Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUKUM SEJARAH: KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD BAQIR AL-SHADR Ismail, Sanusi
Jurnal Mentari Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu klasik dalam filsafat sejarah yang senantiasa menyita perhatian para filsuf, sejarawan, dan ilmuwan sosial adalah adakah hukum sejarah yang menguasai jalannya proses atau peristiwa-peristiwa yang berkait dengan manusia. Di antara mereka banyak yang berpandangan bahwa hukum sejarah itu ada, dan sebaliknya banyak pula yang berpandangan bahwa hukum sejarah itu tidak ada. Masing-masing pandangan ini membawa konsekuensi masing-masing. Kalau hukum sejarah ada, berarti sejarah bersifat deterministik dan dilandasi asas kausalitas, dan konsekuensinya tidak ada kebebasan buat manusia dalam sejarah, sebaliknya kalau tidak ada hukum sejarah berarti manusia bebas menentukan jalannya sendiri dalam sejarah. Muhammad Baqir al-Shadr memiliki pandangan yang sintetik mengenai hal ini. Ada hukum sejarah dan ada pula kebebasan. Hukum sejarah itu terdiri atas tiga macam, yaitu hukum sejarah hipotetis, orientatif, dan kategoris (determinatif-fatalistik). Dua yang pertama menyediakan ruang kebebasan buat manusia, sementara yang kategoris tidak. Dengan demikian, manusia punya peran aktif dalam kesejarahannya. Gerak sejarah ditentukan oleh jiwa, gagasan, semangat dan perjuangan kolektif. Perubahan subjektif mendahului dan merupakan dasar buat perubahan eksternal (realitas objektif).   Kata kunci: Filsafat sejarah, kausalitas, kebebasan.         DAFTAR PUSTAKA   Mallat, Chibli. 2001.   Menyegarkan Islam: Kajian Komprehensif Pertama Atas Hidup dan Karya Muhammad Baqir al-Shadr, (Penerjemah: Santi Indra Astuti). Bandung: Mizan.   Muthahhari, Murthada. 2001. Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam tentang Jagad Raya, (Penerjemah: Ilyas Hasan). Jakarta: Lentera.   Popper, Karl. 1991. The Poverty of Historicism. London and New York: Roudledge.   Popper, Karl. 2002. Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya, (Penerjemah: Uzair Fauzan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.   Shadr, Muhammad Baqir. 1992, Pedoman Tafsir Modern: Buku Pegangan Mahasiswa dan Para Peneliti al-Qur’an serta Masalah-Masalah Keislaman, (Penerjemah: Hidayaturakhman). Jakarta: Risalah Masa.   Shadr, Muhammad Baqir. 1999, Falsafatuna, (Penerjemah: M. Nur Mufid bin Ali). Bandung: Mizan.   Shadr, Muhammad Baqir. 1984. Manusia Masa Kini dan Problema Sosial, (Penerjemah: M. Hashem). Bandung: Pustaka.  
Religious Radicalism and Islamic Universities in Aceh: Between Campus, Environment and Family Ismail, Sanusi; Abubakar, Bustami; Matsyah, Ajidar; Thalal, Muhammad; Yahya, Hermansyah
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v5i2.10958

Abstract

This paper discusses how Islam is understood, taught, and practiced at the State Islamic Religious Higher Education Institution (PTKIN) in Aceh, whether the contextual approach and tolerance towards difference approach are used, whether there is any indication of the development of religious radicalism, how PTKIN in Aceh positions itself towards this problem, and also, how the environment and family play their roles on this issue. This qualitative study collected data by means of observation, in-depth interview, documentation, and focus group discussion. The data were then analyzed in the following steps:  data reduction, data display, verification, and conclusion drawing. The PTKIN selected as research sites consisted of Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Institut Agama Islam Negeri Zawiyah Cot Kala Langsa, and Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Gajah Putih Takengon. In general, the findings revealed that PTKIN in Aceh has been relatively free from religious radicalism. The teaching of Islamic studies at PTKIN in Aceh still adheres to the Qur’an, Hadith and authoritative references from various sources and time periods, from classical to contemporary books, and from moderate to contextual approaches that respect differences in understanding. The small potential and threat of religious radicalism at PTKIN in Aceh, in addition to the academic system built within PTKIN itself, are influenced by the socio-cultural and political environment in Aceh which is quite accommodating to the aspirations of Islamic law. Islam in Aceh today is relatively compatible with the state because the state has given the Acehnese peoplethe right to exercise Islamic law, not only in the private sphere, but also in the public sphere. However, there is one potential threat that needs to be aware of, which is the way to commute between home and campus; and, this particular space needs to be bridged properly so that students will not be recruited by exclusive Islamic groups without the knowledge of the campus and their families.
HUKUM SEJARAH: KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD BAQIR AL-SHADR Sanusi Ismail
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu klasik dalam filsafat sejarah yang senantiasa menyita perhatian para filsuf, sejarawan, dan ilmuwan sosial adalah adakah hukum sejarah yang menguasai jalannya proses atau peristiwa-peristiwa yang berkait dengan manusia. Di antara mereka banyak yang berpandangan bahwa hukum sejarah itu ada, dan sebaliknya banyak pula yang berpandangan bahwa hukum sejarah itu tidak ada. Masing-masing pandangan ini membawa konsekuensi masing-masing. Kalau hukum sejarah ada, berarti sejarah bersifat deterministik dan dilandasi asas kausalitas, dan konsekuensinya tidak ada kebebasan buat manusia dalam sejarah, sebaliknya kalau tidak ada hukum sejarah berarti manusia bebas menentukan jalannya sendiri dalam sejarah. Muhammad Baqir al-Shadr memiliki pandangan yang sintetik mengenai hal ini. Ada hukum sejarah dan ada pula kebebasan. Hukum sejarah itu terdiri atas tiga macam, yaitu hukum sejarah hipotetis, orientatif, dan kategoris (determinatif-fatalistik). Dua yang pertama menyediakan ruang kebebasan buat manusia, sementara yang kategoris tidak. Dengan demikian, manusia punya peran aktif dalam kesejarahannya. Gerak sejarah ditentukan oleh jiwa, gagasan, semangat dan perjuangan kolektif. Perubahan subjektif mendahului dan merupakan dasar buat perubahan eksternal (realitas objektif). Kata kunci: Filsafat sejarah, kausalitas, kebebasan.