri dilakukan dalam skala besar memerlukan kondisi agitasi optimum. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui pengaruh agitasi terhadap pembentukan penisilin dari Penicilliumchrysogenum L112, yang mempunyai aktivitas antibiotika tertinggi terhadap beberapa bakteri uji. P.chrysogenum L112 yang telah diregenerasi pada suhu 30°C selama 7 hari disuspensikan dengan airsuling steril. Suspensi ini diinokulasikan ke dalam media vegetasi sebanyak 2% (v/v). Selanjutnyadiaktivasi pada 120 rpm dan 28°C selama 60 jam. Hasil aktivasi diinokulasi ke dalam mediafermentasi sebanyak 10% (v/v), fermentasi menggunakan fermentor skala 1 L dengan kondisi pH 7,aerasi 1 vvm, suhu 28°C selama 240 jam. Kecepatan agitasi divariasikan pada 100, 150 dan 200 rpm.Setiap 24 jam dilakukan pengambilan contoh untuk keperluan analisa yang meliputi pengukuran pH,berat kering sel, uji aktivitas antibiotika dan konsentrasi glukosa. Hasil penelitian menunjukkanbahwa agitasi dan waktu inkubasi berpengaruh terhadap kemampuan Penicillium chrysogenum L112dalam menghasilkan penisilin. Setiap bakteri uji memberikan respon yang berbeda terhadap aktivitasantibiotika penisilin yang dihasilkan. Aktivitas antibiotika penisilin terbaik ditunjukkan pada agitasi150 rpm pada waktu inkubasi 192 jam dengan aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Escherichiacoli dengan zona bening 37 mm.Kata Kunci: penisilin, antibiotika, Penicillium chrysogenum, fermentasiABSTRACTPenicillin refers to a group of β-lactam antibiotics with high commercial value because it is precursorfor semi synthetic antibiotics such as amoxicillin and ampicillin. It also has high antibacterialactivity. Penicillin production in industrial scale uses large fermentation reactor which requireoptimum agitation. The present study was conducted to investigate the effect of agitation speed onpenicillin production using Penicillium chrysogenum L112, which have high antibiotics activityagainst some bacteria. P. chrysogenum L112 which regenerated at 30°C for 7 days was suspendedwith distilled water. The suspension was inoculated to vegetation media to reach 2% (v/v) finalconcentration. It was then followed by activation at 28°C for 60 hours with 120 rpm agitation speed.The activated culture was inoculated to fermentation media to give 10% (v/v) final concentration in a1 L fermenter at pH 7 and 28°C, aeration of 1 vvm, for 240 hours. Agitation speed was varied at 100,150 and 200 rpm. Sample was collected every 24 hours and checked for its pH, dry cell weight, andantibiotics activity. The results of the present study indicate that agitation speed and time ofincubation affected the P. chrysogenum ability to produce penicillin. The crude extract showeddifferent effect when tested against different bacteria, which indicate different amount of penicillinproduced. The best antibiotics activity was found at 150 rpm agitation speed, incubation time of 192hours. The highest inhibition was found for Escherichia coli which showed 37 mm clear zone.Keywords: penicillin, antibiotics, Penicillium chrysogenum, fermentation
Pengaruh Suplementasi Ion Logam Besi Terhadap Kinerja Fermentasi dan Toleransi Sel Ragi Saccharomyces cerevisae terhadap Cekaman Lingkungan Rachman, Saadah D.; Putri, Tysza Ainnunnisa Maulidya; Safari, Agus; Anggraeni, Nenden I.; Fadhlillah, Muhammad; Ishmayana, Safri
Jurnal MIPA Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jmuo.9.2.2020.28565

Abstract

Selama proses fermentasi bioetanol, ragi Saccharomyces cerevisiae terpapar berbagai cekaman lingkungan. Ion logam yang berpotensi untuk meningkatkan kinerja fermentasi dan toleransi sel terhadap cekaman ialah ion logam besi II (Fe2+) yang berperan sebagai kofaktor dalam berbagai proses metabolisme. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suplementasi ion Fe2+ dalam media fermentasi terhadap kinerja fermentasi, serta toleransi sel ragi terhadap cekaman etanol, oksidatif, asam lemah dan tekanan osmotik. Penelitian diawali dengan melakukan fermentasi glukosa menggunakan S. cerevisiae A12 selama 120 jam dengan pengambilan sampel dengan interval waktu 6 jam untuk 24 jam pertama serta 12 jam untuk sisanya. Masing-masing sampel ditentukan nilai OD600nm, persentase sel hidup, jumlah sel hidup, kadar glukosa, kadar etanol. Pada jam ke 24, sel diuji daya tahannya terhadap cekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi ion logam Fe2+ hanya mampu meningkatkan laju produksi etanol, tetapi tidak mempengaruhi parameter lain.During bioethanol fermentation process, Saccharomyces cerevisiae yeast cells are exposed to various environmental stress factors. One of metal ions that have potency for improving fermentation performance and yeast stress tolerance is ferrous ion (Fe2+) that acts as cofactors in various metabolism process. The present study was directed to investigate the effect of ferrous ion supplementation to the fermentation media on fermentation performance, improving yeast stress tolerance against ethanol, oxidative, weak acid and hyperosmotic stresses. The fermentation was conducted by fermenting glucose using S. cerevisiae strain A12 for 120 hours. The sampling was performed every 6 hours during the first 24 hours and 12 hours for the rest of fermentation. The sample was examined for their OD600nm, total cell number, viable cell number, glucose content and ethanol content. At 24 hours the cell was examined for their stress tolerance. The result of the present study indicates that supplementation using ferrous ion improve the rate of ethanol production, but not other parameters.