Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PERAN SERTA RUMAH SAKIT SWASTA DALAM PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT ISLAM YOGYAKARTA PDHI Widodo Wirawan; Mubasysyir Hasanbasri; Mohammad Hakimi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.468 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v4i1.25044

Abstract

ABSTRACT Background: Government limitations in the implementation of health care becomes an obstacle to modify individual factors in utilizing community MCH services. The private setor, such as private hospitals, has their own role in MCH services. This role can not be ignored because the number of private hospitals is more than the number of public hospital and the growth is also faster.. Objectives: This study was conducted to explore and understand the participation of the private hospitals in the government’s MCH program through case studies in Yogyakarta Islamic Hospital PDHI, and exploring the feasibility of private hospitals as a service provider of the MCH program.. Method: The study used a qualitative method with case study design. The variables measured were the resources, participation, barriers and challenges, as well as the strategic value. Data is collected through in-depth interviews to respondents from PDHI Foundation board, directors, manager, medical staffs, and the patient or their family, as well as field observations, and document tracking. Result: Private hospital has a major role in government MCH program through MCH services its self, facilities and infrastructure, and resources doctors and paramedics. Private hospitals encountered the obstacles in implementing MCH programs, such as the amount of government insurance payments that are not in accordance with the cost of private hospital services and there is tariff discrimination based on hospital class. The government also is not optimal in socializing MCH program guideline in private hospitals, while the referral systems between health facilities are still not smooth. Conclusion: The participation of the private hospitals in the MCH program is not optimal, influenced by financing for MCH programs, weak referral systems, and government lack of facilitation for the infrastructure development and medical personnel, and lack of socialization MCH program guideline
EFEK PEMANFAATAN PROGRAM PEMANTAUAN DAN PROMOSI PERTUMBUHAN TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI KOTA CIREBON Lia Nurcahyani; Mohammad Hakimi; Toto Sudargo
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.102

Abstract

Kekurangan  gizi  merupakan  kunci  pokok  persoalan  kematian  balita  di  dunia,  yang  salah  satu penyebabnya yaitu kurangnya pemanfaatan program pemantauan dan promosi pertumbuhan. Kasus gizi kurang di Kota Cirebon melebihi angka provinsi dan  nasional. Pada tahun 2008, partisipasi masyarakat dalam  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  meningkat  sebesar  19  persen  dari  tahun sebelumnya,  tetapi  kasus  gizi  kurang  meningkat  juga sebesar  0,23  persen.  Penelitian  bertujuan  untuk mengkaji efek pemanfaatan program pemantauan dan promosi pertumbuhan terhadap status gizi balita. Jenis  penelitian  observasional  dengan  rancangan  kohort  retrospektif.  Subjek  penelitian  sebanyak  246 balita  usia  17-59  bulan  beserta  ibu  yang  memenuhi  kriteria  inklusi  dan  eksklusi.  Pengambilan  sampel menggunakan teknik three stage samplingdipadukan dengan purposive dan random sampling.Data yang digunakan  berupa  data  primer  dan  sekunder  dengan  instrumen  penelitian  meliputi  kuesioner,  kartu menuju sehat, register gizi, laporan bulan penimbangan balita Kota Cirebon tahun 2008, timbangan injakdigital, length board/ microtoiseserta softwareantropometri WHO (2006). Pengolahan data menggunakan analisis univariabel, bivariabeldengan chi-square dan multivariabel dengan uji regresi logistik. Penelitian ini  didukung  oleh  data  kualitatif  untuk  mengetahui  indikator  input  dan  proses  serta  hambatan  dalam pemanfaatan  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa pemanfaatan  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  berpengaruh  secara  signifikan  terhadap status  gizi  balita  dengan  p    0,05.  Insidensi  gizi  kurang  pada  balita  yang  tidak  memanfaatkan  program pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  secara  teratur  2,7  kali  lebih  besar  dibandingkan  balita  yang memanfaatkan  secara  teratur  setelah  mempertimbangkan  kontribusi  pengetahuan  dan  sikap  ibu  serta umur  balita.  Indikator  input,  khususnya  peran  kader dalam  proses  program  pemantauan  dan  promosi pertumbuhan tidak optimal. Hambatan pemanfaatan program meliputi faktor individu (kesehatan balita), faktor  provider  (alasan  sosial),  serta  faktor  komunitas  (lokasi  rumah  secara  geografis).  Pemantauan pertumbuhan  pada  balita  harus  dilakukan  setiap  bulan,  terutama  pada  umur   0-24  bulan.  Keberhasilan program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  dapat  dicapai  apabila  mendapat  dukungan  secara komprehensif dari segi penerima pelayanan, pemberi pelayanan dan pembuat kebijakan. Kata kunci: status gizi, pemantauan pertumbuhan,promosi pertumbuhan, balita
KURANG ASUPAN VITAMIN A, C, E DAN BETA KAROTEN MENINGKATKAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI RSUP DR. SARDJITO, YOGYAKARTA Nofrisa Mutia P; T. Ninuk Sri Hartini; Mohammad Hakimi
GIZI INDONESIA Vol 33, No 2 (2010): September 2010
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v33i2.91

Abstract

The Objective of this study was to evaluate the vitamin A, C, E and beta carotene intakes and preeclampsia among pregnant women. The data were analyzed from 30 pregnant women with preeclampsia as a case group and 30 healthy pregnant women as a control group. The survey was carried out between July 2004 and February 2005 at Sardjito Hospital, Yogyakarta. The nutrient intakes are presented as median values and the Kruskal- Wallis test and the Mann-Whitney U test were used. Multiple linear regression models were used to examine the factors associated with preeclampsi a. In total, 23 percent pregnant women craved foods, 40 percent avoided certain foods, 23 percent had consumed jamuduring pregnancy and 68% were consuming iron supplements. The percentage of healthy pregnant women consumed iron supplements was higher than pregnant women with preeclampsia (p0.05). In contrast, the percentage of healthy pregnant women consumed jamu was lower than pregnant women with preeclampsia (p0.05). Healthy pregnant women had higher vitamin A, C, E and beta carotene intakes than pregnant women with preeclampsia. There were no significant differences among those groups. Pregnant women consuming low vitamin A, C, E and beta carotene intake are at risk of developing preeclampsia.Keywords: pregnant women, preeclampsia, vitamin A, C, E and beta carotene intake
EFEKTIFITAS REFLECTIVE LEARNING PADA SIKAP PROFESIONAL MAHASISWA KEBIDANAN Andina Vita Sutanto; Mohammad Hakimi; Mubasysyir Hasanbasri
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 3, No 1: Maret 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/jik.v3i1.66

Abstract

Latar Belakang: Institusi pendidikan kebidanan memiliki peranan yang penting dalam mencetak tenaga bidan yang profesional dan berkualitas. Untuk dapat menghasilkan tenaga bidan yang profesional sesuai dengan yang diharapkan, maka dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan inovatif. Salah satu model pembelajaran yang telah banyak diteliti efektif dalam meningkatkan kompetensi idividu mahasiswa maupun profesi termasuk profesi kebidanan adalah reflective learning. Pembelajaran menggunakan model reflective learning dinilai efektif.Tujuan: Untuk mengetahui kegiatan reflective learning pada mahasiswa Akademi Kebidanan Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian dilaksanakan di Akademi Kebidanan Yogyakarta. Sampel penelitian mahasiswa tingkat I, II, dan III. Pengambilan sampel meng- gunakan minimal sample size. Variabel penelitian yaitu: variabel independen adalah reflective learning. Variabel dependen adalah sikap profesional mahasiswa kebidanan.Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p<0.05) antara variabel bebas (reflective learning) de- ngan variabel terikat (sikap profesional) dengan perbandingan prevalensi 2,13 95% CI (1,62-2,78)Simpulan: Mahasiswa yang melakukan reflective learning secara baik akan berpeluang untuk melakukan sikapprofesional yang baik dibandingkan dengan mahasiswa yng melakukan reflective learning yang tidak baik.ABSTRACTBackground: Midwifery educational institutions have an important role in the scoring power of professional and qualified midwives. To be able to produce a professional midwife as expected, then it takes a model of effective and innovative learning.Objective: To know the effectiveess of reflective learning on Student Academy Midwifery Yogyakarta.Method: This type of research survey with descriptive study. The research at Academy of Midwifery in Yogyakarta. Sample student research level I, II, and III. Sampling using a minimum sample size. Variable independent vari- able research, namely is the reflective learning. The dependent variable is the attitude of professional midwifery students.Result: The result showed statistical significance (P <0.05) between the independent variable (reflective learning)with the dependent variable (professional attitude) with a prevalence ratio 2.13 95% CI (1.62 to 2.78).Conclusion: Students who did reflective learning finely will have a chance to do a good professional attitude.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN KETEPATAN PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 Yayu Yuliarti; Mohammad Hakimi; Andari Wuri Astuti; Yuli Isnaeni
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 13, No 1 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKes Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v13i1.528

Abstract

Latar Belakang: Pandemi COVID-19 telah mengganggu sistem kesehatan di seluruh dunia dan salah satu pelayanan kesehatan yang terdampak pandemi COVID-19 adalah terganggunya sistem pelayanan imunisasi. Perubahan prioritas layanan yang difokuskan pada pelayanan pasien COVID-19, adanya kebijakan physical distancing dan pada akhirnya menyebabkan penurunan promosi dan layanan imunisasi, kurangnya permintaan imunisasi karena orangtua tidak membawa bayi ke pelayanan kesehatan, hal ini menyebabkan ketidaktepatan pemberian imunisasi pada bayi. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan ketepatan pemberian imunisasi dasar pada masa pandemi COVID-19 di Puskesmas Kasihan II Bantul. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan melalui survei offline pada Juni 2021-Juli 2021 terhadap 56 responden di Puskesmas Kasihan II Bantul dengan mematuhi protokol kesehatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi. Hasil: Faktor yang berhubungan dengan ketepatan pemberian imunisasi dasar adalah pengetahuan, sikap, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan dukungan keluarga. Faktor yang paling dominan menyebabkan ketepatan pemberian imunisasi adalah pengetahuan (0,032). Simpulan: Dapat mengoptimalisasi kegiatan sosialisasi terkait pentingnya ketepatan pemberian imunisasi dasar pada anak dengan menggunakan media visual pada saat kegiatan imunisasi berlangsung guna meningkatkan cakupan imunisasi dan ketepatan jadwal pemberian imunisasi..
Uji Validitas dan Reliabilitas Kwesioner Etiologi dan Faktor Risiko Kanker Nasofaring Awal Prasetyo; Bambang Hariwiyanto; Mohammad Hakimi; Soenarto Sastrowijoto
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2013:MMI VOLUME 47 ISSUE 1 YEAR 2013
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.307 KB)

Abstract

ABSTRACT Validity and reliability tests on questionnaires designed for etiology and risk factors of nasopharynx cancerBackground: The etiology and risk factors of NPC is a combination of multi-risk factors of genetic history, lifestyle, environmental exposure, and EBV infection. Currently, there is no publication about NPC’s questionnaire. This study analyzed the reliability and validity of the questionnaire of NPC’s etiology and risk factors.Methods: The cross-sectional study of the questionnaires of NPC’s etiology and risk factors were filled by the used-tryout samples i.e NPC sufferers and their family members, in April to August 2012. The study were done at Anatomical Pathology Laboratory of Kariadi & St. Elisabeth Hospitals Semarang. There are three main constructs, namely; genetic, lifestyle, and environmental exposure. The 74 filled-questionnaires were tested by correlation analysis of product moment for the validity, and the reliability tests conducted with Cronbach's Alpha. The data were analyzed with SPSS for Windows version 17.0.Results: A test for risk family history constructs were valid (p>0.932) and reliabel (Cronbach's Alpha=0.864). A test for lifestyle with a Pearson Correlation were p>0.785 for smoking habit, eating salted fish p>0.793, eating grilled-fish p>0.862, eating pickled p>0.831, drinking alcohol p>0.760, instant noodle p>0.497, food preservation p>0.495, food contains MSG p>0.627, with Cronbach's Alpha>0.751. A test for environmental exposure risk were valid for the exposure to passive cigarette smoke (p>0.486) Cronbach's Alpha=0.789,the exposure of the home environment p>0.658 Cronbach's Alpha=0.832, exposure-related jobs p>0.373 Cronbach's Alpha=0.697, and chronic nasopharingitis are all valid (p>0.900) with Cronbach's Alpha=0851.Conclusions: The questionnaires designed as a tool of NPC’s etiology and risk factors are valid and reliable.Keywords: Validity, realibility, questionnaires, NPC’s etiology and risk factorsABSTRAKLatar belakang: Etiologi dan faktor risiko KNF merupakan kombinasi risiko riwayat genetik, gaya hidup, paparan lingkungan, dan infeksi EBV. Saat ini, belum ada publikasi tentang kwesioner KNF. Penelitian ini membuktikan validitas dan reliabilitas alat ukur kwesioner etiologi dan faktor risiko KNF.Metode: Penelitian cross-sectional terhadap hasil pengisian kwesioner etiologi dan faktor risiko KNF yang diisi oleh sampel tryout terpakai, yaitu penderita KNF dan anggota keluarganya, pada April - Agustus 2012, di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP  Dr. Kariadi Semarang dan RS St. Elisabeth Semarang. Kwesioner berdasar pada tiga konstruk utama, yaitu risiko genetik, risiko kebiasaan/gaya hidup, dan risiko paparan lingkungan. Sebanyak 74 kwesioner dilakukan uji validitas dengan analisis korelasi product moment, serta uji reliabilitas Cronbach's Alpha. Data dianalisis dengan SPSS for Windows version 17.0.Hasil: Uji konstruk risiko riwayat keluarga didapatkan valid (p>0,932) dan reliabel (Cronbach's Alpha=0,864). Uji konstruk risiko gaya hidup dengan Pearson Correlation didapatkan p>0,785 untuk subkonstruk kebiasaan merokok, kebiasaan makan ikan asin p>0,793, kebiasaan makan ikan/daging asap/bakar p>0,862, kebiasaan makan asinan p>0,831, kebiasaan minum alkohol p>0,760, kebiasaan makan mie instan p>0,497, kebiasaan makan makanan awetan p>0,495, kebiasaan makanan mengandung MSG p>0,627, Cronbach's Alpha=0,751. Uji konstruk risiko paparan lingkungan didapatkan valid untuk subkonstruk paparan pasif asap rokok (p>0,486), Cronbach's Alpha=0,789, paparan lingkungan rumah p>0,380, Cronbach's Alpha=0,713, paparan yang berhubungan dengan pekerjaan p>0,373 Cronbach's Alpha=0,697, infeksi nasofaringitis kronik semuanya valid (p>0,900), Cronbach's Alpha=0,851.Simpulan: Kwesioner yang diuji sebagai alat ukur untuk menggali etiologi dan faktor risiko KNF layak dipergunakan karena valid dan reliabel
Benarkah puskesmas poned efektif? Christina Pernatun Kismoyo; Mubasysyir Hasanbasri; Mohammad Hakimi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.483 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v1i2.26235

Abstract

Basic emergency maternal care at public health center: are they effective  Background: Every pregnancy and birth is a risky event; therefore, every pregnant woman and maternity must be located as close as possible to the basic emergency obstetric care. As a health care unit, near and reachable health centers are expected to provide basic emergency neonatal and obstetric care (PONED or EmOC in primary health level). In Bantul District, there are six PONED health centers. Health centers in their implementation need an evaluation to improve or maintain a mechanism to measure whether they are good or not good. This study aimed to determine the implementation of PONED in the health centers of Bantul District.Method: This was a qualitative descriptive study. The analysis unit was service providers such as doctors, midwives, nurses, laboratory and driver as well as the head of Bantul District Health Office. The research instrument was the researcher and the tools used were cameras, tape recorders, checklists and interview guides.Results: PONED health centers were viewed more as a routine work because the service provider had not been able to understand the purpose of a good service. Emergency obstetric and neonatal care had not been fully able to be served at six health centers. Sewon I Health Center was the only PONED health center with available support system, but the availability of the service such as tools, medicine and infrastructure had not yet fully available. This was because of the rare cases of obstetric and neonatal complications handled so that the drugs and equipment available were expired and damaged. Management of emergency obstetric and neonatal referral had not been going well according to the case; thus, early referral was frequently preferable.Conclusion: The management of PONED health center’s services was more on the bureaucracy not based on the setting of emergency obstetric and neonatal care, so that the orientation of service providers was seen as a routine job. Support from the government and incentives were still very influential on service providers’ work motivation. Keywords: evaluation, PONED health center, maternal mortality rateLatar belakang: Setiap kehamilan dan persalinan merupakan kejadian berisiko, oleh karena itu setiap ibu hamil dan bersalin harus berada sedekat mungkin dengan pelayanan obstetrik emergensi dasar. Unit pelayanan kesehatan yang dekat dan mampu terjangkau oleh masyarakat puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar. Di Kabupaten Bantul ada 6 puskesmas mampu PONED. Puskesmas dalam pelaksanaannya perlu adanya suatu langkah evaluasi guna meningkatkan ataupun mempertahankan suatu mekanisme yang sudah baik atau kurang baik.Tujuannya adalah untuk melihat implementasi pelayanan puskesmas mampu kegawatdaruratan Obstetrik dan Neonatal Dasar (PONED) di Kabupaten Bantul.Metode: Penelitian diskriptif kualitatif dengan unit analisis adalah petugas (dokter, bidan, perawat, laboran dan sopir) serta kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri, alat yang digunakan kamera, tape recorder, daftar tilik, dan pedoman wawancara.Hasil: Puskesmas PONED lebih dipandang sebagai pekerjaan rutinitas karena provider pelayanan belum mampu memahami tujuan pelayanan dengan baik. Pelayanan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal belum seluruhnya dapat dilayani di 6 puskesmas hanya Sewon I. Sistem pendukung pelayanan PONED tersedia, namun ketersediaan pelayanan belum seluruhnya tersedia yakni; alat, obat dan infrastruktur. Hal ini karena jarangnya kasus komplikasi obstetri dan neonatus yang ditangani sehingga obat dan alat yang tersedia kadaluarsa serta rusak. Pengelolaan rujukan kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal belum berjalan dengan baik sesuai dengan kasus, cenderung melakukan rujukan dini. Kesimpulan: Manajemen pelayanan puskesmas PONED lebih pada birokrasi belum berdasarkan pada setting pelayanan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal, sehingga orientasi petugas pelayanan dipandang sebagai pekerjaan rutinitas. Dukungan pemerintah dalam support insentif sangat berpengaruh pada motivasi kerja petugas pelayanan.  
EVALUASI KEPATUHAN PETUGAS DALAM TATALAKSANA PNEUMONIA DI KABUPATEN TOLITOLI Abd Rahman; Mohammad Hakimi; Rina Triasih
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.12654

Abstract

EVALUASI KEPATUHAN PETUGAS DALAM TATALAKSANA PNEUMONIA DI KABUPATEN TOLITOLIAbd Rahman1, Mohammad Hakimi2, Rina Triasih3ABSTRACTBackground: The infant mortality rate in Central Sulawesi Province is 52 per 1000 live births, which isthe fifth highest in Indonesia. The high rate of morbidity and mortality of acute respiratory infection andpneumonia in children under five in Tolitoli District in past year related to the implented efforts triandsARI eradication program. This is indeed related to how officers comply with pneumonia managementcorrectly.Objective: To evaluate officers’ compliance in implementing pneumonia manager Tolitoli Distric.Method: This was an observational study with cross-sectional study design, using quantitative approach,Data were collected through observation and interview using standardized questionnaire by tramednurses. Officer who handled pneumonia program in Tolitoli District and those in Publich Health Centreswere recruited as subjects.Result and Discussion: One hundred and nineteen subjects were recruited to this study. The percentaseof officers who complied with pneumonia management was 69%. The result of multivariate analysis thatwas training increased officers’ compliance in pneumonia management which was adjusted to education,knowledge and length of work had a significant relationship (PR: 1.79; 95% CI: 1,38 – 2,33) and theincreased value R2 of 6.3%, it mean.Conclusion: Trained officers were more compliant than untrained officers with the prevalence risk of1.79 times. Education, knowledge, and length of working service were related to officers’ compliance inpneumonia management.Keywords: training, officers’ compliance in pneumonia managementABSTRAKLatar belakang: Angka kematian bayi di Propinsi Sulawesi Tengah sebesar 52 per 1000 kelahiran hidupdan menempati urutan kelima tertinggi di Indonesia. Tingginya angka kesakitan dan angka kematian balitaakibat pneumonia di Kabupaten Tolitoli dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari seberapa jauhupaya program pemberantasan penyakit ISPA telah dilaksanakan. Hal ini sangat terkait dengan bagaimanakepatuhan petugas dalam melakukan tata laksana pneumonia secara tepat.Tujuan: Diketahuinya kepatuhan petugas dalam melakukan tatalaksana pneumonia di Kabupaten Tolitoli.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional denganmenggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan subyekpenelitian dengan menggunakan lembar observasi dan kuesioner.Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 119 subyek diikutkan dalam penelitian ini. Rata-rata petugas yang patuhterhadap tata laksana pneumonia sebesar 69%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabelpelatihan dan kepatuhan petugas dalam tatalaksana pneumonia dengan mengikutsertakan variabel pendidikan, pengetahuan dan masa kerja untuk dianalisis secara bersama mempunyai hubungan yangsignifikan ((RP;1,79, IK 95%; 1,38 – 2,33) dan peningkatan nilai R2 sebesar 6,3%Kesimpulan: Petugas yang telah dilatih lebih patuh dibanding petugas yang belum dilatih dengan risikoprevalensi 1,53 kali. Faktor pendidikan, pengetahuan dan masa kerja berhubungan secara bermaknadengan kepatuhan petugas dalam tataksana pneumonia.Kata kunci: pelatihan, Kepatuhan petugas tatalaksana pneumonia1 Tolitoli Faculty of Medicine and Health Science2 Maternal and Child Health-Reproductive Health Graduate Program, FK-UGM3 Pediatric Department, Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta
EFEKTIFITAS REFLECTIVE LEARNING PADA SIKAP PROFESIONAL MAHASISWA KEBIDANAN Andina Vita Sutanto; Mohammad Hakimi; Mubasysyir Hasanbasri
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 3, No 1: Maret 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.545 KB) | DOI: 10.36307/jik.v3i1.66

Abstract

Latar Belakang: Institusi pendidikan kebidanan memiliki peranan yang penting dalam mencetak tenaga bidan yang profesional dan berkualitas. Untuk dapat menghasilkan tenaga bidan yang profesional sesuai dengan yang diharapkan, maka dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan inovatif. Salah satu model pembelajaran yang telah banyak diteliti efektif dalam meningkatkan kompetensi idividu mahasiswa maupun profesi termasuk profesi kebidanan adalah reflective learning. Pembelajaran menggunakan model reflective learning dinilai efektif.Tujuan: Untuk mengetahui kegiatan reflective learning pada mahasiswa Akademi Kebidanan Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian dilaksanakan di Akademi Kebidanan Yogyakarta. Sampel penelitian mahasiswa tingkat I, II, dan III. Pengambilan sampel meng- gunakan minimal sample size. Variabel penelitian yaitu: variabel independen adalah reflective learning. Variabel dependen adalah sikap profesional mahasiswa kebidanan.Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p<0.05) antara variabel bebas (reflective learning) de- ngan variabel terikat (sikap profesional) dengan perbandingan prevalensi 2,13 95% CI (1,62-2,78)Simpulan: Mahasiswa yang melakukan reflective learning secara baik akan berpeluang untuk melakukan sikapprofesional yang baik dibandingkan dengan mahasiswa yng melakukan reflective learning yang tidak baik.ABSTRACTBackground: Midwifery educational institutions have an important role in the scoring power of professional and qualified midwives. To be able to produce a professional midwife as expected, then it takes a model of effective and innovative learning.Objective: To know the effectiveess of reflective learning on Student Academy Midwifery Yogyakarta.Method: This type of research survey with descriptive study. The research at Academy of Midwifery in Yogyakarta. Sample student research level I, II, and III. Sampling using a minimum sample size. Variable independent vari- able research, namely is the reflective learning. The dependent variable is the attitude of professional midwifery students.Result: The result showed statistical significance (P <0.05) between the independent variable (reflective learning)with the dependent variable (professional attitude) with a prevalence ratio 2.13 95% CI (1.62 to 2.78).Conclusion: Students who did reflective learning finely will have a chance to do a good professional attitude.