Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Perencanaan Sistem Plambing Air Hujan Pengembangan Hotel Grand Zuri Kota Padang Puti Sri Komala; Yuda Maisuara
CIVED Vol 8, No 3 (2021): September 2021
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/cived.v8i3.115791

Abstract

Salah satu sistem perpipaan yang harus disediakan pada bangunan tempat tinggal adalah sistem drainase air hujan. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan sistem drainase air hujan untuk pengembangan Hotel Grand Zuri Kota Padang. Gedung pengembangan Hotel Grand Zuri Kota Padang merupakan gedung hunian usaha yang terdiri dari dua belas lantai dan dua lantai parkir. Perancangan sistem plambing didasarkan pada SNI 8153:2015. Perancangan sistem penyaluran air hujan menggunakan data curah hujan Kota Padang selama lima tahun terakhir yang berdekatan dengan lokasi pembangunan gedung yaitu stasiun pengukuran Alai untuk menentukan luas daerah tangkapan air hujan. Sistem penyaluran air hujan memanfaatkan pipa horizontal dan pipa tegak, air hujan diarahkan hingga ke lantai dasar, kemudian dialirkan ke saluran drainase keliling gedung menuju riol kota. Pipa yang dipakai adalah jenis pipa PVC karena sifatnya tidak mudah korosi dan biayanya pun lebih murah dibandingkan jenis pipa lainnya. pipa tegak air hujan menggunakan pipa ukuran 2 – 3 inci. Ukuran drainase keliling gedung yaitu panjang 292,78 meter, lebar 0,25 meter dan tinggi 0,4 meter.
ANALISIS PRODUKTIVITAS SISTEM TRANSPORTASI SAMPAH KOTA PADANG Komala, Puti Sri; Aziz, Rizki
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.73-86.2012

Abstract

ABSTRAKStudi analisis produktivitas sistem transportasi sampah Kota Padang ini dilakukan untuk melihat kemampuan sarana transportasi kota Padang untuk mengangkut sampah dari tempat pewadahan sampah atau dari Tempat Pemindahan Sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir. Sistem transportasi kota Padang terdiri dari sistem transportasi dengan wadah angkut dan wadah tetap. Analisis produktivitas yang dilakukan meliputi jumlah personil yang dibutuhkan, kapasitas sampah yang terangkut, dan jarak yang ditempuh oleh kendaraan angkut dalam satuan waktu pada masing-masing sistem. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem wadah angkut lebih produktif dibandingkan sistem wadah tetap dilihat dari segi personil dan sampah yang diangkut per ritasi. Jumlah personil sistem wadah angkut per ritasi dua orang sedangkan sistem wadah tetap sebanyak tiga orang, kapasitas total sampah yang diangkut dengan sistem wadah angkut sebesar 372 m3/hari sedangkan sistem wadah tetap sebesar 213 m3/harinya, dan jarak tempuh total sistem sistem wadah angkut perjamnya adalah 27,78 km sedangkan sistem wadah tetap sejauh 8,6 km. Waktu angkut rata-rata yang dibutuhkan pada sistem wadah tetap adalah 4,53 jam per ritasi lebih besar dibandingkan dengan sistem wadah angkut yaitu 1,23 jam. Berdasarkan waktu tersebut diperoleh produktivitas personil sistem wadah tetap 0,66 orang/jam dan pada sistem wadah angkut 1,63 orang/jam. Meskipun produktivitas personil SCS lebih kecil, namun SCS diperlukan di daerah pemukiman dengan timbulan sampah kecil, sedangkan HCS untuk kuantitas sampah yang besar dan spesifik.Kata kunci: transportasi sampah Kota Padang, sistem wadah angkut, sistem wadah tetap, produktivitas. ABSTRACTThe analysis study of the waste transportation system productivity in Padang city was carried out to evaluate the transportation vehicle capacity in Padang city for transporting waste either from the waste container or from the transfer station to the disposal site. Padangs waste transportation system consists of hauled container system (HCS) and stationary container system (SCS). Productivity analysis included the personnal number required, the capacity of the waste transported and the vehicle haul distance of each system. Results showed that the HCS was more productive than SCS in terms of personnel required and waste transported per ritation. The number of collector in HCS per ritation was two persons while that of SCS was three persons, total capacity of waste transported by HCS was 372 m3/day while the SCS hauled 213 m3/day, and haul distance of HCS was 27.78 km/hour while the SCS was 8.6 km/hour. The average haul time required for SCS was 4.53 hours per ritation larger than that of the HCS i.e. 1.23 hours. Based on the time required the personnel productivity of the SCS was 0.66 person/hour and the HCS was 1.63 persons / hour . Although the personnel productivity of SCS is smaller, but SCS is required in a residential area with a small waste, whereas the HCS for a large quantity of waste and specific.Key words: solid waste transportation of Padang city, hauled container system (HCS), stationary container system (SCS), produktivityABSTRAKStudi analisis produktivitas sistem transportasi sampah Kota Padang ini dilakukan untuk melihat kemampuansarana transportasi kota Padang untuk mengangkut sampah dari tempat pewadahan sampah atau dari TempatPemindahan Sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir. Sistem transportasi kota Padang terdiri dari sistemtransportasi dengan wadah angkut dan wadah tetap. Analisis produktivitas yang dilakukan meliputi jumlahpersonil yang dibutuhkan, kapasitas sampah yang terangkut, dan jarak yang ditempuh oleh kendaraan angkutdalam satuan waktu pada masing-masing sistem. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem wadah angkutlebih produktif dibandingkan sistem wadah tetap dilihat dari segi personil dan sampah yang diangkut per ritasi.Jumlah personil sistem wadah angkut per ritasi dua orang sedangkan sistem wadah tetap sebanyak tiga orang,kapasitas total sampah yang diangkut dengan sistem wadah angkut sebesar 372 m3/hari sedangkan sistemwadah tetap sebesar 213 m3/harinya, dan jarak tempuh total sistem sistem wadah angkut perjamnya adalah27,78 km sedangkan sistem wadah tetap sejauh 8,6 km. Waktu angkut rata-rata yang dibutuhkan pada sistemwadah tetap adalah 4,53 jam per ritasi lebih besar dibandingkan dengan sistem wadah angkut yaitu 1,23 jam.Berdasarkan waktu tersebut diperoleh produktivitas personil sistem wadah tetap 0,66 orang/jam dan padasistem wadah angkut 1,63 orang/jam. Meskipun produktivitas personil SCS lebih kecil, namun SCS diperlukan didaerah pemukiman dengan timbulan sampah kecil, sedangkan HCS untuk kuantitas sampah yang besar danspesifik.Kata kunci: transportasi sampah Kota Padang, sistem wadah angkut, sistem wadah tetap, produktivitas.ABSTRACTThe analysis study of the waste transportation system productivity in Padang city was carried out to evaluatethe transportation vehicle capacity in Padang city for transporting waste either from the waste container or fromthe transfer station to the disposal site. Padangs waste transportation system consists of hauled containersystem (HCS) and stationary container system (SCS). Productivity analysis included the personnal numberrequired, the capacity of the waste transported and the vehicle haul distance of each system. Results showedthat the HCS was more productive than SCS in terms of personnel required and waste transported per ritation.The number of collector in HCS per ritation was two persons while that of SCS was three persons, total capacityof waste transported by HCS was 372 m3/day while the SCS hauled 213 m3/day, and haul distance of HCS was27.78 km/hour while the SCS was 8.6 km/hour. The average haul time required for SCS was 4.53 hours perritation larger than that of the HCS i.e. 1.23 hours. Based on the time required the personnel productivity of theSCS was 0.66 person/hour and the HCS was 1.63 persons / hour . Although the personnel productivity of SCS issmaller, but SCS is required in a residential area with a small waste, whereas the HCS for a large quantity ofwaste and specific.Key words: solid waste transportation of Padang city, hauled container system (HCS), stationary containersystem (SCS), produktivity.
Analisis Beban Pencemar Total Nitrogen dan Total Fosfat akibat Aktivitas Antropogenik di Danau Maninjau Roselyn Indah Kurniati; Puti Sri Komala; Z Zulkarnaini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.355-364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban pencemar dan daya tampung total nitrogen (TN) dan total fosfat (TP) akibat dari aktivitas antropogenik di Danau Maninjau. Perhitungan beban pencemar untuk aktivitas penduduk, pertanian, peternakan dan jumlah tamu hotel menggunakan Rapid Assesment. Penetapan  beban pencemar KJA dan daya tampung yang mengacu kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 28 Tahun 2009. Lokasi penelitian yang ditetapkan berdasarkan SNI 6989.57:2008 terdiri dari 10 lokasi yaitu tengah danau, PLTA, KJA, inlet dan outlet danau. Uji ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan dalam melihat perbedaan data konsentrasi TN dan TP secara waktu pengambilan sampel dan lokasi sampling. Rasio TN:TP dievaluasi untuk mengetahui pembatas kesuburan perairan dan korelasinya terhadap klorofil.Konsentrasi TN berada pada rentang 0,42 – 0,95 mg/L, TP berkisar 0,18-0,66 mg/L dan klorofil-a 5,49-8,69 mg/m3. Hasil uji ANOVA, konsentrasi TN dan TP  secara waktu pengambilan sampel tidak berbeda secara signifikan yaitu 0,64 dan 0,88 sedangkan secara lokasi sampling berbeda secara signifikan dengan nilai signifikansi 0,01 dan 4,03x10-6. TN dan TP memiliki hubungan yang kuat terhadap klorofil dan diperoleh rasio TN:TP<10 yang mengindikasikan nitrogen sebagai pembatas kesuburan. Beban pencemar TN dan TP terbesar berasal dari KJA yang menyumbang hampir 84,20 % dan 91,83% dari total beban pencemar. Ditinjau dari daya tampung mesotrofik beban pencemar TN belum melebihi sedangkan TP telah melebihi daya tampung sehingga perlu pengurangan hingga 71,34% untuk mesotrofik dan 90,44% untuk oligotrofik. Secara keseluruhan status trofik Danau Maninjau berada pada kondisi eutrofik dengan index 63,39. ABSTRACTThis study aims to analyze the pollutant load and the capacity of total nitrogen (TN) and total phosphate (TP) resulting from anthropogenic activities in Lake Maninjau. Calculation of the pollutant load for the activities of the population, agriculture, livestock and the number of hotel guests using Rapid Assessment. Determination of KJA pollutant load and carrying capacity refers to the Regulation of the Minister of Environment No. 28 of 2009. The research locations determined based on SNI 6989.57: 2008 consist of 10 locations, namely the middle of the lake, hydropower plant, marine cage, inlet and outlet. ANOVA test with a 95% confidence level was used to see the differences in TN and TP concentration data in terms of sampling time and sampling location. The TN: TP ratio was evaluated to determine the limitation of water fertility and its correlation to chlorophyll. TN concentrations were in the range 0.42 - 0.95 mg / L, TP ranged from 0.18 to 0.66 mg / L and chlorophyll-a was 5.49. -8.69 mg / m3. ANOVA test results, TN and TP concentrations at sampling time did not differ significantly, namely 0.64 and 0.88, while the sampling location was significantly different with a significance value of 0.01 and 4.03x10-6. TN and TP had a strong relationship to chlorophyll and the TN: TP ratio was obtained <10, which indicates nitrogen as a fertility limiter. The largest TN and TP pollutant load comes from KJA which accounts for almost 84.20% and 91.83% of the total pollutant load. Judging from the mesotrophic capacity of the TN pollutant load has not exceeded while the TP has exceeded the capacity so that it needs a reduction of up to 71.34% for mesotrophic and 90.44% for oligotrophic. Overall, the trophic status of Lake Maninjau is in a eutrophic condition with an index of 63.39.
ANALISIS PRODUKTIVITAS SISTEM TRANSPORTASI SAMPAH KOTA PADANG Puti Sri Komala; Rizki Aziz; Fitra Ramadhani
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.73-86.2012

Abstract

 The analysis study of  the waste transportation system productivity in Padang city was carried out  to evaluate the transportation vehicle capacity in Padang city for transporting waste either from the waste container or from the transfer station to the disposal site. Padang’s waste transportation system consists of hauled container system (HCS) and stationary container system (SCS). Productivity analysis included the personnal number required, the capacity of the waste transported and the vehicle haul distance of  each system. Results showed that the HCS was more productive than SCS in terms of personnel required  and waste transported per ritation. The number of collector in HCS per ritation was two persons while that of SCS was three persons, total capacity of waste transported by HCS was 372 m3/day while the SCS hauled 213 m3/day, and haul distance of HCS was 27.78 km/hour while the SCS was 8.6 km/hour. The average haul time required for SCS was 4.53 hours per ritation  larger than that of the HCS i.e. 1.23 hours. Based on the time required the  personnel productivity of the SCS was 0.66 person/hour and the HCS was 1.63 persons / hour . Although the personnel productivity of SCS is smaller, but SCS is required in a residential area with a small waste, whereas the HCS for a large quantity of waste and specific.Key words: solid waste transportation of Padang city, hauled container system (HCS), stationary container  system (SCS), productivityABSTRAKStudi analisis produktivitas sistem transportasi sampah Kota Padang ini dilakukan untuk melihat kemampuan sarana transportasi kota Padang untuk mengangkut sampah dari tempat pewadahan sampah atau dari Tempat Pemindahan Sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir. Sistem transportasi kota Padang terdiri dari sistem transportasi dengan wadah angkut dan wadah tetap. Analisis produktivitas yang dilakukan meliputi jumlah personil yang dibutuhkan, kapasitas sampah yang terangkut, dan jarak yang ditempuh oleh kendaraan angkut dalam satuan waktu pada masing-masing sistem. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem wadah angkut lebih produktif dibandingkan sistem wadah tetap dilihat dari segi personil dan sampah yang diangkut per ritasi. Jumlah personil sistem wadah angkut per ritasi dua orang sedangkan sistem wadah tetap sebanyak tiga orang, kapasitas total sampah yang diangkut dengan sistem wadah angkut sebesar 372 m3/hari sedangkan sistem wadah tetap sebesar 213 m3/harinya, dan jarak tempuh total sistem sistem wadah angkut perjamnya adalah 27,78 km sedangkan sistem wadah tetap sejauh 8,6 km. Waktu angkut rata-rata yang dibutuhkan pada sistem wadah tetap adalah 4,53 jam per ritasi lebih besar dibandingkan dengan sistem wadah angkut yaitu 1,23 jam. Berdasarkan waktu tersebut diperoleh produktivitas personil sistem wadah tetap 0,66 orang/jam dan pada sistem wadah angkut 1,63 orang/jam. Meskipun produktivitas personil SCS lebih kecil, namun SCS diperlukan di daerah pemukiman dengan timbulan sampah kecil, sedangkan HCS untuk kuantitas sampah yang besar dan spesifik.Kata kunci: transportasi sampah Kota Padang,  sistem wadah angkut, sistem wadah tetap, produktivitas. 
Perencanaan Sistem Plambing Air Bersih Gedung Rusunawa Mahasiswa Universitas Andalas Komala, Puti Sri; Abuzar, Suarni Saidi; Dewi, Purnama Mentari
Jurnal Dampak Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.15.1.23-30.2018

Abstract

Design of water supply and fire protection system in a low income five storey apartment of Andalas University has been conducted based on Indonesian National Standard (SNI) regulation No.03-7065-2005, that the building which has more than 500 inhabitants or more than 1.500 visitors, should prepare plumbing system design. The University of Andalas Student Rental Building is a residential building of five floors. In this water supply plan the water source is supplied from the Unand’s water treatment plant. The water supply system uses a roof tank system with a combination of gravity flow and booster pump. The water supply tank consists of the bottom tank and the upper tank with capacities of 74 m3 dan 4,5 m3, respectively. The booster pump meets the critical pressure on the 3rd floor up to the 5th floor with 5,44 m head. Class II fire prevention systems use hydrant and sprinkler systems with automatic wet-type upright pipes. The distribution pipes use PVC pipes (1/2  - 1 1/4) inches, while the hydrants and sprinkler pipes use Black Steel (1-4) inch pipe.
PERAN MEDIA PENDUKUNG PERLIT DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KARET MENGGUNAKAN TUMBUHAN MENSIANG (Scirpus grossus L.f) (Studi Kasus: Limbah Cair Industri Karet Remah PT. Batang Hari Barisan Padang) Puti Sri Komala -; Salmariza Sy -; Nelda Murti -
Bionatura Vol 9, No 3 (2007): Bionatura Nopember 2007
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.528 KB)

Abstract

Pengolahan limbah cair dilakukan menggunakan instalasi tumbuhan mensiang (Scirpus grossus L.f) dengan media pendukung perlit secara kontinu dalam skala laboratorium. Studi kasus dilakukan pada industri karet PT Batang Hari Barisan Padang, dengan parameter yang dianalisis BOD, COD, TSS, NH3, Nitrogen total dan pH. Percobaan dilakukan dengan menggunakan dua instalasi yang dioperasikan secara paralel, yaitu instalasi dengan tumbuhan dan tanpa tumbuhan dengan media pendukung yang sama. Penelitian dilakukan pada HLR (Hydraulic Loading Rate) 100 L/m2.hr, 200 L/m2.hr, 300 L/m2.hr dan konsentrasi COD influen 1.111 mg/L dan 2.019 mg/L. Persentase penyisihan parameter pencemar dengan instalasi tumbuhan untuk BOD 98,07 – 99,14%, COD 96,38 – 98,11%, TSS 89,70 – 97,00%, NH3 total 93,71 – 95,73%, nitrogen total 81,58 – 95,91% dan pH naik menjadi 6,61 – 7,09. Sementara pada instalasi tanpa tumbuhan penyisihan BOD 95,93 – 97,98%, COD 83,80 – 90,19%, TSS 86,57 – 89,71%, NH3 total 68,99 – 88,35%, nitrogen total 79,52 – 91,88% dan pH naik menjadi 6,4 – 6,77. Kemampuan pengolahan limbah cair menggunakan perlit pada instalasi tumbuhan rata-rata lebih besar 7% dibandingkan instalasi tanpa tumbuhan, sedangkan jika dibandingkan dengan kerikil tingkat penyisihan perlit lebih tinggi sekitar 6%. Penyisihan pencemar dengan media pendukung perlit lebih efektif, dimana kelebihan perlit dibandingkan kerikil antara lain mempunyai luas spesifik dan kapasitas adsorpsi lebih tinggi, sehingga penyerapan pencemar dan pertumbuhan jumlah mikroorganisme lebih besar untuk menguraikan bahan pencemar. HLR optimum adalah 100 L/m2.hr, namun peningkatan HLR tidak menghasilkan perbedaan efisiensi penyisihan yang terlalu signifikan, sehingga instalasi masih mampu untuk mengolah limbah dengan laju alir yang lebih besarKata Kunci : Instalasi tumbuhan, Mensiang (Scirpus grossus L.f), perlit, HLR (Hydraulic Loading Rate).
Karakterisasi Produk Biomassa Seluler dalam Bioreaktor Membran pada Biodegradasi Zat Warna Azo Remazol Black 5 Puti Sri Komala; Yommi Dewilda; M Zulfan; Zilvia Wulandari
Reaktor Volume 15 No.3 April 2015
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.465 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.15.3.139-147

Abstract

Dalam penelitian ini telah dilakukan karakterisasi produk biomassa seluler dalam bioreaktor membran (BRM) anoksik-oksik pada biodegradasi zat warna Azo Remazol Black 5 (RB 5) pada umur lumpur rendah. BRM terdiri dari tangki anoksik,  kontak, dan stabilisasi serta membran eksternal polysulfone yang diletakkan di antara tangki kontak dan stabilisasi. Umpan yang digunakan adalah campuran zat warna RB 5 dengan konsentrasi 120 mg/L dan ko-substrat limbah tempe dengan COD berkisar antara 2.080-2.400 mg/L. Dengan kombinasi waktu filtrasi dan backwash 1 jam dan 1 menit, BRM dapat beroperasi selama hampir 50 hari dengan fluks rata-rata 9 lmj dan tekanan 0,8 – 2 bar. Komponen seluler masing-masing tangki dilakukan diukur sebagai parameter material polimer ekstraseluler (EPS) dan produk mikrobial terlarut (SMP). Efisiensi penyisihan warna pada berkisar antara 66%- 77%, sedangkan penyisihan COD berkisar pada 44%-50%. Perpindahan biomassa antar tangki yang tidak sempurna diperkirakan telah menurunkan kinerja penyisihan senyawa organik BRM. Kandungan karbohidrat pada SMP maupun EPS  masing-masing tangki nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar protein. Karbohidrat yang berasal dari umpan merupakan penyebab utama fouling dibandingkan protein. Konsentrasi EPS yang tinggi terdapat pada tangki stabilisasi akibat transfer oksigen yang buruk dalam struktur biofilm setelah melewati membran. Kata kunci: Bioreaktor Membran (BRM) anoksik-oksik, material polimer ekstraseluler (EPS), produk mikrobial terlarut (SMP), umur lumpur (SRT), zat warna azo Remazol Black 5   Characterization of Cellular Biomass Products in Membrane Bioreactor on Azo Dye Remazol Black 5 Biodegradation Abstract In this study characterization  of  cellular biomass products in anoxic-oxic membrane bioreactor (MBR) on azo dye Remazol Black 5 (RB 5) biodegradation in the low solid retention time was carried out. The MBR consists of anoxic, contacts, and stabilization tank of 4, 2 and 4 hours respectively, and was equipped with an external polysulfone membrane which placed between the contact and the stabilization tanks. Feed was the  mixture of azo dye RB 5 with a concentration of 120 mg/L and co-substrate tempe industrial wastewater with COD ranging between 2.080-2.400 mg / L. With a combination of  filtration and backwash time of 1 hour and 1 minute, the MBR was operated for 50 days with an average flux 9 lmh and pressures of  0.8 to 2 bar. Cellular components of each tank was measured as a parameter performed extracellular polymeric material (EPS) and soluble microbial products (SMP). The color removal efficiency was in range of 66%- 77%, while COD removal efficieny i.e. 44%-50%. Unfavorable biomass transfer between tanks may decreased the organics removal efficiencies of MBR. The carbohydrates content of the SMP and EPS from each tank was higher than that of the the protein content. Carbohydrates coming from the feed, seem the main cause of the fouling compared to proteins. The  high concentration of the extracellular polymeric substance (EPS) was in the stabilization tank due to poor oxygen transfer within the biofilm structure after passing through the membrane.
PENGARUH VARIASI WAKTU RETENSI HIDROLIS REAKTOR ANOKSIK TERHADAP BIODEGRADASI ZAT WARNA AZO REAKTIF MENGGUNAKAN BIOREAKTOR MEMBRAN AEROB-ANOKSIK Komala, Puti Sri; Ananthi, Naraina; Effendi, Agus Jatnika; Wenten, IG.; Wisjnuprapto, Wisjnuprapto
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.042 KB)

Abstract

Influence of hydraulic retention time variation of anoxic reactor on reactive azo dye biodegradation using aerob-anoxic membrane bioreactor. Azo dyes, represent the largest class of synthetic dyes used in commercial applications. The release of these compounds into the environment is undesirable, not only because of their colour, but also because many azo dyes and their breakdown products are toxic and/or mutagenic to life. This research used consecutive aerob-anoxic membrane bioreactor for azo dye biodegradation. The bioreactor consists of contact and stabilization reactors operated in aerobic condition and anoxic compartment coupled to external ultrafiltration membrane. Feed consists of Remazol Black-5 in concentration of 150 mg/L and co-substrate of tempe industry wastewater. Experiments were carried out with hydraulic retention time (HRT) in 2, 4 and (½, 1 and 1½) hours in contact, stabilization and anoxic compartments respectively. From co-substrate optimization experiments, 8%v/v tempe industry wastewater resulted maximum TOC removal and optimal biomass growth. The stable color reduction in bioreactor occurred in anoxic compartment with HRT 1½ hrs. Color reduction through membrane resulted relative constant color concentrations. The significant TOC removal took place both in anoxic, contact and stabilization reactors. The experiments resulted color- and TOC removal efficiencies in range of 74-81% and 85-93% respectively.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Zat warna azo merupakan grup zat warna sintetis organik yang paling banyak digunakan dalam aplikasi komersial. Masuknya komponen ini ke dalam lingkungan tidak diinginkan, tidak hanya karena warna yang ditimbulkan tetapi juga karena beberapa zat warna azo dan produk penguraiannya bersifat toksik dan mutagenik bagi kehidupan. Dalam penelitian ini digunakan bioreaktor membran konsekutif aerob anoksik untuk biodegradasi zat warna azo. Bioreaktor terdiri dari reaktor kontak dan stabilisasi yang beroperasi pada kondisi aerob dan reaktor anoksik yang dihubungkan dengan membran ultrafiltrasi secara eksternal. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 pada konsentrasi 150 mg/L dan ko-substrat limbah industri tempe sebagai sumber organik. Percobaan dilakukan dengan HRT tangki kontak dan stabilisasi pada 2 dan 4 jam, dan (½,1 dan 1½) jam untuk anoksik. Dari percobaan optimasi ko-substrat diperoleh perbandingan volume limbah industri tempe terhadap umpan 8% memberikan penyisihan TOC maksimum dan pertumbuhan biomassa yang optimum. Penyisihan warna yang stabil terjadi pada percobaan dengan HRT tangki anoksik 1½ jam. Penyisihan warna melalui membran menghasilkan konsentrasi warna yang relatif konstan. Penyisihan TOC terjadi baik di tangki anoksik, kontak maupun stabilisasi. Percobaan ini menghasilkan efisiensi penyisihan warna yang berkisar antara 77-81% dan efisiensi TOC 89-93%.
INAKTIVASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI AIR SUMUR MENGGUNAKAN DISINFEKTAN KAPORIT Puti Sri Komala
Jurnal Dampak Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.11.1.34-47.2014

Abstract

Air sumur merupakan salah satu sumber air minum terpenting bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tidak dilayani oleh pelayanan kota. Adanya kandungan bakteri Escherichia coli dalam air sumur dapat menjadi penyebab waterborne disease. Kaporit merupakan jenis disinfektan yang dapat digunakan untuk menyisihkan kandungan bakteri E.coli di dalam air sumur. Dalam percobaan ini dilakukan disinfeksi pada larutan artifisial dan sampel air sumur kawasan Purus. Pada percobaan larutan artifisial diperoleh dosis optimum kaporit yaitu 50 mg/l dengan waktu kontak 30 menit untuk menyisihkan bakteri E.coli dari >1,6.105 sel/100 ml menjadi 0 sel/100 ml. Laju inaktivasi bakteri E.coli pada waktu kontak 10 menit untuk tiap dosis kaporit berkisar antara 2,6-log-3-log. Disinfeksi sampel air sumur kawasan Purus pada kondisi optimum menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan disinfeksi larutan artifisial.Kata Kunci: air sumur, disinfektan, E.coli, larutan artifisial
PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH GEDUNG FAVE HOTEL PADANG Puti Sri Komala; Suarni S Abuzar; Zikra Zikra
Jurnal Dampak Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.13.2.89-99.2016

Abstract

Fave Hotel Padang is a residential occupancy which has six floors. According to Indonesian National Standard (SNI) No.03-7065-200, the building which has more than 500 inhabitants or more than 1.500 visitors, should prepare plumbing system design. In this paper, plumbing water supply and fire protection system were designed. The water is supplied by deep well of 19,012 m3/hour. The water supply system used roof tank system with combination of down feed and booster system. Water sorage used ground- and roof tank, with the capacity 136 m3 and 15 m3respectively. Booster pump fulfilled the critical head at 3rd floor up to 6th floor. The hot water supply used central instalation by down feed combined with booster pump. The fire protection system according to the fire hazzard category II used hydrant and sprinkler system by wet-automatic standpipe. The distribution pipe for clean water is PVC type (1/2 4) inch, for hot water is Black Steel (3/4 1) inch and for hydrant and sprinkler is Black Steel (1 6) inch.Keyword: Indonesian National Standard No. 03-7065-2005, Fave Hotel Building, down feed and booster systems, hot water circulation system, hydrants and sprinkler systemsABSTRAKFave Hotel Padang merupakan gedung yang termasuk hunian kumpulan yang terdiri dari enam lantai. Berdasarkan SNI 03-7065-2005, gedung yang mempunyai jumlah penghuni lebih dari 500 orang atau jumlah pengunjung lebih dari 1.500 orang harus mempunyai perancangan sistem plambing. Dalam makalah ini akan direncanakan sistem plambing air bersih dan pencegah kebakaran Fave Hotel. Sumber air bersih disuplai dari sumur bor sebesar 19,012 m3/jam. Sistem penyediaan air bersih menggunakan sistem tangki atap dengan kombinasi aliran gravitasi dan pompa booster. Tangki penyediaan air bersih yang digunakan adalah tangki bawah dan tangki atas dengan kapasitas masing-masing 136 m3 dan 15 m3.Pompa booster memenuhi tekanan kritis pada lantai 3 sampai dengan lantai 6 dengan head 10,26 m. Sistem penyediaan air panas menggunakan sistem instalsi sentral dengan aliran ke bawah dikombinasikan dengan pompa booster. Sistem pencegahan kebakaran kategori kelas II menggunakan sistem hidran dan sprinkler dengan pipa tegak tipe basah-otomatik. Pipa distribusi air bersih yang digunakan pipa PVC (1/2 4) inci, pipa distribusi air panas Black Steel (3/4 1) inci dan pipa hidran dan sprinkler Black Steel (1 6) inci.Kata Kunci : SNI 03-7065-2005, Gedung Fave Hotel, Sistem gravitasi dan booster, sistem sirkulasi air panas, sistem hidran dan sprinkler