Muhammad Yusuf
Department Of Oceanography, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Diponegoro University

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Kesesuaian Lokasi di Kawasan Taman Nasional Karimunjawa Untuk Budidaya Laut Berkelanjutan (Analysis of Site Suitability for Sustainable Marine Culture at Karimunjawa National Park) Muh Yusuf
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.057 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.20-29

Abstract

Taman Nasional Laut Karimunjawa memiliki beragam ekosistem dan sumberdaya yang digunakan untuk berbagai peruntukan. Agar tidak tumpang tindih secara spasial, maka diperlukan penelitian tentang analisis kesesuaian lahan terutama untuk pemanfaatan budidaya laut. Penelitian dilakukan selama 12 bulan untuk menentukan kesesuaian lokasi budidaya laut meliputi: budidaya rumput laut, ikan kerapu, dan teripang. Hasil analisis menunjukkan bahwa hampir semua pulau sesuai untuk budidaya rumput laut, dan budidaya ikan kerapu dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Sedangkan budidaya teripang hanya sesuai di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil, serta sedikit luasan di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kumbang. Hasil analisis overlay secara spasial terhadap kesesuaian lokasi untuk ke tiga pemanfaatan budidaya laut tersebut menunjukkan bahwa kategori kelas kesesuaian S1 yang memiliki area terluas adalah lokasi untuk budidaya rumput laut seluas 2.765,19 ha (40,75%), kemudian kelas kesesuaian S2 untuk lokasi budidaya ikan kerapu seluas 2.107,04 ha (31,05%), kelas kesesuaian S2 untuk lokasi budidaya rumput laut mencapai luas 1.068,88 ha (15,75%), dan kelas kesesuaian S1 untuk lokasi budidaya ikan kerapu mencapai 697,87 ha (10,28%). Kelas kesesuaian N atau tidak sesuai untuk pemanfaatan budidaya laut hanya seluas 46,27 ha atau 0,69%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prioritas kebijakan pemanfaatan perairan di Kepulauan Karimunjawa sebaiknya diarahkan pada budidaya rumput laut. Kata kunci: kesesuaian lokasi, budidaya laut, Taman Nasional Karimunjawa Karimunjawa Marine National Park has a variety of ecosystems and abundant resources which can be used for many kinds of activities. In order to avoid overlaping spatially, it is necessary to conduct a research focusing on analysis of site suitability, mainly for marine culture utilization. This research was conducted for 12 months and aimed to define site suitability for marine culture utilization including seaweed, grouper fish, and sea cucumber culture. The results showed that nearly all islands are suitable and appropriate for seaweed culture or grouper fish by using cage culture method. On the other hand, for sea cucumbers cultivation is only suitable and appropriate in Menjangan Besar island and Menjangan Kecil island, as well as narrow areas in Karimunjawa and Kumbang islands. The result of spatially overlay analysis on site suitability for those three marine cultures showed that suitability class category S1 having the largest area is the site for seaweed culture which extends to 2.765,19 ha (40,75%). Then, suitability class S2 for grouper fish culture extends to 2.107,04 ha (31,05 %), suitability class S2 for seaweed culture extends to1.068,88 ha (15,75 %), and suitability class S1 for grouper fish culture extends to 697,87 ha (10,28 %). Suitability class N or unsuitable for marine culture utilization extends only 46,27 ha or 0,69 %. The results suggest that the policy for aquaculture development at Karimunjawa water should be prioritised for seaweed culture. Keywords: site suitability, marine culture, Karimunjawa National Park
Kondisi Terumbu Karang Dan Potensi Ikan Di Perairan Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara Muhammad Yusuf
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.079 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i2.6940

Abstract

Keberadaan sumberdaya pulau-pulau kecil di kawasan Taman Nasional Karimunjawa sangat strategis sebagai salahsatu sumber ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Untuk mencapai pemanfaatan yang berkelanjutan, identifikasi kondisi terumbu dan potensi ikan sangat perlu diketahui agar dalam pemanfaatan ke depan dapat dilakukan perencanaan pengelolaan secara lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang dan potensi sumberdaya ikan karang yang terdapat di kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Penelitian ini dilaksanakan mulai Juli 2005 - Agustus 2006 di perairan kawasan Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran jumlah spesies karang yang ditemukan berkisar 20-30 genus, tertinggi ditemukan di Pulau Tengah, Pulau Kecil, Pulau Krakal Kecil dan Pulau Kumbang; sedangkan terendah ditemukan di Pulau. Kemujan dan Pulau. Menyawakan. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berkisar 1,611-2,590. Kondisi terumbu karang di perairan Karimunjawa sebagian besar telah rusak dengan kategori sedang (tutupan karang 25-49,9 %) dan hanya sebagian kecil yang kondisi karangnya masih baik (tutupan karang 50-74,9 %). Potensi sumberdaya ikan karang (reef fish) yang berhasil diamati menunjukkan kepadatan ikan berkisar 0,5-3,2 ekor/m2 atau rata-rata 1,14 ekor/m2; kelimpahan ikan berkisar 3,52-243,38 ton; potensi antara 1,76-121,69 ton/th; dan potensi lestari (MSY) antara 0,70-48,67 ton/th. Kata kunci: Karimunjawa, terumbu karang, potensai ikan karang
Kondisi Hidrodinamika Dan Pengaruhnya Terhadap Sebaran Parameter Fisika-Kimia Perairan Laut Dari Muara Sungai Porong, Sidoarjo Mujahid Sukarno; Muhammad Yusuf
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.275 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i2.6930

Abstract

Kondisi hidrodinamika merupakan satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap sebaran sedimen dan polutan di perairan. Pembuangan lumpur PT. Lapindo Brantas di sungai Porong akan memberikan dampak pada kondisi fisika dan kimia perairan di muara Sungai Porong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi hidrodinamika dengan pendekatan model matematik dan pengaruhnya terhadap pola sebaran parameter fisika-kimia perairan laut dari muara Sungai Porong. Secara umum, model hidrodinamika 2D horisontal yang dijalankan cukup mampu merepresentasikan kondisi hidrodinamika di lokasi penelitian. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa arus cenderung memiliki arah bolak-balik sesuai dengan pasut yang terjadi. Kondisi arus di dekat pantai lebih didominasi oleh arus sepanjang pantai yang memiliki kecepatan rata-rata 0,14 m/detik dan arah dominan ke tenggara. Pola sebaran konsentrasi Ammonia, BOD, Nitrat, dan TSS secara signifikan dipengaruhi oleh pola arus yang terjadi. Kata kunci: Sebaran Parameter Fisika-Kimia Perairan, Muara Sungai Porong, Model Hidrodinamika 2D
Phytoplankton community structure and it’s relationships with water quality in Bangka Island, Indonesia Muh Yusuf; Robin Robin; Wahyu Adi; Mu’alimah Hudatwi; Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; Robertus Triaji Mahendrajaya; Cristiana Manullang
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.1.37-44

Abstract

Phytoplankton plays an important role in primary productivity in marine environment. Various environmental changes in coastal area will impact the water quality and their phytoplankton compositions. The purpose of this study is to examine the abundance of phytoplankton from two different sites, i.e Tanah Merah (close to mining site) and Semujur Island (away from mining site) in Bangka Island. Phytoplankton and water sample were collected on June- August 2018. Water quality was measured using water quality checker, whereas the phytoplankton was identified under the microscope with a magnification of 100x. Non-parametric Kruskal test and T-test analysis was performed to determine the abundance, diversity, uniform, and dominance of phytoplankton between Sites, respectively. Statistical analyses showed the abundance of phytoplankton at Semujur Island was significantly higher than that at Tanah Merah (p = 0.003). In additions the diversity, uniform, and dominance were also significantly different between sites (all p <0.05). In Semujur Island, Diatoms (Thalassiothrix, Chaetoceros and Thalassionema) were more dominants than the Dinophyceae group. However, in Tanah Merah, the genera Ceratium belong to class Dinophyceae was more dominant than the class Bacillariophyceae. These results performed that the phytoplankton in Tanah Merah and Semujur Island was affected by environment, in this case the mining area. The water quality in Semujur Island (non-mining Area) might have good quality than in Tanah Merah (mining area). The average value of turbidity and Total Suspended Solid in Tanah Merah Waters causes low abundance of phytoplankton. It can be concluded that tin mining can disrupt the abundance and composition of phytoplankton as a primary producer of waters.
Studi Distribusi dan Kondisi Terumbu Karang dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan Abdul Rauf; Muh Yusuf
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.025 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.2.74-81

Abstract

Kepulauan Spermonde, yang terdiri dari 120 pulau, merupakan salah satu wilayah penyebaran terumbu karang yang cukup luas. Hingga saat ini belum tersedia data dan informasi yang cukup sebagai acuan dalamusaha pengelolaan dan pengembangan terumbu karang. Penelitian dikawasan terumbu karang dapat dilakukan dengan menggunakan data satelit penginderaan jauh untuk memberikan gambaran tentang distribusi dan kondisi terumbu karang di perairan dangkal dengan cakupan wilayah yang luas. Metode yang digunakan untuk memperoleh informasi terumbu karang dan mengeleminasi pengaruh kolom air dalam penelitian iniadalah metode yang didasari oleh Model Pengurangan Eksponensial (Standard exponential attenuation model). Hasil analisis spasial dengan menggunakan data Landsat_TM diperoleh informasi tingkat kerusakan terumbu karang di Kepulauan Spermonde. Berdasarkan hasil klasifikasi ini, tingkat kerusakan terumbu karang yang terjadi dalam kurung waktu 5 tahun mencapai 1.499,86 Ha atau sekitar 299,97 ha/tahun. Kondisi terumbu karang hidup berdasarkan analisis data lapangan menunjukkan bahwa Kepulauan Spermonde masih memiliki kondisi terumbu karang dengan katagori “Baik” dengan rata-rata presentase penutupan sekitar 50,98%.Kata kunci : Terumbu Karang, Citra Satelit Landsat_T.M., Kepulauan Spermonde.Spermonde Archipelago, covering approximately 120 Islands, have widely distributed coral reef. Currently, there are not enough data and information available for refereces used in management and development efforts. Satellite remote sensing data are applied in researches concerning coral reef to help broadly cover their distribution and condition in shallow water. The methode used in acquiring coral reef information and eliminating the water column effect based on the Standard Exponential Attenuation Medel. The level of coral reef demage in Spermonde archipelago were acquired using the spatial analysis on Landsat_TM data. Base on this classification result, the level of coral reef demage that happened in bracket time 5 years reach 1.499,86 Ha or about 299,97 ha / year. The condition of live coral reef based on field data analysis show that Spermonde Archipelago still have good category of coral reef condition with average percent covering about 50,98%.Key words : Coral reef, Satelite Landsat_T.M., Spermonde Islands
Dampak Pencemaran Terhadap Kualitas Perairan dan Strategi Adaptasi Organisme Makrobenthos di Perairan Pulau Tirangcawang Semarang M. Yusuf; Gentur Handooyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.787 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.41-49

Abstract

Perairan pulau Tirangcawang secara nyata menerima buangan limbah yang berasal dari sejumlah pabrik yang berada di hulu sungai Karanganyar dan Tapak. Limbah ini mengakibatkan terjadinya pencemaran yang dampaknya menurunkan kualitas air dan membahayakan bagi kehidupan organisme perairan khususnya hewanmakrobenthos. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mengkaji: (1) kualitas lingkungan perairan, (2) struktur komunitas hewan makrobenthos, dan (3) strategi adaptasi hewan makrobenthos terhadap lingkungan perairan yang telah tercemar. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali ulangan, dengan interval 14-15 hari. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui kualitas perairan menggunakan Baku Mutu Air Laut. Analisis untuk mengetahui struktur komunitas hewan benthos yaitu menghitung kelimpahan individu jenis, nilai indeks  eanekaragaman jenis (H’) dan keseragaman jenis (E). Sedangkan untuk mengetuhui strategi adaptasi menggunakan metode Grafik Frontier. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisika-kimia air menunjukkan bahwa beberapa parameter seperti COD, N-NO2, dan logam berat Cu, Cd, Pb, Ni ternyata nilainya telah melebihi batas yang diinginkan dalam Baku Mutu Air Laut. Berdasarkan hasil perhitungan Nilai indeks H’ dan E hewan makrobenthos, yaitu berkisar dari rendah sampai dengan sedang. Berdasarkan nilai ini, jika dikaitkan dengan tingkat pencemaran, maka dikatakan bahwa kualitas perairan di daerah penelitian telah tercemar kategori ringan sampai dengan sedang. Pola strategi adaptasi organisme makrobenthos terbagi dua, yaitu: (1) mengarah ke stadia III (kondisi ekosistemmasih baik atau stabil), tedapat pada stasiun I, II, III, dan IV; dan (2) mengarah ke stadia I (kondisi ekosistem labil) terdapat di stasiun V, VI, VII.Kata kunci : pencemaran perairan, strategi adaptasi, makrozoobenthosTirangcawang island waters received waste from factories lie along the rivers. The waste gave pollution which cause the quality of water decrease, so it will bring sea organisms in dangerous condition especiallymacrozoobenthos. The aim of this research is to investigate the quality of water environment and the community structure of makrozoobenthos as well as macrozoobenthos adaptation strategy in relation with polluting material. The research method is case study. The sample were taken three times with 14-15 days. Interval analysis data to on the waters quality by comparing to Sea Water Quality Standard. The result of water physical and chemical parameters measurement showed that COD, N-NO2 and heavy metals Cu, Cd, Pb, Ni valued appearred higher that those stated in Sea Water Quality Standard. The diversity indeces value of macrozoobenthos showed between low to medium level; so based that the waters quality in this location were polluted in the low up to the medium category. Design of adaptation strategy for the macrobenthic organism had two type i.e. stadia III or stabil and good ecosystem condition at station I, II, III, IV; and stadia I or not good and labil ecosystem condition at on V, VI,VII.Key words : waters pollution, adaptation strategy, macrozoobenthos
Studi Konsentrasi Logam Berat (Pb dan Cu) dari Sumber Lokasi Pertambangan di Perairan Tanah Merah, Bangka Tengah Muh Yusuf; Sudirman Adibrata; Irvani Irvani; Aditya Pamungkas; Mu’alimah Hudatwi
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.37976

Abstract

Banyaknya aktivitas penambangan timah di Bangka Belitung menyebabkan pencemar logam berat terakumulasi ke badan perairan, salah satunya adalah kegiatan penambangan timah di perairan Tanah Merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April - November 2019 di Pantai Tanah Merah Kabupaten Bangka Tengah. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui konsentrasi polutan logam berat (Pb dan Cu) di perairan tersebut. Metode penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling dan melakukan analisis logam berat (Pb dan Cu) serta pemodelan menggunakan MIKE21 untuk mengetahui persebarannya. Hasil menunjukkan bahwa model sebaran polutan logam berat sangat dipengaruhi oleh kondisi arus yang dominan berupa arus pasang surut. Model sebaran Pb dan Cu di perairan terkonsentrasi di area sumber pencemar yang telah berada di atas baku mutu air laut dan semakin kecil menjauhi sumber lokasi pertambangan sesuai dengan arah arus perairan. Pemodelan menunjukkan bahwa jarak sebaran terjauh dan arah dari polutan logam berat (Pb dan Cu) di perairan, masing-masing sebesar 7,51 mil (12.086 meter); 6,17 mil (9.929 meter) dengan waktu tempuh 68 dan 62 hari dan arah polutan 330oU. Pola sebaran logam berat yang sangat luas ini mengindikasikan bahwa aktifitas pertambangan tidak direkomendasikan pada lokasi yang berdekatan dengan fishing ground  karena efek sebaran logam berat yang berbahaya akan terakumulasi pada biota bahkan ekosistem perairan.   The large number of tin mining activities in Bangka Belitung causes heavy metal pollutants to accumulate in water bodies, one of which is tin mining activities in Tanah Merah waters. The research was conducted in April-November 2019 at Tanah Merah Beach, Central Bangka Regency. The purpose of this study is to determine the concentration of heavy metal pollutants (Pb and Cu) in these water. The research method was carried out by purposive sampling and conducting heavy metal analysis (Pb and Cu) and modeling using MIKE21 to determine the distribution. The results show that the heavy metal pollutant distribution model is strongly influenced by the dominant current conditions in the form of tidal currents. The Pb and Cu distribution model in the waters is concentrated in the pollutant source area that is above the seawater quality standard and is getting smaller away from the source following the direction of the water flow. Modeling shows that the farthest distribution distance and direction of heavy metal pollutants (Pb and Cu) in the water are 7.51 miles (12.086meter) respectively; 6.17 miles (9,929meter) with a travel time of 68 and 62 days and a direction of pollutants of 330o U. This very wide distribution pattern of heavy metals indicates that mining activities are not recommended in locations close to the fishing ground because the effects of dangerous heavy metal distribution will accumulate. in biota and even aquatic ecosystems.
Contamination of Heavy Metals (Pb and Cu) at Tin Sea Mining Field and Its Impact to Marine Tourism and Fisheries Sudirman Adibrata; Muh. Yusuf; Irvani Irvani; Maulana Firdaus
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.2.79-86

Abstract

The dynamics of heavy metals (Pb and Cu) distribution near sea mining locations can show a negative impact on fisheries resource management. The study was conducted at the coastal area of Tanah Merah Beach, Central Bangka Regency, the geographical location at 02o12'50 "S and 106o13'00" E. This study aims to determine the extent of heavy metals (Pb and Cu) distribution adjacent sea mining field and its impact on marine tourism and fisheries. Purposive sampling method was used to identify the sampling locations from 13 closest locations to the farthest from marine mining sources. The result show that the closest and farthest Pb and Cu values from the tin mining activities were 0.16 mg.L-1; 0.03 mg.L-1 and 0.02 mg.L-1; <0.003 mg.L-1. The Hydro-oceanographic conditions from the highest to the lowest water currents of 0.03 m.s-1 - 0.001 m.s-1. This research represented the east monsoon, which showed that the heavy metal distributions dynamics are not too distance-reaching due to weak water currents, so that the dilution and sedimentation rate is slow. It is stated that the waters are polluted where the highest contamination value is indicated by the location closest to the source of marine mining and further weakened at the location farthest from the source of pollutants. Environmental impact from that activity has significantly threatened marine tourism and fishery activities by reducing economic benefits that given from marine and coastal environmental. Urgently, it is necessary to regulate like zoning tin mining activities and sites for the sustainable common purposes and prevent conflicts.
Karakteristik Pola Arus Dalam Kaitannya dengan Kondisi Kualitas Perairan dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Kawasan Taman Nasional Laut Karimunjawa Muhammad Yusuf; Gentur Handoyo; Muslim Muslim; Sri Yulina Wulandari; Heriyoso Setiyono
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.311 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i5.6918

Abstract

Perairan Kepulauan Karimunjawa memiliki karakteristik yang spesifik secara geografis maupun ekologis karena terletak di tengah lautan yang jauh dari daratan utama, dikelilingi oleh banyak pulau-pulau kecil dan hamparan terumbu karang, sehingga perairannya termasuk semi tertutup. Kondisi ini memberikan keuntungan karena menjadi daerah jebakan unsur hara. Arah dan pola sebaran spasial unsur hara (nitrat dan fosfat) dan Fitoplankton sangat dipengaruhi oleh bagaimana arah dan kecepatan arus yang terjadi serta tipe dan kondisi perairan yaitu semi tertutup. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola arus (arah dan kecepatan) dalam kaitannya dengan kondisi kualitas perairan terutama sebaran nitrat, fosfat, dan kelimpahan individu fitoplankton di perairan Kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah arus dari hasil model adalah dominan menuju ke arah Barat, dan hasil ini sesuai dengan arah arus dari pengukuran secara in-situ di stasiun-stasiun yang diteliti. Kecepatan arus maksimal untuk permukaan laut termasuk kategori sedang, yaitu sebesar 0,309 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,055 m/detik. Dilihat dari arah sebaran paramater kualitas air terutama nitrat dan fosfat menunjukkan bahwa konsentrasi yang relatif lebih besar berada di pulau-pulau yang terletak di sebalah Barat, seperti P. Parang dan P. Nyamuk (nitrat), dan P. Nyamuk untuk unsur fosfat. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi juga terdapat di pulau-pulau yang lokasinya terletak di sebalah Barat seperti pulau Parang (sisi Timur dan Selatan), dan pulau Nyamuk (semua sisi). Ada kecenderungan bahwa arah sebaran parameter kualitas air yang memiliki konsentrasi lebih tinggi terutama suhu, pH, oksigen terlarut, dan nitrat ternyata mengikuti arah sebaran arus yang tejadi.   Kata Kunci: Pola Arus, Kualitas Perairan, Fitoplankton, Karimunjawa.
Kajian Dampak Pencemaran Terhadap Kualitas Lingkungan Perairan dan Struktur Komunitas Organisme Makrozoobenthos Di Muara Sungai Babon, Semarang Muh. Yusuf
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.976 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i1.2969

Abstract

Abstract The research was done to know: (1) the condition of waters quality, (2) community structure of macrozoobenthos of estuarine of Babon river of Semarang. The research method is case study. Sampling was done three times, with the time interval between 14-15 days. The re research was done from April until November, 2005 at estuarine of babon river, Genuk District, Semarang City. Based on the result of measurement of physical-chemical paremeters showed that several parameter include : total suspended solid, oxygen, BOD5, COD, ammonia, deterjen, and heavy metal Cr6+ and Cd have passed over sea water quality standard. The diversity index (H’) range from low to middle that is between 0,36 – 2,27. Whereas the equatability indeks (E) range from low to high that is between 0,33 – 0,96. Key words : waters quality, community structure, macrozoobenthos