Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Menggali Nilai-Nilai dan Hakikat Wanita Dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 1 (2017): ISTORIA Edisi Maret 2017, Vol. 13, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.419 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i1.17611

Abstract

AbstractThis study aims to analyze more about the nature of women in the view of Ki Hadjar Dewantara and what values can be developed in the process of learning in the course of History of Women. This research is designed to use critical historical methods. Critical historical methods include the process of collecting, testing, analyzing the source with criticism both internally and externally, then interpreted and presented in the form of writing history. Four procedures in the process of historical research follow the steps of historical writing as follows: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The result of the research explains that Ki Hadjar Dewantara idea and thought is based on cultural and religious background and loaded with eastern values so that it can balance the study of feminism which mostly raises the ideas of women movement from Western concept and is often less culturally appropriate East. That women are naturally different from men both physically and psychologically. However, women still have to get the same rights in education. Women should be forward-thinking and educated in order to properly educate their sons. Women are also not prohibited for a career, but must still adjust to the nature of her femininity. Careers suitable for women according to Ki Hadjar Dewantara is in the field of education, medical, and art. Keywords: values, essence of woman, emancipation, feminism, History of woman
The Struggle of Sultan Babullah in Expelling Portuguese from North Maluku Setiawan, Johan; Kumalasari, Dyah
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 2, No 1 (2019): Historiografi Buku Teks Sejarah: dari nasionalisme hingga Ecopedagogy
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.431 KB) | DOI: 10.17509/historia.v2i1.12806

Abstract

This research was aimed at knowing Sultan Babullah’s struggle in expelling Portuguese from North Maluku in year 1570-1783. This research employed history method with the following steps (1) heuristic (2) source critic (3) interpretation (4) historiography. The research results were: (1) The murder of Sultan Khairun that was done by Antonio Pimental ordered by Diego Lopez de Masquita was the cause of resistance arising as well as eviction that was done by Sultan Babullah to Portuguese, (2) Babullah struggle started when he was inducted as Sultan of Ternate in 28th of February 1570. During his induction he swore to take revenge on his father’s death. Babullah flamed Soya-soya war or land liberation war. Portuguese’s posts were destroyed. Portuguese’s defense fortresses were taken down one by one except Gamlamo Fortress, (3) The final struggle of Babullah was when Gamlamo Fortress as Portuguese’s defense fortress was encircled for five years from 1570-1575, until Portuguese surrendered and was evicted from North Maluku.
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Tokoh Muhamadiyah kumalasari, dyah
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 1, No 1 (2017): Pembelajaran Sejarah lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.87 KB) | DOI: 10.17509/historia.v1i1.8603

Abstract

Muhammadiyah didirikan pada saat kondisi pendidikan pemerintah kolonial yang diskriminatif dan kondisi pendidikan Islam yang memprihatinkan. Kondisi tersebut mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk menyelenggarakan sekolah Muhammadiyah, yang memadukan pengetahuan umum dengan pengajaran agama. Hal ini bertujuan untuk memberi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual pada siswa. Pendidikan karakter KH. Ahmad Dahlan didasarkan pada ajaran Islam, yaitu iman, ilmu, dan amal. Pada prinsipnya, agama bukan sekedar sebagai pengetahuan saja, tetapi harus sampai pada amalan. KH. Ahmad Dahlan  menolak sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda saat itu, yang diskriminatif dan sangat intelektualis. Selain itu, KH. Ahmad  Dahlan menganggap penting dilaksanakannya pendidikan yang bersifat menyeluruh, yang dilaksanakan dalam sistem pondok, dan dikelola dengan prinsip kekeluargaan. Melalui sistem pondok, dengan kebersamaan guru dan murid setiap harinya, secara tidak langsung anak tidak hanya belajar dari buku-buku pelajaran, tetapi juga melalui kehidupan yang mereka alami sehari-hari. Pendidikan karakter berbasis agama dalam pendidikan akhlak menurut KH. Ahmad Dahlan sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang berbasis agama dan budaya, jika diterapkan saat ini selaras pula dengan desain induk pendidikan karakter yang dikembangkan oleh pemerintah.  
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AGAMA Kumalasari, Dyah
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pendidikan
Publisher : STKIP PGRI PACITAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji gagasan pembaharuan pendidikan yang diajukan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan serta kiprahnya dalam perjuangan pendidikan pada masa kolonial; (2) mengkaji dimensi pendidikan karakter dalam konsep pendidikan Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai dasar menghadapi situasi pada zamannya; (3) mengkaji lebih lanjut pendidikan karakter berbasis agama menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan historis. Penelitian ini menggunakan studi dokumen sebagai metode utama. Studi dokumen dilakukan terhadap sumber-sumber primer maupun sekunder. Selain studi dokumen, penelitian ini juga menggunakan metode wawancara sebagai metode pelengkap. Wawancara dilakukan terhadap beberapa praktisi pendidikan Muhammadiyah dan Taman Siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama: kondisi pendidikan pemerintah kolonial yang diskriminatif dan kondisi pendidikan Islam yang memprihatinkan, mendorong Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk menyelenggarakan sekolah Muhammadiyah, yang memadukan pengetahuan umum dengan pengajaran agama. Hal ini bertujuan untuk memberi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual siswa. Kedua, pendidikan karakter Kyai Haji Ahmad Dahlan didasarkan pada ajaran Islam, yaitu iman, ilmu, dan amal. Pada prinsipnya, agama bukan sekedar sebagai pengetahuan saja, tetapi harus sampai pada amalan. Kyai Haji Ahmad Dahlan menolak sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda saat itu, yang diskriminatif dan sangat intelektualis. Ketiga, Kyai Haji Ahmad Dahlan menganggap penting dilaksanakannya pendidikan yang bersifat menyeluruh, dan dikelola dengan prinsip kekeluargaan. Pendidikan karakter berbasis agama dalam pendidikan akhlak menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan mengedepankan konsep kesederhanaan, kedisiplinan, jiwa bebas/merdeka, serta akhlak yang mulia yang ditunjukkan dengan perilaku sesuai tuntunan agama, menjadi tujuan utama dalam konsep pendidikannya. Mengenai proses pembelajarannya, K.H. Ahmad Dahlan sangat mementingkan prinsip keteladanan, dialog sebagai usaha penyadaran, serta prinsip amalan dalam keseharian untuk membentuk kebiasaan berperilaku yang baik. Kata kunci: pendidikan karakter, Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendidikan karakter berbasis agama.
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AGAMA Kumalasari, Dyah
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pendidikan
Publisher : LPPM STKIP PGRI Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji gagasan pembaharuan pendidikan yang diajukan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan serta kiprahnya dalam perjuangan pendidikan pada masa kolonial; (2) mengkaji dimensi pendidikan karakter dalam konsep pendidikan Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai dasar menghadapi situasi pada zamannya; (3) mengkaji lebih lanjut pendidikan karakter berbasis agama menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan historis. Penelitian ini menggunakan studi dokumen sebagai metode utama. Studi dokumen dilakukan terhadap sumber-sumber primer maupun sekunder. Selain studi dokumen, penelitian ini juga menggunakan metode wawancara sebagai metode pelengkap. Wawancara dilakukan terhadap beberapa praktisi pendidikan Muhammadiyah dan Taman Siswa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama: kondisi pendidikan pemerintah kolonial yang diskriminatif dan kondisi pendidikan Islam yang memprihatinkan, mendorong Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk menyelenggarakan sekolah Muhammadiyah, yang memadukan pengetahuan umum dengan pengajaran agama. Hal ini bertujuan untuk memberi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual siswa. Kedua, pendidikan karakter Kyai Haji Ahmad Dahlan didasarkan pada ajaran Islam, yaitu iman, ilmu, dan amal. Pada prinsipnya, agama bukan sekedar sebagai pengetahuan saja, tetapi harus sampai pada amalan. Kyai Haji Ahmad Dahlan menolak sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda saat itu, yang diskriminatif dan sangat intelektualis. Ketiga, Kyai Haji Ahmad Dahlan menganggap penting dilaksanakannya pendidikan yang bersifat menyeluruh, dan dikelola dengan prinsip kekeluargaan. Pendidikan karakter berbasis agama dalam pendidikan akhlak menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan mengedepankan konsep kesederhanaan, kedisiplinan, jiwa bebas/merdeka, serta akhlak yang mulia yang ditunjukkan dengan perilaku sesuai tuntunan agama, menjadi tujuan utama dalam konsep pendidikannya. Mengenai proses pembelajarannya, K.H. Ahmad Dahlan sangat mementingkan prinsip keteladanan, dialog sebagai usaha penyadaran, serta prinsip amalan dalam keseharian untuk membentuk kebiasaan berperilaku yang baik. Kata kunci: pendidikan karakter, Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendidikan karakter berbasis agama.
Hidden Curriculum dalam Pembelajaran Sejarah dan Penanaman Nasionalisme Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 11, No 2 (2015): ISTORIA Edisi September 2015, Vol. 11, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v11i2.40789

Abstract

This study aims to flash back on the extent of the hidden curriculum in the teaching of history can affect the formation of the spirit of nationalism among students/students in university. The method used in conducting this research is descriptive qualitative method. The results showed that the plurality of the Indonesian nation as objective conditions, particularly with regard to ethnicity, religion, culture, and language appears to be very vulnerable and would potentially be the cause of disintegration. The concept of the hidden curriculum includes the development of values in school attention and emphasis varies according to the level of lecturers spirit and physical condition as well as the social climate of the school/college. The concept of hidden curriculum in history teaching aims to rebuild the bond of nationality (rebuilding the nation), which is the problem of rebuilding the humanities, society, and culture. In this respect the role of parents and the community in growing nationalism in the context of the hidden curriculum is needed.Keywords: Hidden Curriculum, Teaching History, Nationalism Soul.
Hidden Curriculum dalam Pembelajaran Sejarah dan Penanaman Nasionalisme Kumalasari, Dyah
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 11, No 2 (2015): ISTORIA Edisi September 2015, Vol. 11, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v11i2.7558

Abstract

This study aims to flash back on the extent of the hidden curriculum in the teaching of history can affect the formation of the spirit of nationalism among students/students in university. The method used in conducting this research is descriptive qualitative method. The results showed that the plurality of the Indonesian nation as objective conditions, particularly with regard to ethnicity, religion, culture, and language appears to be very vulnerable and would potentially be the cause of disintegration. The concept of the hidden curriculum includes the development of values in school attention and emphasis varies according to the level of lecturers spirit and physical condition as well as the social climate of the school/college. The concept of hidden curriculum in history teaching aims to rebuild the bond of nationality (rebuilding the nation), which is the problem of rebuilding the humanities, society, and culture. In this respect the role of parents and the community in growing nationalism in the context of the hidden curriculum is needed. Keywords: Hidden Curriculum, Teaching History, Nationalism Soul.
KAJIAN SEJARAH PENDIDIKAN: PEMIKIRAN PENDIDIKAN KARAKTER HAMKA Dyah Kumalasari; Yoga Ardy Wibowo
SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol 18, No 1 (2021): Socia: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/socia.v18i1.44126

Abstract

Artikel ini secara khusus mengkaji tentang pemikiran Pendidikan salah satu tokoh penting di Indonesia yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal orang sebagai Buya Hamka, sering juga disebut Hamka saja. Hamka merupakan seorang ulama sekaligus seorang pemikir. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang mencoba mengungkap tentang pemikiran Pendidikan karakter seorang Hamka serta relevansi pemikiran Hamka mengenai pendidikan karakter bagi pendidikan nasional saat ini. Hamka merupakan ulama serba bisa, kelahiran Minangkabau yang tumbuh dan berkembang sebagai pembelajar otodidak yang cerdas dan berhasil. Pemikiran Pendidikan Hamka khususnya yang berkaitan dengan pendidikan karakter dimulai pada tahun 1936 saat menjadi redaktur majalah Pedoman Masjarakat dan berbagai buku relevan yang ditulisnya sampai dengan tahun 1963 ketika gagasanya ikut berperan dalam pendirian sekolah Islam Al-Azhar di Indonesia. Pendidikan menurut Hamka tidak terlepas dari fungsi dan tujuannya yang melekat untuk mendidik karakter atau akhlaq seseorang. Pendidikan karakter dalam pemikiran Hamka merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi pada manusia berlandaskan nilai-nilai agama yang dirumuskan menjadi nilai-nilai universal untuk segala aktivitas manusia sebagai makhluk individu maupun sosial. Pendidikan yang di dalamnya sarat dengan ajaran nilai karakter menurut Hamka menjadi penting untuk kemajuan suatu bangsa karena akan menjadi pewaris sebuah generasi yang maju dan berperadaban. Pemikiran Hamka mengenai Pendidikan, khususnya berkaitan dengan pendidikan karakter memiliki relevansi dengan pendidikan nasional pada saat ini. Pendidikan karakter holistik berbasis agama dan budaya menjadi satu solusi yang mempunyai urgensi untuk diterapkan dengan menekankan proses dan subtansi.
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MATA KULIAH PERSPEKTIF GLOBAL Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 2 (2017): ISTORIA Edisi September 2017, Vol. 13, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.36 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i2.17735

Abstract

ABSTRACT  Actualization of the value of character education based on local wisdom in the course of global perspective is done in order to equip students with noble values of the nation's culture to face the swift current of globalization. Javanese ethical values such as the principle of harmony and honor principles are presented as a study material that is an important part in discussing social changes and lifestyles of society in the global era. Included in this study is the study of the typical local wisdom of the people around Yogyakarta. The student's positive response indicates that the cultural values of our ancestral heritage still allow us to lift and revive in order to fortify the young generation today from the negative effects of global culture, since this course presents many insights into global culture that leads to pop culture, . Giving awareness to students about real-world phenomena behind the meaning of words from globalization, including discussing many things about current global issues, will be more effective if done by cultivating character education based on local wisdom.  Keywords: character education, culture, local wisdom, global perspective
PENERAPAN MODEL DELIKAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS-SEJARAH DI SMP MUHAMMADIYAH IV YOGYAKARTA Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 1 (2008): ISTORIA Edisi Maret 2018, Vol. 7, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.7 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v7i1.6308

Abstract

AbstractFor students at Junior High School, the subject of social studies is very bored tobe heared. Learning method is one of several factors that cause these problem. The goal of our research is to apply the delikan method to improve the quality of social studies learning at Junior High School.This class action research uses recommendation from Kurt Lewin models involving a spiral of cycles: initial idea, reconnaissance (fact finding), general plan, implement, and evaluate. We implements two cycles in which paper in first cycles and comic in second cycles. Delikan is a learning method involves hear (de), see (li), and done (kan). For implement this method we divide class on eight groups. For each groups, we give one theme for their task.From our research, we conclude that implementation of Delikan method lead improvement on social studies subject at Junior High School level. We have four parameters indicating the fenomenon. First, students have done the task with happy. They have a pleasant time to improve their ability to write and draw. Second, students enjoy work together in group collaboration with their classmate. This method can improve social relations between the students. Third, this method can exploit another student’s competencies, for example: write, draw etc. Finally, delikan motivate students to further learn with read another sources: book, magazine, internet, etc.Keyword: delikan, social studies, method of learning.