Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam

Perbandingan Teori Struktur Kepribadian Sigmund Freud dan Imam Al-Ghazali Jamaluddin, Muhammad
Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.927 KB) | DOI: 10.18860/psi.v14i2.6506

Abstract

Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki potensi istimewa dibandingkan dengan makhluk lain. Oleh karena itu, manusia telah lama menjadi sebuah obyek kajian di kalangan psikolog dari berbagai aliran. Tiap aliran memandang manusia berdasarkan konsep dan metode yang diungkapkannya masing-masing. Hanya saja, aliran-aliran tersebut banyak yang mengkaji manusia terbatas pada aspek fisiologis dan psikologisnya saja. Salah satu alirannya adalah Psikoanalisa yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Aliran ini menganggap bahwa kepribadian itu terdiri dari id, ego dan super ego. Meskipun ketiga sistem itu memilki fungsi dan prinsip masing-masing, namun tingkah laku manusia sebenarnya merupakan hasil dari interaksi ketiga sistem tersebut. Selain itu, Freud juga membagi kesadaran manusia menjadi alam sadar (counsciousnes), alam pra sadar (pre-counsciousnes) dan alam tidak sadar (uncounsciousnes). Aliran psikologi ini lebih banyak pada membahas manusia dalam aspek jismiah (raga) dan nafsiah (jiwa) saja, tidak pernah menjangkau aspek manusia yang ketiga, yaitu aspek ruhaniah. Oleh karena itu, untuk melengapi kajian mengenai manusia secara sempurna, salah satu pemikir Islam, yakni Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa dua dimensi di atas (raga dan jiwa) hanya menjadi telaah psikologi saja, sementara dimensi ketiga (ruh) menjadi kajian utama tasawufnya dalam rangka menjadikan manusia sesuai dengan potensi dasarnya yang bersifat spiritual. Berdasarkan pembedaan dimensi-dimensi ini, Al-Ghazali membagi kualitas-kualitas manusia menjadi aspek kejiwaan dan daya-dayanya, maqamat, herarkhi (pola berjenjang) metode peningkatan diri dan metode perbaikan diri (behavior modification), diantaranya melalui tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa) dengan cara takhalli (pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela), tahalli (mengisi jiwa yang telah kosong dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (ketersingkapnya penutup antara hamba dan Tuhannya).
Psychology of Dream by Ibn Sirin’s Perspective/Psikologi Mimpi Ibnu Sirin Jamaluddin, Muhammad
Psikoislamika: Jurnal Psikologi Islam Vol 17, No 2 (2020): Second Issue End of Year 2020
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/psikoislamika.v17i2.10629

Abstract

Dreams are considered as an influence of physical activity and a reflection of the psychiatric symptoms experienced by individuals. Dreams can give positive and negative impact for individuals. This study aims to explain the psychology of dreams from Ibn Sirin's perspective. A qualitative method by literature study approach, specifically the dream psychology in the perspective of Ibn Sirin was employed in this study. The results showed that this dream came not only from the subconscious dimension, but also came from a further and transcendental dimension (such as dreams experienced by prophets or sholeh people by all interpretations). As stated by Ibn Sirin, dreams can serve as a means to evoke pent-up feelings that cannot be expressed in conscious time and are the symbolic representations of spiritual life derived from transcendental dimensions.Keywords: Psychology; Dreams; Ibn SirinMimpi dianggap sebagai pengaruh dari aktivitas fisik dan cerminan dari gejala kejiwaan yang dialami oleh individu. Mimpi dapat memberikan dampak yang positif maupun negatif terhadap individu. Tujuan penelitian ini yakni untuk menjelaskan psikologi mimpi dari perspektif Ibnu Sirin. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi literatur, psikologi mimpi dalam perspektif ibnu sirin. Hasil penelitian menunjukkan jika mimpi ini tidak hanya berasal dari dimensi bawah sadar saja, namun juga bersumber dari dimensi yang lebih jauh dan bersifat transendental (seperti mimpi yang dialami oleh nabi atau orang sholeh dengan segala penafsirannya). Menurut Ibnu Sirin, mimpi dapat berfungsi sebagai sarana untuk memunculkan perasaan yang terpendam yang tidak dapat diungkapkan pada waktu sadar serta merupakan representasi simbolis dari kehidupan spiritual yang bersumber dari dimensi transendental.Kata Kunci: Psikologi; Mimpi; Ibnu Sirin