Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

VARIASI GENETIK LOCI STR CODIS (THO1,TPOX) MANUSIA GILIMANUK (PULAU BALI) Toetik Koesbardiati; Ahmad Yudianto; Delta Bayu Murti; Rusyad Adi Suriyanto
Berkala Arkeologi Vol 33 No 2 (2013)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.717 KB) | DOI: 10.30883/jba.v33i2.11

Abstract

It is assumed that Mongoloid’s migration came from western and northern part of Indonesia in various waves of migration. The migrant population then mixed with initial inhabitants, which are Australomelanesoid. The wave of migration moved further to the eastern Indonesia and mixed with migrant that entered from east (Papua). Some researches show that the concentration of mixture (hybridization) of migration was around Wallace’s line. Gilimanuk is one of prehistoric site that yields Neolithic human remains. It is assumed that Gilimanuk can give worthy information about human variation at that time. The aim of the research is to describe the human genetic variation at site of Gilimanuk. The material is DNA (deoxyribonucleic acid) has been extracted from many piece of bone of Gilimanuk’s human remains. We used STR (short tandem repeat) two loci (THO1 and TPOX) to gain human genetic variation. The result show all of sample yields band with different allele. This evidence confirms that they have a genetic affinity is not the same, or their genes from several population.
Hubungan Jaminan Persalinan, Jarak Tempat Tinggal, Waktu Tempuh dan Kebiasaan Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Tempat Persalinan Di Kabupaten Timor Tengah Selatan Bakoil, Mareta Bakale; Supriyanto, Stefanus; Koesbardiati, Toetik
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 15 No 1 (2017): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.207 KB) | DOI: 10.31965/infokes.v15i1.129

Abstract

Latar belakang: fenomena di Indonesia adalah masih banyaknya ibu melahirkan tidak menggunakan fasilitas kesehatan dan di tolong oleh non tenaga kesehatan, yang mana dapat berdampak pada tingginya angka kematian ibu. Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan angka kematian ibu tertinggi yaitu 290/100.000 kelahiran hidup. Selain itu masalah akses ke fasilitas kesehatan yang rendah, disebabkan karena keterjangkauan lokasi tempat pelayanan kesehatan yang sulit, jenis dan kualitas pelayanan serta keterjangkauan terhadap informasi (WHO, 2008). Metode penelitian: observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Jumlah sampel 95 responden. Teknik pengambilan sampel adalah systematic random sampling. Analisis data menggunakan SPSS. Analisis deskriptif untuk menggambarkan distribusi frekuensi setiap variabel, uji chi-square digunakan untuk analisis bivariat yaitu untuk menilai hubungan antara variabel independen dengan dependen. Uji statistik dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: jaminan persalinan mempunyai p-value 0,003 (OR 0,098, 95% CI: 0,019-0,509), jarak tempat tinggal dengan p-value 0,498 (OR 1,822 95% CI 0,428-7,761), waktu tempuh dengan p-value 0,710 (OR 1,292 95% CI 0,299-5,583), kebiasaan masyarakat dalam memilih tempat persalinan dengan p-value 0,010 (OR 13,833 95% CI 2,282-83,861). Analisis multivariat menunjukkan bahwa jaminan persalinan dan kebiasaan masyarakat dalam memilih tempat persalinan merupakan variabel penentu terkuat terhadap pemanfaatan tempat bersalin dibandingkan dengan variable lain. Kesimpulan: Jaminan persalinan dan kebiasaan masyarakat dalam memilih tempat persalinan mempunyai hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan tempat persalinan di fasilitas kesehatan. Sedangkan jarak tempat tinggal dan waktu tempuh tidak signifikan terhadap pemanfaatan tempat persalinan di fasilitas kesehatan.
PROFIL PROGNASI WAJAH BEBERAPA POPULASI DUNIA [Prognation Profile of World Population Faces] Koesbardiati, Toetik
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 9, No 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.504 KB)

Abstract

The face is one of the major variables in determining the biological characteristics of a population in the identification effort of human skeletal remains. This is not only important in the field of forensic anthropology but also the field of bioarchaeology. The purpose of this study is to describe the variation of facial angle in some of the world population. The method applied is anthropometry. The study material is the skull of nine world populations of Europe, North Africa, Subsahara Africa, South America, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polynesia and China. The results showed that among the population tested, Australomelanesoid, Polynesian, Indonesian and African Subsahara populations had a prognathic face both on the even face, as well as the alveolar and facial projection. In contrast, the population groups of China, Europe, Inuit and North Africa are population groups that have faces of orthognath.  ABSTRAKWajah adalah salah satu variabel utama dalam menentukan ciri biologis suatu populasi pada usaha identifikasi sisa rangka manusia. Hal ini tidak hanya panting dalam bidang antropologi forensik tetapi juga bidang bioarkeologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi sudut wajah pada beberapa populasi dunia. Metode yang diterapkan adalah antropometri. Bahan penelitian adalah tengkorak dari sembilan populasi dunia yaitu populasi Eropa, Afrika Utara, Afrika Subsahara, Amerika Selatan, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polinesia dan China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara populasi yang diuji, populasi Australomelanesoid, Polinesia, Indonesia dan Afrika Subsahara memiliki wajah yang prognath baik pada bagian wajah genap, maupun bagian alveolar serta proyeksi wajah. Sebaliknya kelompok populasi China, Eropa, Inuit dan Afrika Utara adalah kelompok populasi yang memiliki wajah orthognath.
SISA RANGKA TENTARA JEPANG DARI PERANG DUN lA II Dl BIAK (The Japan Soldier Bones Remains from World War II in Biak Island) Koesbardiati, Toetik; Murti, Delta Bayu
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5113.855 KB)

Abstract

Repatriation of the skeletal remains of Japanese soldiers who died during World War II in Indonesia has been conducted since 2009. In 2013 repatriation activities carried out in Biak, West Papua. The purpose of repatriation in 2013 is to identify the human remains that assumed as Japanese soldier. Identification methods follow the protocol of forensic anthropology. The results indicate the identification of mixing between the Japanese soldiers with local residents. Furthermore, we found also subadult human remains. Individualization analysis showed pathological conditions of bone, that also assumed suffered infectious disease (yaws or syphilis). AbstrakRepatriasi sisa rangka tentara Jepang yang tawas selama Perang Dunia II di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 2009. Di tahun 2013 kegiatan repatriasi dilakukan di Biak, Papua Barat. Tujuan repatriasi tahun 2013 ini adalah mengidentifikasi temuan sisa-sisa rangka yang diduga sebagai tentara Jepang. Metoda identifikasi sisa rangka mengikuti protokol ke~a dalam antropologi forensik. Hasil identifikasi mengindikasikan tercampumya sisa rangka tentara Jepang dengan penduduk lokal dan adanya sisa rangka anak-anak. Analisis individualisasi menunjukkan kondisi patologis tulang, yang diduga efek dari infeksi penyakit yaws atau sifilis.
THE DENTAL MODIFICATIONS IN ANCIENT UNTIL PRESENT INDONESIA A CHRONOLOGICAL EVIDENCE OF INDONESIAN RACIAL IDENTITY Suriyanto, Rusyad Adi; Koesbardiati, Toetik; Murti, Delta Bayu
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 3, No 2 (2011): November 2011
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.45 KB)

Abstract

Sejarah migrasi di Asia Tenggara telah menjadi subjek banyak spekulasi dengan memanfaatkan ciri-ciri morfologis rangka dan gigi manusia, perbandingan-perbandingan dan persebaran linguistic dan cultural, perbandingan-perbandingan genetika manusia, filogeni dan DNA kuno hewan-hewan dan tanaman-tanaman dan koevolusi bahasa dan genetika manusia. Menurutpola migrasi di Indonesia ini, kami telah mencoba juga untuk membangun hipotesis tentang sejaah rasial dan penghunian Kepulauan Indonesia sejak Neolitik sampai sekarang dari bukti modifikasi-modifikasi gigi yangpernah ditemmukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan modifikasi-midifikasi gigi yang pernah dilakukan di Indonesia berdasarkan bukti-bukti paleoantropologis-arkeologis. Di samping itu, penelitian ini juga telah menginvestigasi dan menunjukkan identitas rasial penduduk Indonesia dari Neolitik sampai sekarang. Bahan penelitian meliputi gigi-geligi tengkorak manusia dewasa yang berasal dari beberapa situs paleoantropologis-arkeologis di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Papua, serta sampel gigi-geligi permanen isolatif populasi Bali modern. Metode-metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif visual, dan penelusuran sumber-sumber pustaka arkeologis dan etnografis klasik. Sumber-sumber etnografis Indonesia yang terkait dengna modifikasi-modifikasi gigi juga telah dihadirkan. Bukti-bukti ini telah diupayakan untuk menunjukkan kontinuitas modifikasi-modifikasi gigi di Indonesia. Fungsi-fungsi modifikasi gigi telah diupayakan untuk ditampilkan, baik yang terkait dengan ritus inisiasi maupun estetika. Para peneliti bermaksud untuk mengeksploitasi bahwa modifikasi-modifikasi gigi ini terkait dengan migrasi dan kronologi persebaran ras-ras manusia di Asia Tenggara ke Kepulauan Indonesia dan penghuniannya dari 4000 tahun yang lalu sampai sekarang. Ras-ras manusia ini adalah Australomelanesoid dan Mongoloid yang merupakan populasi-populasi utama yang menghuni kawasan ini.
LEPRA PADA SISA RANGKA MANUSIA DARI LEWOLEBA: RELEVANSINYA TERHADAP SEJARAH PENGHUNIAN INDONESIA Toetik Koesbardiati
Berkala Arkeologi Vol 31 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4120.718 KB) | DOI: 10.30883/jba.v31i2.387

Abstract

Leprosy is a chronic, mildly communicable disease of man which primarily affects the skin, mucous membranes, peripheral nerves, eyes, bones and testes due to Mycobacterium leprae. Some researches show the evidence of leprosy spread worldwide in recent human history. Therefore, it is important to put leprosy’s case on the map to build broader knowledge, not only about the spread of leprosy, but also about human dispersal. The aim of the present study is to detect the M.leprae from ancient population in order to know its relevance to the peopling of Indonesia. Macroscopic method was performed based on Ortner method and Aufderheide and Rodriguez-Martin method to identify leprosy on the cranium of Lewoleba specimen (LLI/5), from Lembata Island, Indonesia. The antiquity of Lewoleba specimen is 2990+/-160BP. The results of the macroscopic method show that the specimen has suffered from leprosy in her lifetime. Some researchers concluded that emergence of leprosy related to human migration, in term of modern human dispersal, some researchers proved that the spread of leprosy worldwide consistent with the source of modern human (East Africa) and the spread of leprosy is also fit with the pattern of modern human dispersal. This fact provides an important clue how the M. leprae spread worldwide. Because the leprosy spread through human migration, this means also that leprosy could be infected the ancient people of Indonesia. This is because Indonesia was one of modern human migration’s route
KONSUMSI SIRIH PINANG DAN PATOLOGI GIGI PADA MASYARAKAT PRASEJARAH LEWOLEBA DAN LIANG BUA, DI NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA Toetik Koesbardiati; Delta Bayu Murti
Berkala Arkeologi Vol 39 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.225 KB) | DOI: 10.30883/jba.v39i2.470

Abstract

This paper focus on chewing betel quid habit that dominantly happen in the Asia to Pacific region. Betel quid leaves traces of reddish-brown colour on the teeth. It was identified that dental stain was very common on teeth of prehistoric skeletal remains, for example in Thailand and Vietnam. Several studies have shown that chewing betel nut can cause diseases in the teeth and oral cavity. The purpose of this study is to describe the relationship between betel nut chewing and the emergence of tooth pathology in teeth from the prehistoric population from Lewoleba and Liang Bua. Ten individuals were observed using the macroscopic method. The results showed that consumption of betel nut (based on dental stains) was followed by attrition, periodontitis and even antemortem tooth loss.
PROFIL PROGNASI WAJAH BEBERAPA POPULASI DUNIA [Prognation Profile of World Population Faces] Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.504 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.210

Abstract

The face is one of the major variables in determining the biological characteristics of a population in the identification effort of human skeletal remains. This is not only important in the field of forensic anthropology but also the field of bioarchaeology. The purpose of this study is to describe the variation of facial angle in some of the world population. The method applied is anthropometry. The study material is the skull of nine world populations of Europe, North Africa, Subsahara Africa, South America, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polynesia and China. The results showed that among the population tested, Australomelanesoid, Polynesian, Indonesian and African Subsahara populations had a prognathic face both on the even face, as well as the alveolar and facial projection. In contrast, the population groups of China, Europe, Inuit and North Africa are population groups that have faces of orthognath.  ABSTRAKWajah adalah salah satu variabel utama dalam menentukan ciri biologis suatu populasi pada usaha identifikasi sisa rangka manusia. Hal ini tidak hanya panting dalam bidang antropologi forensik tetapi juga bidang bioarkeologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi sudut wajah pada beberapa populasi dunia. Metode yang diterapkan adalah antropometri. Bahan penelitian adalah tengkorak dari sembilan populasi dunia yaitu populasi Eropa, Afrika Utara, Afrika Subsahara, Amerika Selatan, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polinesia dan China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara populasi yang diuji, populasi Australomelanesoid, Polinesia, Indonesia dan Afrika Subsahara memiliki wajah yang prognath baik pada bagian wajah genap, maupun bagian alveolar serta proyeksi wajah. Sebaliknya kelompok populasi China, Eropa, Inuit dan Afrika Utara adalah kelompok populasi yang memiliki wajah orthognath.
Waktu Penutupan Epifisis Tulang Radius dan Ulna Bagian Distal Tiara Mayang Pratiwi Lio; Toetik Koesbardiati; Ahmad Yudianto; Rosy Setiawati
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 1 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.302 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i1.2017.55-67

Abstract

AbstrakIdentifikasi usia forensik bertujuan untuk menentukan dengan cara yang paling akurat usia kronologis seseorang yang tidak diketahui atau diragukan keasliannya terlibat dalam proses hokum. Salah satu metode yang digunakan adalah untuk menilai penutupan epifisis pada tulang melalui pemeriksaan radiologi. Masalah utama penggunaan metode ini berhubungan dengan relevansi dan representatif populasi referensi yang tersedia karna dipengaruhi oleh genetik dan gizi maka di perlukan data yang dapat mewakili setiap populasi. Pemeriksaan radiologi tulang pergelangan tangan dari 68 pasien laki-laki usia 11-30 tahun dan 22 pasien perempuan usia 13-28 tahun di RSUD.Dr.Soetomo, Surabaya selama periode januari-april 2016 , dilakukan untuk menentukan waktu penutupan epifisis dari tulang radius dan ulna bagian distal. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif cross-sectional. Kesimpulan dari penelitian ini pada laki-laki pada usia ≥17 sebagian besar tulang radius dan ulna bagian distal mengalami penutupan epifisis yang telah lengkap dan pada perempuan usia ≥16 sebagian besar tulang radius dan ulna bagian distal mengalami penutupan epifisis yang telah lengkap.Kata kunci—Usia ; Penutupan epifisis ; Radius dan Ulna distal ; Laki-laki ; Perempuan
Variation of TTC Repeat Pattern In The Dna of Mycobacterium Leprae Isolates Obtained from Archeological Bones and Leprosy Patients From East Nusa Tenggara Adriaty, Dinar; Wahyuni, Ratna; Iswahyudi, Iswahyudi; Aksono, Bimo; Koesbardiati, Toetik; Agusni, Indropo; Izumi, Shinzo
Journal of Tropical Life Science Vol 2, No 3 (2012)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.2.3.%x

Abstract

The existence of leprosy or kusta or Morbus Hansen or Hansens disease has been known for years, including in Indonesia. Starting from the discovery of Mycobacterium leprae isolates from ancient bone (about 1.000 years B.C), the archaeological excavations results in East Nusa Tenggara, interesting questions arise about how the development of leprosy in eastern Indonesia is. Biology molecular study would become a powerful tool to investigate the presence of leprosy bacillary whether there are similarities between the genomes of M. leprae isolates in the primeval and the present. PCR examinations were performed on mandibular bone fragments from ancient human who lived 1000 years B.C. discovered in archaeological surveys on the island of Lembata and three leprosy patients from East Nusa Tenggara. The DNA extraction was performed using a kit from Qiagen products and its TTC repeating pattern was seen with the method of direct sequencing. It turned out that the TTC profile obtained from samples of archaeological was as many as 13 copies, while the repetition of TTC in three samples of leprosy patients were 15, 17 and 26 copies. The different number of TTC repetition shows the different isolates of M. leprae between in the ancient times and the present. Further studies are needed to verify the differences in the genome that occur, for example from the study of SNPs (single nucleotide polymorphisms).